
Seharian berjibaku dengan berkas-berkas yang harus di selesaikan lumayan membuat mata labur, Tiara mengucek matanya yang kering. Hembusan pendinginan ruangan dan sinar dari laptop membuat matanya lelah, jam sudah memasuki waktu sholat Ashar.
"Mit..sholat dulu yuk sekalian istirahat mata." ajak Tiara pada Mita teman sebelah kursinya. Mita yang sedang serius menoleh.
"Fiuhh ngga berasa udah jam 4 aja." ujar Mita sambil melirik jam tangannya.
"kuy lah kita sholat di lantai 17 biar sekalian cuci mata." ajak Mita, di lantai 17 memang di sediakan mushola untuk semua karyawan yang bekerja di gedung, gedung menara Mandiri terdiri dari 30 lantai yang di isi beberapa perusahaan sebagai tenant.
Tiara dan Mita beranjak menuju lantai 17, tak lupa menitip pesan pada temannya yang ada di ruangan jika nanti Bu Yuni mencari sebab sang manager masih meeting dengan direktur.
"Biasanya jam segini sudah tidak terlalu ramai." ujar Mita, Tiara yang berjalan di sebelahnya hanya menjawab "ohh" sambil terus berjalan.
Di mushola masih ramai para karyawan yang sedang sholat, Tiara dan Mita segera melaksanakan sholat. Biasanya di depan pintu keluar akan banyak karyawan yang sekedar berbincang dengan teman-teman dari lain perusahaan.
"Mita sama siapa lu kayaknya staff baru ya..boleh dong kenalin." Bagas staff marketing perusahaan asuransi menyapa Mita.
"Tahu aja lu kalau ada yang glowing dikit." jawab Mita membuat Bagas terkekeh.
"Hati-hati Ra ada oray (ular) belang..hobinya tebar pesona dia." Mita memperingatkan Tiara agar jangan mudah terpesona oleh akal bulus Bagas.
"aah Mita ngga asik nih buka-buka rahasia Abang." jawab Bagas
"Abang tukang bakso mari-mari sini kalau mau kenalan." Mita bernyanyi lagu anak-anak jaman dulu yang diganti liriknya.
Tiara tertawa kecil melihat kelucuan temannya.
"Jangan pake gombal..jangan pake kibul..juga jangan pake serrr." Bagas terbahak-bahak mendengar lagu yang dikarang Mita.
"Gue cuma mau kenal Mit, bukan mau seerrr." jawab Bagas masih terkekeh.
"Ya tergantung yang mau diajak kenalan mau ngga sama lu" jawab Mita melirik Tiara di sebelahnya, Tiara hanya tersenyum.
drttt..drtttt panggilan telpon masuk ke ponsel Tiara, Tiara segera melihat siapa yang menelponnya.
"Ya Bu." jawab Tiara, ternyata Bu Yuni yang menelpon.
"saya di mushola lantai 17 Bu." jawabnya lagi.
"oh baik Bu..segera saya kembali." Tiara segera menutup teleponnya dan beranjak.
"Ayo balik gue dicariin Bu Yuni." Tiara mengajak Mita segera kembali ke lantai 19.
"Loh mau kemana? kita belum kenalan loh." Bagas menghadang dua gadis yang siap-siap pergi.
"Besok lagi aja..kita lagi sibuk..minggir Lo." Mita mendorong badan Bagas yang menghalangi jalannya.
"yaah Mita..salam buat sebelahnya yah." ujar Bagas menggoda Mita dan Tiara.
"preettt ah..inget anak lo di rumah." jawab Mita
"hushh sembarangan gue masih bujang yaaa." ralat Bagas membuat Mita tertawa.
Seketika Tiara menghela napas teringat dulu ia pernah menjalin hubungan dengan orang yang sudah beranak dan istri, Tiara merasa menjadi orang yang paling tidak punya hati bisa-bisanya ia merebut kebahagiaan wanita lain. Dalam hati Tiara berjanji tak akan mengulang kisah paling memalukan seumur hidupnya.
Tiara berjalan ke arah lift diikuti Mita.
"Ada apa sih Bu Yuni cari Lo Ra?." tanya Mita di dalam lift.
__ADS_1
"Katanya aku diminta menjelaskan ke pak Abhi soal rencana memberi diskon untuk para customer yang nunggak." Tiara menyiapkan diri mencari alasan yang logis untuk disampaikan pada direkturnya, ia punya solusi seperti itu tentu punya alasan yang masuk akal.
Tak sampai 2 menit lift sudah berhenti di lantai 19, Tiara segera menuju mejanya lalu menyimpan peralatan sholatnya tak lupa merapikan sedikit riasannya.
"Tiara kamu dipanggil ke ruangan pak Abhi, Bu Yuni sudah nunggu di sana." Indah staff pajak menyampaikan pesan dari Bu Yuni.
"oh gitu mbak..ok makasih infonya mbak." Tiara segera beranjak menuju ruangan pak Abhi yang ada di bagian ujung.
Sesampainya di depan ruangan direktur Tiara menyapa Lisa sekretaris direktur yang sedang serius di meja kerjanya.
"Mbak Lisa, saya dipanggil pak Abhi..beliau ada kan?." tanya Tiara
"Masuklah kamu sudah di tunggu dari tadi." Lisa segera meminta Tiara masuk.
Tiara mengangguk.
Tok tok tok
"masuk" jawaban dari dalam.
Tiara membuka pintu kemudian melangkah masuk, ia melihat Bu Yuni sudah duduk di sofa berhadapan dengan pak Abhisatya. Pandangan keduanya langsung tertuju pada Tiara.
"Sore pak." sapa Tiara
"Ya sore..duduklah." perintah Abhisatya, Tiara menempatkan dirinya di sebelah Bu Yuni.
"Kamu yang membuat solusi seperti ini? coba tolong jelaskan pada saya kenapa kamu yakin dengan cara ini." Abhisatya meminta penjelasan tentang solusi yang di ajukan Tiara.
Tiara mengangguk lalu dengan tenang dan yakin bisa menjelaskan dasar ia mengajukan solusi tersebut, Abhisatya dengan serius mendengar tanpa menyela sedikit pun. Penjelasan yang Tiara sampaikan membuat Abhisatya yakin bahwa Tiara mampu menjalankan cara itu.
"Ok no problem saya setuju dengan cara kamu, kamu bisa jalankan?" Abhisatya memberi kepercayaan pada Tiara untuk menjalankan programnya.
"Bu Yuni bisa kembali ke tempat tapi Tiara bisa saya bicara empat mata?." Tiara dan Bu Yuni berpandangan.
"Tidak masalah pak.. silahkan, kalau begitu saya kembali ke ruangan." Bu Yuni berpamitan pada Abhisatya.
Tiara masih berdiri sebelum di minta untuk duduk.
"Duduklah kembali." perintah Abhisatya
"Baik pak." Tiara duduk kembali di sofa semula.
"Saya akan memberikan reward kalau kamu berhasil minimal 80 persen mencapai target, saya akan dukung penuh semua usahamu." ujar Abhisatya dengan serius.
Tiara terdiam dalam tatapan Abhisatya yang menatapnya dalam.
"Kamu boleh berdiskusi langsung dengan saya, kamu bisa datang ke ruangan ini kapan pun pintu ruangan ini selalu terbuka untukmu." Abhisatya masih menatap Tiara yang hanya diam.
"Nomor ponselmu sudah saya simpan kamu bisa menyimpan nomor saya, jika kamu membutuhkan sesuatu 24 jam hp saya aktif."
Tiara mengangguk walaupun merasa aneh dengan bosnya yang ternyata bawel juga, hatinya sedikit tercubit "ternyata si bos ganteng juga kalau mode bawel." Tiara terkikik di dalam hati.
"oh ya Tiara terima kasih kopinya tadi pagi, kopimu enak juga bisa bikin saya semangat." Abhisatya tersenyum simpul.
"ajiaah lebay lu bos..kopi sejuta umat dibilang enak "
"itu kopi biasa koq pak..banyak diminum tukang ojeg pinggir jalan..malah buruh bangunan juga minumnya kopi itu." jawab Tiara sambil tertawa kecil.
__ADS_1
"oh ya masa sih..apa karena kamu yang kasih jadi terasa berbeda." Abhisatya ikut tertawa senang
"mungkin juga pak..karena gratis jadi lebih enak." candaan Tiara sukses membuat Abhisatya tertawa lebar.
"Kalau gitu saya mau setiap hari, gratis dan dibuatkan kamu." Abhisatya menaikkan sebelah alisnya "Gimana deal?." Abhisatya mengulurkan tangannya mengajak bersalaman.
"ishh bapak..itu artinya job desc saya bertambah dong..wani Piro?." Tiara malah membuka tangannya seperti meminta uang.
Abhisatya merogoh sakunya untuk mengeluarkan dompet.
"Kamu matre juga ya belum kerja udah minta bayaran."
Tiara tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Ngga pak saya becanda..serius amat sih pak."
"Loh saya serius." Abhisatya menarik tangan Tiara dan meletakkan dompetnya di telapak tangan Tiara. Tiara reflek menarik tangannya karena kaget melihat dompet bosnya ada ditangannya. Alhasil dompet Abhisatya malah jatuh ke lantai.
"Eeh maaf pak maaf." Tiara hendak mengambil dompet jatuh tapi saat bersamaan Abhisatya pun menunduk hendak mengambil, yang ada kepala kedua beradu "jedug"
"waduuh.." Tiara mengusap keningnya yang beradu dengan Abhisatya.
"eeh sorry sorry Ra.." reflek Abhisatya malah mengusap kening Tiara. Tiara malah salah tingkah mendapat perlakuan dari bosnya
Tok tok tok
pintu terbuka Lisa melongok kan kepalanya, ia diam sesaat karena melihat bosnya seperti sedang mengusap kening Tiara.
"Pak permisi.." terjeda sesaat.
"Eeh ada apa Lis?." Abhisatya segera menormalkan suasana.
Tiara makin serba salah sambil memegang keningnya yang terasa nyut-nyutan.
"Tiara kenapa pak?." tanya Lisa.
"Itu tadi ngga sengaja kejedug meja." jawab Abhisatya, Lisa mengernyitkan alisnya "kejedug meja..koq bisa?."
"Ada apa Lis?." tanya ulang Abhisatya
"Sudah jam 5 pak..kalau tidak ada hal lain saya mau pamit pulang..anak saya sudah menunggu." jawab Lisa hendak berpamitan.
"Ooh ya boleh..kamu sudah boleh pulang..oh ya Lis mulai besok saya tugaskan Tiara untuk membuat kopi setiap pagi untuk saya." kata-kata Abhisatya membuat dua orang wanita ini saling berpandangan.
"Bapak serius pak?." tanya Tiara
"Ya serius dong..sekalian kamu laporan soal program kamu itu, setiap hari kamu harus lapor, jadi tidak perlu melalui Bu Yuni." perintah jelas dari Abhisatya.
Lisa memandang Tiara mencari jawaban, Tiara hanya bisa menelan ludahnya.
"aah modus si bos nih deketin Tiara" dalam batin Lisa.
"Ok semua jelas..mari kita pulang…sampai besok Lisa." Abhisatya mengusir halus Lisa untuk segera pergi.
Tiara masih mematung entah apa yang terjadi besok.
"Tiara..kamu masih mau di sini..baiklah saya temani." kalimat yang menyadarkan Tiara.
__ADS_1
"Maaf pak..kalau gitu saya permisi." Tiara langsung keluar dari ruangan dan berjalan cepat ke arah mejanya.
Abhisatya tersenyum tipis.."Soon to be mine"