DUA GARIS (You Got Me Baby)

DUA GARIS (You Got Me Baby)
DETIK DETIK SAAT INGIN MEMBUAT BAYI


__ADS_3

7 hari mereka satu rumah,


"Mas, ini bekal kamu. Habisin loh." Sambil meletakkan kotak makan berwarna biru. Diatas meja makan.


"Iya ... beib." Sahut Pandu yang hendak masuk ke dalam kamar mandi.


"Terus ... apa kita nggak buat anak mas?" Tanya Anjani sambil mendongak melihat Pandu dan mencoba membuka pakaian Pandu.


Pandu menggendong Anjani hingga ke dalam kamar mandi,


"Ayo." Ucap Pandu, sambil membuka pakaiannya.


"Mas ... maaf ... aku cuma iseng ... belum siap ..." Anjani ketakutan, ketika melihat tubuh milik Pandu.


"Gimana sih beib, tadi kamu minta, aku bisa lakuin itu sambil berdiri."


"Hah?! Mas ... anu ... aku ... malem aje deh mas ... please ..."


"Hahaha, kamu takut?" Tanya Pandu, yang kemudian mendekati Anjani.


Anjani tersudut pada dinding kamar mandi.


"Mas, jujur ... iya aku takut."


"Takut apa?"


"Takut sakit ..."


"Calon janda ini, masih perawan?" Ucap Pandu, sambil menahan tawanya.


"Mas ... ih ... kamu ah ... bukan gitu tapi, aku liat ... ukuran kamu ... itu mungkin bisa ..."


"Bisa apa sayang?"


"bisa..."


Pandu mendekati Anjani dan mencium bibirnya dengan hangat dan mesra. Anjani tak dapat berkutik saat Pandu melakukan itu dan memangku dirinya sambil duduk diatas kloset.


Mereka berciuman mesra dan semakin memanas, ketika Pandu mulai merogoh kedua payudar* Anjani, memainkan pu*ing susu miliknya dan kemudian menghisap kedua payud*ra besar itu secara lembut, perlahan dan berulang kali menggunakan lidahnya.


Anjani seolah menyerahkan seluruh dadanya pada Pandu, ia memegangi leher dan kepala Pandu, yang sedang menikmati payud*ra nya.


"Aah ... mas ..."


Tangan Pandu kini bergerak menuju v*gina, ia merogoh vagin* yang basah juga berlendir dengan jari tengah.


"Mas?!" Anjani terkejut.


"Kamu subur sayang." Bisik Pandu yang kembali mencium bibir Anjani.


Lidah keduanya terpaut, bergelut menjadi satu di dalam rongga mulut dan saling tarik ulur,


"Mas ..." bisik Anjani, saat Pandu tengah mencumbu lehernya.


"Kenapa?" Ucap Pandu dengan suara pelan.


"Jadi aku bisa hamil?"


"Bisa." Ucap Pandu


Pandu menghentikan kegiatan mengasyikkan itu, ketika melihat jam menunjukkan pukul 5 sore pada tembok kamar mandinya.


"Kok berhenti mas?"


"Aku harus kerja, nanti aku telat, aku nggak suka main sebentar kayak gini yang, aku mandi dulu. Kamu mau ikut aku mandi?"


Keduanya mandi bersama sambil sesekali berciuman dan tertawa. Namun lucunya, Anjani tak siap melihat ukuran pe*is itu, ia meminta Pandu untuk mengenakan ****** ***** saat mandi bersama.

__ADS_1


Anjani membantu Pandu berpakaian seperti biasanya, selama tinggal satu atap,


"Jangan kerja berat, tiduran aja, tunggu aku balik, jam 3 pagi." Bisik Pandu, sambil memeluk Anjani.


"Oke, mas hati hati kerjanya, terus aku izin ngerumpi sama ibu ibu sini boleh kan?"


"Geng halu kamu itu?" Tanya Pandu sambil menahan tawa.


"Hahaha, iya geng aku mas."


Selama beberapa hari terakhir, Anjani kini memiliki geng beranggotakan para ibu muda di sana. Ia pun di didapuk menjadi admin dalam grup aplikasi berwarna hijau itu dan menjadi wakil ketua dari geng sayuran.


Syarat menjadi anggota geng, harus memiliki tingkat kehaluan yang tinggi pada artis drakor atau boyband  korea yang mereka sukai. Jika tidak, mereka tidak bisa bergabung dalam geng itu.


Bahkan Anjani berkhayal, jika Junkok adalah adiknya dan Jimin adalah sepupu nya.


Bukan hanya itu, skin aplikasi hijau mereka pun bergambar artis korea.


Terkadang, Pandu hanya menggeleng kepala saat melihat tingkah Anjani yang kadang tertawa sendiri dan menangis bersamaan saat menonton drakor.


Pandu menjadi korban kekerasan dari Anjani, ketika sedang menonton adegan selingkuh atau hal yang menyedihkan. Memukul dan menggigit Pandu, itu yang Anjani lakukan saat khusyuk menonton drakor.


Sore itu mereka berpisah, Anjani bersemangat. Ia berlarian menuju rumah ketua geng, yang dimana para anggota sudah menunggunya,


"Maaf, telat ibu ibu."


"Iya kagak apa apa, laki lu baru pergi kan?"


"Iya, baru aja."


"Eh ... laki lu balik lagi tuh!" Ucap salah seorang anggota geng, saat melihat kendaraan Pandu.


"Loh, kok? Tunggu ya." Ucap Anjani.


Anjani berlarian menuju rumah,


"Belum cium kamu tadi." Ucap Pandu yang menghentikan mobilnya, saat melihat Anjani berlarian.


Pandu turun dari mobil dan mencium Anjani,


"Ciuman dulu dia." Ucap salah satu anggota geng.


"Eh buset ... mesra banget."


"Hahaha ..."


Tanpa keduanya sadari, adegan mesra itu telah disaksikan geng dari pagar teras rumah ketua geng.


Mereka berpisah, Pandu membunyikan klakson mobil saat melintas di depan rumah ketua geng.


"Maaf, tadi laki aku mau cium dulu." Ucap Anjani dengan polosnya pada gengnya.


"iye Jani... kita pada liat.."


Mereka tertawa dan melanjutkan rumpian yang tertunda, mengenai drakor dan boyband.


......................


Menjelang malam, Anjani kembali menonton tv seorang diri. Menikmati cemilan dan segelas susu. Kehidupannya kini, jauh berbeda dari yang sebelumnya saat ia bersama Bastian.


"Kangen juga, aku telepon aja kali ya?"


Anjani menghubungi Pandu, malam itu via telepon,


"Sayang, maaf ... ada pasien mau lahiran, nanti aku telepon kamu sebelum pulang ke rumah ya?"


"Iya mas, ehm ... barusan mau ngobrol sama kamu."

__ADS_1


"Maaf ya, nanti masih 2 jam lagi, jangan tidur, kamu mau di perk*sa pak dokter."


"Hahaha ... iya mas, aku tunggu kamu pulang. Semangat kerjanya mas, semoga lancar tugas nya ya mas."


"Makasih beib..."


"I love you mas..."


"iya..."


"ih bilang yang sama mas...?"


"iya beb..."


"ah bilang dulu..."


"hahaha... i ..."


"i apa mas...?"


"i need you."


"ih susah banget bilang..."


"hahaha!"


Bahagianya Anjani, ia benar-benar merasakan hidup nyata.


Melihat jam, Anjani mulai merasakan denyut jantungnya yang tak karuan. Ia membersihkan dirinya, menggunakan parfum, memakai lingerie yang seksi dan sedikit menerawang berwarna hitam.


Duduk bercermin, melihat wajahnya dan kedua payudara nya,


"Bersih, ketiak juga bersih, ************ aku udah bersih. Duh ... aku deg degan, lebih parah dari malem pertama kalo gini."


Anjani salah tingkah, ia duduk, berjalan, duduk lagi dan berbaring. Menonton tv, minum, duduk dan berjalan memutari kamar,


"Hah? Jam 3 kurang?!" Anjani terkejut melihat jam pada iPhone nya.


Pandu pun menghubungi dirinya. Anjani tak menjawab, ia menarik selimut dan berpura-pura sedang tertidur.


"Udah tidur kayaknya." Ucap Pandu, sambil tersenyum dan berkendara menuju rumah.


"Pak, malem pak." Sapa Pandu, pada petugas keamanan, malam itu.


"Malem mas Pandu, baru balik dinas nih?"


"Iya pak, dinas malem. Pulang dulu pak." Ucap Pandu.


"Iya lanjut, silakan Pandu."


Berkendara dengan perlahan hingga tibalah ia di rumah, memasukkan mobil ke dalam garasi. Turun dari mobil, sambil menenteng jas putih dan tas berisi laptop miliknya,


"Beib ... aku balik nih." Ucap Pandu, sambil membuka pintu samping.


Mendengar suara Pandu,


"Gawat, mati gue!" Anjani ketakutan. Ia memejamkan mata dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


Mencuci kaki dan tangan, Pandu berjalan menuju kamar tidurnya.


"Krieet ..." Suara pintu kamar yang terbuka perlahan.


"Ooh ... tidur?" Ucap Pandu sambil tersenyum.


Ia membuka kemeja dan menggantung jas putih miliknya di balik pintu.


Meraih handuk dan mendekati Anjani, menarik selimutnya pelan dan berbisik padanya.

__ADS_1


"Tidur beneran atau nggak, tetep aku buat anak sama kamu." Bisik Pandu, di telinga Anjani.


__ADS_2