DUA GARIS (You Got Me Baby)

DUA GARIS (You Got Me Baby)
RENCANA BERTEMU MANTAN


__ADS_3

Menjelang pagi, Anjani dan Bastian terbangun akibat panggilan telepon berbunyi berulang kali,


"Siapa mas?"


"Kayaknya mama deh." Ucap Bastian.


"Iya ma ..."


"Kalian pulang sekarang ya, di rumah mau kedatangan tamu lagi. Lagian ngapain lama lama di hotel? Mama juga kangen kamu Bastian. Pulang ya, mama tunggu sekarang."


"Iya iya ma ..."


"Kenapa mas?"


"Kita harus balik, ada tamu yang mau dateng ke rumah mama."


"Ooh ..."


"Ya udah, aku mandi dulu. Habis sarapan, kita balik."


"Iya mas ..."


Berdua menikmati sarapan pagi, walau Bastian, terus saja menerima panggilan telepon,


"Mas ... bisa nggak, kamu libur yang bener-bener libur?"


Mendengar ucapan Anjani, Bastian meletakkan garpu, "Maksudnya?" Tanya Bastian.


"Iya. Aku pengen kita tuh kayak orang kebanyakan mas, bulan madu tanpa ada yang ganggu." Ucap Anjani pelan.


"Ganggu? Kamu ke ganggu sama telepon ini?"


"Ya bukan gitu sih mas, tapi ..."


"Sayang. Aku tuh kerja. Kalo aku pengangguran mungkin beda lagi. Kamu harusnya ngerti dan nggak perlu kan protes?"


"Bukan protes mas, kita baru nikah dan aku tuh ..."


"Kamu ngerusak mood aku!" Ucap Bastian, yang kesal dengan perkataan Anjani.


"Mas ... maaf ..." ucap Anjani, sambil memeluk Bastian dari belakang. Bastian tengah berdiri menghadap balkon.


"Kamu harusnya paham, pekerjaan aku apa, aku tuh pengusaha yang emang sibuk banget. Itulah kenapa aku tunda nikah kita sampe 1 tahun, soalnya kalo nggak, bisa lebih parah dari ini."


"Maaf mas, aku minta maaf, tapi aku cuma minta waktu kamu sama aku, berdua mas." Ucap Anjani.


"Kita sekarang kan lagi berdua, terus mau gimana lagi sayang? Udah, kemasin baju, kita balik, mama nunggu. Aku nggak mau dia ngomel karena kita telat." Ucap Bastian, sambil memeluk dan mencium kening Anjani.


Keduanya mengemasi pakaian dan segera meninggalkan kamar hotel.


Dengan menggunakan supir pribadi, mereka pulang menuju rumah mewah keluarga Bastian.


......................


Kumpul keluarga,


Anjani tampak sibuk, menyusun beberapa kado mewah di dalam kamarnya, naik dan turun tangga seorang diri. Sementara Bastian, tengah berkumpul bersama keluarga besarnya di ruang tv, berukuran luas itu,


"Kasian mbak nya." Ucap Tati, pembantu rumah tangga.


"Mbak ... sini, Tati bawa, mbak tunggu aja di kamar mbak."


"Jangan Tati, nggak apa-apa."


"Mbak, nanti capek, mbak pengantin baru, harus santai, tenang, happy, biar Tati bantu."


Tati membawa kado mewah itu ke dalam kamar Bastian yang berada di lantai dua,

__ADS_1


"Sebanyak ini mbak, sendirian, naik turun. Mas Bas, nggak bantuin?"


"Dia mau kok, tapi kan ada tamu, jadi aku kerjain sendiri aja." Ucap Anjani.


"Halah, tamu apa, itu kan keluarga mantan pacar dia yang di Australia mbak, masa mbak nggak tau?"


"Hah?" Ucap Anjani yang kaget, mendengar penuturan Tati.


"Iya, jadi dulu ..."


"Anjani ..." Terdengar suara Artha, ibu dari Bastian.


"Duh, ada nyonya, nanti aja mbak." Bisik Tati.


"Ngapain kamu disini? Sana kerja!" Ucap Artha, pada Tati.


"Iya nyonya." Tati pun meninggalkan kamar Bastian.


"Ma ..."sapa Anjani.


"Anjani, kamu buatin minum lagi ya, sekalian kenalan sama mereka, ayo."


"Oh, iya ma ... nanti Anjani turun ke bawah."


"Rambut kamu rapiin, pake parfum." Ucap Artha.


"Iya ma ..."


Tak lama kemudian, dengan membawa minuman untuk tamu, Anjani pun di perkenalkan oleh Artha pada tamu spesial nya,


"Nah, ini menantu saya, istri Bastian." Ucap Artha.


"Saya Anjani." Ucap Anjani sambil tersenyum.


"Cantik juga menantu kamu, sist." Ucap Kemala, rekan bisnisnya.


Bastian mengajak Anjani duduk di dekatnya. Anjani merasa aneh, mendengar pujian yang di lontarkan Artha, untuk wanita yang tak ia lihat di sana.


"Anggi siapa mas?' Bisik Anjani pada Bastian.


Bastian enggan menjawab, ia lebih memilih diam dan menerima panggilan telepon,


"Aku terima telepon dulu sayang." Ucap Bastian.


Anjani mengangguk.


Tampak wajah bahagia terpancar dari Bastian, saat menerima panggilan itu,


"Kamu kok nggak ngundang aku?"


"Bukan nggak mau, takut gagal move on."


"Jadi beneran mau lupain aku nih, ceritanya?"


"Bukan gitu Anggi ... aku juga harus jaga perasaan istri aku."


"Aku kangen tau, ketemuan yok?"


"Kapan? Aku lagi nggak sibuk nih."


"Malem ini aja, bisa? Aku mau kasih kado sama kamu.""Kado apa?"


"Kado yang bikin kamu ketagihan."


"Wih, apaan tuh?"


Anjani terus memerhatikan gerak gerik Bastian. Ia pun berjalan pelan dan mendekati Bastian,

__ADS_1


"Mas ..." ucapnya.


"Eh, nanti telepon lagi, istri aku manggil, udah dulu ya."


"Oke, jangan lupa, aku tunggu kamu."


"Iya, kenapa sayang?"


"Aku nggak enak badan, aku mau istirahat mas, temenin aku mas."


"Oke, aku temenin kamu, tapi nggak bisa lama, aku ada janji sayang. Nggak masalah kan?"


Anjani mengangguk.  Mereka berdua naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamar. Berbaring lah Anjani di dampingi Bastian,


"Mas, telepon dari siapa tadi?" Tanya Anjani pelan.


"Temen lama, dia mau ngajak ketemu."


"Kayaknya mas happy banget tadi."


"Maksudnya?" Tanya Bastian.


"Ya, aku liat muka mas happy gitu. Kayaknya temen akrab banget ya mas?"


"Dia kenal aku lebih lama dari kamu. Yang jelas dia emang tau semua soal aku sayang."


"Gitu, perempuan?"


"Iya, perempuan."


"Jadi nanti mas mau ketemu dia?"


"Kamu mau minta di temenin tidur atau mau interogasi aku sih?"


"Cuma tanya kok mas."


"Tapi nyebelin lama lama sayang, udah tidur aja deh. Aku temenin kamu tidur, habis itu aku pergi dulu."


"Aku boleh ikut mas?"


"Ngapain, kamu kan lagi nggak enak badan, udah di rumah aja, mama juga masih banyak tamu, nanti dia nggak ada yang bantuin."


Anjani mengangguk, ia mencoba memejamkan matanya walau perih ia rasakan, jika Bastian tidak berkata jujur padanya.


Menjelang malam, Anjani di sibukkan dengan tamu yang terus datang ke rumah itu. Sementara Bastian, belum juga sampai di rumah.


Rasa lelah menyelimuti tubuhnya, Anjani nyaris jatuh pingsan saat menyediakan makan malam bersama Tati dan 3 orang pembantu rumah tangga lainnya,


"Mbak, mbak tidur aja, biar ini kita yang ngerjain." Ucap Tati.


"Iya mbak, mbak itu bukan pembantu, tapi menantu." Ucap pembantu rumah tangga lainnya.


"Ya udah, aku istirahat dulu ya. Aku duluan."


"Tati anterin mbak, ayo, naik tangga, hati-hati."


"Makasih Tati, kamu baik banget."


"Tati nggak tega liat mbak gini, mas Bas kemana juga? Gila, udah jam segini, jam 12 malem loh."


"Udah Tati, biar aja, dia juga butuh hiburan juga, kerjaan dia banyak banget Tati."


"Ya kira kira dong. Pengantin baru, harusnya *** *** sama istri di kamar. Bukan sama yang lain." Ucap Tati.


"Maksudnya? Gimana Tati?"


"Ehm ... anu ... itu ..." ucap Tati bingung.

__ADS_1


__ADS_2