
"Dewa ... jangan lupa entar malem, Bastian."
"Liat entar deh, gue sibuk, lagi praktik nih."
"Ya habis praktik lah, bisa kali."
"Gue usahain."
"Lu juga masa nggak kangen sama Anjani?"
"Fauzan, dia istri orang ..."
"Hahaha ... iya deh pak dokter, ditunggu ya ..."
"Siap."
"Hadeh ..." ucap Pandu, sambil menggeleng kepala dan menahan tawa.
Pandu baru saja menerima telepon dari Fauzan, ia tampak malas hari ini. Namun, tak menampik, jika ia memang merindukan Anjani.
Fauzan baru saja datang, ia sedikit terlambat untuk ujian praktik kedokteran. Sementara Pandu, ia baru saja hendak meninggalkan rumah sakit siang itu,
"Tungguin gue dong ..." ucap Fauzan,
"Kayak bocah lu. Gue mau balik, capek, dari subuh gue disini, mau tidur." Ucap Pandu.
"Ya udah, tapi jangan nggak dateng lu. Nggak ada alasan, pokoknya lu dateng."
"Nggak janji *** ..." ucap Pandu.
"As* lu ..." sahut Fauzan.
Mereka berdua tertawa. Pandu melanjutkan jalan menuju kerumahnya.
Sementara itu, Anjani baru saja mendapat pesan untuk tugas baru dari dosen nya,
"Minggu depan harus kuliah lagi. Skripsi belum kelar." Ucap Anjani.
"Kenapa?" tanya Bastian.
"Iya mas, skripsi. Aku nggak lama lagi wisuda. Cuma capek banget, aku kok mudah capek ya?"
"Stop dulu aja kuliahnya. Entar bisa nyambung lagi kan."
"Tapi sayang mas, aku juga mau jadi wanita karir, boleh kan mas?"
"Boleh sih, aku nggak ngelarang kamu kok, mau kamu kerja atau nggak, ya itu terserah kamu aja."
"Makasih mas ... tapi, kalo aku melamar jadi sekertaris kamu? Boleh nggak?"
"Hahaha ... apa bedanya dirumah sama di kantor sayang, yang ada jadi bahan omongan, mentang mentang punya perusahaan terus kamu jadi sekertaris aku. Nggak enak lah."
"Iya juga sih, ya udah, aku cari kerja di perusahaan lain aja deh mas."
Menjelang makan malam.
Anjani telah menyiapkan semua makanan yang telah ia pesan,
"Gimana mas?"
"Oke banget, kamu cocok jadi pemilik EO sayang, makasih ya. Aku yakin, mereka suka desain kamu."
"Sama-sama mas, aku ke atas dulu mas, kaki aku sakit semua."
"Ya udah, istirahat dulu deh, nanti kamu turun lagi ke bawah, kalo mereka dateng." Ucap Bastian, sambil memeluk dan mencium kening Anjani.
__ADS_1
Anjani mengangguk, ia pun berjalan menaiki tangga, menuju kamarnya,
"Capek ..." eluh Anjani, sambil berbaring dan melihat telapak tangannya yang tampak kasar.
Baru saja hendak memejamkan mata. Bastian meminta Anjani untuk turun,
"Masuk masuk ... apa kabar ini pak dokter?" Ucap Bastian, sambil berpelukan dengan Rangga.
Disusul Richard dan Fauzan.
"Dewa mana?" Tanya Bastian.
"Dia lagi di jalan, nggak tau di jalan mana." Ucap Fauzan.
"Sibuk dia, mau jadi spesialis. Kita udah tamat, dia sama Fauzan belum." Ucap Richard.
"Dia mau mengabdi pada negaranya coy." Ucap Rangga.
Mereka pun tergelak tawa. Melanjutkan obrolan di taman yang sudah di desain indah oleh Anjani,
"Wih. Keren nih." Ucap Rangga.
"Berasa di cafe ya?" Ucap Richard.
"Siapa dulu yang desain." Ucap Bastian.
"Anjani ya?" Tanya Fauzan.
"Jelas lah, dia semua yang desain, yang atur, mesen makanan, untuk kalian." Terang Bastian.
Anjani pun tiba, dengan membawa minuman hangat menggunakan roli,
"Halo ..." sapa ramah dari Anjani pada mereka.
Berjabat tangan bergantian, Anjani pun diminta Bastian untuk duduk bersama mereka,
"Kuliahnya gimana mbak?" tanya Fauzan yang diam diam ia merekam Anjani dari iphone-nya.
"Lagi skripsi mas, habis cuti nikah, langsung kejar target." Ucap Anjani.
Mereka masih menunggu kedatangan Pandu. Sementara Anjani masih duduk di kursi kosong, milik Pandu. Tak lama kemudian, Pandu tiba di sana,
"Maaf, lama." Ucap Pandu, saat tiba di taman.
Mereka menyambut hangat Pandu, dengan tawa dan berpelukan.
Anjani tersenyum, ia teringat akan Pandu,
"Mas ... apa kabar?" Sapa Anjani, sambil mengulurkan tangannya.
"Baik, kabar baik." Ucap Pandu dan menggenggam tangannya.
"Duduk mas, saya ke dalem dulu bentar." Ucap Anjani pada Pandu dan lainnya.
Pandu mengangguk, jantungnya berdegup kencang saat bertemu Anjani, rupanya ia masih menginginkan Anjani. Fauzan mengirimkan video berisi Anjani yang ia rekam dengan sengaja, pada iPhone Pandu, sekita sebuah pesan berbunyi, Pandu melihatnya dan melirik Fauzan. Fauzan mengedip mata, Pandu menahan tawa dan melihat video itu.
"****...." ucap Pandu pelan dan menahan tawa.
"di save dong... mayan buat temen halu ...hahaha!" ucap Fauzan.
teman lainnya tampak heran dengan apa yang mereka tertawakan.
Duduklah mereka bersama dan menikmati makan malam. Tawa riang canda, terdengar memenuhi taman, malam itu.
"Bentar ya." Bastian tampak sibuk menerima telepon.
__ADS_1
Sementara Pandu dan lainnya masih menikmati hidangan yang di sajikan Anjani.
Anjani tak berhenti melayani. Hingga akhirnya ia tak sengaja menjatuh minuman, dan membasahi pakaian Pandu,
"Maaf mas ... maaf ..."
"Nggak masalah, santai aja. Cuma air."
"Maaf ya mas ... saya ..." ucap Anjani tertahan, saat ia merasakan sakit kepala hebat.
Anjani nyaris terjatuh di atas tanah rumput hijau itu, Pandu dengan cepat menahan tubuhnya,
"Dia pingsan!" Ucap Pandu, panik.
"Bas, bini lu." Ucap Fauzan.
"Bentar." Sahut Bastian yang sibuk dengan telepon, sambil merentangkan kelima jarinya pada Fauzan, meminta waktu.
"Gimana sih dia?" Ucap Pandu sambil menggendong tubuh Anjani.
"Tolong bawa dulu ke kamar." Pinta Bastian.
Tentu saja, membuat mereka bingung akan sikap Bastian yang lebih memilih panggilan telepon dibandingkan Anjani.
Pandu membawa Anjani, menuju rumah. Tati yang kebetulan hendak melintas, terkejut melihat Pandu yang tengah menggendong Anjani,
"Ganteng amat ..." ucap Tati, sambil merapikan pakaian dan rambutnya.
"Maaf, kamarnya dimana mbak?' Tanya Pandu, dengan ramah dan senyum pada Tati.
"Di atas mas ... naik ke situ ... kiri ya mas ... silahkan mas ganteng ..." ucap Tati, genit.
"Makasih ..." sahut Pandu, sambil menahan tawa.
Naiklah Pandu dengan menggendong Anjani, hingga ke dalam kamar. Ia meletakkan tubuh Anjani pelan saat berada di atas ranjang.
"Kamu sakit." Bisik Pandu.
Kemudian Pandu menyelimuti Anjani dan meninggalkan kamar itu.
Tiba di taman, "kurang darah." Ucap Pandu.
"Keliatan sih, mana pucat banget." Bisik Richard.
Tak lama, Bastian pun duduk diantara mereka, "maaf, sibuk. Jadi istri saya Gimana?"
"Di atas Bas." Ucap Fauzan.
"Makasih, saya ke atas dulu, bentar."
"Kalo gitu kita balik dulu aja pak Bas, kasian istrinya. Dia pasti butuh istirahat dan kayaknya dia lagi ngalamin hipotensi. Bisa jadi tekanan darahnya dibawah 90/60, itu terlalu rendah." Ucap Pandu.
"Iya pak Bas, kita balik aja ya. Kasian sama Anjani. Mending kita lanjutin lagi, pas dirumah pak dokter? Gimana?" Ucap Rangga.
"Boleh, boleh juga, atur lagi deh waktunya. Dan terimakasih udah bantuin istri saya juga, makasih Pandu."
"Sama-sama." Ucap Pandu, singkat.
Mereka meninggalkan kediaman keluarga Bastian.
Diperjalanan, Pandu tak bisa melupakan kejadian itu. Wajah Anjani selalu membayangkan dirinya.
"Kasian dia, bisa kena anemia lama lama kalo di biarin. Bastian gimana sih?! Masa dia nggak peka? Gila. Lebih penting bisnis dari istri?"
Tiba dirumah, Pandu tak tenang, ia teringat bagaimana paras ayu wanita yang ia cintai saat ia menggendong tubuhnya, terkulai lemah diatas ranjang.
__ADS_1