DUA GARIS (You Got Me Baby)

DUA GARIS (You Got Me Baby)
MEET THE PARENTS AND I FALL ASLEEP


__ADS_3

"yang, aku anterin kamu bates pager aja kali ya, aku pulang. Aku takut ..." ucap Pandu, sambil menahan tawa.


"Hahaha ... jangan becanda mas, ayo turun ..."


"Beib, liat mobil kakak kamu aja gede gede gitu, mobil aku sedan. Ciut ah ..."


"Hahaha ... mas, ayo ah ... serius beib, ayo ..."


"Oke, tarik tambang dulu."


"Tarik nafas mas ... hahaha ..."


"Oh salah ya, oke napas gimana sih?"


"mas... kamu lama-lama aku gigit ya?"


"yang aku butuh napas buatan ini ..."


"Hahaha ... mas, kamu becanda terus ..."


"Biar nggak tegang. Tapi aku tegang."


"Apanya mas?"


"Kont** nya." Bisik Pandu.


"Ih!" Anjani memukuli bahu Pandu berulang kali.


Mereka terdengar berisik dan gaduh, membuat Rian penasaran dan datang untuk melihat,


"Kayak si Anjai tuh suara? iya, suara dia tuh." Ucap Leo, yang mendekati mereka,


"Wow ... beneran Anjai, woi Anjai? Becanda di luar, sini masuk." Ucap Leo pada Anjani.


"Anjai?" Tanya Pandu, sambil melihat Anjani.


"Ih Leo ... kamu ya! Awas lu!"


Anjani berlari dan mengejar Leo hingga ke dalam rumah. Sementara Pandu berjalan pelan dan menggeleng kepala, melihat tingkah laku jandanya itu,


"Permisi mas." Ucap Pandu, pada Rian. Kakak pertama Anjani.


"Ya, berapa hari?"


"Maksudnya mas?"


"Lu tadi bilang permisi ke gue, berapa hari?"


"Oh maaf, mas. Saya Pandu Dewanata, temen deket..."


"Temen deket siapa? gue?"


"Ooh ... temen Anjani mas."


"Ngemeng dong dari tadi."


"Maaf mas." Ucap Pandu, sambil menunduk dan menahan tawa.


"Duduk disini dulu, kita mau bahas urusan keluarga sih, tunggu ya."


"Iya mas, baik."


"Eh bentar... gue kayak pernah liat lu deh ... dimana ya?"


"Maksudnya mas?"


"Lu sekolah dimana? Kelahiran tahun berapa?"


"Saya SMA negeri 1, lahir tahun 1989 mas."


"Seumuran Leo dong. Tapi lu pernah ikut boxing? Di sasana Sport city, yang ngelatih bang Angga. bener nggak tuh?" tanya Rian lagi,


"Itu pelatih saya mas."


"Astaga sempit dunia. Oke, entar kita ngobrol lagi. Lu duduk sini dulu aja ya."


"Siap mas."


Menunggu Anjani yang tengah serius membahas permasalahan yang kini ia hadapi.

__ADS_1


Dengan isak tangis, ia menjelaskan bagaimana sakitnya menjalani cinta sendiri selama 5 tahun. Bastian yang tak peduli padanya hingga akhirnya memberikan talak padanya serta fitnah oleh Artha atas dirinya,


"Anjani minta maaf ma, papa ... selama ini, Anjani tinggal sama... sama mas Pandu."


"Laki laki?" Tanya Hendra, ayahnya.


"Iya papa ... maaf pa ... Jani bingung malem itu, harus kemana, Jani malu kalo harus balik kerumah. Anjani bingung mama, maaf ..."


"Selama itu, artinya kalian berdua aja?" Tanya Leo.


Anjani mengangguk,


"Kalian tidur satu kamar?" Tanya Rian.


"Iya mas. Maaf papa, mama, maaf kalau buat kalian kecewa. Anjani tau, pasti mama sama papa malu punya Anjani."


"Jadi, cowok yang tadi itu, pacar lu?" Tanya Leo.


"Iya ..." ucap Anjani.


"Mana orangnya, ada?" Tanya Hendra.


"Ada pa."


"Panggil sini, kurang ajar dia, berani banget tidurin kamu."


"Tapi pa, itu Anjani yang minta ..."


"Nggak peduli, sini mana orangnya!" Tegas Hendra.


"Sabar dulu pa, masih bagus dia mau anterin Jani kerumah, biar Rian yang panggil." ucap Rian.


"Iya papa ... jangan kebakar emosi dulu, kita kelarin masalah Jani sampe sidang. Baru urusan yang satunya."


Rian dan Pandu pun datang. Sambil menunduk dan berjalan, Pandu pun kemudian berjabat tangan dengan Hendra, Nadia, Leo.


"Tinggi banget." Gumam Hendra saat melihat Pandu.


"Salam kenal pak, mas, bu." Ucap Pandu ramah.


"Duduk nak." Ucap Nadia.


"Iya bu."


"Kerja apa lu?" Tanya Leo.


"Di Rumah sakit, Fatmawati mas."


"rumah sakit?" tanya Leo heran,


"Sebagai apa?" Tanya Rain.


"Dokter kandungan." Ucap Pandu.


"Hahaha ..." tawa Rian dan Leo.


"dokter?" ucap Nadia,


Pandu hanya menunduk dan tersenyum,


"Papa percaya dia dokter? Tampang dia aja kayak anak club malem, telinga ada bekas tindik kanan kiri. Preman nih?" Ucap Leo.


"Kamu serius, kalo kamu dokter kandungan?" Tanya Hendra.


"Iya pak. Saya ada id card di mobil, apa saya ambil dulu?"


Kemudian, mereka melihat id card resmi dari IDI. Serta tanda pengenal sebagai dokter spesialis kandungan di rumah sakit tersebut dengan nomor NIK,


"Pandu Dewanata SpOG." Ucap Hendra pelan, saat membaca nama itu.


"Hebat lu, lepas dari pengusaha, ke dokter kandungan. Boleh juga si Anjai ma." Ucap Leo.


"Mama ... Leo tuh ..." bisik Anjani, meminta agar ibu nya memarahi Leo.


"Leo ... lambe mu iku ..." ucap Nadia.


"Guyon tok aku loh mama ..." ucap Leo.


"Jadi, bener lu udah tidurin adek gue?" Tanya Rian.

__ADS_1


"Iya mas."


"Ngaku loh dia?" Ucap Leo.


"Buset, berapa kali?" Tanya Rian.


"Tiap hari mas."


"Hah!" Ucap mereka yang terkejut, mendengar apa yang Pandu ucapkan.


"Tidur tiap hari berdua, tapi buat anak baru 1 kali pak, sumpah pak, mas, bu ... saya jujur." Ucap Pandu.


"Mas ..." ucap Anjani, meminta agar Pandu tak menjabarkan hal lainnya.


"Hahaha ... nemu dimana laki-laki kayak gini Anjai?" Tanya Leo.


"Aplikasi! Rese luh ah, nanya mulu." Ucap Anjani.


Menghela nafas, Hendra mengajak Pandu ke ruang kerjanya.


Duduklah keduanya berhadapan,


"Kamu harus nikahin anak saya, saya nggak mau tahu. Anak saya sudah di sakiti dan jangan kamu sakiti dia lagi. Nyakitin dia, sama halnya nyakitin ibu dia, ibu kamu, kamu paham?"


"Siap pak."


"Setelah sidang cerai. Tolong kamu urus pernikahan kamu sama Jani. Saya minta orang tua kamu kesini hari sabtu depan. Tunjukkan kalo kamu serius. Tapi kalo kamu bohong? Leo sama Rian cari kamu sampe dapet! Paham?"


"Paham pak, saya bertanggung jawab atas Anjani. Saya bawa orang tua saya nanti kesini."


"Ya udah, tunggu sini. Sebentar."


"Baik pak."


Hendra menuju ruang keluarga, mereka membahas perceraian dan pernikahan. Sementara menunggu, rasa mengantuk Pandu tak terbantahkan. Ia tertidur di ruang kerja Hendra. sementara itu,


"Ya udah, kalo dia mau. Bagus pa."


"Rian setuju, keliatan dia tanggung jawab pa."


"Leo juga. Dokter lagi. Gila keren banget Anjai."


"Apasih? Manggil gitu terus. Mama ... Leo tuh ..."


"Dia tuh sayang sama kamu, Jani."


"Hahaha ... janda mau kawin lagi ... cie ..." ledek Leo, sambil tertawa.


Kemudian mereka berdua saling melempar bantal dan terjadi aksi kejar kejaran di ruang makan,


"Leo!" Teriak Nadia.


"Jani ...!" Teriak Nadia lagi.


"Biarin aja ma. Paling entar nangis si Jani." Ucap Rian dengan santai.


"Umur udah pada tua ... woi!" Teriak Nadia lagi.


"Mama ... aku nggak mau kesini kalo Leo kesini!"


"Gue juga nggak mau ketemu sama lu! Janda lu!"


"Leo! Set*n lu ...!"


"Hahaha ..."


Anjani dan Leo tertawa dan kemudian berpelukan saling meminta maaf saat Leo tak sengaja menjambak rambut Anjani,


"Sakit tauk ..."


"Maaf kali Anjai ... astaga ... duit nih ... nih 100 rebu."


"Dikit ..."


"Matre lu, minta sama laki lu yang baru tuh."


"Dia kasih gue duit, banyak."


"Masa sih?"

__ADS_1


"Iya, lu tau nggak ..."


Anjani dan Leo bergosip, perihal isi dompet Pandu.


__ADS_2