
Menenteng kantong belanja, menuju mobil. Pandu berkendara menuju klub malam milik temannya itu. Tiba di sana, Pandu menghubungi Anjani, ia mengatakan jika ia sudah sampai di klub.
"Halo ... pak dokter." Bram menyapa Pandu.
"Bram, astaga, udah lama banget nggak ketemu. Apa kabar?"
"Baik Dewa ... lu tambah keren aja sekarang nih, dokter kandungan, bangga gue."
"Ah, biasa aja Bram, masih banyak yang lebih keren dari ini."
"Oke deh, kita duduk yok."
Duduklah Pandu dan Bram, di depan sebuah bar. Berbincang ringan dan tertawa,
"So... now I'm opening a second cafe business, which in Australia I have handed over to my brother." Ucap Bram.
"Keren dong, terus, gimana anak istri? Di Jakarta atau di Ausy?" Tanya Pandu.
"Mereka bakal nyusul kesini dan lu sudah ada anak?"
"Damn, I just had *** for the first time y'all. I swear, it's fun, I'm sorry, why not earlier?"
"Hahaha ... jadi perjaka lu udah ilang?"
"Ilang, gue kasih sama dia yang emang gue cinta aja, habis itu, we got married. Gue nggak sabar lagi, mau nikah sama dia."
"Undang gue dong."
"Gampang, gue pasti ngundang lu, asal lu masih disini."
"Drink? Calm down, you won't get drunk."
"Hahaha ... oke tapi sedikit aja Bram, gue udah di kasih pesen sama pacar gue."
"Yang terima telepon kemarin kan?"
"Iya, dia bilang gue nggak boleh mabuk."
"Hahaha ... tenang, yang bikin mabuk, cuma kekuasan di negeri ini, alkohol sih, lewat Dewa."
"Hahaha ...!" Tawa keduanya.
Menikmati musik dengan disc jockey handal. Keduanya masih berbincang perihal bisnis sambil menikmati minuman.
"Bram, toilet sebelah mana? Maklum anak baru."
"Hahaha ... t*i lu, di sana, kiri, balik lagi, jangan lupa."
"Oke."
Pandu berjalan santai, menuju toilet, tak sengaja ia melihat sosok pria yang benar tak asing baginya,
"Kayak Bastian?" Ucap Pandu.
Kemudian ia meneruskan perjalanannya menuju toilet dan kembali lagi dengan rasa penasaran terhadap apa yang ia lihat.
Yakin tanpa ragu, nyatanya Bastian memang sedang duduk bersama beberapa teman dan satu orang wanita.
Pandu mendekati Bastian,
"Bas, apa kabar?"
Melihat Pandu yang berdiri di emang meja bar nya, Bastian menghentikan obrolan nya.
"Dewa?"
"Iya."
__ADS_1
"Owh ... so ... kamu udah liat aku sama siapa disini?" Ucap Bastian sambil tersenyum.
"Sure, itu pribadi kamu, aku nggak ikut campur."
"Itu yang aku suka dari kamu. Aku bosen, butuh hiburan."
"Ehm ... oke, paham."
"Sama siapa kesini?"
"Sendiri."
"Oke Pandu, sampe ketemu lagi."
"Iya tapi ... aku mau sampein sesuatu aja."
"Apa tuh?"
"Bug!" "Bruk!"
Pukulan telak itu, mendarat sempurna pada wajah Bastian hingga terjatuh.
Teman temannya segera menolong Bastian,
"Bangs*t u!" Maki Bastian.
"Buang berlian, cuma buat batu kali kayak gitu? you stupid, stupid men who dump good women for cheap women!" Ucap Pandu.
"F*ck you! it's not your business, kalo lu mau, lu ambil Anjani dan gue nggak butuh!" Ucap Bastian dengan hidung yang kini mengeluarkan darah.
"Sure, dia sama gue, dan oh iya ... Enough for us to prove, who will cry for regret and sorry, you are barren. I know it." Ucap Pandu, yang mengatakan jika Bastian akan menyesal dan menangis serta mandul.
Emosi Bastian memuncak, ia meraih sebuah botol kaca dan mengejar Pandu ke parkiran.
Tiba di parkiran,
"Dewa?!" Teriaknya sambil mengacungkan botol.
"Sialan!" Bastian kesal, ia membuang botol itu dan menyerang Pandu.
Mereka berkelahi, hingga petugas keamanan pun memisahkan keduanya,
"Lu liat nanti!" Ucap Bastian.
Pandu hanya tersenyum dan kembali masuk ke dalam mobilnya,
"T*i!" Ucap Pandu kesal, dengan memukul kemudi.
Menghubungi Anjani dan mengatakan ia akan segera tiba di rumah.
Tiba di rumah,
"beib ... aku balik nih ..."
"Mas ... tunggu!" Anjani beranjak dari ranjang, ketika mendengar pintu terbuka dan suara Pandu.
Berlarian sambil memeluk calon suaminya itu,
"Mas kok bajunya kotor?"
"Masa sih?"
"Iya ini, kenapa? Ini darah ya?"
"Mana? Bukan kok yang."
"Tapi mas ..."
__ADS_1
"Ooh iya. Aku udah beliin sesuatu buat kamu, di mobil." ucap Pandu, mengalihkan pembicaraan.
"Mana mas?"
Pandu menyerahkan kunci mobilnya, pada Anjani. Anjani membuka mobil dan melihat paper back cantik itu.
"Sendal? Hahaha ... mas!"
Berlarian mendekati Pandu dan memeluknya,
"Makasih mas ... aku suka sendal ini ... ah ... makasih ya mas ..." ucap Anjani sambil tersenyum dan terus memeluk Pandu.
"Sementara sendal gituan dulu sayang. Nanti kalo aku ada uang lebih. Aku beliin sendal gituan lagi." Ucap Pandu, sambil menahan tawa.
"Hahaha ... kamu ah ... aku udah seneng dikasih gini mas ..."
"Kalo ini?"
Pandu merogoh kantong celananya dan mengeluarkan kotak cincin,
"Mas ini paan sih? Kamu kasih aku apa?" ucap Anjani dengan mata berbinar dan hendak menangis.
"Cuma kotak, nggak ada isi kok."
"Ih ngerjain aku ... ih kamu mas! Pergi dari rumah ini!" Ucap Anjani sambil menahan tawa.
"Enak aja, rumah siapa nih?" Tanya Pandu.
"Rumah kontrakan!" Tegas Anjani.
"Ya udah bener..." ucap Pandu.
Mereka berdua tertawa dan berpelukan. Malam itu, sambil menonton tv, Pandu meraih jemari Anjani yang tengah tertidur pulas. Ia memasukkan cincin itu pada jari manisnya tanpa Anjani sadari.
Pandu mencium kening dan pipi Anjani, lalu ikut memejamkan matanya.
......................
Kejutan, pagi itu, Anjani terbangun lebih dulu. Merasakan sesuatu yang lain pada jemarinya,
"Cincin? Cincin ... mas ... mas kamu kasih aku cincin? Ini bagus banget ..." ucap Anjani yang mengangkat jemarinya ke udara dan bias matahari menyinari cincin itu dengan kilaunya dari jendela kamar.
Anjani menangis dan tersenyum. Ia tak menyangka jika Pandu memperlakukan dirinya dengan amat manis, dengan memberikannya sebuah cincin emas putih dan berlian kecil, diatasnya.
"Morning ..." bisik Pandu, yang baru saja bangun dan memeluk Anjani dari belakang.
"Mas ... aku bahagia banget, makasih mas ..."
"Maaf, ngerjain kamu semalem. Muat nggak?"
"Muat mas, pas, aku suka ... makasih sekali lagi."
"Tapi itu imitasi, mainan."
"Kamu becanda lagi kan ... mas ..."
"Hahaha ... iya yang, nggak kok... Itu asli. Pake ya, jangan di lepas. Sama kayak aku, yang nggak bakal lepasin kamu lagi, kayak dulu."
"Aku juga nggak mau kamu lepasin aku mas ... janji?"
"Janji, aku janji sama kamu."
Keduanya berpelukan mesra dan hangat pagi itu, sambil memandangi langit biru dan cerah dari balik jendela kamar.
Lain halnya Bastian, ia tengah emosi dan meradang, mengingat Pandu yang memukul wajahnya,
"Sialan ... bajing*n dia, gue nggak bakal diem aja kayak gini."
__ADS_1
"Sayang, udah dong ... lagian dia nggak penting lagi buat kamu kan. Sidang cerai kamu bakal di gelar, fokus aja ke sana. Aku juga mau tenang hidup sama kamu." Ucap Anggi.
"Aku nggak terima Anggi. Harga diri aku ilang gara gara dokter brengsek itu!"