DUA GARIS (You Got Me Baby)

DUA GARIS (You Got Me Baby)
6 BULAN PERNIKAHAN, DITUDUH MANDUL?


__ADS_3

"Gimana? Udah promil?" Tanya Artha, pagi itu.


Langkah Anjani terhenti, saat ia hendak meninggalkan rumah menuju kampus,


"Gimana mau hamil, kamu sibuk kuliah, nggak mikirin perasaan suami kamu, dia pasti butuh anak dari kamu kan?"


"Anjani sudah usaha ma, kuliah Anjani juga cuma beberapa jam. Mas Bastian memang lagi sibuk beberapa bulan ini. Dia juga jarang di rumah." Terang Anjani pada Artha.


"Jadi ... kamu nyalahin dia? Yang sibuk kerja cari uang buat kamu? malah nyalahin Tian? nggak tau di untung banget kamu...?" ucap Artha.


"Nggak gitu ma ... cuma ..."


"Kamu harusnya tau diri, tinggal di rumah mewah, suami kamu sibuk, dia pengusaha, dia begitu karena kamu. Kebutuhan kuliah kamu juga butuh biaya, dia juga yang biayain kamu kan?"


Anjani mengangguk pelan, sambil menunduk,


"Jadi istri, harusnya pinter ngelayanin suami, jangan bisanya terima uang bulanan aja. Gimana mau hamil kalo kamu habisin waktu di luar rumah?"


"Tapi ma ..."


"Jangan banyak tapi, coba ke dokter kandungan, periksa kesuburan. Jangan jangan mandul. Cantik kalau mandul ya percuma, sia sia aja." Ucap Artha pagi itu.


Menyakitkan bagi Anjani. Ia harus banyak bersabar saat berada tinggal dalam satu rumah dengan Artha. Belum lagi, Bastian yang jarang pulang ke rumah, dengan alasan sibuk dengan segudang bisnis dan pekerjaannya, membuat Anjani harus menerima kenyataan jika ia bukan prioritas utama bagi Bastian.


Pergi menuju kampus dengan perasaan tak karuan. Air matanya menetes perlahan. Hatinya berkecamuk saat mengingat kalimat mandul dari Artha.


Tiba di kampus, Anjani segera memasuki kelas, seorang diri, tanpa Diska.


Dosen memberikan beberapa penjelasan dan juga tugas untuk Anjani dan mahasiswa lainnya,


"Berarti harus cari bukunya dulu, ehm ... semoga aja nemu."


Anjani mencari beberapa buku referensi, sebagai bahan untuk menyusun dan membuat skripsi.


Pergilah Anjani menuju perpustakaan, siang itu. Suasana hening, Anjani pun tak bergeming.


Meletakkan tasnya diatas sebuah meja kosong, kemudian ia mulai mencari beberapa buku sebagai penunjang untuk menyusun skripsi,


"Mana ya?"


Anjani terlihat bingung, lemari dengan susunan buku yang penuh dan padat, serta tinggi, membuat wanita dengan tubuh mungil sepertinya, kesulitan untuk memilih.


Bagian perutnya terlihat, saat ia hendak meraih sebuah buku yang cukup tinggi diatas rak, menjinjit, walau sudah menggunakan heels cantik berwarna krem dan balutan celana cut bray berbahan satin nan lembut itu,


"Duh ... susah ..."


Anjani melepaskan sepatunya, kemudian ia mencoba menaiki rak yang cukup berbahaya baginya,

__ADS_1


"Oke, coba kita naik."


Perlahan, Anjani menaiki 1 rak dengan berpegangan pada rak bagian atas. Berhasil satu langkah namun rupanya tak cukup untuk menggapai buku yang ia maksud. Nyaris saja terjatuh, seseorang menahan tubuhnya,


"Hati hati ..." ucap seseorang itu, sambil menahan tubuh Anjani dan memegangi kedua sisi pinggulnya dan menurunkan tubuhnya perlahan.


"Mas ... saya mau ambil buku yang di ..." tanpa menoleh, Anjani meminta bantuan pada pria itu sambil menunjuk buku yang ia maksud.


Tak banyak bicara, pria itu membantu Anjani, meraih buku yang ia maksud dan memberikannya, dengan mudah tanpa drama,


"Makasih mas ..." ucap Anjani yang terlihat senang dan memeluk buku itu.


Pria itu mengangguk dan tersenyum dan berlalu,


"Mas tadi ... loh? Mana ya?"


Anjani mencari sosok pria yang membantunya, namun tak ia dapati saat ia menoleh kanan dan kirinya,


"Mas tadi... siapa tadi ... ehm, oke, buku ini udah dapet tinggal aku bawa ke rumah."


Anjani berjalan, mencari buku lainnya. Ia kembali duduk dan membaca beberapa buku sambil kemudian mencatat inti dari beberapa hal penting, ke dalam buku catatan miliknya.


Hujan turun deras, Anjani tak dapat meninggalkan perpustakaan besar itu. Rupanya istri pengusaha itu mengantuk, ia tertidur seorang diri di sana. Dengan tumpukan buku sebagai bantal penyangga kepalanya, wanita bertubuh langsing itu tertidur lelap,


"Lah ... tidur, bukannya baca." Ucap salah seorang penjaga perpustakaan, yang baru saja melintas.


"Mas, kenal nggak sama tuh cewek?" ucap penjaga perpustakaan itu pada Pandu.


"Itu, lagi tidur nyenyak banget, bangunin mas, anterin balik, pas hujan berenti." Ucap petugas penjaga perpustakaan itu, pada Pandu.


Pandu tersenyum dan tertawa kecil, melihat Anjani yang tertidur pulas,


"Ya udah, dia temen saya, biar saya bangunin."


"Gitu dong, cantik gitu, sayang mas di anggurin." Canda si penjaga perpustakaan itu.


Pandu mengangguk, ia berjalan pelan mendekati Anjani. Melihat beberapa buku yang menurut Pandu tidak begitu banyak membantunya dalam membuat skripsi. Pandu berinisiatif mencari sebuah buku yang menurutnya tepat.


Kemudian ia kembali dan memasukan buku itu secara diam-diam ke dalam tas Anjani.


Mencoba membangunkan Anjani, namun ternyata sulit. Anjani justru semakin larut dalam mimpi,


"Oke." Ucap Pandu.


Pandu mengemasi buku dalam tas Anjani dan juga peralatan tulis milik wanita yang masih ia cintai saat ini. Kemudian Pandu menggendong Anjani dan berniat untuk mengantarkannya kembali ke rumah.


Hingga di dalam mobil, Anjani semakin larut lebih dalam lagi bak putri tidur. Pandu menahan tawanya saat ia harus mengantar Anjani dalam keadaan yang tak biasa itu.

__ADS_1


Mengendarai mobilnya dan meninggalkan area kampus. Sesekali Pandu menoleh dan melihat wajah cantik dari istri pengusaha itu.


Tersadar ini tak akan berlangsung lama, Pandu menghubungi supir taksi yang ia kenal dekat, untuk mengantarkan Anjani pulang.


"Nggak mungkin gue yang anterin dia balik, agak aneh." Ucap Pandu. Yang tak mungkin baginya, mengantarkan Anjani dalam keadaan yang tak biasa itu, ke rumah keluarga Bastian.


Datanglah taksi yang Pandu maksud,


"Anterin pak, dia tadi ketiduran di perpustakaan, sekarang juga masih tidur, pelan pelan aja bawa mobilnya pak." Ucap Pandu, dengan menggendong Anjani dan meletakkan Anjani pada kursi bagian belakang.


"Siap mas Dewa."


"Makasih pak." Ucap Pandu, sambil memberikan uang pada supir taksi.


Pergilah taksi menuju rumah Bastian, dengan Pandu yang diam-diam mengikuti taksi itu. Rasa khawatir masih tampak pada darinya akan Anjani.


Memantau dari jauh, Pandu melihat jika taksi mengantarkan Anjani sesuai alamat,


"Mbak ... sudah sampe mbak ... mbak ..." ucap supir taksi. Sambil menoleh melihat Anjani.


"Ehm ... eh ... kok? Pak?!" Anjani terkejut, saat ia baru menyadari jika ia berada di dalam taksi.


"Mbak tidur dari tadi, untung ada orang baik mau anterin mbak, dia minta tolong saya sampe kesini."


"Jadi ... saya tidur?"


"Iya. Udah sampe mbak, taksi udah di bayar. Tenang aja." Sambil keluar dan membuka pintu mobil untuk Anjani.


"Makasih pak ..."


"Jangan makasih sama saya. Saya cuma perantara aja."


"Ehm jadi yang bantuin saya?"


"Ada deh ... hehehe ... orangnya ganteng, tinggi, terus ... ah udah dulu mbak. Saya balik ya."


"I -- iya pak."


Taksi berlalu, begitu juga Pandu yang tersenyum melihat Anjani telah sampai rumah dan berlalu meninggalkan kawasan perumahan elite itu, menuju rumah sakit.


Di dalam kamarnya, Anjani memikirkan siapa orang yang telah menolong nya,


"Cakep? Tinggi? Malaikat kali ya ..." ucap Anjani, sambil berbaring dan meraba isi tasnya.


"Eh, bukunya kok?"


Anjani mendapati dua buku, "ini ... ini lengkap, ini yang aku cari ... hahaha ... yes ... akhirnya, tapi ... siapa yang masukin buku ini? Aku kan nggak ambil buku ini tadi?"

__ADS_1


Anjani kembali mencari tahu, siapa yang telah memberikan buku yang ia butuhkan di dalam tasnya.


Kedua buku itu bak petunjuk, jika ia masih memiliki kesempatan kedua, untuk memilih hidup bahagia atau bertahan dengan keadaan, seperti saat ini.


__ADS_2