
"Sementara, kita tinggal di rumah mama ya, soalnya, mama sama papa cuma berdua sayang, kamu nggak keberatan kan?"
"Oke, nggak masalah kok. Tapi ... aku boleh kan mas, bolak balik ke rumah mama aku juga?"
"Kamu atur aja."
Pengantin baru ini tengah duduk bersama diatas sofa, pada balkon hotel, menikmati bulan madu mereka, di kamar hotel mewah itu.
Bastian tampak sibuk, membuka pesan dari perusahaan miliknya dan partner bisnis lainnya. Ucapan selamat berdatangan, kado pernikahan mewah dari kalangan kelas atas, memenuhi lantai kamar itu.
Menjelang malam, keduanya menaiki ranjang. Anjani tampak telah siap untuk kehilangan mahkota miliknya malam itu dengan menggunakan pakaian tidur seksi dan sedikit menerawang.
Sementara Bastian baru saja keluar dari kamar mandi, melihat Anjani yang telah menunggunya diatas ranjang. Naiklah Bastian keatas ranjang dan keduanya berciuman walau nampak kaku.
Maklum saja, selama berpacaran, keduanya hanya berpelukan, sekedar mencium kening dan bergandengan tangan,
"Ehm ... mas ..." bisik Anjani, saat ia mulai terangsang.
"Apa ..." ucap Bastian, yang sedang mencumbu lehernya.
Keduanya bergelut mesra dan mencoba untuk melakukan hubungan suami istri. Baru saja hendak mencapai puncak, ponsel Bastian berbunyi,
"Mas ..." eluh Anjani, yang merasa kecewa.
"Aku matiin dulu sayang, maaf."
Bastian mematikan ponselnya. Kemudian ia melanjutkan lagi apa yang sempat tertunda. Semakin memuncak, Bastian memasukkan pen*s nya, dengan sedikit memaksa.
"Akh ... mas!" Anjani merasakan perih pada lubang vagin* nya. Bastian seolah tak peduli, ia terburu oleh nafsu syahwat nya. Ia terus mendorong dengan keras, hingga tak ia sadari, telah melukai mahkota itu.
Anjani menitihkan air mata, ia tak menyangka jika harus seperih itu, Bastian terus mengguncang tubuhnya, Anjani melemah, ia tak lagi bersemangat seperti di awal. Mendadak vag*na yang basah itu menjadi kering, betapa sakitnya Anjani menahan perih akibat p*nis itu yang terus keluar masuk ke dalam lubang vagin* nya. Anjani tak ubahnya di perkos* malam itu.
Malam yang seharusnya indah, kini justru meninggalkan luka. Anjani merasakan sakit luar biasa selama hampir 40 menit berlangsung.
Bastian tertidur pulas di sisinya, sementara ia hendak bangkit untuk membuang air kecil,
"Aduh ... sakit ..." lirihnya saat hendak duduk dan berdiri.
Menangis lah wanita berusia 21 tahun itu, tengah malam. Mencoba berjalan walau tertatih. Tibalah di dalam kamar mandi mewah yang di penuhi oleh dinding kaca tebal itu. Anjani menyentuh vaginanya yang masih amat perih,
"Sakit banget ..." lirihnya menangis.
Menarik nafas dalam dan mencoba membuang air kecil. Anjani semakin menjadi jadi, ia menangis cukup keras, hingga Bastian terbangun,
"Sayang ...?" Ucap Bastian, sambil melihat sekitarnya.
Bastian melihat Anjani yang tengah menangis di dalam kamar mandi itu, ia mendekati Anjani,
"Kenapa? Kok nangis?" Tanya Bastian, sambil mengajak Anjani untuk bangkit dari duduknya.
"Sakit mas ..."
__ADS_1
"Apanya?"
"Lubang v*gina aku. Sakit banget ..." lirih Anjani.
"Ya udah, besok kita ke dokter."
"Jangan mas. Aku malu ..."
"Malu?"
"Udah mas, biar dulu ... aku ... aku tahan kok, iya."
"Ya udah, ayo tidur lagi. Besok pagi kita bakal kedatangan tamu." Ucap Bastian, yang berjalan lebih dulu menuju ranjang dan kembali memejamkan matanya.
Anjani baru saja berbaring, mencoba memejamkan mata, walau perih itu terus menghantui,
"Kalau ke dokter, malu banget, pasti di tanya sebabnya apa ..." pikir Anjani.
Pagi hari,
"Sayang, kita harus buru buru, ada tamu."
"Jam berapa mas?"
"Jam 10 mereka dateng, habis sarapan, aku olahraga dulu."
"Iya mas ..."
Dengan rambut yang setengah basah. Anjani menggunakan hair dryer, sambil bercermin.
Sarapan pagi mereka pun datang, Bastian lebih dulu menikmati sarapan paginya. Sementara Anjani, baru saja selesai dari berpakaian,
"Mas? Udah duluan?"
"Udah, nunggu kamu lama, jadi aku duluan sarapan. Maka makan gih, kita harus ketemu tamu."
"Ooh ... oke."
Anjani menikmati sarapan paginya seorang diri. Sementara Bastian, sibuk berbincang di dalam panggilan telepon.
Baru saja hendak menghabiskan makanannya, tiba-tiba mereka berdua harus segera menemui tamu,
"Tapi mas ..."
"Buruan, atau nggak kamu nyusul aku ya, mereka klien penting sayang, ini menyangkut uang besar. Aku duluan."
"I -- iya mas."
Bastian meninggalkan Anjani di dalam kamar. Tiba di lobby hotel. Bastian bertemu rekan bisnisnya,
"Selamat ya, Bastian."
__ADS_1
"Terimakasih pak, bu. Ayo duduk, maaf lama menunggu."
"Ah tidak, baru saja. Mana istrinya?"
"Ooh ... istri saya lagi sarapan, biasa, wanita, lelet." Ucap Bastian, sambil tersenyum.
"Hahaha ... ya namanya juga wanita, butuh waktu lama untuk mengunyah, dan bermakeup."
"Iya pak. Jadi bagaimana, bisnis kita?"
Bastian baru saja menerima kontrak bisnis mencapai miliaran rupiah itu. Wajah sumringah terpancar darinya. Proyek dengan dp sebesar 10 miliar itu, kini berada di tangannya.
Baru saja Anjani turun dari kamar hotel menuju lobby dengan jalan sedikit pelan dan hati hati, Bastian tak ada di sana,
"Kemana dia?"
Anjani menghubungi Bastian,
"Mas ...?"
"Sayang, maaf, aku pergi dulu, ada klien lagi, ngajak aku ketemuan di hotel Metro. Nanti aku pulang. Kamu di kamar aja ya. Kalau mau belanja, belanja aja, supir udah aku siapin semuanya."
"Jadi kamu masih lama ya mas?"
"Iya, kayaknya, bakal lama, tunggu aja ya."
"Oke, hati-hati mas ..."
Anjani terpaksa kembali ke dalam kamar hotel seorang diri. Langkah kakinya lemah, ia pun memilih duduk bersandar pada ranjang empuk dan mewah itu.
Menonton tv, menikmati camilan, duduk di balkon seorang diri. Hingga menjelang malam, Bastian baru saja tiba di kamar hotel.
"Gimana mas?"
"Proyek ke tiga, aku berhasil lagi sayang. Aku nggak sabar buat ngantor."
"Syukur deh, tapi kan kita masih liburan mas?"
"Liburan gampang sayang, proyek ini lebih penting. Ini demi masa depan kita juga. Kamu tuh harusnya bahagia, punya suami kayak aku gini, yang mikirin masa depan keluarga."
"Iya mas, aku bahagia kok, kamu udah makan?"
"Udah, tadi aku di ajak makan sama mereka. Aku mandi dulu, aku capek sayang, kamu makan sendirian nggak masalah kan?"
"Iya mas, ya udah, kamu mandi, aku siapin baju kamu."
"Oke, makasih sayang."
Anjani menyiapkan pakaian tidur milik Bastian. Ia pun menikmati makan malam seorang diri, di saat Bastian tertidur pulas.
Tengah malam, Bastian mulai menyentuhnya. Dengan terpaksa Anjani melayani suaminya itu walau rasa perih dan sakit dari luka pada vaginanya masih sangat terasa. Lagi lagi, air mata itu berjatuhan ketika Bastian dengan semangat dan bertenaga, mengguncang tubuhnya. Anjani meringis kesakitan, ia nyaris tak sadarkan diri.
__ADS_1
1 jam berlalu, Anjani segera membasuh tubuhnya walau harus menahan perih saat membuang air kecil.