DUA GARIS (You Got Me Baby)

DUA GARIS (You Got Me Baby)
TALAK MEMPERTEMUKAN KITA


__ADS_3

"Mama ... Papa ...? Kok bisa?"


Anjani baru saja tersadar. Melihat kedua orang tuanya yang duduk di dekatnya.


"Mama di telepon suami kamu, dari telepon kamu, dia bilang kamu sakit. Makanya mama sama papa kesini."


"Mas Bastian ada disini?" Tanya Anjani yang tampak bingung.


"Ada, dia lagi ke toilet." Ucap ayahnya.


Anjani senang, mengetahui jika Bastian yang telah menjaganya dan menghubungi orang tuanya.


"Kamu sakit apa Jani ... sampe harus nambah darah gini?"


"Eh ... nggak tau juga ma, baru sadar, lagi di transfusi darah?" Ucap Anjani, sambil melihat kantong darah, yang menggantung di dekat kantong infus.


"Makan dulu gih, minum dulu. Mama mau pulang, Papa mau kerja lagi soalnya. Dia izin tadi dari kantor, jemput mama terus kesini."


"Oke pa, papa, hati-hati ya." Ucap Bastian, yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Iya Bastian. Terima sudah jaga Anjani. Kamu baik-baik ya, jangan sakit lagi, semangat dan harus sehat, biar bisa ngerjain apa aja."


"Makasih papa ..." ucap Anjani sambil tersenyum.


Anjani di temani Bastian, ia tengah menikmati makan siang. Sementara Pandu, sedang memeriksa pasien di ruangan lain. Fauzan disibukan dengan operasi sesar.


Jam istirahat, Fauzan dan Pandu bertemu,


"Kayaknya Bastian udah dateng, terus, mama sama papa Jani, udah dateng tadi, gue liat mereka baru keluar dari kamar Jani." Ucap Fauzan.


"Bagus deh." Sahut Pandu.


"Lu masih ... masih ada perasaan sama Jani?" Tanya Fauzan.


"Apa perlu di jawab?" Ucap Pandu.


"Nggak lu jawab gue dah tau jawabannya, *** ..." ucap Fauzan.


"Lah jelas, ginjal aja gue kasih." Ucap Pandu.


Mereka berdua tertawa dan kemudian kembali bekerja menangani pasien,


"Mas, makasih udah temenin aku, makasih juga udah telepon mama."


"Ooh ... iya, sama sama sayang, aku cuma mau kamu tau, kalo aku masih perhatian sama kamu."


"Maaf kalo aku ngerasa curiga ke kamu mas."


"Udah, lupain aja. Lagian, aku udah disini, tapi besok aku harus berangkat. Mungkin mama yang jagain kamu, sampe kamu sembuh."


"Iya mas, makasih sekali lagi." Ucap Anjani.


Menjelang malam, Bastian meninggalkan Anjani seorang diri. Ia menemui Anggi, kekasihnya di apartemen.


Mereka kembali bercinta, seperti biasanya. Kemudian mereka berdua menghabiskan malam dengan menonton film berdua,


"Jadi, dia sakit?"


"Iya sayang, dia lagi di rawat."


"Terus ... kapan kita punya anak? Aku mau anak dari kamu ..."


"Sabar dong, nanti juga di kasih anak. Besok kita ada kerjaan, kamu temenin aku lagi, kayak biasa."


"Oke, sebagai sekertaris kamu ... aku harus siap kapanpun kamu butuh aku."


"Termasuk urusan ranjang kan sayang?"

__ADS_1


"Jelas lah, aku selalu kasih kamu yang terbaik dari aku, aku juga rencana mau program kehamilan, nanti kamu ikut aku ya?"


"Siap, kita periksa bareng."


"Oke ... aku sayang banget sama kamu ..."


"Aku juga ... nggak sabar nikahin kamu."


"Buruan, cerai in dia sayang ... aku nggak mau waktu kamu ke bagi bagi gini."


"Sabar ... aku atur waktu yang tepat. Dia udah sehat dan aku bakal bilang soal ini ke dia." Ucap Bastian.


......................


menjelang 5 tahun pernikahan Anjani dan Bastian. Tepat di hari ini, hari dimana mereka merayakan hari besar pernikahan mereka.


Bastian mengajak Anjani untuk malam bersama, sebagai perayaan kecil dari 5 tahun pernikahan mereka sekaligus hari ulang tahun Anjani yang menginjak 25 tahun.


Makan di restoran mewah, Anjani dan Bastian mengenakan pakaian yang serasi, tampak mahal dan berkelas.


"Indah banget mas ..." ucap Anjani, yang malam itu menggunakan gaun hitam, panjang, berbelah samping yang cukup tinggi, dan bagian bahu terbuka. Anjani tampak jenjang dan tubuh langsing nya kian terlihat.


Suasana romantis, musik live mengalun merdu di telinga. Mereka berdua menikmati makan malam mewah,


"Sayang, aku mau kasih tau sesuatu, sama kamu." Ucap Bastian.


"Soal apa mas?" Tanya Anjani dengan wajah sumringah.


"Soal kita."


"Kita? Ehm ... kita kenapa mas?"


"Aku, aku mau kita pisah."


Anjani awalnya tertawa, ia mengira itu adalah sebuah lelucon dari Bastian,


"Nggak, ini serius. Aku sudah ajukan gugatan cerai ke pengadilan negeri. Aku kirim pdf ke kamu." Dengan wajah serius, Bastian mengucapkan itu.


Tawa Anjani berubah jadi air mata. Dengan bibir yang gemetar dan tubuh yang mendadak terasa dingin, Anjani mencoba mengatakan sesuatu,


"Salah aku apa mas ..." ucapnya terdengar lirih.


"Nggak ada, kamu nggak ada salah. Aku cuma mau dan ingin kita pisah. Selamanya. Aku pergi dulu."


"mas tunggu! Mas nggak bisa gugat aku tanpa dasar apapun!" Ucap Anjani, dengan tangis dan menahan tangan Bastian.


"Jani ... kamu nggak perlu buat kesalahan. Aku bisa ngelakuin apa aja, biar kita bisa pisah. Kamu pulang, aku pergi dulu. Maaf kalau aku nggak bisa bertahan sama kamu. Mungkin kita nggak jodoh Jani."


Bastian meninggalkan Anjani begitu saja, seorang diri. Anjani menangis tersedu sedu. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia alami.


Tangis Anjani memuncak, hingga ia jatuh pingsan.


Beberapa orang menolong nya dan memanggil taksi untuk mengantar Anjani ke rumah sakit dengan di temani dua orang wanita pengunjung restoran, yang berkenan menemani dirinya selama perjalanan menuju rumah sakit.


Tiba di rumah sakit. Anjani pun di bawa ke ruang UGD untuk tindakan pertama.


"Kayaknya mbak ini pernah di rawat disini deh? Tapi kapan ya?"


"Kenapa Siska?"


"Mbak ini ... yang di bantuin sama pak Dewa kan, yang darahnya O?"


"Iya ya ... lah dia sakit lagi?"


"Kayaknya sih. Bajunya cantik banget, kayaknya dia habis ada acara deh."


"Bener, kasian dia. Tadi dianterin sama cewek dua orang, mereka bilang nggak kenal sama nih pasien."

__ADS_1


"Tragis banget."


Pukul 2 malam, Anjani baru saja tersadar. Melihat selang infus yang menempel pada tangannya.


"gue ... gue harus pulang!" Tegasnya dan bangkit dari tempat tidur. Anjani melepaskan selang infus mencabut jarumnya dengan paksa.


"Akh ..." lirihnya menahan sakit.


Anjani meninggalkan kamar itu dan berjalan seorang diri keluar dari sana.


Sambil menangis dan menenteng sepatu, Anjani kebingungan,


"Handphone? Tas? Sialan!"


Anjani kembali lagi untuk mengambil tas yang tertinggal,


"Ooh ... pak, ini saya ketemu di kamar pasien." Ucap OB yang saat itu membersihkan kamar kosong.


"Tas?"


"Iya pak, permisi."


"Oke."


Pandu baru saja menerima tas cantik berwarna hitam itu, ia tak mengetahui jika tas itu milik Anjani,


"Mbak Siska, nanti kalo ada yang cari tas, kasih tau saya ya."


"Oh iya pak Dewa. Siap."


Pandu kembali keruangan nya. Menunggu waktu jam pulang.


Anjani tergesa gesa, ia kembali ke dalam rumah sakit,


"Mbak, mbak liat tas saya, tas ... Tas warna item, kecil?" Tanya Anjani.


"Loh, punya mbak?"


"Iya, punya saya, boleh cek nanti KTP, saya sebutin semua isinya." Ucap Anjani.


"Tunggu di sini mbak, ada sama pak Pandu. Saya panggil bentar."


"Pandu?"


"Iya mbak, pak Pandu."


Siska menuju ruangan Pandu. Sementara Anjani seolah mengingat nama itu,


"Pandu? Pandu itu...? Pandu... jangan jangan ..." Anjani semakin panik, ia kemudian meninggalkan rumah sakit.


Pandu baru saja datang ke ruang resepsionis,


"Tadi disini pak?"


"Dia kabur kayaknya." Ucap Suster jaga.


Pandu pun mencari wanita yang memiliki tas itu. Berjalan menuju parkiran, tampak wanita yang sedang berdiri di pinggir jalan, terlihat kedinginan dan menunggu taksi,


"Mbak?" Sapa Pandu pelan, sambil mendekati wanita itu.


"Mas? Anjani tampak sedikit terkejut melihat Pandu. Pandu pun sama.


"Jani ...?"


"Mas ... mas ... a- anu... mmm..." ucap Anjani yang tampak gugup dan Jani mendekati Pandu lalu memeluknya walau terlihat ragu, sambil menangis terisak.


"sshh ... iya ... kamu ... kamu kedinginan ..." bisik Pandu, sambil membuka jas putih miliknya, lalu menutup tubuh Anjani yang tengah merasakan dinginnya malam itu.

__ADS_1


Anjani terus menangis dan membenamkan tubuh dan wajahnya pada Pandu.


__ADS_2