
"Jadi gini nak Pandu, loh? Dia tidur?" Ucap Hendra, saat baru saja memasuki ruang kerja, melihat Pandu yang tertidur lelap.
"Kenapa pa?" Tanya Anjani.
"Bangunin, suruh makan siang dulu, terus pulang, dia ketiduran tuh." Ucap Hendra.
"Dia capek pa, dinas malem soalnya, baru pulang jam 3 pagi." Terang Anjani.
"Baru balik jam 3 pagi, terus lu sama dia...?" Ucap Leo.
"Kamu ih ... kenapa sih? Mama ..." ucap Anjani.
"Leo, kamu tuh udah segini umurnya, udah ada istri, anak, berubah nak. Masih aja kayak bocah."
"Ribet banget mama, iya iya ... lagian pasti Jani nih, godain dia biar nganu. Ngaku loh?" Ucap Leo.
"Kamu tuh berisik ah ... sana sana... gue mau balik." Ucap Anjani, sambil kemudian mendatangi ruang kerja,
"Mas, mas bangun mas ... kita makan siang dulu, terus balik yok ..." bisik Anjani pada Pandu.
"Ehm ... eh, kenapa sayang? Sorry ketiduran. Astaga ... papa kamu mana?"
"Di ruang makan mas, ayo mas."
"Oke."
Pandu mengusap wajahnya dan merapikan rambut serta pakaiannya,
"Pak, bu, mas, maaf saya ketiduran." Ucap Pandu.
"Iya, kita maklum." Ucap Hendra.
"Ayo duduk sini, kita makan siang dulu." Ucap Nadia.
"Masakan mama Jani, paling enak Dewa." Ucap Rian.
"Yoi, rumah rumah makan, lewat ... kalo Jani nggak bisa masak." Ucap Leo lagi, sambil menahan tawanya.
"Sembarangan, gue masak kok di sana, ya kan mas?"
"Iya, masak, walau kadang kadang, kadang beli kadang masak kok Jani." Ucap Pandu, sambil mengangguk dan tersenyum.
"Tuh kan, aku tuh masak tau ..." ucap Anjani, pada Leo.
"Iya deh, yang udah bisa masak ... terpaksa kan lu?"
"ih enggak lah... Leo..."
"Kapan-kapan, gue sama Leo atau kita sekeluarga, boleh kerumah lu?" Tanya Rian.
"Boleh mas."
"Ya udah, gue atur jadwal kantor gue dulu, maklum kerja sama perusahaan orang, tau diri lah kita." Ucap Rian, yang bekerja di bank swasta.
Sementara Leo, bekerja di sebuah sekolah internasional, sebagai guru pengajar bahasa inggris.
Makan siang usai, keduanya berpamitan untuk pulang,
"Pamit pulang, pak, bu ... mas." Ucap Pandu.
"Ya hati - hati Pandu, pulang sendiri kan?" Tanya Hendra.
"Ehm ... itu ..." ucap Pandu, sambil melirik Anjani.
"Mama... pa, Anjani ikut mas Pandu ya? Boleh kan ma?"
"Jani, jangan dulu, soalnya nanti ada masalah lain." Ucap Nadia.
"Mama please... Jani balik kalo pas mau sidang nanti, papa ... boleh kan? Mas Rian? Leo?"
__ADS_1
"pergi lu pergi pergi..." ucap Leo.
"Biar aja ma ... mereka udah dewasa, udah tau tanggung jawabnya gimana, yang jelas kan lu janji bakal nikahin adik gue?" Ucap Rian.
"Saya janji mas."
"So, ya udah, bawa deh adik gue, tapi jangan lu sakiti." Ucap Rian.
"Iya, berani nyakitin dia? Cari mati. Cukup si Bastian yang belum aja ketemu kita, ya nggak?" Ucap Leo.
"Bener, mau mati tuh orang." Ucap Rian.
"Jangan main hakim sendiri ..." ucap Hendra.
"Yang penting, sekarang adik kalian baik-baik aja." Ucap Nadia.
"Jadi, maaf ... apa Anjani saya tinggal aja bu, pak?" Tanya Pandu.
"Mas! Aku ikut kamu tauk!" Tegas Anjani.
"Bawa deh bawa ... janda juga, bawa bawa ... tolong di jagain, takutnya jadi toxic buat tetangga lain." Ucap Leo.
"Janc*k mas Leo iki!" Ucap Anjani, kesal.
"Hahaha ..." Mereka berdua tertawa lepas.
Pandu kembali pulang membawa Anjani. Mereka berdua telah mendapatkan restu.
Di perjalanan,
"Cuma kita yang kumpul kebo, tapi di kasih izin beib." Ucap Pandu.
"Coba kalo kamu tuh orang nggak bener mas, kerjanya ngga jela nggak mungkin orang tua aku kasih restu."
"Ooh ... orang nggak bener itu, contohnya kayak si pengusaha hotel itu bukan?" Ledek Pandu.
"Hahaha ... sialan, oke juga sih mas, dia salah satu contoh orang nggak bener."
"Mas ... kamu kok gitu sih? Ketularan Leo deh."
"Hahaha ... becanda yang, maaf ya ..."
"Kesel tau, aku masih sakit ati sama dia. mungkin nggak bisa aku lupain."
"Lupain aja yang, kamu emang nggak kayak apa yang mereka bilang kan, tenang aja."
Lain halnya,
"Jadi Bastian nggak kesini ma?" Tanya Rian.
"Nggak, mama kesel, rasanya mau mama temuin dia di kantor nya."
"Buat apa ma, biar karma berlaku buat dia, mama tenang aja." Ucap Leo.
"Tau deh, papa lagi pusing sama Jani, cepet banget dapet pacar?" Ucap Hendra.
"Hahaha ... iya juga ya pa, pake susuk kali dia?" Ucap Leo.
"Leo ... sembarangan aja, mungkin mereka saling kenal dah lama, kita nggak tau kan." Ucap Nadia.
"Tapi, hebat juga dia, dapet dokter gitu, keren ma. Pinter juga cari pasangan adek gue satu itu." Ucap Rian.
Tiba di kontrakan,
"Mas, aku ngantuk ... hoam..."
"Aku juga beib, sumpah ... ngantuk banget, kita tidur dulu yang ..."
"Ayo mas ..."
__ADS_1
Ranjang kembali hangat oleh mereka berdua yang tidur dengan berpelukan.
Teringat janji pada temannya Bram, untuk bertemu di klub malam, Pandu terbangun tepat pada pukul 7 malam,
"yang, astaga, kita kayak mati suri." Ucap Pandu, saat melihat jam tangannya yang masih ia kenakan.
"Ngantuk mas ..." ucap Anjani dengan mata terpejam.
"Aku ada janji, nanti jam 9 malem aku pergi ya, boleh kan?"
"Boleh tapi jangan lupa kado buat aku ..."
"Ya udah, aku beliin dulu kado buat kamu, terus aku ketemuan sama temen aku."
"Tapi jangan selingkuh, nanti kamu selingkuh ... kamu mati."
"Beib, aku nggak kepikiran buat itu."
"Ya kali kamu mabuk, terus ada cewek, terus kalian ciuman ... terus?"
"Hahaha ... kebanyakan nonton drakor nih, jadi kebawa bawa kan."
"Tapi kenyataannya emang gitu, banyak kok yang gitu di belakang pasangan nya ..." ucap Anjani yang seketika bersemangat untuk membahas perihal perselingkuhan.
"Jangan di seriusin juga yang ... kita berdua belum mandi ini ..."
"Mas, hamilin aku lagi ..."
"Hahaha ... baru juga semalem kita gitu kan?"
"Emang tiap malem nggak boleh?" Tanya Anjani, sambil membuka pakaiannya dan kembali berbaring.
"Beda kalau kamu nggak mau punya anak, mungkin seminggu 4 kali, tapi kalau kita program, kita ikutin aturan aja sayang."
"Mas peluk aku dulu, sebelum pergi ... sini mas ..."
Pandu memeluk Anjani, yang kini hanya mengenakan pakaian dalam,
"Jangan lama ya mas ... aku kangen."
"Bentar kok, aku pergi sekarang ya, aku mau beliin sesuatu buat kamu."
"Oke, hati-hati mas ... telepon aku kalo udah sampe sana dan mau sampe rumah."
"Oke, aku pergi dulu ya."
"Bye mas ... i miss you."
"Belum pergi dah kangen?"
"Pokoknya aku kangen kamu."
"Hahaha ... iya iya..."
"I love you mas ..."
Pandu tak menjawab, ia hanya menahan tawa,
"mas i love you....!" ucap Anjani sambil berteriak di telinga Pandu. Pandu tertawa terbahak-bahak mendengar itu.
Pergilah Pandu, menuju ke sebuah toko perhiasan. Ia memilih sebuah cincin dengan berlian mungil nan cantik diatasnya,
"Kalo kegedean atau kekecilan, bisa saya tuker mbak?"
"Bisa mas."
Pandu mengantongi cincin dalam kotak hitam yang cantik itu di dalam saku celana jeans nya. Kemudian ia membelikan Anjani sandal jepit yang harganya terbilang mahal itu. Sandal dengan merk ternama yang sering di gunakan para artis dan kalangan atas itu seharga 8 juta rupiah untuk alas kaki.
Teringat jika Anjani selalu menggunakan sandal miliknya sehari hari di rumah.
__ADS_1
Rupanya, dokter muda ini diam diam melihat ukuran sepatu milik Anjani, sehingga ia yakin dengan apa yang ia pilih.