Dosen Tampan Menggoda Hatiku

Dosen Tampan Menggoda Hatiku
Episode 24


__ADS_3

Dosen Tampan Menggoda Hatiku


Episode 24 [ Jangan Goyah ]


Greb


Aih siapa yang menggenggam tanganku?


Tiba-tiba saja ada sosok yang membawa Irgiana ke dalam salah satu kamar di hotek tersebut.


Hm? Alfa? Kenapa dia membawaku ke kamar ini? Ini bukankah kamar... What??? Ini kan kamar Alfa dan Viola! Lihat tas itu, aku tahu itu tas milik Viola lalu sepatu dan... Iiieuh ada pakaian dalam ceroboh sekali.


Semua pikiran negatif itu hilang dari otak Irgiana saat Alfa mendorong badannya ke pojok sudut kamar tersebut. Irgiana terhimpit di antara sudut tembok.


Hossh


“Al-fa aku a-aku tidak bisa bernapas bodoh! Huaaah!” protes Irgiana yang merasa sesak.


Cih! Untuk apa dia membawaku kemari? Apa maunya kali ini? Kali ini aku tidak akan tergoda!!!


Alfa memeluknya kembali, memeluk dengan hangat dan penuh kesedihan dia memejamkan kedua matanya. Dan diam dalam keheningan.


“Alfa? Kenapa kau diam saja?” tanya Irgiana yang berusaha mendorong badan Alfa yang masih memeluknya dengan erat.


“Ssstt diamlah sebentar, Gi. Aku... Aku sangat merindukanmu...”


Eh? Dia merindukanku? Tak biasanya dia bersikap seperti ini... Hm... 🤔


Tes


Eh? Mengapa pundakku seperti basah? Terjatuh sesuatu? Apa? Apa Alfa menangis? Eeeh kenapa kenapa? 😱


“Alfa? Apa kau menangis? Kenapa pundakku basah? Aiiih nanti ingusmu menempel pada pundakku?! Zzzz...” ucap Irgiana berusaha melepas genggaman tangan Alfa yang menempel dipinggangnya.


“Hiks... Maafkan aku Gi, aku tidak sanggup melihatmu akrab dengan pria lain padahal kenyataanya aku...” Alfa berbicara dengan nada lirih dan masih memeluk erat tubuh Irgiana.


Perlahan Irgiana melepas pelukannya dan memegang kedua pundak Alfa.


Puk puk


“Alfa, hubungan kita sudah berakhir. Kau sendiri yang menginginkan ini bukan? Hm?” tanya Irgiana yang berusaha keras tidak goyah.


Hiks hiks


Isak tangis seorang lelaki yang masih sangat sulit dipercaya. Baru kali ini Irgiana melihat seorang lelaki menangis terisak-isak dihadapannya, bahkan lelaki itu adalah mantan tunangannya.


Irgiana tak dapat membendung air matanya, perlahan air matanya pun terjatuh.


Tes


Setetes air mata berhasil jatuh dari pipi lembut Irgiana.


“Alfa, mengapa kau tega melakukan ini padaku?” ucap Irgiana yang menangis tersedu-sedu.


Alfa hanya terdiam dan menghentikan tangisannya.


Wkwk gak pantas amat lo Al nangis kaya cewek.


Diam thor! Aku juga tidak terbiasa begini, kau yang membuat karakterku seperti ini errr.


Ya sudah Al, lanjutkan tangisanmu. Berusahalah semampumu, jangan kau berikan harapan palsu pada gadis polosku Irgiana.


Is kau ini thor. Kau yang membuatku berada di posisi ini mengapa kau ikut protes seperti para readers? Aku kan hanya menjalankan skenario author. Engh!

__ADS_1


*Obrolan author dan Alfa berakhir karena author yang gembil merasa kelaparan*


“Jadi bagaimana Alfa? Sampai kapan kau memegang tanganku seperti ini? Jangan membuatku baper!” tanya Irgiana dengan nada kesal.


Alfa lekas melepas genggaman tangannya dan merapihkan kemejanya dengan kedua tangannya.


Srek srek


“Ah maafkan aku Gi, jadi bagaimana? Apakah wawancaramu dengan David sudah selesai? Mana hasilnya biar ku periksa?.” ucap Alfa berdalih.


Hmm jadi ini alasannya membawaku kekamarnya? Tsk!


“Begini Alfa, aku sudah selesai. Nanti akan ku kirim melalui email. Kau tenang saja, lagi pula untuk apa kau melakukan ini? Bukankah kau sudah resign?” protes Irgiana dengan muka datarnya.


Alfa yang masih berdiri di hadapan Irgiana berjalan mundur dan duduk di sofa berwarna hitam panjang yang terlihat empuk.


Lalu Alfa berkata, “Um aku... Aku sebenarnya sengaja kembali ke Universitas karena aku merindukanmu. Kebetulan sebentar lagi Dosen Ghani akan cuti jadi aku menggantikannya sementara.”


Pak Ghani cuti? Mengapa dia tidak memberitahuku alasan Alfa kembali ya? Hmm menyebalkan.


“Baiklah Alfa, aku harus kembali ke kamar. Ini sudah malam bukan? Aku lelah. Sebaiknya kau dan kekasihmu juga beristirahat.” Irgiana berbicara sambil melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu.


Brak


Cih! Untuk apa menangis dihadapanku?


Greb


“Aku belum selesai berbicara, ku mohon beri aku 10 menit untuk menjelaskan semuanya padamu.” ucap Alfa yang datang tiba-tiba menggenggam lengan Irgiana.


Fiuuuuh


Irgiana menghela napas dan berkata, “Tidak, 5 menit!”


Eh? Haih aku melupakan hal itu.


Ujar Alfa dalam hati yang teringat akan suatu hal (barang/keperluan pribadi wanita).


Di hotel tersebut terdapat cafe yang terletak di lantai dasar, tepatnya di bagian depan hotel.


Hmmmmm~


Irgiana menghirup aroma cita rasa kopi panas yang baru saja di tuang. Semerbak harumnya menyebar ke seluruh penjuru cafe tersebut.


Sluuurp


Setelah meniupnya beberapa kali, Irgiana mulai menyeruput secangkir kopi hitam yang masih panas itu dengan perlahan.


“Jadi apa yang akan kau katakan padaku Alfa? Sebenarnya sudah tidak perlu, tidak perlu menjelaskan apapun. Karena, bukankah semuanya sudah jelas?”


Gluk


Alfa menelan ludahnya dan memberanikan diri untuk mengatakan semua alasan ia menghilang begitu saja.


“Jadi begini, apa kau tahu? Perusahaan ayah mengalami masalah yang cukup berat karena tiba-tiba saja perusahaan yang berada di nomor urut 3 naik peringkat. Menggeser posisi perusahaan kami.”


Irgiana mendengarkan dengan baik penjelasan dari Alfa.


“Lalu?” tanya Irgiana.


“Tak-tik pemasaran mereka memang tidak ada tandingannya. Setelah anak pertamanya mengambil alih perusahaannya, tak lama mereka menduduki peringkat I.” sambung Alfa.


“Oleh karena itu aku mau tidak mau harus bekerja sama dengan perusahaan ayah Viola, dan syarat yang diberikan oleh mereka yaitu aku harus menjalin hubungan seperti dahulu lagi bersama Viola.” sambung Alfa lagi.

__ADS_1


Hm? Perusahaan yang di pegang Kak Brandy juga sama kan, bergerak di bidang retail.


“Oh? Jadi kau meninggalkanku demi perusahaan? Kalau begitu jangan pernah muncul dihadapanku lagi!” pekik Irgiana berdiri menghentakan kedua tangannya pada meja.


Breg


“Irgiana, tunggu! Aku... Maafkan aku, aku tidak bisa menolak permintaan ayahku. Kau tahu kan betapa berharganya perusahaan itu bagi ayahku? Aku tidak bisa menolaknya.” ungkap Alfa berusaha menjelaskan kondisinya pada Irgiana.


Irgiana masih berdiri, kakinya sudah siap melangkah.


“Sudahlah Alfa, semuanya sudah berakhir. Jika itu pilihanmu aku ikhlaskan. Tetapi aku juga sudah mempunyai pilihan, aku akan melaksanakan pertunangan dengan Danish.” jawab Irgiana sangat lirih.


Dari suaranya saja sudah terdengar putus asa dan tak bersemangat. Cinta pertamanya kandas begitu saja, Irgiana merasa sangat kecewa dan rasa sakit yang terlalu dalam.


Wajah cantik nan imut miliknya kini berubah menjadi kusut dan kusam. Ia hanya menundukan kepalanya dan berkata, “Aku tidak tahu harus senang atau sedih mendengar penjelasanmu Alfa.”


Kret


Irgiana mendorong ke belakang kursi yang ia duduki, dia bangkit dan bersiap untuk melangkahkan kakinya. Sebelum pergi ia mengatakan, “Alfa, aku tidak tahu alasanmu meninggalkanku. Entah karena uang atau memang kau sudah tak menyukaiku lagi. Satu hal yang harus kau tahu, aku sudah melupakanmu.”


Tap tap tap


Irgiana pergi begitu saja, ia tak ingin mendengar apapun lagi dari mulut Alfa. Baginya semuanya sudah jelas dan tak perlu di bahas kembali. Yang perlu ia lakukan sekarang hanyalah melupakannya dan tetap semangat.


Untuk apa memperjuangkan orang yang bukan tercipta untuk kita? Buang-buang tenaga saja, aku yang menyemangatinya orang lain yang menikmati hasilnya. Paham?


Enggak thor, kenapa memang?


Idih kau ini Gi, sudah kau buat skenario penutupan episode kali ini. Sekali ini saja ya, otakku sedang trouble.


Hais, baiklah thor.


***


Di kediaman keluarga Chloe,


“Danish apa kau sudah membuat keputusan?” tanya Bunda Mala yang tengah menikmati teh sore di samping Danish.


Ck


Danish berdecak seraya malas dengan pertanyaan itu.


Hadeh si bunda nih, aku si mau aja nikah sama Gigi. Tetapi kan Giginya mau atau tidak azzzz.


“Aha bunda tahu pasti kau masih malu kan untuk membicarakannya dengan Gigi? Hm?” ucap bunda Mala dengan nada meledek.


“Aku sudah mengatakannya pada Gigi bun, tetapi hanya lewat chat saja. Aku belum mengatakannya langsung.” jawab Danish yang tersipu malu.


Seketika wajah Danish menjadi panas. Kupingnya sampai ikutan memerah. Dan debaran-debaran cinta ketika mendengar seseorang menyebut nama yang berkesan dihatinya.


.


.


.


.


.


Bersambung...


☕Happy Reading☕

__ADS_1


__ADS_2