
"Saya masih mencari tempat tinggal jadi sementara mungkin cari penginapan dulu." jawaban Tiara apa adanya, ia percaya ibu ini orang yang tidak punya niat jahat.
"Kamu tidak punya saudara di Jakarta?." tanyanya lagi
Tiara terlihat berpikir dan menggeleng, ia tidak yakin dengan pikirannya. Tapi bunda memang tidak pernah bercerita mereka punya sanak saudara yang tinggal di Jakarta hanya teman atau mantan pasien-pasien bunda yang bercerita tinggal di Jakarta.
"Kamu ada urusan apa ke Jakarta? apa tidak diantar saudara atau orangtua." tanyanya lagi, karena gadis cantik berani berjalan sendiri di kota yang masih terhitung baru buat ia.
"Saya ada urusan test di perusahaan, orangtua saya harus bekerja jadi tidak bisa mengantar." jawab Tiara membuat wanita setengah baya itu manggut-manggut.
"Nama kamu siapa? saya Bu Rahma." uluran tangan segera di terima oleh Tiara.
"Tiara Bu." jawabnya
"Jadi kamu berniat kerja di Jakarta?."
"Mudah-mudahan Bu ada jalannya." jawab Tiara mengangguk
"Ya tidak salah mencoba asal kita tekun dan jujur pasti berhasil." nasihat setiap orang tua yang memang pasti sama.
"Terima kasih Bu..doakan ya Bu." jawab Tiara, Bu Rahma tersenyum dan mengangguk
Sejenak perbincangan terputus karena tiba-tiba saja ponsel Bu Rahma berdering
"Assalamu'alaikum dek..." jawabnya
"iya mama masih di kereta, tidak apa-apa masih bisa naik taksi online."
Mungkin anaknya yang menelpon mengabarkan kalau tidak bisa menjemput ke stasiun.
Setelah telepon di tutup, Bu Rahma masih terlihat mengetik di aplikasi pesan hijau, sedang Tiara pun sedang membalas pesan dari bunda tercintanya.
Kereta terus melaju menembus kegelapan malam, walau belum terlalu malam karena di luar hanya lembah dan hutan terlihat gelap yang sangat pekat.
Tak terasa Lebih dari setengah perjalanan sudah terlewati mungkin kurang dari satu jam lagi kereta akan sampai di stasiun tujuan, perbincangan ringan sekedar mengisi kebosanan masih dilakukan dua wanita beda usia itu.
"Tiara bagaimana kalau kamu ikut ibu bermalam di rumah, rasanya koq ibu khawatir jika kamu mencari penginapan sendiri." naluri seorang ibu yang melihat anak gadis seorang diri di kota besar timbul kekhawatiran.
"Tidak apa-apa Bu saya di penginapan saja, malah nanti merepotkan kalau saya menginap di rumah ibu." tolak Tiara halus, ia merasa sungkan untuk menerima ajakan orang yang baru saja di kenal.
"Tidak merepotkan Tiara kamu bisa menginap sambil kamu mencari kost." entah kenapa hati Bu Rahma tergerak untuk melindungi Tiara.
"Di rumah pun ibu hanya sendiri, anak-anak sedang tidak di rumah." terang Bu Rahma lagi, ia hanya memiliki dua orang anak laki-laki, si sulung sudah berkeluarga tinggal di Surabaya dan yang bungsu sedang KKN di luar kota. Bu Rahma yang seorang janda tentu hanya sendiri di rumah walau ia tinggal bersebelahan dengan rumah kakak suaminya.
Tadi dia bercerita bahwa ia baru saja berziarah ke makam alm.suaminya, setiap sebulan sekali ia akan datang ke makam suaminya yang di kuburkan di kampung halamannya. Itu adalah pesan terakhir suaminya lima tahun lalu sebelum ia berpulang ke Rahmatullah.
Dengan berbagai pertimbangan akhirnya Tiara menerima tawaran Bu Rahma, ia bersyukur dipertemukan dengan orang sebaik Bu Rahma.
Akhirnya kereta sampai di stasiun akhir mereka berdua lantas segera turun, karena tidak ada yang menjemput Bu Rahma memesan taksi online. Tiara mendengar alamat perumahan yang disebut Bu Rahma pada supir taksi, ia seperti sering mendengar nama perumahan itu kalau tidak salah salah satu perumahan kalangan atas di Jakarta Selatan.
Tiara duduk disebelah Bu Rahma di kursi tengah, memandang keluar jendela melihat ibu kota dengan segala pesonanya di waktu malam. Lampu-lampu yang menyala serasi menciptakan suasana hidup walau di waktu malam. Keduanya hanya terdiam menikmati perjalanan yang menarik untuk di pandang, hingga terdengar suara ponsel berdering.
"Hallo.. Assalamu'alaikum kak." jawab Bu Rahma
"iya ..Aku sudah di taksi menuju rumah." jawabnya menjawab pertanyaan di sebrang sana
__ADS_1
"tak apa..kasian kalau merepotkan Abi mungkin dia baru pulang kantor." lanjutnya
"Aku juga tidak sendiri ada teman yang menemani, nanti aku cerita di rumah ya sampai ketemu di rumah." tutupnya mengakhiri percakapan.
"itu tadi kakak ipar ibu, suami kami bersaudara, kami tinggal bersebelahan nanti ibu kenalkan sama kamu." ujar Bu Rahma menjelaskan pada Tiara.
Tiara mengangguk
Tak lama mobil masuk ke dalam komplek perumahan, benar saja rumah-rumah yang berjejer hampir semua berukuran besar dan mewah.
Mobil berhenti setelah Bu Rahma memberi aba-aba pada supir taksi.
"Yuk turun kita sudah sampai." ajak Bu Rahma pada Tiara, Tiara mengikuti Bu Rahma turun dari mobil lalu terdengar pintu gerbang tinggi terbuka, tampaklah seorang pria setengah tua membuka pintu.
"Selamat malam Bu." sapanya sambil membantu Bu Rahma yang membawa tas jinjing.
"Malam pak Amir tolong di bantu mbak Tiara dia anak teman saya." Tiara tertegun mendengar ucapan Bu Rahma yang menganggap ia anak teman Bu Rahma.
"baik Bu..mari mbak saya bantu bawakan." pak Amir segera meraih koper yang Tiara bawa.
"Terima kasih pak." ucap Tiara sambil mengangguk pada pak Amir.
" Pak Amir ini yang membantu ibu merapikan taman, membersihkan rumah dan menjaga keamanan sedangkan istrinya bi Sani mengurus soal perdapuran." Bu Rahma bicara sambil berjalan masuk ke dalam rumah sementara Tiara mengekor di belakangnya.
"Masukkan ke kamar tamu saja pak koper mbak Tiara." perintah Bu Rahma.
"baik Bu." jawab pak Amir sambil berlalu masuk ke dalam rumah.
"ini rumah ibu di sebelah sana rumah kakak ipar. " tunjuk Bu Rahma ke arah kiri "Besok siang pasti ada bocah lucu datang kesini biasa dia bermain bersama si Denok." Bu Rahma tertawa menunjuk kucing gendut yang malas bangun dari kursi.
"Namanya Aqila cucu satu-satunya kakak..dia senang sekali main dengan Denok, di rumahnya tidak bisa pelihara hewan karena kakeknya alergi bulu..paling hanya ikan yang dipelihara di kolam." jawab Bu Rahma panjang lebar.
"ooh gitu." Tiara mengerti penjelasan Bu Rahma.
"Ini kamar yang malam ini di kamu tempati." Bu Rahma menunjukkan kamar yang akan dipakai Tiara bermalam.
"Silahkan mandi-mandi dulu nanti kita bisa makan malam bersama." ujar Bu Rahma lagi
Tiara merasa tidak enak hati tapi untuk menolak pun ia tidak berani.
"Bu Rahma terima kasih sekali ibu sudah menolong saya, saya tidak bisa membalas apapun tapi Allah yang akan membalasnya." Tiara mengucapkan rasa syukurnya, ternyata masih ada orang baik yang menolongnya entah kebaikan apa yang ia lakukan dulu sampai ia di tolong orang dengan sangat tulus.
Setelah Bu Rahma keluar kamar Tiara segera membersihkan badan, setelah selesai mandi lalu melaksanakan kewajiban muslimah terlebih dahulu.
Setelah itu tak lupa memberi kabar pada bundanya bahwa ia sudah sampai di Jakarta, lalu ia menceritakan semua kisahnya sampai bisa menginap di rumah Bu Rahma.
"Alhamdulillah bunda senang dan bersyukur kamu bertemu orang baik, pesan bunda kamu pandai membawa diri di rumah orang lain."
"Iya bun..Tiara mengerti." jawab Tiara
"Sampaikan salam Bunda pada Bu Rahma, semoga semua kebaikannya dibalas oleh Allah." lanjut Bu Rahma
"Aamiin..." balas Tiara
"Sudah ya Bun..Tiara di tunggu Bu Rahma untuk makan malam, nanti Tiara sampaikan salam Bunda." tutup Tiara mengakhiri perbincangan di telepon.
__ADS_1
"Iya nak..jaga diri baik-baik ya assalamu'alaikum." ucap Bu Nur menutup pembicaraan
"Wa Alaikumusalam." jawab Tiara
Tiara segera menyimpan ponselnya, setelah merapikan baju dan rambutnya ia segera keluar kamar untuk menghampiri Bu Rahma yang sudah duduk di meja makan.
"Duduk sini tiara ." ucap Bu Rahma ketika melihat Tiara melangkah mendekatinya.
"Ya Bu terima kasih." jawab Tiara mendekati Bu Rahma lalu duduk di seberangnya.
"kita makan dulu, biar sedikit asal perut tidak kosong ketika tidur." ujar Bu Rahma sambil mengangsurkan piring ke tangan Tiara.
Tiara mengangguk.
Mereka mulai makan, menu malam yang tidak begitu banyak hanya ada sup ayam dan pepes tahu.
Tiara hanya mengambil sedikit nasi begitu pun Bu Rahma.
"Tidak perlu sungkan Tiara anggap seperti rumah sendiri, jangan sampai kamu kurus setelah tinggal di Jakarta." Bu Rahma tersenyum simpul melihat Tiara yang segan mengambil makanan.
Tiara tersenyum.
"Kalau malam saya tidak bisa makan banyak Bu, biasanya saya tambah buah saja." jawab Tiara
"Bagus itu biar nol kalori..ibu paham gadis cantik seperti kamu pasti menjaga pola makan biar tetap langsing." Bu Rahma terkekeh kecil.
Tiara ikut tertawa kecil menanggapi Bu Rahma.
Makan malam berdua layaknya ibu dan anak membuat hati Bu Rahma terasa menghangat ia rindu makan ditemani seperti ini, kedua anaknya saat ini tidak berada dekat dengannya, ditemani Tiara tentu saja harinya tidak sesepi hari yang lalu.
Setelah santap malam Bu Rahma mengajak Tiara berbincang sejenak.
"Sudah mengabari orangtua mu Tiara kalau sudah sampai Jakarta?." tanya Bu Rahma
"Sudah bu..bunda menyampaikan salam dan terima kasih karena Bu Rahma sudah menolong saya." Tiara menyampaikan pesan bunda Nur.
"Tidak masalah Tiara jangan merasa tidak enak hati, saya melihat kamu gadis baik..oh ya ayah dan bunda masih ada?." tanya Bu Rahma.
"Hanya tinggal bunda Bu, ayah sudah punya keluarga baru." jawab Tiara lirih.
"Oh maaf kalau pertanyaan ini membuatmu tidak enak." kata Bu Rahma merasa salah bertanya.
"Tidak apa bu saya sudah biasa." jawab Tiara
"Jangan jadikan kegagalan orangtua menjadi penghambat untuk meraih impianmu Tiara." pesan Bu Rahma
Tiara mengangguk. "Baik Bu..saya akan berusaha."
"Baiklah sudah malam kalau kamu ingin istirahat silahkan." Bu Rahma mempersilahkan Tiara untuk istirahat.
Bersambung..
Happy reading ❤️
Jangan lupa tinggalkan dukungan untuk penulis..matur nuwun
__ADS_1