DUA GARIS (You Got Me Baby)

DUA GARIS (You Got Me Baby)
PERPUSTAKAAN


__ADS_3

"Pulang kemana Anjani?"


"Ehm ... Gardena 3 mas. Ikutin aja maps, nih, udah saya buka maps nya, mas ikutin aja." Ucao Anjani, sambil


sambil meletakkan ponselnya di dasboard.


"Oke ..."


Mereka berdua berbincang ringan, sambil sesekali tertawa bersama,


"Iya jadi mas ... Diska tuh, waktu liat mas di dalem kelas, dia bilang sama saya kalo dia susah nafas."


"Hahaha ... segitunya?"


"Beneran, saya tuh nahan ketawa aja dari tadi, waktu mas ngajar. Mau serius jadi nggak bisa gara gara dia mas ..."


"Kayaknya dia suka ngelawak ya?"


"Asli mas, dia ngelawak terus, dari SMA sih."


"Jadi, kalian satu SMA?"


"Iya mas ... ehm ... mas sendiri sama yang tadi? Kok bisa kenal?"


"Ooh, Pandu?"


"Iya, sama yang lainnya juga."


"Jadi, kita semua satu sekolah dulunya, terus, saya dapet beasiswa lah, kuliah di luar negeri, Pandu juga dapet sih. Tapi dia nggak ambil, katanya sih, mending kuliah di negeri sendiri aja. Lebih hemat waktu, tenaga."


"Hahaha ... jadi gitu mas."


"Iya, kita semua tuh temenan akrab. Main basket dari SMP."


"Pantesan pada tinggi tinggi ya mas."


"Dan Pandu, lebih tinggi dari kita. Nggak tau tuh dia makan apaan jadi tinggi gitu."


Tak lama. Tibalah di depan halaman rumah keluarga Anjani,


"Mas, mau masuk?"


"Boleh?"


"Boleh kok mas, ayo."


"Oke."


Bastian dan Anjani turun dari mobil, mereka berdua memasuki pekarangan rumah dengan cat berwarna krem dan di penuhi dengan berbagai macam tanaman hias itu.


"Masuk yok mas, saya buatin minum."


"Oke."


Duduklah Bastian di ruang tamu,


"Mas, disana aja, di ruang tv. Ada mama tuh, di dapur."


"Oh ... boleh ke dapur?" Tanya Bastian.


"Boleh dong, ayo mas.."


Berkenalan lah Bastian dengan orang tua Anjani. Perkenalkan yang singkat namun menyenangkan itu,


"Mas, aku buatin minum ya. Mau minum apa nih?"


"Apa aja, asal kamu yang buatin."


"Gombal deh." Ucap Anjani, sambil menahan tawa.

__ADS_1


"Hahaha ..." Tawa Bastian.


Sementara itu, di tempat yang berbeda,


"Tumben, cepet."


"Cepet ma... nggak banyak mata kuliah. Sisanya bisa di pelajari sendiri." Ucap Pandu.


"Kok murung? Kenapa?" Tanya ibunya.


"Masa sih ma..."


"Iya, tumben rada murung, putus cinta?" Tanya ibunya, sambil tersenyum.


"Hahaha ... pacar aja nggak ada ma ..."


"Cari dong, percuma ganteng, kalo jomblo juga. Masa kamu nggak minat sama cewek di kampus?"


"Minat sih ma ... ada tapi udah punya temen sih." Sambil berjalan menuju kamar tidurnya.


"Maksudnya?" Tanya ibunya.


"Telat ma ... baru tau kalo ada yang menarik di kampus seberang, keduluan sama temen sendiri." Sahut Pandu, dari dalam kamarnya.


Tak lama kemudian, di ruang makan,


"Ma, nanti Dewa ada praktik di rumah sakit bersalin, doain bagus nilainya."


"Aamiin, konsentrasi, fokus aja, yakin hasilnya bagus kok."


"Makasih ma, rencana bakal koas juga disana ma."


"Hebat dong."


"Ya, kalo nilainya bagus. Kalo jelek ya nggak ma."


"Nggak sih ma. Awalnya sih iya. Tapi dua duanya emang yang Dewa seneng. Jadi ya jalanin aja." Ucap Pandu.


"Mama doain, jadi dokter kandungan yang sukses bangun karir, bangun negeri sendiri."


"Makasih ma .."


"Padahal, papa maunya kamu jadi tentara kayak dia."


"Nggak enak ma. Nanti banyak dinas luar, kalo udah punya istri? Anak? Kasian kan ditinggal terus. Kayak mama ditinggal papa terus."


"Namanya juga abdi negara, Dewa. Sudah risikonya juga."


"Tapi, jadi dokter kan juga abdi negara ma. Bangun negeri. Kayak kata mama tadi." Ucap Pandu, sambil meletakkan piring kotor dan mencucinya.


Belajar, setiap hari, Pandu menghabiskan waktu untuk mempelajari ilmu kedokteran dari berbagai sumber. Ia bekerja keras agar lebih cepat mendapatkan gelar kedokteran di usia muda. Ia benar mengenyampingkan kehidupan pribadinya demi mengejar cita-cita.


Namun, pertemuan dengan Anjani, membuat Pandu sadar, bahwa ia tak bisa hidup sendiri tanpa kekasih. Terlebih, melihat ketiga temannya yang bisa menjalankan tugas kuliah, sambil berpacaran. Membuat Pandu pun ingin memiliki kekasih. Sayangnya, gadis yang ia tuju, nyata kini tengah bersama Bastian.


Menjelang malam, duduklah Pandu bersama ayahnya di teras,


"Jadi, kapan nih dapet gelar SpOG?"


"Doain aja secepatnya pa, masih 6 tahun lagi kayaknya, biar jadi dokter spesialis kandungan."


"Tapi kamu hebat Dewa... bisa nyelesain kuliah kedokteran 5 tahun. Itu sih keren."


"Makasih pa."


"Pacar, belum ada nih?"


"Hahaha ... belum pa, biar aja, entar dateng sendiri." Ucap Pandu.


"Richard, jadi dokter umum ya nanti?"

__ADS_1


"Iya pa, dia nggak ambil spesialis, biar cepet aja katanya, sama nggak mau pusing mikir, belajar lagi."


"Hahaha ... berarti, dia bentar lagi dapet gelar juga?"


"Ya dapet pa. Sama kayak Dewa. Jadinya sekarang dia Sarjana kedokteran."


Menjelang pagi, Anjani dan Bastian pergi bersama menuju kampus. Sama halnya Pandu, yang saat itu berkendara dengan motornya menuju kampus.


Tiba disana, ketiga sibuk dengan tugas masing-masing. Pandu dengan tugas praktik, Bastian mengajar dan Anjani serius dalam belajar.


Jam belajar berakhir, Pandu dan ketiga temannya menuju perpustakaan untuk mencari sumber referensi,


"Mas, aku ke perpustakaan ya."


"Oke, nanti aku tunggu kamu di tempat biasa, kita pulang bareng lagi."


"Ehm ... oke."


"Bye Jani."


"Bye mas ..."


Berjalanlah Anjani menuju perpustakaan, sementara Bastian kembali mengajar,


"Jani ... sini ..." Diska memanggil Anjani.


Diska, ia sedang duduk dan memegang buku tanpa membacanya.


"Baru sampe, ada gosip?"


"Ada, elu di gosipin."


"Masa gue?"


"Banyak yang liat kemarin lu duduk diantara cowok cowok ganteng di kantin, setan..."


"Astaga, itu doang?"


"Iya, terus lu lagi kenalan sama mas ganteng yang lagi ngejar gelas SpOG nya itu. Tuh ... orangnya ada disini ..." bisik Diska, sambil menunjuk Pandu dan ketiga temannya.


"Eh, ketemu lagi. Bentar. Jadi dia udah lulus kuliah kedokteran?"


"Iya dodol, dia kakak tingkat, tapi keren, masih muda, bakal jadi dokter kandungan, yang lainnya pada jadi dokter umum, mereka tuh dan Menjelang tahap akhir doang."


Anjani tersenyum mendengar penuturan dan penjelasan mengenai siapa Pandu dan ketiga temannya.  Tak ia sadari, jika Pandu tengah memerhatikan dirinya yang sedang tersenyum melihat ke arahnya.


"Jani ... jani ..." bisik Diska, yang melihat Pandu, berjalan mendekati mereka.


"Apa sih ... ganggu aja."


Keduanya terdengar berisik, "maaf, mbak, suaranya." Bisik Pandu, sambil tersenyum melihat Anjani.


"Eh! Maaf mas ... maaf ... ganggu ya?" Tanya Anjani.


"Iya mas, maaf ya mas ... kita ngerumpi di tempat sakral gini ... hehehe ... pindah yuk Jani ..." ucap Diska, sambil meraih beberapa buku dan tasnya.


"Iya, pindah. Mas, kita pindahan mas ... permisi." Ucap Anjani, pada Pandu.


"Ya jangan, disini aja, tapi ... suaranya kecilin, pindah juga kalo suaranya masih gede, kan kedengeran lagi, iya kan?" Ucap Pandu.


"Kalo gitu, saya nggak jadi pindah mas." Ucap Anjani, sambil duduk dan tersenyum melihat Pandu.


"Sama mas, betah disini. Liatin mas mas berempat, ya kan Jani ...?"


"Iya mas ... eh ..." ucap Anjani, sambil menutup mulutnya.


Pandu menahan tawa dan berjalan mundur sambil tersenyum dan melambaikan tangannya pada Anjani.


Anjani membalasnya.

__ADS_1


__ADS_2