DUA GARIS (You Got Me Baby)

DUA GARIS (You Got Me Baby)
PERGI KERUMAH CALON MERTUA


__ADS_3

Hampir 1 jam lamanya, mereka bercinta dikamar dan waktu menunjukkan pukul 5 : 20 AM,


"Mas, hamil nggak nanti ya?" tanya Anjani, sambil berbisik.


"Hamil, liat aja kalo nggak percaya nanti. Tapi makan pagi nya diganti sayang, sama sereal dan kacang kacangan. Kalo pagi, biar dapet bayi laki laki. Tapi telat sih, seharusnya 1 bulan lalu makannya seperti itu tiap pagi. Tapi nggak papa deh, kalo dapet anak laki laki ya bagus, cewek juga sama aja bagus semua." jelas Pandu sambil memeluknya.


"Iya ya mas, emh ... mas, berarti kita nikah kan?"


"Hahaha ... nggak ah ... gini aja..."ucap Pandu, bercanda.


"Mas ... kamu ya ...," Sahut Anjani kesal dan menarik rambutnya.


"Sakit beib ..."


"Habis kamu nya gitu ..."


"Iya, surat cerai kamu keluar kita nikah. Kalo sekarang nggak bisa, karena baru talak. Tunggu panggilan dari pengadilan aja nanti."


"Oke, jadi kalo gitu kamu tidur aja, kamu belum tidur balik kerja tadi, nanti kalo udah jam 7 pagi. Aku masak dan aku bangunin kamu." Ucapnya sambil tersenyum dan mencium pipi Pandu.


"Tapi jangan dikerjain semua sendiri, mau hamil itu nggak boleh stres sama capek." sahut Pandu sambil menggigit leher Anjani perlahan saat Anjani memeluknya.


"Ah ... geli mas ... hahaha ... udah mas ... aku mandi duluan ya, jangan ngintip aku mas."


"Apaan udah sekamar gini, liat sampe dalem dalem nya, pake bilang gitu dia." Gumam Pandu sambil tersenyum dan ia berusaha untuk memejamkan.


Lain halnya dengan keluarga Bastian.


Pagi ini ibu Bastian berencana menemui keluarga Anjani. Ia menghubungi Bastian,


"Bas ..., mama mau ketemu keluarga si Anjani,"


"Terserah mama aja,"


"Urus perceraian kamu secepatnya dan kamu nikah sama Anggi, mama mau punya cucu,"


"Iya ... iya ma ...,"


"Tati, saya pergi dulu." Ucap Artha, pada Tati.


"baik nyonya ..."


"Ingat, jangan ada Anjani di dalam rumah ini, aromanya aja saya jijik, apalagi liat dia." Ucap Artha, sambil berjalan menuju mobil mewahnya.


"Jalan pak," pintanya kepada supir.


......................


"Selamat pagi ..." ucap Artha, saat tiba di dalam pekarangan rumah Anjani.


Wanita kaya itu datang ke rumah keluarga Anjani yang terbilang sederhana dan katakanlah miskin di mata mereka.


"Oh ... Bu, silahkan masuk ... besan..." ucap Nadia, ibu Anjani yang ramah pada Artha.


"Nggak usah repot-repot, saya cuma mau bilang bahwa Bastian sudah menjatuhkan talak untuk Anjani." Ucapnya sambil duduk di atas sofa dengan menyilang kaki dan meletakkan tas mahalnya di atas meja.


"Maksudnya?" tanya Nadia yang terkejut dan menahan air matanya.


"Iya, cukup sudah kesabaran Bastian 5 tahun, nggak dikasih keturunan, belum lagi Anjani itu nggak bisa melayani suami dengan baik, dia malah selingkuh sama pria lain. Jadi buat apa dipertahankan Bu." Ucap Artha.


"Anjani nggak mungkin berbuat demikian Bu, saya yakin sekali." Ucap Nadia, sambil menangis.


"Anak ibu mandul, sedangkan Bastian kan butuh anak, dia kerja capek cari uang buat apa kalo nggak ada keturunan." Ucapan Artha.


"Mandul? rumus dari mana? kemana anak saya? Kenapa nggak dikembalikan dengan baik oleh Bastian? Kemana Bastian? Kalian melamar anak gadis saya baik baik, kembalikan dia dengan cara yang baik juga!" tegas Nadia dengan emosional.


"Loh, mana saya tahu, dia sendiri kabur dari rumah saya." Ucap Artha.


"Kabur? Nggak, anak saya nggak mungkin kabur dari rumah kalau tidak ada yang mendesaknya!"


"Itu kan menurut anda? Anak anda itu kelakuannya liar, pulang malam, pemalas dan bukan urusan saya dia kabur kemana, saya cuma menyampaikan aja, biar nanti jangan kepedean kalian datang ke rumah saya lagi, Bastian sibuk, saya hanya mewakili anak saya. Permisi." Ucap Artha.


Nadia mengejar Artha,


"Bilang sama anak laki-laki anda, jika dia memang laki-laki? Bawa anak saya kembali dengan cara baik baik! jangan jadi pengecut!" teriak Nadia.


Artha hanya mendesis, tersenyum dan acuh sambil duduk manis di dalam mobil mewahnya.


Tersisa ibu Anjani yang bersedih. Ia tak percaya jika anaknya mengalami hal buruk.


"Anjani ... sayang ..." lirih Nadia, sambil menangis dan ia kembali masuk ke dalam rumah. Duduk dan memandang foto Anjani di dalam kamarnya


"Mama yakin kamu nggak gitu, mama yakin Jani ... mama nggak bakal terima hinaan kayak tadi!" tegas Nadia.


......................


Pagi itu, Anjani menepati janjinya. Ia berbelanja sayuran yang rutin ia lakukan bersama geng sayurnya.


Dengan menggunakan sandal milik Pandu, ia berjalan pulang membawa sayuran.Tiba di rumah, Anjani memasak. Rona bahagia terpancar darinya, ia melakukan apa yang Pandu sarankan apabila ingin mendapatkan anak laki-laki.


Masak usai, Anjani menyajikan masakannya pagi itu di atas meja makan minimalis,


"Mas ... makan dulu yok, nanti habis itu kamu tidur lagi, ayo mas ..." sambil memeluk Pandu, dan memberondong wajah Pandu dengan ciuman.


"Sini, tidur lagi beib."


Pandu memeluk dan mengajak Anjani untuk kembali tidur,


"Mas ... bangun, ayo ... aku udah masak, kamu harus sarapan pagi. Kamu bilang ke aku kan, sarapan pagi itu baik?"


"Iya ... bentar lagi yang. 5 menit."


"Ayo mas ... bangun ..." Anjani memaksa,


Pandu pun beranjak dari ranjang sambil membopong Anjani di belakang tubuhnya,


"Sampe mana nih?"


"Keliling dari sini, keluar terus masuk dari pintu belakang mas, ayo ... buruan kuda ..." ucap Anjani, sambil menahan tawa.


"Oke ..."


Pandu mengikuti keinginan Anjani. Mereka terlihat bahagia pagi itu hingga berubah menjadi tangis, saat kepala Anjani tak sengaja menghantam palang pintu

__ADS_1


"Mas!" Teriaknya menahan sakit dan menangis.


"Maaf sayang ... sh**... maaf ... kamu kejedot?" Tanya Pandu, sambil mengusap dan meniup kening itu.


"pake tanya? sakit ... mas ..." lirih Anjani, sambil menangis.


"Maaf yang ... maaf ... aku obatin pintu nya."


"woi... aku mas...!"


"ooh... iya salah... hahaha..."


10 menit kemudian, mereka berdua menikmati sarapan pagi. Duduklah Anjani diatas pangkuan Pandu,


"Ganti rugi mas ... sakit kening aku."


"Ganti kening?"


"Bukan mas ... pokoknya biar nggak sakit lagi, kamu harus tanggung jawab."


"Uang?"


"Mau ... mana uangnya mas?"


"Hahaha ... dompet aku aja sama kamu. Gimana sih?"


"Oh iya lupa ... tapi ganti mas ... ganti rasa sakit aku..."


"Pake apa?"


"Terserah kamu. Aku minta ganti pokoknya."


"Ya udah, nanti aku kasih sesuatu ke kamu."


"Janji? Mas?"


"iya..."


"Awas kalo bohong."


"Nggak..."


Ponsel milik Pandu berbunyi, seseorang menghubungi,


"Mas, telepon."


"Tolong jawab yang..."


"Oke ..."


"Iya halo ..."


"Maaf, ini Dewa bukan?"


"Owh ... iya ini emang nomornya mas Dewa, bentar ya."


"Oke."


"Mas, temen kamu." ucap Anjani sambil menyerahkan ponsel pada Pandu,


"Nggak tau, laki-laki mas."


"Oke."


Pandu berbincang dengan teman lamanya, Bram. Bram baru saja membuka club malam, ia meminta Pandu untuk datang berkunjung dan berbincang. Kemudian ia menanyakan siapa yang menerima panggilan itu. Pandu mengatakan jika itu adalah kekasihnya. Bram senang mendengarnya.


"Mas mau pergi?"


"Boleh nggak? Aku minta izin kamu dulu."


"Boleh sih, tapi jangan mabuk mas, Janji."


"Janji."


"Beliin sesuatu buat aku jangan lupa."


"Oke, tapi besok malem kok, bukan hari ini. Lagian hari ini aku masih harus dinas malem sayang."


"Mas, mas bisa gendong bayi?"


"Bisa dong, kita diajarin buat itu juga."


"Rasanya liat bayi, yang keluar dari rahim atau perut ibu ibu, gimana mas?"


"Aneh, keren. Campur aduk jadi satu, kuasa Tuhan, luar biasa sayang."


"Bener juga ya mas. Terus ... aku bisa kan hamil?"


"Bisa kok, liat aja 2 minggu ke depan, kamu pasti positif hamil."


"Secepet itu mas?"


"Iya, 7 hari setelah berhubungan bisa di cek kok."


"Aku nggak sabar mas ..."


......................


Merindukan ibunya, Anjani menghubungi Nadia,


"Mama ... ma ... jani kangen mama ..."


"Jani sayang ... mama juga. Jani, mama mau Jani jawab jujur sama mama...?"


"Tentang apa ma?"


Pandu baru saja masuk ke dalam kamar. "yang, iket pinggang aku mana?" Ucap Pandu. Jelas suara itu pun terdengar jelas di telinga Nadia,


"Jani? Itu suara siapa?"


"Ooh ... suara dari tv mama ... hahaha ... bentar ya ma ..."


"Oke."

__ADS_1


"Mas kamu ..." bisik Anjani, dengan wajah masam dan kesal, ia memukuli Pandu.


"Sakit beib ... aku nggak tau kalo kamu lagi telepon sama mama kamu?" Ucap Pandu dengan berbisik.


"Kamu ah ... nanti ketahuan ..."


"Maaf yang ..." bisik Pandu, sambil mencium pipi Anjani.


"Jani ... nak ...?"


"Iya mama, halo ... mama mau tanya apa ma?"


"Jujur, kamu dimana sayang?"


"Kenapa mama tanya itu?"


"Jani, mama sedih, mama seharian nangis, mikirin kamu."


Nadia menceritakan kejadian kemarin saat Artha mendatangi rumahnya. Anjani terkejut, ia tak menyangka jika Artha menebar fitnah. Kemudian Nadia meminta Anjani untuk kembali ke rumah dan menjelaskan permasalahan yang terjadi,


"Kenapa beib? Kenapa nangis?" Tanya Pandu, sambil memeluk Anjani.


"Mama udah tau mas kalo aku di talak, mereka mau ketemu aku mas. Besok ..."


"Besok, jam berapa?"


"Pagi mas ... bisa kan mas, please. Aku minta tolong mas bantuin aku juga buat ngomong ke keluarga aku..."


"Oke, aku ambil libur besok, mungkin Fauzan bisa gantiin aku."


"Makasih mas ... aku nggak tau harus gimana lagi. Aku cuma punya kamu sekarang."


"Aku ngerti kok..."


"Terus, kalo nanti ditanya, hubungan kita?"


"Aku jawab jujur."


"Kamu yakin mas? jujur? sampe yang kita...?"


"Iyalah, aku serius sama kamu Jani ... aku nggak mau main main."


"Makasih mas ..." Sambil memeluk Pandu.


Pergilah Pandu, bekerja kembali. Sementara Anjani menunggu di rumah. Menunggu hari esok, hari dimana ia harus bertemu dengan kedua orang tuanya.


Bastian tak memberikan kabar, ia seperti hilang di telan bumi. Anjani tak lagi bersedih. Ia kini memiliki kekuatan yang lebih besar. Bersama Pandu, ia yakin, jika apa yang akan ia hadapi, bisa ia lewati.


Pagi menjelang, Pandu dan Anjani telah bersiap untuk meninggalkan rumah,


"Udah siap yang...?"


"Udah mas ... tapi aku deg degan."


"Kenapa?"


"Mungkin karena aku udah lama nggak ketemu mama mas."


"Tenang dong, aku bantu kamu nyelesain masalah ini."


"Makasih mas, ayo kita pergi."


"Oke."


Tak lupa, saat berada di dalam mobil, Anjani menyempatkan diri menyapa geng sayurannya dari balik kaca jendela mobil,


"Geng, aku pergi dulu ya ... jagain rumah aku ... hahaha ..." Sambil berteriak, tertawa dan melambaikan tangannya.


Tentu saja, geng sayuran menyambut apa yang Anjani ucapkan. Mereka tertawa dan melambaikan tangan pada Anjani dan Pandu.


Mobil itu berlalu, menuju rumah keluarga Anjani,


"Mas ..."


"Iya, kenapa yang?"


"Kamu berani kan ketemu papa?"


"Papa doang, berani lah."


"Mama aku?"


"Berani kok."


"Kalo sama abang aku?"


"Hah?! Apa?"


"Iya, aku punya saudara laki-laki mas."


"Satu?"


"Dua orang."


"Mampus gue, mikir dulu." Ucap Pandu, menahan tawa.


"Hahaha ... berani dong mas, malu sama badan."


"Bukan sih. Kalo satu iya. Kalo dua sih? Di tambah papa kamu, wah? Selamat nggak nih?"


"Hahaha ... kamu ah, mereka baik kok."


"Iya baik, tapi kan mereka nggak tau kalau adeknya habis di tidurin sama dokter kandungan. Mampus gue."


"Hahaha ... jadi kamu bakal jujur soal urusan ranjang kita mas?"


"Ya jelas lah. Aku serius beneran sama kamu, aku mau kamu jadi istri aku... ngelahirin anak anak aku, itu kamu."


"Owh ... so sweet ... kenapa nggak dari dulu kamu deketin aku sih mas?"


"Aku cuma jaga perasaan temen aja sayang."


"Tapi kan kita ketemu lagi mas, sekarang kita sama-sama. Eh ... mas, kita udah sampe tuh."

__ADS_1


"Rame bener, ada 3 mobil depan rumah itu, rumah kamu?"


"Iya. Itu kayaknya mobil Leo sama Rian mas."


__ADS_2