
Mama Mona pulang ke rumahnya dengan wajah berseri-seri, kenapa ia yang jadi bahagia padahal Abhisatya yang sedang jatuh cinta. Sebagai orang tua tentu saja melihat anaknya bahagia akan ikut bahagia, setahun setelah kematian istrinya Abhisatya mulai bangkit karena support dari seluruh keluarganya apalagi ia harus membesarkan anak semata wayangnya. Tapi bersamaan dengan bangkitnya Abhisatya masalah muncul karena mantan mertuanya menginginkan Abhisatya menikah dengan sepupu mantan istrinya. Rencana itu tentu saja di tentang oleh orangtua Abhisatya karena mereka melihat ada niat tidak baik di balik rencana perjodohan itu.
Mama Mona berjalan cepat menuju kamarnya biasanya suaminya masih bersiap untuk ke kantor, ia sudah tidak sabar ingin mengabarkan berita gembira ini.
Mama Mona membuka pintu kamar dengan terburu-buru hingga tak sadar suaminya ada dibalik pintu itu.
"pa.." jedug pintu yang dibuka malah membentur kepala papa Budiman.
"aduh mama." papa Budiman mengelus keningnya yang terbentur pintu.
"Ya Tuhan ..maaf pa mama ngga sengaja." Mama Mona ikut mengelus kening suaminya.
"Maafkan mama pa..mama terlalu bersemangat ingin mengatakan kabar baik." ujar mama Mona dengan wajah bersalahnya.
"Kabar apa sih ma sampai ngga sabaran gitu." ujar papa Budiman keheranan.
"Masuk kamar dulu pah nanti mama ceritakan." Mama Mona mengajak masuk kembali papa Budiman.
Di dalam kamar mama Mona menceritakan kejadian yang baru ia ketahui, ternyata Tiara yang dimaksud Abhisatya adalah orang yang sama dengan Tante Ara yang selama ini dekat dengan Aqila. Kebetulan yang pasti menyenangkan buat Abhisatya, mungkin ini yang dinamakan jodoh pikir mama Mona.
"kenapa mama bisa yakin kalau Tiara yang dimaksud abhi sama orangnya dengan Tante Ara yang selama ini dekat dengan Aqila?" tanya papa Budiman mengorek informasi, maksudnya agar tidak salah orang.
"Mama tadi tanya dia bekerja dimana ternyata dia bekerja di perusahaan Abhi pah, tapi mama sengaja tidak membocorkan kalau Abhi ayahnya Aqila adalah direktur di sana." jawab mama Mona tersenyum bahagia.
"Jangan ceritakan pada Abhi dulu pa..setelah pulang dari luar kota nanti kita buatkan kejutan..sekarang mama harus menyelidiki Tiara dulu." ujar mama Mona
"Ngapain di selidiki kayak buronan saja." kata papa Budiman, karena tidak habis pikir istrinya punya pikiran seperti itu
"Maksudnya menyelidiki tentang kesehariannya atau mungkin asal usulnya" jawab mama Mona, mama Mona tersenyum membayangkan kedekatan Tiara dan Aqila tadi, hatinya cukup lega ternyata Abhisatya menyukai Tiara yang terlihat baik dan sayang pada Aqila.
Tiara sampai kantornya dengan suasana hati yang sangat baik, selain tidak ada tugas membuat kopi juga sudah bisa membayangkan akan mengerjakan tugas tanpa gangguan dari bosnya.
"udah sarapan Ra?" tanya Mita yang sedang membuka bungkusan sarapan pagi di meja kerjanya.
__ADS_1
"Sudah dong di rumah tadi." jawab Tiara sambil menyalakan laptopnya.
"Nyokap gue tadi beliin nasi uduk Ra, datangnya pas gue mau berangkat yaudah gue bawa aja dah." ucap Mita dengan mulut penuh makanan.
Tiara tertawa melihat wajah Mita yang lucu ketika bicara dengan mulut penuh.
"Udah lu makan dulu ngga usah sambil ngomong." kata Tiara menghentikan Mita yang bicara sambil mengunyah.
Akhirnya Mita makan tanpa bicara lagi sementara Tiara mulai memeriksa email yang masuk, matanya memicing melihat email yang masuk dari seseorang yang sudah dikubur namanya Yudi mengirim email.
Tiara membaca tulisan Yudi dengan emosi yang di tahan.
"Tiara sayang, sejak kamu pergi dan memutuskan hubungan kita rasanya Aa tidak bersemangat lagi, cinta aa sudah kamu bawa pergi semuanya. Masih adakah kesempatan untuk kita bersama lagi ? Aa janji akan menyelesaikan urusan rumah tangga Aa. Tolong jawab email ini karena kamu sudah memblokir semua akses komunikasi kita."
Tiara berdecak "dasar kucing garong masih aja modus"
"Siapa yang jadi garong Ra?." tanya Mita yang sekilas mendengar Tiara mengumpat dengan menyebut garong.
"Hah??." Tiara melongo tidak menyangka kalau Mita mendengar gerutuannya.
"Mit..lu kalau kenyang koq mendadak jadi tajam sih kupingnya." goda Tiara sambil tangannya menjewer telinga Mita.
"Ya emang kedengaran Ra kan gue ngga budeg." jawab Mita sambil mengelus kupingnya yang di jewer Tiara.
"Ra lu ngga bikin kupi buat si bos?." Mita yang heran karena Tiara dari tadi hanya diam di mejanya.
"si bos ngga ada lagi keliling dunia lain." jawab Tiara asal.
"Et dah dikata si bos makhluk astral pake ke dunia lain." jawab Mita setengah berbisik
"emang diakan makhluk jadi-jadian." jawab Tiara sekenanya, ia sebenarnya males membahas si bos yang suka seenaknya, baru kemarin ia dibuat emosi karena di tuduh pelakor oleh sang mantan mertuanya harapan Tiara selama si bos tidak ada ia akan tenang bekerja.
Pekerjaan yang menumpuk tidak terasa sampai waktu makan siang, Tiara masih anteng dengan laptop dan setumpuk dokumen.
__ADS_1
"Permisi, mbak Tiara ada kiriman makan siang." Sarul si OB bertubuh ceking membuka pintu bagian keuangan.
Tiara yang sedang serius menoleh ketika namanya di panggil sarul, sarul mendatangi meja Tiara dan meletakkan bingkisan di atas meja.
"Perasaan gue ngga pesan deh Rul salah kali Rul." ujar Tiara sambil berdiri memperhatikan bingkisan beraroma wangi itu.
"Buat mbak Tiara koq tadi yang bawa supir si bos nyuruh saya bawa kesini."
Jawab Sarul tidak merasa salah.
"Apa lu bilang Rul supir si bos yang bawa?." Mita menimpali obrolan Tiara dan sarul, kupingnya gatal karena menyebut nama si bos.
"iya mbak supir si bos." jawab jujur Sarul.
"Udah ya mbak saya masih ada pekerjaan lain." pamit Sarul meninggalkan ruangan keuangan.
Tiara membaca tulisan yang di selipkan di atas box makanan.
"Selamat makan jaga kesehatan selalu."
Tiara membaca tulisan sambil berpikir apa yang harus dilakukan, apakah harus mengucapkan terima kasih atau diam saja.
"Psssttt..koq melamun dapat makan gretongan, kalau lu ngga mau gue siap nampung." Mita mengedipkan sebelah matanya menggoda Tiara yang sedang berpikir. Tiara hanya melengos di goda Mita.
Hembusan napas berat dihembus dengan berlahan, bukan ia tidak peka dengan keadaan seperti ini hanya saja ia tidak ingin mencari masalah. Apalagi saat ini ia sedang tahap penyembuhan kecewa karena hubungan masa lalunya dengan Yudi. Ia tidak ingin terjerumus lagi ke dalam percintaan yang salah, seandainya bisa saat ini ia hanya ingin sendiri dulu.
Sementara di kota lain seseorang sedang gelisah menunggu notifikasi pesan yang ditunggu, sedikit berharap mendengar suara atau hanya tulisan di wall pesannya tapi setelah sejam menunggu pesan belum juga muncul. Ia sudah berpesan pada supirnya untuk membelikan makan siang setiap hari selama ia tidak di kantor, tujuannya dikirim untuk seorang yang spesial di bagian keuangan. Tulisan pesan untuk hari pertama sampai hari ke lima sudah ia siapkan pada kurir hanya tinggal menempel di box yang di pesan.
Hembusan napas berat pun sama di hembuskan, menahan hati untuk tidak menghubungi lebih dulu. Tapi makin lama otaknya makin tak fokus, rasa rindu dan penasaran makin menggebu.
"huh..kenapa begitu sulit menahan rasa ini." keluhnya dalam hati, memejam mata membayangkan wanita pujaannya yang sedang makan siang nasi kotak kirimannya.
Bersambung
__ADS_1
Mohon maaf readers ada kendala yang membuat penulis melambat dalam meneruskan cerita halu ini. Keep support me ❤️