DUA GARIS (You Got Me Baby)

DUA GARIS (You Got Me Baby)
DIANTERIN PULANG


__ADS_3

"Mas ... aku ... aku...." ucap Anjani, yang mulai melemah dan kesulitan untuk berdiri.


"Jani ... kamu masih sakit. Kita, kita ke dalem lagi."


"Jangan mas, aku mau pulang ..." lirih Anjani.


"Pulang? Jam segini?"


"Iya mas ... tapi bentar?" Anjani mencoba merasakan genggaman tangan Pandu. Ia mengingat sesuatu.


"Kamu pernah pegang tangan aku? Sebelumnya mas? so sorry mungkin ngaco ini tapi aku kok... Dejavu?" Tanya Anjani, sambil mendongak.


"Ehm ... enggak." Ucap Pandu, yang baru saja berbohong.


"Tapi ... kayaknya aku pernah pegang tangan kamu ... tapi dimana ..." ucap Anjani dan kemudian ia jatuh pingsan dalam pelukan Pandu.


"Jani ..." bisik Pandu.


Kemudian Pandu menggendong Anjani dan membawanya hingga ke dalam mobil. Meletakkan Anjani pelan dan memasang sabuk pengaman. Menjinjing tas dan sepatu milik Anjani yang kemudian ia simpan di bangku belakang.


"Jani ..." bisik Pandu, mencoba membangunkan Anjani.


Anjani tak bergeming, Pandu kebingungan hendak mengantarkan Anjani kemana,


"Kita ke rumah." Ucap Pandu pelan, sambil berkendara mengantarkan Anjani. Pandu baru saja selesai dari dinas malamnya hari ini.


Sesekali ia melihat wajah Anjani. Pandu tersenyum, ia bahkan tak pernah berfikir untuk kembali bertemu walau dengan keadaan yang tidak baik.


Tiba di rumah kontrakan, Pandu menggendong Anjani dan meletakkan tubuhnya diatas ranjang, menyelimuti Anjani, lalu meninggalkan Anjani di dalam kamar sementara Pandu memilih untuk tidur di sofa, pagi itu.


Pukul 7 pagi, Anjani baru saja terbangun,


"Duh ... sakit semua ..." ucapnya sambil merenggangkan tubuhnya.


"Eh? Ini dimana?"


Anjani melihat seisii kamar. Tas ransel, lemari, sofa kecil pada sudut jendela kamar, rak buku, laptop, name tag dan foto serta dompet pria, juga jam tangan. Jas putih yang menggantung di balik pintu kamar.


"Ini kamar siapa? wah?!"


Anjani melihat name tag dan membaca nama yang tertera.


"Pandu Dewanata SpOG? Hah?! kok? dia kan? kakak tingkat aku, temen mas Bastian. Astaga beneran dia kan ... dia yang semalem ketemu aku di parkiran terus kasih aku jas putih itu. Jadi ini kamar dia?!"


Anjani kemudian menyentuh seluruh tubuhnya. "Aman, nggak di perkosa. Oke ... oke tenang, tarik nafas Jani ... oke."


Anjani kemudian berjalan pelan, melangkahkan kakinya dan membuka pintu.


"Sepi, dia kemana ya?" Ucap Anjani pelan, dan berjalan menuju ruang tv.


"Astaga, ini orang panjang banget. Sofa sampe over, kaki dia kelebihan dari sofa.... aku bangunin aja kali ya."


Anjani mencoba membangunkan Pandu. "Mas ... mas ... bangun, udah siang." Sambil mengguncang tubuh Pandu.


"Mas ... mas aku mau balik mas ..."


"Mas ... mas dokter, mas ... ada yang mau lahiran nih ..."


"Hah?!Mana?! Eh ... sorry, maaf ... kesiangan. Maaf." Ucap Pandu saat Anjani berhasil mengerjainya.


"Kamu sigap banget, denger ada yang mau lahiran, langsung bangun."


"Maaf, kebiasaan mungkin. Kamu mau pulang?"


"Iya mas dokter, anterin pulang bisa? Atau kalo masih ngantuk, aku pulang sendiri aja, naik taksi."


"No ... enggak, aku anterin. Aku ke kamar mandi dulu."


"Oke ... tapi aku duluan ya mas. Soalnya aku mau pipis ..."


"Ya udah, kamu duluan, terus aku." Ucap Pandu sambil tersenyum.

__ADS_1


Anjani pun memasuki kamar mandi. Membersihkan wajahnya dan,


"Mas ... aku boleh pinjem sikat gigi kamu?"


"Ooh ... iya beib. Eh ... iya Jani!" Ucap Pandu yang merasa ada yang salah dalam kalimat,


"Oke ..." sahut Anjani.


"Duh ... kenapa juga tadi gue bilang beib? Denger nggak dia?" Ucap Pandu pelan, sambil mengacak rambutnya.


Tak lama kemudian, Pandu menyalakan mesin mobilnya,


"Tunggu bentar ya."


"Oke mas."


"Kamu mau makan?"


"Makan apa ya mas? Ehm ... minum aja deh mas."


"Bentar."


Pandu meraih susu kemasan dalam lemari es, lalu ia tuang dalam gelas.


"Nih, minum dulu."


"Makasih mas."


"Iya. Kamu udah baikan?"


"Kayaknya udah mas, aku mungkin capek. Terus ... aku ..." Anjani teringat jika ia baru saja di talak oleh Bastian semalam.


"Kita ... pulang ya, aku anterin kamu. Oke?" Ucap Pandu pelan, saat melihat wajah Anjani yang muram.


"Iya mas ..." sahut Anjani, sambil tersenyum dan menahan air matanya.


Pandu membuka pintu mobil untuk Anjani,


"Iya, sama-sama. Maaf." Pandu membantu Anjani, mengaitkan sabuk pengaman.


"Makasih lagi mas." Ucap Anjani.


"Sama sama lagi." Sahut Pandu.


Anjani dan Pandu tampak menahan tawa ketika tersadarkan akan pengulangan kalimat.


Meninggalkan rumah bergaya minimalis itu, Pandu mengantarkan Anjani,


"Mas udah lama tinggal di sana?"


"Baru 5 bulanan."


"Deket sama rumah sakit ya mas."


"Iya, emang sengaja cari yang deket aja. Apalagi dinas malem, kalo jauh dari rumah, susah, kasian pasien nanti ada yang nungguin kan."


"Bener sih. Mas sekarang jadi dokter spesialis kandungan?"


"Iya ... nggak cocok ya?"


"Cocok aja sih, jarang jarang loh mas, ada yang jago basket, profesinya dokter kandungan." Ucap Anjani, sambil tersenyum.


Pandu pun menanggapi itu dengan senyum pada Anjani,


"Kita beli makanan bentar ya, kamu tunggu disini, aku yang turun."


"Oke." Ucap Anjani.


Menunggu mas dokter yang tengah membeli roti di sebuah toko roti. Dengan membawa bungkusan berisi roti dan air mineral,


"Oke ... ini kamu makan dulu, aku bukain bungkus nya."

__ADS_1


"Makasih mas."


"Kita tuh harus sarapan pagi, biar ada tenaga. Sarapan pagi nggak bikin gemuk kok." Ucap Pandu, sambil memberikan roti pada Anjani.


"Hahaha ... insecure mas sama yang namanya sarapan, buat cewek khususnya."


"Hahaha ... nggak lah, tenang aja. Oke kita pulang."


"Oke."


Diperjalanan, Anjani menikmati roti isi coklat. Tak sengaja, lelehan coklat itu terjatuh pada leher dan pakaiannya. Pandu memberikan tisu pada Anjani,


"Makasih mas."


"Iya ..."


"Mas nggak makan?"


"Kamu aja duluan."


"Nanti mas sakit, makan gih ... nih ..." Sambil memberikan roti yang tengah ia makan, ke dalam mulut Pandu. Pandu pun langsung menggigit bagian roti yang Anjani sodorkan pada mulutnya.


"Enak kan mas?" Tanya Anjani, dengan mulut berisi roti.


"Ehm ... enak ..." sahut Pandu, sambil mengunyah roti itu.


Anjani terus memberikan roti pada Pandu, mereka terlihat kompak, berbagi makanan hingga tiba di depan rumah keluarga Bastian,


"Mas, udah sampe."


"Oke, hati-hati ya, sampe ketemu lagi. Salam buat Bastian." Ucap Pandu, sambil berdiri dan menunggu Anjani untuk masuk ke dalam rumah besar itu.


"Iya mas, sampe ketemu lagi. Terimakasih udah anterin aku. Rotinya juga, makasih." Ucap Anjani sambil tersenyum dan menitihkan air matanya.


"Jangan nangis lagi." Bisik Pandu, sambil menyerahkan sapu tangan yang ada pada saku celananya, pada Anjani.


Sambil terisak, Anjani menghapus air matanya dan kembali tersenyum,


"Makasih mas... aku masuk ya."


"Iya, aku pulang."


"Hati-hati mas."


"Oke, bye Jani."


"Bye mas ..."


Pandu pun masuk ke dalam mobil dan kembali berkendara. Sementara Anjani masih berdiri memandangi mobil Pandu yang perlahan menjauh,


"Mbak ..."


"Oh, Tati. Maaf, aku baru balik."


"Buruan masuk mbak, kebetulan nyonya lagi jalan pagi sama suaminya."


"Oh ... oke."


Anjani dan Tati, masuk ke dalam rumah,


"Mbak, kok pulang sendiri?" Tanya Tati.


"Mas Bastian sibuk Tati."


"Sibuk apaan? Dia semalem bawa tas, berangkat lagi."


"Serius kamu?"


"Iya, terus aku denger mereka berdua, bilang soal mbak. Katanya mbak mau di usir dari sini, dianterin pulang ke rumah orang tua mbak."


"Mereka bilang gitu?"

__ADS_1


"Iya mbak, itu dari nyonya, kalo mas Bas ya... diem aja."


__ADS_2