DUA GARIS (You Got Me Baby)

DUA GARIS (You Got Me Baby)
SATU ATAP


__ADS_3

"Mas, kenapa nggak jawab?"


"Aku ..."


"Aku cuma mau tau mas, apa bener, mas punya perasaan sama aku?" Tanya Anjani.


"Iya." Jawab Pandu singkat.


"Iya? Artinya mas cinta? Atau sekedar suka?" Tanya Anjani lagi.


"Kita makan dulu Jani, aku pesen makanan ya." Ucap Pandu, sambil hendak berdiri, beranjak dari sofa.


"Mas, tunggu..." Pinta Anjani.


Pandu pun mengurungkan niatnya, ia duduk kembali dan memandangi Anjani,


"Mas jawab ..."


"Aku udah jawab kan."


"Tapi kurang ..."


"Iya aku cinta sama kamu, dari dulu. Dari awal liat kamu aku suka. Makin kesini aku cinta. Tapi kamu istri temen aku. Aku harus jaga jarak."


"Mas, hamilin aku." Ucap Anjani.


"Hah?! Jani ... kamu ngomong apa sih?"


"Hamilin aku, buat aku hamil, aku mau kasih tau sama mereka kalo aku nggak mandul! Aku nggak mandul kayak kata orang kaya itu! Aku nggak mandul mas ..." Ucap Anjani sambil berteriak dan menangis.


"Omongan macem apa kayak gitu Jani ..." bisik Pandu sambil memeluk Anjani.


"Aku di bilang mandul mas, 5 tahun nikah, aku belum kasih anak sama mas Bastian. Mas, kalo kita mau punya anak, kita harus berhubungan **** kan? Iya kan? iya dong mas...?"


"Aa ... iya ..." ucap Pandu, sambil mengangguk.


"Gimana mau punya anak, di sentuh aja jarang mas ... aku sering di tinggal sendiri. 5 tahun aku tahan, aku pendem, sakit hati aku selama itu. Terus aku di talak gitu aja sampe di bilang mandul?! Sakit hati aku mas ... sakit ..." ucap Anjani, sambil menangis.


"Oke ... tapi untuk punya keturunan kita juga harus sehat dulu. Kualitas sprema juga harus baik, kurangi konsumsi rokok, alkohol, pola hidup sehat, juga ngelakuin itu harus teratur bukan berarti tiap hari juga. Ada ritme ya, misal 2 hari 1 kali atau 3 hari sekali, sama vitamin juga perlu sih." Terang Pandu.


"Gimana mau sehat mas? Aku dari pagi ngabisin waktu di dapur, aku kayak babu dirumah itu. Aku capek mas ... waktu me time hampir nggak ada. Hampir nggak ada mas. Sementara mas Bastian pergi terus. Aku nggak tau dia ngapain aja disana. Aku bukan tipe istri yang suka diem diem buntutin suami, bukan. Aku terima apa adanya aja mas. Tapi mereka bilang gitu ke aku ... salah aku apa mas ... sampe aku di usir gini! tanpa uang sepeser pun mas..."


"Aku jawab apa Jani? Bukan ranah aku, dan aku cuma bisa kasih kamu ..." ucap Pandu yang tertahan.


"Kasih anak, mas ... kasih aku anak ..." pinta Anjani.


"Jani ... bukan itu, aku cuma bisa kasih kamu semangat buat jalani hidup, jangan stres, kamu berhak bahagia kok. Saat ini mungkin Bastian lagi ... ya mungkin dia lagi nggak baik mood nya, bisa jadi dia asal ngomong kan?"


"Mas ... dia beneran bilang itu. Terus dia pergi gitu aja ninggalin aku. Mas aku mau anak ... kamu bisa kan?"


"Jani ... bukan masalah bisa atau nggak tapi kita ini ..."


"Mas bilang cinta sama aku kan? Iya kan?"


"Iya aku cinta, cuma ..."

__ADS_1


"Apa mas berubah pikiran? Atau mas ada pacar?"


"Nggak ada."


"Jadi apa masalahnya mas?"


"Masalahnya, gini Jani ... ngelakuin itu harus dasar cinta, aku nggak mau kalau karena kamu kesel di bilang mandul, terus kamu mau bales mereka dengan cara hamil sama lelaki lain? Itu salah Jani."


"Oke, aku belajar buat cinta sama kamu mas. Kasih aku waktu."


"Jani ..."


"Mas aku mau jatuh cinta sama kamu, mulai hari ini. Kita tidur satu kamar mas."


"Jani ... hei ... Jani ... kalo kita satu kamar, nanti kita tuh... Jani?" Sambil berjalan mendekati Anjani yang masuk ke dalam kamar.


"Nggak apa-apa aku nanti kamu apa apain kek, aku mau, kita satu kamar mas, buat aku jatuh cinta sama kamu, terserah pake cara apa aja. Aku terima. Asal nanti kita ngelakuin itu karena aku cinta. Aku mau." Ucap Anjani sambil mendongak melihat Pandu.


"Tapi Jani ..."


"Mas nggak mau sama aku? Aku udah mau loh dibuat kontraksi sama kamu."


"Astaga Jani, hahaha, aku normal, waras, aku mau ngelakuin itu kapan aja, tapi nggak bisa keburu buru kayak gitu."


"Ya udah, aku tunggu, sampe aku cinta dan kita ngelakuin itu. Aku mau punya anak mas, aku mau ngerasain hamil. Aku tau ini gila tapi aku udah gila kayaknya. Aku mau hamil anak dari kamu."


"Oke. Kita tidur satu kamar, malem ini sampe kamu nyerah." Ucap Pandu.


"Nyerah? Maksudnya mas? Mas ... mas... mas...?


"Sampe kamu nyerah, sampe kamu capek dan minta pulang." Ucap Pandu.


"Nggak, aku nggak bakal minta pulang, asal kamu perlakuin aku yang bener-bener sayang ke aku, tulus gitu ke aku. Bukan cuma di mulut aja tapi ..."


"Aku bakal gitu ke kamu, aku perlakuin kamu, yang emang harusnya aku lakuin. tapi aku orangnya kasar, aku cemburuan, aku bisa aja nyakitin perasaan kamu tapi bukan berarti aku nggak cinta lagi tapi aku laki-laki tempramental."


"aku nggak masalah mas... selagi aku nggak ngelakuin hal yang buat kamu marah kan? aku terima mas."


"tapi, sekalipun kamu nggak tahan sama sikap buruk aku, aku nggak mau kamu pergi dari aku. Jadi, kita satu rumah sekarang?"


"Iya mas, satu rumah."


"Oke, sekarang kamu punya aku. Aku nggak mau kamu pergi dari sini kecuali sama aku atau keadaan mendesak yang buat kita harus terpaksa pergi sendiri sendiri."


"Emangnya mas mau ninggalin aku?"


"Jani ... aku ninggalin kamu karena kerja doang, dinas pagi, siang, atau malem. Selebihnya aku punya kamu."


"Tapi mas nggak dinas sampe ke luar kota kan?"


"Nggak, kecuali di mutasi atau pindah rumah sakit, itu pun aku bakal bawa kamu, kemana aku pergi dan menetap. Aku nggak bakal ninggalin kamu."


"Oke mas, aku mau. Aku juga nggak mau liat kamu sama perempuan selain aku. Titik."


"Jani ... pasien aku semuanya perempuan. Gimana beib?"

__ADS_1


"Beib? Mas panggil aku Beib?" Tanya Anjani, sambil menahan tawa.


"Ya kenapa sih? Ya udah aku panggil nama aja."


"Mas ... jangan. Panggil aku dengan sebutan itu lagi, aku suka." Ucap Anjani sambil tersenyum.


"Nggak ah."


"Mas, ayo ... aku mau denger lagi ..."


"Nggak, aku mau pesen makanan, kamu mau makan apa?"


"Mas ..."


"Iya, oke. Beib ... mau makan apa?" Tanya Pandu sambil tersenyum melihat Anjani.


"Lagi mas ..."


"Lagi?"


"Iya lagi. Panggil aku gitu lagi ..."


"Beib."


Anjani berbahagia dengan panggilan barunya, ia memeluk Pandu dengan erat,


"Mas aku suka sama kamu ... tapi belum cinta." Bisik Anjani, pada Pandu.


"Aku tunggu sampe kamu cinta." Ucap Pandu.


"Ayo kita makan mas. Aku laper ..." pinta Anjani, sambil mendongak melihat Pandu.


"Kamu pesen sendiri bisa? Pake handphone aku?" Bisik Pandu.


"Bisa mas. Tapi aku capek dongak gini, kamu nunduk dikit mas."


"Hahaha ... oke, aku nunduk dikit nih, terus?"


"Aku mau cium pipi kamu, boleh mas? Nunduk lagi, aku nggak nyampe."


"ini haram Jani... hahaha "


"hahaha... biarin ah mas!"


"Oke, just do it, beib." Ucap Pandu.


Anjani pun mengecup pipi Pandu. Kemudian ia tertawa saat Pandu mengajaknya berjalan dengan meminta kedua kaki Anjani, memijak kedua kakinya,


"Mas, aku inget dulu sama papa gini, waktu kecil."


"Jadi, kamu suka?"


"Suka mas, ayo sampe ke teras, terus muterin rumah ini."


"Oke. Janda."

__ADS_1


"Hahaha ..." Tawa mereka berdua, ketika mendengar kalimat Janda, dari Pandu.


__ADS_2