DUA GARIS (You Got Me Baby)

DUA GARIS (You Got Me Baby)
TANPA UANG SEPESERPUN


__ADS_3

Mendengar ucapan dari Tati, Anjani merasa tak tenang. Ia pun segera mandi dan mengganti pakaiannya.


Artha dan suaminya pun baru saja kembali dari kegiatan olahraga pagi,


"Tati, apa dia udah balik?"


"Udah nyonya."


"Bagus."


Artha menemui Anjani, ia pun mengetuk pintu kamar.


"Iya ma ... masuk." Ucap Anjani, sambil tersenyum.


"enak banget santai santai dikamar... berasa gadis singgel?"


"emm... bukan ma... cuma istirahat bentar..."


"enak jadi istri Tian?" tanya Artha sambil melihat isi kamar mewah itu.


"maksudnya ma...?"


"ENAK! enak nggak ngerti kamu?"


"anu... maaf ma..."


"Saya nggak butuh basa basi, kamu sudah tau kan, Bastian kasih talak?"


"Tapi apa kesalahan Jani ma?"


"Bukan urusan saya, yang jelas, kamu bukan bagian keluarga kita lagi. Kamu asing, silahkan kamu pergi dari rumah ini dan Bastian akan datang kerumah orang tua kamu, setelah dia pulang dari Singapura."


"Tapi ..."


"Tidak ada tapi, bawa barang kamu, barang kamu yang memang punya kamu dari rumah kamu dan artinya bukan dari Tian dan pergilah. Lagian, buat apa mempertahankan wanita mandul, dan 5 tahun tanpa anak? Ini tuh gila, kelewatan namanya. nanti kamu bawa penyakit sama Tian!"


"Jani nggak mandul!' Tegas Anjani sambil menitihkan air mata.


"Hahaha ... buktinya?! kasih anak satu aja nggak bisa. Buktikan dong. Perempuan cantik di luar sana tuh banyak, bukan kamu aja. Tapi yang bisa kasih anak? Ternyata langka." Ucap Artha.


"Jani nggak mandul, Jani bisa buktiin sama kalian!"


"Sama siapa? Apa ada yang mau sama kamu? Selain Bastian yang dulu bodoh, kepincut sama kamu? Nggak ada kayaknya."


"Oke! baik! Jani pergi dari sini dan Jani yakin, kalian semua nyesel buang Jani kayak gini!" Tegas Anjani, sambil menyapu air matanya.


"menyesali kamu pergi?! hahaha eh kamu ngaca dong!"


"Jani yakin! sampe kapan pun kalian nggak akan punya cucu!" ucap Anjani bersumpah serapah.


"Ya ... silahkan. Lagian juga, saya udah ada calon pengantin wanita buat Bastian. Pengusaha muda dan kaya raya kayak dia, nggak bakal susah cari pendamping hidup, kecuali kamu. Paling juga yang mau sama kamu ya ... pekerja biasa, sales motor mungkin." Ucap Artha dan meninggalkan Anjani.


Kesombongan Artha, membuat Anjani emosi. Ia pun meninggalkan rumah itu dengan hanya membawa pakaian miliknya dan yang ia kenakan,


"Mbak ... mbak mau kemana?" Tanya Tati.


"Pergi Tati ... maaf kalo aku ada salah sama kamu. Aku nggak bisa di hina kayak tadi! kamu denger kan?" ucap Anjani sambil menahan air matanya.


"Sabar mbak, mereka emang gitu, sombong. Tapi mbak mau kemana?"


Anjani terdiam sejenak. Kemudian ia teringat akan rumah Pandu.


"Aku pergi kerumah orang yang mau terima aku Tati. Aku pergi dulu. Kamu baik-baik kerja disini."


"Baik mbak, mbak kalo perlu apa aja, telepon Tati mbak."


"Pasti. Makasih sudah baik sama aku, selama aku disini." Ucap Jani, sambil memeluk Tati dan berpamitan dengan pembantu lainnya. mereka terlihat bersedih ketika Anjani melangkahkan kakinya keluar istana Artha.


Anjani menghubungi taksi. Taksi pun datang,


"Kemana mbak?"


"Kontrakan di belakang RS Fatmawati pak, jalan aja dulu. Saya lupa lupa inget."


"Oke, nanti arahin aja mbak ya."


"Siap pak."

__ADS_1


Pergilah Anjani menuju rumah Pandu. Ia masih menitihkan air mata, sepanjang perjalanan. Anjani merasakan sesak di dadanya, mencoba menghubungi Bastian namun tak ada jawaban dari sang suami,


"Mbak, kita udah di kawasan belakang rumah sakit, ini kemana lagi?"


"Oh ... maju lagi pak, dua blok dari sini."


"Oke."


Tepat, Anjani tiba di depan rumah Pandu,


"Disini mbak?"


"Iya pak, bener."


"Oke. Sini tas nya saya bawain mbak."


"Makasih pak ya."


"Sama sama."


Berdiri, mengetuk pintu dengan tas koper berwarna kuning.


"Mas ..."


"Mas dokter ..."


"Kemana sih? Apa lagi tidur tuh orang? Mas ... mas dokter ... mas ... mas Pandu ..."


"Kayak ada orang?" Ucap Pandu, yang baru saja mengenakan handuk pada pinggulnya.


Berjalanlah Pandu, membuka pintu rumah,


"Astaga!" Ucap Pandu, terkejut melihat Anjani yang tengah berdiri di ambang pintu.


"Mas?"


"Wait ..." ucap Pandu, yang berlari kembali menuju kamarnya.


"mas tunggu?!" pinta Anjani,


"ada uang nggak mas... bayarin taksi... maaf mas... taksinya nungguin tuh..." ucap Anjani sambil menoleh kearah mobil taksi.


"oh bentar... tunggu...!"


tak lama kemudian,


Duduklah Anjani di ruang tv. Pandu baru saja mengenakan pakaian,


"Maaf tadi nggak pake baju." Ucap Pandu sambil tersenyum.


"Iya mas, udah liat juga kok. makasih udah bayarin ongkos taksi mas..."


"iya sama sama. Oke ... ehm ..." ucap Pandu, yang bingung melihat tas koper berwarna kuning.


"ini mau liburan Jani?" tanya Pandu saat melihat tas koper itu.


"Mas ... aku di usir dari rumah mertua. Aku juga di talak sama mas Bastian, semalem." Ucap Anjani sambil menahan air matanya.


"Hah?" Ucap Pandu, terkejut mendengar ucapan Anjani.


"Aku nggak tau mau kemana mas? Aku malu pulang ke rumah mama tapi malu..., aku nggak tau mau bilang apa. Aku mau kemana lagi sementara waktu ini? jadi aku kesini lagi karena inget rumah kamu." Ucap Anjani sambil menangis terisak di sisi Pandu.


Pandu mengangguk, ia memerhatikan wajah sedih itu. Kemudian Pandu mencoba menenangkan Anjani,


"Mas ... aku boleh sandaran?"


"eh gimana?"


"sandaran mas... numpang..."


"Sini." Ucap Pandu sambil menahan tawa dan mendekati Anjani lalu memberikan bahunya untuk Anjani bersandar.


Tangis Anjani semakin menjadi jadi. Ia tak segan menyeka cairan lendir dari hidungnya menggunakan pakaian Pandu.


"Oke ..." Ucap Pandu, menahan tawa kala melihat itu.


"Maaf mas. Tisu mas jauh banget taroknya..." lirih Anjani, sambil menangis.

__ADS_1


"Hahaha ..." sahut Pandu dengan tawa.


"Mas seneng ya, liat aku gini, kena talak?"


"Iya. Eh enggak lah ... aku prihatin sama kondisi kamu. Nangis aja terus, nggak apa-apa." Ucap Pandu.


Anjani kembali menangis pada bahu Pandu, "Mas, bahu kiri aja. Bahu kanan udah basah ..."


"Hahaha ... oke ... aku pindah duduk." Ucap Pandu sambil tertawa.


Anjani benar-benar membenamkan wajahnya pada bahu kiri Pandu dengan tangisan.


"Mas, aku harus apa?"


"Harus apa? Ehm ... tenang dulu kayaknya. Kalo tenang, kita bisa mikir." Ucap Pandu pelan.


"Mas ..." ucap Anjani sambil mendonga melihat Pandu.


"Hahaha ... muka kamu ketutup rambut semua Jani." Ucap Pandu, saat melihat wajah Anjani yang tertutup oleh rambutnya sendiri.


Anjani mencoba tertawa, sementara Pandu merapikan rambutnya yang menutupi wajah cantik itu,


"Udah nangisnya?" Tanya Pandu pelan, pada Anjani sambil menatapnya.


"Udah mas. Maaf, baju kamu kotor, ganti mas." Ucap Anjani.


"Yaudah, aku ganti baju dulu. Tunggu ya."


"Oke."


Anjani menyeka sisa air matanya. Ia mencoba tenang dan berfikir.  Sementara Pandu tengah kebingungan dengan kehadiran wanita yang ia cintai di dalam rumahnya.


"Gue harus apa ya? Masa gue cuekin? Apa gue suruh dia tinggal tempat lain? Nggak tega gue. Gue anterin dia balik aja? Tapi dia tadi minta tinggal disini sebentar."


"Mas ... aku ambil minum ya...?" Ucap Anjani, dari balik pintu kamar Pandu.


"Ooh ... oke, tunggu ya ..." sahut Pandu dari dalam kamar.


"Oke mas."


Keduanya duduk bersama, di ruang tv.


"Kamu mau makan?"


"Belum laper mas."


"Tapi nanti kamu sakit."


"Terus mas jadi repot?"


"Nggak sih, cuma aku nggak mau kamu sakit terus."


"Aku sehat kok mas."


"Iya sekarang, tapi kalo nggak makan? kamu bisa sakit terus..." ucapan Pandu terjedah.


"Mas, aku mau tanya? Apa bener, kamu yang temenin aku di rumah sakit?" Tanya Anjani, secara tiba-tiba.


"Maksudnya?"


"Iya, kamu yang pegang tangan aku kan? Waktu aku masuk rumah sakit?"


"Ehm ... itu ..."


"Jawab mas ... iya kan?"


"Iya, maaf." Ucap Pandu.


"Jadi bukan suami aku, atau jangan jangan, yang telepon mama buat dateng ke rumah sakit, itu kamu?"


"Iya, itu aku juga."


"Kenapa kamu baik sama aku mas?"


"Nggak ada alasan kita berbuat baik sama orang kan?"


"Aku tau, tapi kenapa sama aku? Kenapa mas? Mas suka sama aku?" Tanya Anjani pelan, sambil menunduk.

__ADS_1


__ADS_2