Duda Bersertifikat

Duda Bersertifikat
Hanya akal-akalan


__ADS_3

Dua hari libur benar-benar dipergunakan Tiara untuk me time, bocah kecil yang biasanya datang setiap pagi mendadak absen karena kata Bi Sani dia sedang menginap di rumah nenek dari alm ibunya. Ada rasa rindu akan keceriaan dan keceriwisan Aqila si bawel yang banyak tanya, dari cerita Bi Sani Tiara jadi tahu kalau Aqila sudah ditinggal ibu kandungnya sejak usia dua tahun.


Bu Rahma sedang ke surabaya untuk menjenguk cucunya yang terkena demam berdarah, jadi di rumah hanya ada Tiara dan Bi Sani. Minggu malam yang sepi Tiara isi hanya dengan membaca dan menonton televisi berdua dengan bi Sani.


Hingga esok paginya si kecil Aqila datang lagi.


"Asamelekum Tante Araaa.." suaranya yang nyaring membuat Tiara langsung membuka pintu kamar.


*Halo Qila cayang..how are u to day?." sapa Tiara sambil merentangkan tangan untuk memeluk Aqila.


"I'm fine thank you..and how are you.? jawab Aqila tanpa di duga Tiara bisa menjawab dengan baik, mungkin kebiasaan di sekolah yang membiasakan anak memakai dua bahasa.


"I' m fine too..thank you." Tiara dan Aqila tertawa bersama sambil saling memeluk.


"uhhh Tante kangen deh sama Qila..kamu kemana dua hari ngga kesini?." tanya Tiara yang mengusap-usap rambut Aqila.


"Qila nginep di rumah nenek Depok, karena katanya nenek tidak ada teman." jawab polos Aqila. Sebutan nenek Depok karena neneknya tinggal di Depok.


Tiara segera mengambil sisir untuk mulai mengepang rambut Aqila yang sepanjang bahunya dan bergelombang.


"Minggu depan mau bobo di rumah nenek lagi?" tanya Tiara sambil tangannya terus merapikan rambut Aqila.


"Qila ngga tahu." jawab Qila menaikkan bahunya.


"Selesaaiii.." Tiara mengecup ujung kepala Aqila dan mencium pipinya, entah kenapa semenjak Tiara tahu Aqila sudah kehilangan ibunya rasa sayang di hati Tiara semakin besar, ia merasakan Aqila butuh sosok ibu yang bisa memenuhi kebutuhan seorang anak perempuan seperti dirinya yang sangat dekat dengan bundanya.


"Ok girl ready go to school." Tiara menurunkan Aqila dari pangkuannya lalu berdiri, Aqila pun berdiri dan seperti biasa akan melenggak-lenggok di depan cermin besar membuat Tiara tertawa geli.


"Yang pinter di sekolah ya sayang, nurut sama miss." Tiara melambaikan tangan dan tersenyum lebar ketika mengantarkan Aqila sampai pintu penghubung rumah Bu Rahma dan Oma Aqila, sampai bocah kecil itu hilang di balik pintu.


Tiara segera bersiap untuk pergi ke kantor, hari ini sudah banyak tugas yang harus ia lakukan terutama menyediakan secangkir kopi untuk bosnya.


Semangat pagi dengan mood booster secangkir kopi yang nikmat tentu akan memberi suntikan semangat.


Tok..tok..tok


"Masuk." perintah dari dalam ruangan


"Selamat pagi pak." sapa Tiara pada bosnya yang sedang sibuk melihat layar laptopnya.


"Pagi Tiara." senyum ganteng si bos sedikit membuat Tiara terpukau, tampilan baru bosnya dengan rambut yang baru di cukur terlihat lebih segar apalagi wangi maskulin membuat Tiara sedikit terlena dengan indera penciumannya.


"Gimana kabar kamu hari ini?" Abhisatya beranjak dari duduknya lalu menyeruput kopinya sedikit.


"Alhamdulillah pak baik.." Tiara menjawab apa adanya.


"Kamu sudah sarapan Ra." tanya Abhisatya menatap Tiara yang berdiri di depannya.


Tiara mengangguk " Sudah pak."

__ADS_1


"Kalau begitu nanti makan siang saja, temani saya sekalian bertemu klien." ajak Abhisatya


Tiara terperanjat


"Bukannya ada mbak Lisa pak, biasanya sekretaris yang menemani direktur menemui klien." sanggah Tiara heran


"Lisa biar jaga di kantor saja, kamu merangkap jadi asisten saya kalau saya butuh kamu untuk bertemu klien." paksa Abhisatya, Tiara diam tak berani menyanggah karena sadar ia anak baru yang harus menuruti perintah atasan apalagi ini perintah direktur.


"Nanti saya kabari kamu kalau sudah saatnya akan pergi." ujar Abhisatya lagi.


"Baik pak." Tiara mengangguk


"Kalau begitu saya permisi." pamit Tiara yang diangguki Abhisatya, Abhisatya tersenyum simpul melihat Tiara yang keluar dari ruangannya. Ia harus lebih banyak waktu berdua agar proses pendekatannya berjalan mulus. Abhisatya tertawa sendiri membayangkan dirinya yang seperti anak remaja, mengejar cinta gadis muda yang notabene adalah karyawannya sendiri.


Hari ini ia memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya pada Tiara, jujur tentang statusnya yang seorang duda dengan satu anak. Ia akan menyampaikan niatnya untuk menjalani hubungan yang lebih serius jika Tiara bisa menerima statusnya.


Sementara Tiara agak bingung dengan tugas barunya, ia yang hanya bagian keuangan tiba-tiba di minta untuk menemani bosnya keluar untuk bertemu klien.


"Mita..gue mau curhat." tulis Tiara di pesan aplikasi hijau, sengaja Tiara menggunakan aplikasi chat agar tidak terdengar oleh rekan yang lain. Mita melirik ke arah Tiara yang memberi isyarat mata dan mengangguk.


"ya lu mau curhat apaan?" balas tulis Mita.


"Gue harus nemenin si bos ketemu klien." ketik Tiara.


"Ya salam gue kira curhat apaan..tinggal nemenin doang mah ngga apa-apa kelesss 😜." jawaban Mita membuat Tiara cemberut, Mita terkekeh kecil.


"Ahh lu ngga asik Mit 😥." balas Tiara


"Dasar lu." kata Tiara sambil melempar permen karet yang langsung di tangkap Mita.


Ruangan kembali sunyi hanya terdengar suara slow musik dan ketukan bunyi jari yang mengetik papan tuts keyboard komputer.


Pikiran Tiara masih fokus pada pekerjaannya banyak dokumen yang harus ia periksa, tapi perhatiannya terganggu melihat layar handphonenya menyala.


Pak Abhi calling


"Halo."


"Saya tunggu di lobby 15 menit lagi." perintah yang tidak mungkin di bantah.


Belum Tiara menjawab telepon sudah di putus, terpaksa Tiara membereskan semua pekerjaannya mematikan laptop dan memasukkan ke dalam tas jinjing.


Setelah meminta ijin pada Bu Yuni dan pamit pada Mita barulah Tiara keluar dari ruangannya, dengan menenteng tas jinjing laptop Tiara memang seperti akan mendampingi bosnya bertemu klien.


Sampai di lobby depan mobil mewah bercat putih sudah menunggu, ternyata bosnya sudah duduk di belakang kemudi.


"Duduk di depan Ra!." perintah Abhisatya ketika Tiara membuka pintu belakang.


"Tas kamu bisa di simpan di belakang." lanjutnya lagi

__ADS_1


Tiara mau tidak mau menuruti kemauan bosnya, sedikit gugup Tiara naik ke mobil lalu duduk di sebelah Abhisatya yang masih menatapnya di belakang kemudi. Kesan pertama masuk mobil mewah membuatnya terpukau sesaat berbeda dengan mobil bundanya yang kategori mobil sejuta umat, tapi Tiara bersyukur walau sederhana ia tidak pernah merasa kekurangan.


"Pasang safety belt nya Ra!" Abhisatya belum menjalankan mobilnya, jarinya masih memencet beberapa tombol yang Tiara tidak mengerti.


"Sudah?" tanya Abhisatya meyakinkan kembali, Tiara mengangguk "sudah pak."


Abhisatya mulai menjalankan mobilnya keluar dari area gedung kantor, belum ada perbincangan apa pun diantara mereka. Tiara memperhatikan jalan kemana arah mobil yang dikendarai bosnya, walau belum terlalu hapal arah tapi Tiara tahu bosnya akan menuju ke arah jalan tol.


"hmm jauh ya pak tempat janjiannya? koq masuk tol segala." tanya Tiara yang menyadari mobil masuk lajur pintu tol.


"Iya ke daerah Utara dekat pantai." jawabnya sambil membuka jendela untuk menempelkan kartu e-toll nya.


"Kamu suka pantai kan?." tanya Abhisatya


Tiara mengernyitkan alisnya "koq jadi nanya aku sih bukannya karena tempat meeting dengan klien ya?." ucap Tiara dalam hati.


"Kamu suka pantai ngga Ra?." ulang Abhisatya


Tiara menoleh ke kanan melihat bosnya, Abhisatya tersenyum simpul.


"Ya suka sih pak cuma saya ngga kuat panas dan anginnya kencang." ujar Tiara


"Nanti ngga panas koq, suasananya enak dan adem." ujar Abhisatya meyakinkan Tiara agar tidak usah khawatir kepanasan.


"Pasti adem pak kan di dalam gedung masa pertemuan di pinggir pantai." jawab Tiara, Abhisatya menahan tawanya padahal tidak ada pertemuan dengan klien, ini hanya akal-akalan dia yang ingin mengajak Tiara makan siang.


"Kamu suka makan seafood Ra." pertanyaan untuk mengorek informasi tentang makanan kesukaan.


"Lumayan." jawab singkat Tiara


"Ada alergi?." tanya Abhisatya meyakinkan


"Ngga pak dokter." Tiara tertawa kecil.


Abhisatya menoleh heran.


"Kayak dokter pak nanyanya..pake tanya alergi segala." Tiara terkekeh sambil menutup mulutnya.


Abhisatya gemas melihat Tiara yang terkekeh sambil menutup mulut, tanpa di duga tangan Abhisatya menarik tangan Tiara lalu menggenggamnya erat. Tiara terhenyak dan terdiam menatap genggaman tangan mereka berdua, ingin melepas tapi genggamannya begitu erat.


"Pak.." Tiara berusaha untuk melepas tangannya.


Abhisatya tersenyum tipis lalu melepas genggaman tangannya.


Aliran napas Tiara mendadak seperti tersumbat di tenggorokan, tengkuknya meremang terasa dingin.


Bersambung


Happy reading ❤️

__ADS_1


like n komen yaaa


__ADS_2