
"Mas nanti kerja?" Tanya Anjani, yang masih menikmati permainan masa kecil, berjalan diatas kaki Pandu.
"Hari ini, aku masuk malem lagi. Kamu tidur sendiri ya."
"Oke. Terus mas ... aku ... mas ... kayaknya aku dateng bulan!"
"Hah?!"
Pandu menggendong Anjani hingga ke dalam kamar mandi.
"Kamu ada pembalut?"
"Nggak ada mas ... gimana dong?" Ucap Anjani, sambil mencoba membuka celananya.
"Ya udah aku beliin dulu."
"Mas? Sumpah kamu mau beliin aku pembalut?"
"Iya, tunggu ya."
"Iya mas, aku tunggu ... kayaknya aku mulai cinta sama kamu ..." ucap Anjani dari dalam kamar mandi. Ia terlihat bahagia dan tak menyangka, jika Pandu mau membelikan pembalut untuknya.
"Hahaha ... ada jatuh cinta gara gara pembalut?" Ucap Pandu, sambil menahan tawanya dan berjalan mencari warung terdekat.
Kali pertama, Pandu menampakkan diri di depan warga sekitar dan membeli pembalut.
"Itu mas dokter, tumben keluar rumah."
"Kayaknya dia mau ke warung ..."
"Wah ... mimpi ape gue, warung gue di samperin dokter ganteng kayak die ye ..."
"Iye mpok ... kita sih betah kalo yang bening kemari yak."
"Ah, pada betah lu di warung gue. Noh ... udah deket."
Pandu pun tiba, ia kemudian tersenyum pada sekumpulan ibu ibu geng disana.
"Permisi bu."
"Iye mas ... ada yang bisa di bantu ini?"
"Saya cari ... ehm ..." Pandu melihat etalase warung, mencari pembalut.
"Pembalut ada?"
"Pembalut?!"
Anggota geng, terkejut mendengar ucapan Pandu, menanyakan pembalut.
"Ada sih mas ... yang kagak pake sayap, pake sayap, panjang, pendek, ada yang siang ada yang malem." Terang si pemilik warung.
"Hah? Banyak ya jenisnya bu?" Tanya Pandu, sambil menggaruk kepalanya. Ia tampak bingung.
"Banyak mas ... emangnya buat siapa mas?"
"Buat ... ehm ... buat istri saya, iya istri ... dia kehabisan pembalut jadi ... ya udah saya ke sini." Ucap Pandu. Sambil tersenyum.
"Ooh buat istrinya, biasa dia pake yang gimana tuh mas?"
"Yang ... emh ... yang panjang aja. Soalnya ini awal menstruasi jadi biasa banyak bu, jadi yang panjang tadi. Tapi saya nggak ngerti, siang malem nya."
"Ya udah mas, yang malem ini. Ada sayap kiri kanan, kagak nembus dah."
"Oke, berapa bu?"
"1 bungkus gini, isi 8, harganya 17 ribu doang mas."
"Oke ... ini bu uangnya."
"Kembalian nya mas."
"Ambil aja, saya buru buru bu, maaf. Permisi." Ucap Pandu, meninggalkan warung dengan berjalan cepat dan tersenyum.
"Emang berapa kembalian dia mpok?"
"Paling 3 rebu."
"3 rebu pala lu? Dia kasih 100 rebu, artinya gue di kasih duit doang ini sih, cuma cuma."
__ADS_1
"Buset, bisa traktir kita makan bakso itu sih."
"Ah ... kagak, utang lu pada belum lunas!"
......................
Makan siang,
"Mas, makasih pembalutnya."
"Sama sama."
"Makanannya enak nggak mas?"
"Enak."
"Tapi besok aku masak aja deh mas."
"Kamu nanti capek nggak?"
"Nggak kok, lagian apa juga yang harus aku kerjain di dalem sini mas, lagian cuma berdua, ya masak juga nggak banyak." Ucap Anjani sambil mengunyah makanannya.
"Oke." Sahut Pandu.
Makan siang usai, Pandu mencoba memejamkan mata, menunggu waktu untuk pergi bekerja,
"Aku tidur siang dulu beib. Aku dinas malem, jadi aku butuh tidur dulu. Boleh kan?"
"Aku ikut, aku mau tidur sama kamu."
Sambil bergelayut pada tubuh Pandu, keduanya berjalan memasuki kamar,
"Mas, peluk aku." Pinta Anjani.
"Oke, sini."
Pandu memeluk Anjani. Anjani tersenyum, "Mas ...?"
"Ehm ... apa?" Ucap Pandu, sambil memejamkan matanya dan memeluk Anjani.
"Enggak jadi mas ..."
"Tidur beib. Ayo ..." bisik Pandu.
"Mas, ini otot ya?"
Pandu tak menjawab, ia telah tertidur pulas,
"Perut kamu ..." bisik Anjani, sambil meraba bagian otot perut Pandu.
"Kira kira, punya kamu segede apa ya mas?" Bisik Jani, saat jemarinya berada pada bawah pusar.
"Pasti ... duh ... bisa sobek punya gue." Ucap Anjani, yang tiba-tiba saja merasa takut dengan ukuran ***** milik Pandu.
"Duh, nggak mau ah ... tangan dia aja gede banget. Jari dia, panjang semua." ucap Anjani, sambil memejamkan mata dan membenamkan tubuhnya pada pelukan Pandu.
Mendekati pukul 5 sore, Pandu lebih dulu terbangun. Ia membuka mata dan melihat Anjani tengah memeluknya,
"Masih tidur dia." Ucap Pandu, sambil berbisik dan tersenyum.
Pandu mencium kening Anjani. Kemudian ia meninggalkan Anjani untuk bersiap pergi bekerja.
Pandu telah biasa menyiapkan segala sesuatu sendiri, ia mengeluarkan pakaian kerja lalu menuju kamar mandi.
Kembali ke kamar, Anjani masih tertidur, Pandu mengenakan pakaian kerjanya dan jam tangan,
"Beib, aku pergi kerja dulu ya." Ucap Pandu, sambil memeluk Anjani dan mencium pipinya.
"Ehm ... nanti mas ..." pinta Anjani yang mulai manja, ia memeluk Pandu dan meminta waktu.
"Nanti aku telat, besok aku temenin kamu seharian, aku janji." Ucap Pandu.
"Janji mas?"
"Janji. Aku pergi dulu."
"Oke, cium aku lagi."
"Oke ..."
__ADS_1
Pandu mencium pipi Anjani.
"Banyak banyak mas ..." pinta Anjani.
"Oke ... banyak banyak ..." ucap Pandu.
Mencium pipi, kanan dan kiri juga kening. "Banyak kan?"
"Bibirnya mas?"
"Oh ... oke ..."
Pandu mengecup bibir Anjani. Anjani membalasnya,
"Kalo kita saling bales gini, aku bisa nggak jadi kerja ..." ucap Pandu, sambil menahan tawanya.
"Hahaha ... oke, udah, aku tunggu kamu mas, jangan malem."
"Lah, gimana ... beib, aku balik jam 3 pagi ..."
"Hahaha ... oke, jangan selingkuh mas ..."
"Nggak lah ..."
"Mas, telepon aku ..."
"Eh bentar, aku nggak tau nomor kamu. Kita aja belum tuker nomor handphone sayang."
"Hahaha ... ayo kita tukeran nomor handphone mas."
Anjani meraih ponselnya dan meminta nomor dari
Pandu. Pandu menyimpan nomor telepon milik Anjani,
"Nama aku apa disitu mas?"
"Beib." Sahut Pandu.
"Aku juga kalo gitu. Aku tulis nama kamu disini Beib juga."
"Ya udah, aku pergi dulu."
"Hati-hati mas beib.."
"Oke beib."
Di depan pintu garasi, Anjani melambaikan tangan pada Pandu,
"Jani ...!" Ucap Pandu dari kaca jendela mobilnya.
"Kenapa mas?"
"Belajar buat cinta sama dokter ..." Pinta Pandu, sambil tersenyum.
"Aku belajar mas! Aku mau!" Sahut Anjani, sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.
Pandu berlalu dari rumahnya meninggalkan Anjani, menuju rumah sakit,
"Aku berusaha mas, aku mau jatuh cinta sama kamu." Ucap Anjani pelan, sambil kemudian berjalan menuju ke dalam rumah.
"Oke ... terus ... aku ngapain nih?"
Anjani kebingungan, ia tak tahu harus mengerjakan apa,
"Ehm ... nonton tv aja deh."
Anjani berbaring di dalam kamar, menonton tv. Tak sengaja ia melihat dompet milik Pandu, yang tertinggal,
"Kayaknya ini emang isi uang doang, nggak ada identitas lain. Aku telepon dia aja lah."
Anjani menghubungi Pandu,
"Iya beib, belum jauh ini, kenapa?"
"Mas ... dompet kamu ketinggalan."
"Iya, sengaja, nanti kamu mungkin mau beli apa apa, jadi pake uang itu aja beib."
"Serius mas? Tapi kamu percaya sama aku kalo uang sama dompet...?
__ADS_1
"Kamu tanggung jawab aku sekarang. aku percaya sama kamu."
Anjani tersenyum, mendengar ucapan Pandu, jika kini ia adalah tanggung jawabnya.