
5 tahun pertama sudah dilewati, setelah menerima gelar sarjana kedokteran, kini Pandu Dewanata memasuki jenjang yang lebih tinggi di usia 28 tahun. Pagi ini, ia akan menerima gelar tertinggi yang ia tempuh selama total hampir 12 tahun ia mengejar gelar menjadi dokter spesialis kandungan. Dengan di temani kedua orang tuanya. Pandu menghadiri acara wisuda itu dengan suka cita, bersama Fauzan yang juga ikut mendapatkan gelar yang sama, sebagai dokter spesialis kandungan.
Rangga dan Richard pun hadir, untuk meramaikan acara besar itu,
"Nggak nyangka gue, kita jadi dokter kandungan." Ucap Fauzan.
"Gue malah mikir, gue bakal jadi penari telanjang di bar. Kalo nggak lulus." Ucap Pandu, dengan wajah datar dan sengaja bercanda.
"Hahaha ... t*i lu, eh tapi bisa sih, ngel*nte, sambil kuliah."
"Telat, gue malah terjun ke dunia sewa menyewa alat berat, bukan sewa k*ntol." Ucap Pandu, sambil berbisik.
"Hahaha ... as* lu!" Sahut Fauzan.
Mereka berdua tak hentinya bercanda, terdengar gaduh dan di tegur oleh calon dokter lain, yang tampak serius pagi itu.
Setelah memakan waktu 3 jam, mereka pun keluar dari gedung dengan wajah sumringah. Kedua orang tua mereka menyambut suka dan bahagia. Disusul Richard dan Rangga yang hadir di sana,
"Makan makan nih." Ucap Richard.
"Gue sih oke. Tapi ... gue tanya ayang gue dulu." Ucap Fauzan, pada Indira yang setia menemani dirinya.
Indira mengangguk, ia setuju dengan rencana perayaan kecil kecilan itu.
......................
Di tempat lain, Anjani,
"Mas ... kapan kamu ada waktu buat aku ..."
"Aku sibuk, kamu bisa kan ngelakuin sendiri?"
"Mas, periksa kesuburan harus bareng. Nggak bisa aku sendirian yang dateng."
"Aku nggak bisa sayang ... kamu ngerti kan kerjaan kau banyak. Aku sampe nggak pulang ke rumah, cuma demi kamu, biayain kamu kuliah dan hasilnya apa? Kamu belum dapet kerjaan kan?" Ucap Bastian.
"Mas, gimana aku mau cari kerja, mama selalu minta bantuan aku di dapur, aku kadang capek ..."
"Ooh ... kamu ngeluh?"
"Bukan gitu, tapi ..."
"Tanpa kamu, pekerjaan rumah beres kok. Kamu cukup duduk dan diem aja."
"Tapi mama ..."
"Lagian, sudah tugas kamu bantu mama juga. Sama kayak kamu sama mama kamu, iya kan?"
"Tapi, aku belum pernah balik ke rumah mama aku mas ..."
"Ya sana balik."
"Tapi kalo sendiri, mereka pasti bingung. Harusnya kita berdua. Main kesana sekali kali mas."
"Aku sibuk, beneran. Aku nggak bisa."
"Kapan ada waktu buat aku mas? Kapan ...?"
"Aku janji, besok aku dirumah, mau kamu apa aja aku ladeni, tapi kalo sekarang aku harus berangkat dulu, 3 atau 5 hari, aku baru balik kerumah." Sambil mengecup kening Anjani dan kemudian membawa koper miliknya.
"Mas ... mas tunggu, mau berangkat ke mana?"
Sambil mengejar Bastian, yang menuruni anak tangga. "Aku berangkat ke Kalimantan, nanti aku pulang. Ada proyek yang harus aku cek." Ucap Bastian. Sambil membuka bagasi.
__ADS_1
"Mas, aku boleh ikut kan? Apa salahnya sekali kali aku ikut kamu keluar kota mas ..."
"Nggak bisa, yang ada kerjaan aku tertunda sayang."
"Aku cuma mau ikut mas, aku juga butuh waktu buat liburan, anggep aja itu liburan ..."
"Beda, disana itu, bakal repot dan ke ganggu. Semua sibuk kerja. Kamu di rumah aja, pergi nonton atau belanja, uang kan aku selalu transfer ke kamu." Ucap Bastian, sambil berjalan menuju ruang makan dan duduk menikmati makan siangnya.
Anjani duduk menemani Bastian, sambil terus meminta agar Bastian mau membawanya pergi,
"Jangan bikin mood aku rusak." Ucap Bastian.
Anjani terdiam, kemudian ia mengalah dan membiarkan Bastian pergi seorang diri.
Anjani kembali masuk ke dalam kamar, ia menangis seorang diri. Beberapa buku dalam rak, ia lempar ke segala arah,
"Kenapa aku nggak lagi penting buat dia ..." lirih Anjani.
"Bahkan aku tuh nggak pernah disentuh lagi ..." ucapnya dalam tangis.
Berulang kali, Anjani mencoba menghubungi ibunya, untuk melepaskan penat dan bercerita tentang apa yang dia rasakan selama hampir 5 tahun pernikahan yang ia pendam sendiri.
......................
Anjani terpaksa di larikan ke rumah sakit, ia mengalami penurunan kesehatan dan jatuh pingsan saat menuruni anak tangga.
Dengan hanya di temani supir dan Tati, Anjani kini berada di dalam kamar rawat inap dengan pelayanan VVIP untuk istri pengusaha itu,
"Itu istri pengusaha tapi kok disini, keterangannya dia kurang gizi?" Ucap salah seorang petugas kesehatan, yang kebetulan menangani Anjani.
"Aneh ya, terus ... keluarga suaminya mana? Suaminya juga nggak dateng, masa di anterin pembantu sama supir?"
"Mungkin keluarga mereka super sibuk."
6 bulan setelah menerima gelar dokter spesialis. Pertemuan tak disengaja itu terjadi,
"Darah apa?"
"Golongan darah O resus plus." Ucap suster.
Mereka kemudian mencoba mengubungi keluarga Bastian, tak satupun yang merespon baik. Bastian sendiri kini masih berada di luar kota dan akan tiba setelah hari berikutnya ke ibu kota.
"Duh ... kemana cari darah golongan O?"
Suster tampak sibuk dan kebingungan, mondar-mandir hingga tak sengaja menabrak Pandu, yang baru saja tiba di rumah sakit.
"Maaf pak ..." ucap Suster.
Pandu hanya tersenyum dan mengangguk. Ia kembali melangkah dan suster tersebut menghentikan langkahnya.
"Pak, maaf."
"Iya. Ada apa?"
"Bapak golongan darahnya apa?"
"O, kenapa?"
"Resusnya pak?"
"Plus. Kenapa?"
"Cepet pak!"
__ADS_1
Suster itu mengajak Pandu masuk ke dalam kamar, dimana Anjani membutuhkan bantuan,
"Pak, kasian, dia nggak ada yang dateng besuk, apalagi keluarga suaminya. Dia butuh darah O pak, resus plus. Tolong pak."
"Anjani?" Ucap Pandu pelan dan berjalan mendekati Anjani.
"Sudah berapa lama dia disini?" Tanya Pandu.
"Baru beberapa jam pak. Bisa kan pak?" Ucap suster.
Pandu menangguk. Ia pun duduk dan segera suster mengambil darahnya untuk kemudian di berikan pada Anjani.
Ponselnya berbunyi, Fauzan menghubungi Pandu,
"Lagi transfusi darah gue."
"Darah? Donor lu?"
"Iya."
"Dimana?"
"Kamar pasien."
"Hahaha ... bayar mahal tuh pasien, pake darah pak dokter."
"Buat pasien ini, ginjal aja gue kasih." Ucap Pandu, sambil menahan tawa.
Tak hanya dirinya, bahkan suster yang bertugas pun menahan tawa, ketika mendengar ucapan Pandu,
"Pak, udah nih. Saya permisi dulu pak." Ucap suster.
"Oke, makasih." Ucap Pandu, sambil kemudian hendak berdiri meninggalkan Anjani.
Langkahnya terhenti. Saat Anjani mengigau dan mencari seseorang yang seharusnya kini berada di sisinya.
"Mas ... mas ..." lirih Anjani dengan mata terpejam.
Pandu tak dapat meninggalkan Anjani begitu saja. Ia berinisiatif untuk menemani Anjani.
Dengan memberanikan diri, Pandu menggengam tangan Anjani yang sedari tadi bergerak. Memberikan rasa hangat pada Anjani, itu yang saat ini Pandu lakukan.
"Di kamar mana?" Tanya Fauzan, pada suster.
"Kamar VVIP pak, nomor 2 A, tadi sih pak Pandu disana."
"Oke."
Fauzan pun datang, dan hendak menemui Pandu. Masuklah Fauzan ke dalam kamar itu,
"What?" Bisik Fauzan, saat melihat Pandu, tengah menggengam tangan Anjani.
"Berisik." Ucap Pandu.
"Wow ... jadi ini yang mau di kasih ginjal?" Ucap Fauzan sambil menahan tawa.
Pandu menceritakan bagaimana ia bertemu Anjani, pada Fauzan,
"Gila, dia tau nggak?"
"Kayaknya sih udah tau, lu tau nomor telepon mama dia?" Tanya Pandu.
"Mama sih Anjani? Kayaknya yang tau sih Diska, tapi kontak Diska nggak ada."
__ADS_1
"Duh ..." ucap Pandu.
Kemudian Pandu mencoba meraih ponsel Anjani. Ia mencari kontak orang tua dari Anjani dan segera menghubunginya.