
"Maksud Tati apa tadi?" tanya Anjani,
"Nggak mbak, cuma iseng aja, nyeplos, pikiran Tati, dia selingkuh aja gitu. Maaf mbak."
"Kamu ih ... jangan sampe, amit amit. Tapi aku makasih sama kamu Tati, udah bantuin aku, aku tidur dulu ya."
"Iya mbak, selamat tidur ya mbak."
Anjani mencoba memejamkan matanya, walau sulit, akibat ucapan Tati yang terus terngiang di telinga.
Benar kata Tati. Bastian sedang bersama Anggi di sebuah apartemen mewah,
"Ah ... aah ... sayang ... ehm ..."
Desah Anggi, saat bercinta dengan Bastian. Keduanya terlihat menggebu gebu, meluapkan rasa rindu dan hasrat **** diatas ranjang.
"Ah ... ah ... sayang ...!"
Mendesah dan berteriak, Anggi terus dibuat tak berdaya oleh Bastian. Tak mau kalah, ia kini berada diatas tubuh Bastian, dan memuaskan mantannya itu dengan melakukan gerakan seksi diatas tubuh Bastian. Bastian merasakan kenikmatan dunia dari Anggi yang tak terbantahkan,
"Ouh ... lagi sayang ..." pinta Bastian, saat Anggi tengah melakukan **** *** pada pe*nisnya.
Hingga cairan putih kental itu keluar dan membasahi kedua pay*dara Anggi,
"Aku kangen ... udah lama banget kita nggak ngelakuin ini?' Bisik Anggi, sambil memeluk Bastian.
"Aku juga, aku harus atur waktu sayang, aku udah nikah, nggak bisa bebas kemana aja."
"Tapi aku mau, kamu tinggal disini sama aku, biar kita bisa buat anak terus tiap hari sayang."
"Kamu tenang aja, aku bagi waktu buat kamu, aku adil kok."
"Oke, aku percaya, tapi ... aku minta uang jajan."
"Boleh, berapa?"
"Setara sama istri kamu lah, aku mau dapet bagian yang sama, dan pastinya aku lebih Hot dari pada dia kan?"
"Hahaha ... jelas, kamu nggak berubah, terus menantang dan kayaknya tambah sempit ya." Ucap Bastian, sambil menyentuh v*gina Anggi.
"Itu soalnya udah lama nggak ngelakuin itu sama kamu."
Keduanya berpelukan hangat dan mesra. Sementara Anjani seorang diri, merasakan dingin dan hampa.
......................
"Mas, dari mana aja?" Tanya Anjani pagi itu, saat melihat Bastian, yang baru saja tiba di dalam kamarnya.
"Aku ke kantor, ketiduran sayang. Ada kerjaan mendesak, besok pagi aku harus ngantor lagi." Ucap Bastian, sambil berbaring dan memejamkan mata.
"Mandi dulu mas, kamu baunya beda." Ucap Anjani, saat ia mencium aroma parfum wanita, pada tubuh Bastian.
"Bentar, cerewet banget sih, kamu siapin aku teh anget sayang, tolong ya ..."
"Ya udah, tunggu. Aku kebawah dulu."
Anjani meninggalkan kamar, menutup pintu dengan pelan. Ia menarik nafas panjang dan menghelanya,
"Sabar Anjani, mungkin kebawa omongan Tati, jadi kamu mikir kalo dia selingkuh." Ucapnya pada diri sendiri.
Anjani pun membuatkan teh untuk Bastian,
"Anjani? Bastian tidur?" tanya Artha.
__ADS_1
"Oh, iya ma, ini dia minta di buatin teh."
"Kasian loh dia, dia tuh pasti capek banget, kerjaan dia banyak."
"Iya ma, Anjani tau."
"Nanti kamu kebawah lagi ya. Bantuin Tati."
"Iya ma, nanti Anjani ke dapur lagi."
Anjani naik ke lantai dua dengan membawa teh hangat untuk suaminya,
"Mas, minum dulu."
"Ehm ... bentar, masih ngantuk sayang ..."
"Ya udah, aku ke bawah dulu mas, masak."
"Iya ... sayang ..."
Anjani kembali turun ke lantai dasar dan membantu pekerjaan rumah tangga,
"Mbak, pulang pagi, darimana mas Bas?" Bisik Tati, bertanya.
"Ngantor, ada kerjaan dadakan dia."
"Ooh ...gitu. mbak, kok ke dapur sih?"
"Aku harus bantuin kamu Tati, nggak masalah kok."
"Ya tapi kan ..."
"Ehem ...!" Artha berdeham, sengaja agar Tati tak banyak bicara.
Anjani memasak, layaknya pembantu rumah tangga, ia menyiapkan sarapan pagi serta memasak untuk makan siang,
Anjani nyaris jatuh pingsan, Tati dan pembantu lainnya membantu Anjani untuk duduk di kursi makan,
"Mbak, minum dulu."
"Makasih Tati."
"Mbak, istirahat aja, badan mbak kurus banget, pucet lagi."
"Iya mbak, mbak itu nyonya, bukan babu tapi mantu."
"Aku nggak apa-apa. Mungkin butuh minum susu anget kali ya." Ucap Anjani.
Tati dengan sigap, membuat susu hangat untuk Anjani.
Kemudian, Anjani meminta Tati membawa sarapan pagi untuk Bastian ke dalam kamar. Tiba di depan pintu kamar, tak sengaja, Tati mendengar pembicaraan mesra Bastian dengan seorang wanita, di dalam telepon,
"Dasar buaya, kurang ajar. Udah ada bini cakep gitu, malah selingkuh. Gue gedor aja pintunya."
"Permisi mas! Tati nih!" Ucap Tati, dari balik pintu.
"Bentar!" Sahut Bastian.
Sambil membuka pintu, "kok bukan istri gue sih?" Tanya Bastian.
"Istri mas lagi nyiapin lauk, di bawah. Nih sarapan mas, biar kuat selingkuh." Ucap Tati ketus, dan langsung meninggalkan kamar Bastjan.
"Eh dodol! Ngomong apa lu? Sembarangan ..." ucap Bastian.
__ADS_1
"Kurang ajar dia. Tapi ... tau dari mana dia kalo gue selingkuh?" Ucap Bastian, sambil berfikir.
Ponsel Bastian berbunyi, Richard menghubungi,
"Halo bapak dokter ..." sahut Bastian dalam teleponnya,
"Penganten baru ... jadwal hari ini makan malem di rumah lu kan ... lupa lu ..."
"Astaga, iya ... oke oke, kerumah gue ya, gue siapin semuanya deh. Kalian dateng semua kan?"
"Pasti, paling yang rada telat, Dewa, dia ada praktek sama dokter senior di RS Fatmawati."
"Ooh ... calon dokter kandungan, paham gue pak, dia super sibuk, ngejer gelar."
"Yoi ... berbobot temen kita yang satu itu. Ya udah, tunggu aja kedatangan kita ya ..."
"Oke siap pak Richard."
Bastian segera menemui dan mendekati Anjani,
"Sayang ..."
"Ooh iya mas ... sarapan udah habis?"
"Udah, tapi nanti malem jadwal aku ngadain makan bareng. Di taman belakang rumah, kamu siapin makanan yang enak enak ya, au pesen semuanya."
"Orang berapa mas?"
"Biasa, kakak tingkat kamu lah, ada Fauzan, Rangga, Pandu, Richard."
"Ooh ... mereka, oke, nggak masalah. Aku pesen dulu mas."
"Makasih sayang, aku mau kamu semua yang atur, jangan Tati." Ucap Bastian.
Tati melirik tajam, ia pun membuang muka pada Bastian. "Dasar buaya darat." Ucap Tati pelan.
Anjani memesan makanan dari restoran ternama, sesuai permintaan Bastian. Ia kemudian mengatur desain taman menjadi tempat makan yang indah penuh lampu gantung berwarna kuning dan putih,
"Mbak, udah sore, istirahat dulu." Ucap Tati.
"Menurut kamu, bagus nggak?"
"Bagus mbak, keren, untung aja mereka cepet dateng ya mbak, terus mbak juga pinter ngarahin mereka ngedekorasi."
"Makasih Tati, aku ke atas dulu ya."
"Iya mbak ..."
Anjani menaiki lantai atas, tak sengaja, ia mendengar Bastian tengah mengubungi seseorang dalam telepon,
"Mas ..." ucapnya pelan, saat masuk ke dalam kamar.
"Oke, nanti saya hubungi lagi pak." ucap Bastian dalam telepon.
"Kok pak sih sayang?" tanya Anggi yang bingung dengan apa yang di maksud Bastian.
"Sampai ketemu lagi pak, besok."
"Maaf sayang, biasa, klien baru." Sambil mengantungi telepon gengam dan memeluk Anjani.
"Ooh ... aku mandi dulu mas, aku juga mau baring bentar aja."
"Oke, aku tunggu disini, dandan yang cantik sayang, buat aku bangga punya kamu."
__ADS_1
Anjani tersenyum mendengar ucapan Bastian. Ia pun masuk ke dalam kamar mandi dan menangis seorang diri,
"Semoga dia nggak bohong, aku tau itu pasti dari perempuan." Ucap Anjani pelan.