
Membuka pagi di akhir hari kerja karena besok sudah memasuki weekend, mulai dari rumah Tiara sudah mengurus anak tetangga yang setiap hari harus di kepang rambutnya. Lalu sekarang harus mulai mengurus bosnya yang tiap hari harus di buatkan kopi. Tanpa Tiara tahu mereka adalah ayah dan anak yang sudah ketergantungan pada sosok Tiara.
Tiara berjalan cepat menuju lift yang pintunya masih terbuka, masuk di antara jubelan orang-orang yang ada dalam satu kotak besi untuk dibawa ke lantai tujuannya.
Silih berganti orang yang turun dan naik dengan aroma yang bermacam-macam pula, tapi untungnya hari masih pagi wangi berbagai aroma parfum tercium dari yang manis seperti aroma permen sampe bau bunga-bungaan dan kayu-kayuan.
"Tiara." tiba-tiba ada yang mencubit pinggangnya Tiara kaget dan menoleh.
"Astaghfirullah mbk Lisa bikin kaget aja." Tiara mengusap dadanya. Lisa terkikik sambil menutup mulutnya.
"Jangan lupa Ra kopi." bisik Lisa mengingatkan tapi dengan nada meledek.
"Mbak Lisa ngga asik aah." Tiara cemberut.
"Awas modus Ra." Lisa tertawa kecil sambil mengerlingkan matanya.
"Iiih mbak Lisa awas yah..nanti dimarahi nyonyanya loh." Tiara mencubit kecil pinggang Lisa.
Lisa menutup mulutnya yang sedang menahan tawa.
"Lu belum tau dia Ra? ntar ya gue cerita." perkataan Lisa membuat Tiara memicing, "maksudnya apa sih?" dalam hati Tiara.
Tak lama lift berhenti di lantai 19, mereka berdua keluar dan segera masuk ke kantornya.
"Biasa datang jam berapa sih mbak?." tanya Tiara yang berjalan bersebelahan dengan Lisa.
"Liat aja kalau dia lewat berarti lu harus buru-buru buatin kopi..biar moodnya bagus siapa tahu setelah itu gaji kita langsung naik." Ujar Lisa tertawa sambil terus berjalan masuk.
Tiara hanya menghela napas teringat kejadian kemarin sore yang membuat ia jadi serba salah.
Tiara berbelok ke arah ruangannya sedangkan Lisa lurus terus menuju ruangan sekretaris direktur.
Sementara di rumah Abhisatya masih di sibukkan dengan Aqila yang tiba-tiba sakit perut.
"Ya sudah Qila ngga usah sekolah dulu kalau sakit perut." ujar papanya melihat anaknya bolak balik ke kamar mandi.
Aqila menangis sedih karena tidak bisa sekolah.
"Terus Qila di rumah ngapain? sama sapa? aku sendirian dong." mukanya sedih karena harus sendiri di rumah.
"Kan ada suster Nul, bi Endah..kalau ngga ke rumah Oma Rahma main sama Denok atau Tante Ara." ujar papanya lagi
"Tante Ara ngga ada papaaa..ke kantor heu heu heu." tangisannya belum bisa berhenti.
"Ya sudah sama Oma aja di rumah..Oma ngga ke kantor deh " Oma Mona akhirnya mengalah. " Nanti minum obat ya biar sembuh." sambung Oma Mona.
Aqila mengangguk sambil cemberut
"Titip ya ma..aku lagi banyak kerjaan di kantor kalau masih buang air langsung di bawa ke IGD aja,.aku suruh supir standby." pinta Abhisatya pada mamanya
"Iya tenang aja biar nanti mama yang temenin, paling mama ajak ke rumah Tante Rahma biar ngga bosen, Qila biasa main sama kucing." jawab mama Mona.
"Qila sayang papah kerja dulu ya..Qila sama Oma dulu..papah janji cepat pulang." Abhisatya mencium kepala anaknya, Aqila yang sedang berbaring di sofa hanya mengangguk.
__ADS_1
Abhisatya bergegas menuju kantornya, sudah terlambat hampir satu jam.
Pikirannya tak tenang ketika meninggalkan anaknya dalam keadaan sakit di rumah, seandainya ia masih punya istri tentu saja beban ini akan di bagi dengan istri. Sekarang ia hanya mengandalkan pada asisten rumah tangga dan mamanya, tapi tentu saja sentuhan mereka akan berbeda dengan sentuhan seorang istri.
Tak ada yang harus di sesali karena waktu tak akan pernah kembali yang dibutuhkan saat ini ia sangat membutuhkan sosok istri dan ibu untuk anaknya. Ia ingin perempuan yang akan menjadi istrinya akan menerima anaknya juga, bukan cinta yang menggebu tanpa logika tapi cinta tulus yang bisa menyayangi putrinya.
Hampir menjelang jam 10 Abhisatya baru tiba di kantornya, lalu lintas yang padat memperlambat ia datang ke kantor. Ia segera masuk ke ruangannya setelah lift berhenti, tanpa kata tanpa suara ia langsung nyelonong masuk dengan cepat menuju ruangannya sampai bagian resepsionis tak menyadari bosnya datang.
"Eeh tadi pak Abhisatya kan?" tanya resepsionis pada office boy yang sedang membersihkan pintu kaca.
"iya kayaknya buru-buru, tumben Jam segini baru datang." jawab Si OB
Tiara yang sedang fokus pada pekerjaannya sedikit teralihkan oleh bunyi pesan di handphonenya.
"Tiara ke ruangan saya." pesan tertulis dari nama Pak Abhi
Tiara menarik napas panjang "Baik pak."
Tiara mengambil satu sachet kopi untuk dibawa ke pantry terlebih dahulu.
"kemana Lo?" Mita langsung Nyamber liat teman sebelahnya beranjak.
"di panggil sang mah kuasa." jawab Tiara becanda.
"iihh amit-amit audzubillah..lu kalo ngomong sekate-kate." Mita mencibirkan bibirnya.
"yah gue bilang sang maha kuasa bukan yang maha kuasa." Tiara tertawa geli.
"Dasar lu ngeles aja.. awas ntar jatuh cinta loh." jawab Mita sambil terkekeh.
"Jiaah ketinggalan berita dia.." gumam Mita yang tidak di dengar Tiara.
Tiara pasti belum tahu kebenaran yang sudah menyebar luas seantero perusahaan kalau sang direktur sudah menduda.
Di ruangan Abhisatya sedang menerima telepon setelah mengirim pesan pada Tiara.
"Ya mungkin Minggu depan saya jadwalkan kesana untuk melihat prospeknya." jawab Abhisatya di sambungan telepon.
"Saya harus pastikan dulu anak saya harus sehat sebelum pergi keluar kota."
Tiara masuk setelah mengetuk pintu 2 kali tapi tak ada jawaban dari dalam, sekilas Tiara mendengar bosnya menyebut anaknya harus sehat dulu.
Tiara mengangguk pada Abhisatya lalu menyimpan kopi di atas mejanya.
"Ini pak kopinya..saya permisi."
Mendengar Tiara pamitan Abhi memberi isyarat agar Tiara tetap di ruangannya.
"ok pak..nanti saya kabari..sampai ketemu nanti selamat siang." Abhisatya menutup sambungan teleponnya.
"Terima kasih kopinya Tiara." ucap Abhi sambil menyeruput sedikit kopinya.
"sama-sama pak." Tiara mengangguk sambil tetap berdiri
__ADS_1
"Bagaimana progress kamu hari ini." tanyanya sambil berjalan menuju sofa. "duduk Ra!." perintah Abhisatya menunjuk sofa di sebelahnya, mau tidak mau Tiara mengikuti Abhi untuk duduk.
"Sudah mulai berjalan pagi ini, saya sudah mengirim email pemberitahuan tinggal kita tunggu responnya, kalau dalam dua hari tidak ada jawaban terpaksa saya harus hubungi mereka secara langsung." jawab Tiara
Abhisatya manggut-manggut mengerti.
"Kita tetap harus menjaga hubungan baik dengan customer pak, supaya mereka tidak merasa keberatan." tambah Tiara lagi.
"ya saya setuju..kamu pintar bernegosiasi yah..mungkin kamu harus masuk team bisnis development juga jadi tidak hanya fokus ke piutang, kalau piutang sudah bisa kita kendalikan sebaiknya kamu bantu saya di bisnis development." Abhisatya melihat potensi yang dimiliki Tiara bukan hanya pintar di pengolahan angka tapi juga bisa berkomunikasi dengan baik.
"Jadi saya serabutan dong pak sana sini ngga jelas." keluh Tiara dengan nada kurang enak.
"hahahaha kamu tidak mau? ." Abhisatya tertawa lebar melihat karyawan cantiknya merajuk.
"Bukan tidak mau pak tapikan harus jelas, nanti kalau ada orang nanya Tiara mana?! jawabannya itu Tiara serabutan."
Abhisatya makin tergelak
"Ya sudah kamu saya angkat jadi asisten pribadi saya saja." tawar Abhisatya.
"Lahh itu malah lebih gila ngga mau ah pak..rentan." jawab Tiara menolak.
"Rentan? rentan apa? saya sehat ngga penyakitan." Abhi melipat tangannya sebagai isyarat ia sehat dan kuat💪.
Tiara tertawa kecil "Bukan begitu maksudnya pak..rentan gosip nanti saya ada yang labrak lagi."
Abhisatya tersenyum tipis
"Ngga akan ada yang labrak..saya jamin aman." Abhisatya menaikkan jempolnya.
Tiara terdiam sejenak lalu segera berdiri
"Udah ah pak jadi ngelantur..saya pamit mau kerja lagi." pamit Tiara dengan wajah memerah.
Abhisatya tersenyum simpul melihat Tiara yang sudah salah tingkah.
"Saya tunggu jawaban kamu Tiara." ujar Abhisatya dengan nada memaksa.
"Emang gaji asisten lebih besar dari pada bagian keuangan?." tanya Tiara asal, jadi asisten direktur posisi yang banyak orang incar, apa kata teman-temannya ia yang hanya anak baru langsung jadi asisten direktur
"kamu minta berapa? akan saya kabulkan..apa pun yang kamu mau akan saya penuhi..termasuk jiwa raga saya." Abhisatya semakin menantang agar Tiara kehabisan alasan.
"hah???." Tiara ternganga "edan sih ini si bos"
Abhisatya menahan tawanya padahal ia gemas bukan main pada wanita incarannya.
Tiara sudah tidak tahan segera ia melangkah keluar.
"Saya permisi pak." Tiara langsung membuka pintu dan berjalan cepat.
Abhisatya hanya geleng-geleng kepala .
Bersambung
__ADS_1
Happy reading ❤️