
Bangunan vintage bergaya tempo dulu dengan lampu gantung kuno dan jendela besar khas bangunan Belanda membawa kesan kembali ke masa lalu, para pecinta seni pasti dimanjakan dengan beberapa ornamen yang mengingatkan kita pada masa lampau.
Abhisatya mengajak Tiara duduk di kursi bagian belakang dengan aksen beberapa hiasan peralatan kantor jaman dulu ada mesin tik kuno, mesin fax dan telepon putar.
"Pasti kamu tidak pernah merasakan memakai alat-alat ini kan Ra?." tanya Abhisatya ketika melihat Tiara sedang asik mengitari peralatan antik itu.
Tiara menggeleng
"Samakan pak..emang bapak pernah pake alat-alat ini? kalau pernah berarti bapak angkatan bunda saya dong ..tua banget kalo gitu" jawab Tiara terkekeh membuat Abhisatya tersenyum lebar.
"Enak aja ngatain saya tua..saya masih ABG gini koq." jawab Abhisatya
"ABG?? angkatan babe gue?." jawab Tiara terkikik membuat Abhisatya tergelak.
"Kalau begitu bapak om-om dong." kata Tiara lagi
"suuttt.." Abhisatya menyimpan telunjuknya di atas bibir, Tiara makin terkekeh.
Pelayan datang membawa peralatan makan untuk dua orang.
"Silahkan bisa pesan dengan scan barcode." kata pelayan menunjuk pada barcode yang terpasang di sudut meja, setelah itu pelayan meninggalkan mereka berdua.
Abhisatya membuka handphonenya lalu memindai barcode.
"Mau makan apa Ra?." tanya Abhisatya sambil membuka pilihan menu.
"Saya ikut aja pak, pilihan bapak pasti terbaik." kata Tiara sambil ikut membuka hp nya untuk melihat pesan masuk.
"Kamu mau ikut saya? pilihan saya memang kamu?" canda namun bernada serius Abhisatya
Tiara mengangkat wajahnya untuk menatap Abhisatya.
"Gaje deh pak." Tiara mencibirkan bibirnya.
"Jangan gitu Ra..bikin saya ngga kuat." Abhisatya menahan senyumnya
"Hishh apaan sih pak." Tiara mendengus, membuat Abhisatya tertawa.
Perbincangan terhenti karena Abhisatya harus memesan makanan, ia memesan beberapa menu terbaik di restoran itu, sementara Tiara masih membalas pesan masuk.
"Kliennya datang jam berapa pak?." tanya Tiara sambil melihat jam tangannya.
"Hemm..belum ada kabar lagi." jawaban Abhisatya santai setelah memesan makanan lalu menjawab beberapa pesan masuk. Tiara bertanya dalam hati "koq aneh sih?"
Tiara membuang pandangan dengan menikmati keindahan pantai dari jendela besar restoran, terlihat perahu kecil dari kejauhan yang hanya diam saja. Cuaca agak mendung hingga udara tidak terlalu terik, memandang sejauh mata ke arah lautan lepas hanya garis mendatar jauh di ujung.
Tiara fokus kembali pada handphonenya, ada pesan dari Mita dan bundanya yang membuat tersenyum.
__ADS_1
"Kenapa senyum-senyum Ra..pesan dari siapa?." tanya Abhisatya ingin tahu.
"Dari siapa yaaa..mau tahu atau mau tahu banget." Tiara terkekeh-kekeh, kayaknya ngerjain bosnya seru juga.
Abhisatya makin gemas menghadapi wanita di depannya, tingkah Tiara memang periang menggemaskan membuat suasana menjadi lebih ceria.
Belum di jawab Tiara pelayan datang membawa pesanan mereka, olahan seafood yang mengeluarkan aroma khas begitu menggugah selera.
Tiara terbelalak melihat steam ikan kerapu yang cukup besar, belum lagi lobster dengan saus Padang yang merah menggoda.
"Banyak banget pak..ini untuk klien juga kan?." tanya Tiara
"Ngga ini untuk kita berdua aja, ayo makan kalau kurang nanti bisa pesan lagi." jawab Abhisatya mengisi piringnya sendiri.
"Loh kita ngga nungguin kliennya pak." Tiara makin heran
"Udah lupakan klien sekarang kita makan." perintah Abhisatya memaksa.
Mau tak mau akhirnya Tiara menyendok ikannya.
"nih cobain..aaa." Abhisatya memotong daging lobster dengan tangannya lalu menyuapkan ke depan mulut Tiara. Tiara terdiam agak ragu untuk membuka mulutnya.
"Ayo Ra..aaa!" paksa Abhisatya, akhirnya Tiara membuka mulutnya lalu menerima suapan potongan lobster dengan saus yang menetes ke dagunya.
"Enak kan?." tanya Abhi yang tidak bisa di jawab Tiara karena mulutnya yang penuh lobster, Abhisatya mengambil selembar tisu dan mengusap dagu Tiara dengan tangan kirinya. Tiara makin sulit menelan lobster kare na perlakuan Abhisatya, hatinya dag-dig-dug tak karuan.
Seorang ibu memicingkan matanya melihat sepasang pria dan wanita sedang makan siang bersama, disertai adegan suap-suapan yang membuat orang lain akan menyangka mereka sepasang kekasih. Dengan kamera hpnya ia memfoto sepasang manusia itu, setelah dicermati gambar fotonya tebakannya benar ternyata si pria adalah Abhisatya.
Ia menunggu hingga makanan di depan mereka berdua habis baru ia akan menghampiri.
Abhisatya tersenyum tipis melihat Tiara melupakan pertanyaan soal pertemuan dengan klien, karena akhirnya Tiara menikmati lobster dengan tangannya. Hanya dua kali Abhisatya menyuapkan ke mulut Tiara, karena Tiara terlihat tidak nyaman.
"Ra mulai besok sampai akhir pekan saya akan keluar kota dengan team marketing dan team teknikal, beberapa cabang akan kita datangi untuk evaluasi." ujar Abhisatya setelah selesai makan.
Tiara mendengarkan dengan seksama apa yang bosnya katakan.
"Kamu bisa tetap teruskan program kamu untuk menyelesaikan piutang dengan pihak customer." lanjut Abhisatya
"iya pak saya mengerti." jawab Tiara mengangguk.
" laporkan pada saya jika ada kendala atau kesulitan tetap koordinasi dengan Bu Yuni, kalau saya kangen saya pasti telepon kamu." kata-kata bosnya yang terakhir berusaha Tiara artikan, efek kekenyangan atau emang kurang fokus yang membuat otaknya lambat bekerja.
"Kamu mengerti Tiara.?" tanya Abhisatya melihat Tiara yang hanya diam dan bengong.
"Kata-kata terakhir tadi maksudnya apa pak?" Tiara memang wanita dewasa pasti sudah mengerti arah pembicaraan bosnya itu tapi Tiara tidak mau menyimpulkan sendiri.
"Hmmm..yang pasti kalau saya telepon kamu harus menjawabnya." perintah Abhisatya yang ada udang di balik peyek.
__ADS_1
"Ra..seandainya saya.."
"Abhi dengan siapa kamu di sini?." ucapan Abhisatya terpotong oleh pertanyaan yang ucapkan seorang ibu setengah baya.
"Ibu..ibu di sini?." Abhisatya menatap kaget wajah ibu Citra mantan mertuanya.
"Kenapa kamu kaget? seperti yang kepergok sedang selingkuh aja." ucapan tajam muntah dari mulut mantan mertuanya.
"Apa karena ini kamu terus mengulur waktu pertunangan kamu dengan Femi?." ucapan ibu Citra terus mengintimidasi Abhisatya.
Tiara yang ikut berdiri berhadapan dengan dua manusia yang berdebat membuat Tiara salah tingkah mendengar ucapan yang tiba-tiba menuduhnya sedang berselingkuh, luka hati yang belum sembuh seakan kembali terkoyak mendengar kata selingkuh di tuduhkan padanya.
"Maaf pak saya permisi ke toilet." pamit Tiara sambil mengangguk pada dua manusia yang sama-sama sedang panas hatinya. Tiara tidak sanggup berada di tengah keduanya
"Eeh kamu mau kemana ?." tanya Bu Citra ketus, "jangan menghindar karena ketauan sedang selingkuh..berdua-duaan dengan calon suami orang." ucapan Bu Citra membuat Abhisatya meradang.
"Ibu jaga ucapan ibu..saya belum pernah menyetujui rencana ibu itu." sangkal Abhisatya keras, ia tidak peduli lagi dengan rasa hormat pada mantan mertuanya. Mantan mertua yang masih merongrong kehidupan pribadinya, sampai untuk menentukan pasangan hidup saja mantan mertuanya masih ikut campur.
Tiara sudah tidak bisa lagi lama-lama di sana, ia membalikkan badan dan membereskan tas bawaannya.
"Dengar Abhi kalau kamu memilih perempuan lain saya akan mengambil hak asuh cucu saya." ucapan Bu Citra membuat Abhisatya tercengang dan semakin emosi.
"Ibu tidak punya hak..Qila anak saya..saya papanya." jawaban Abhisatya tegas menolak mentah-mentah rencana mantan mertuanya.
Tiara dengan cepat melangkah keluar dari ruangan itu, semua perkataan Bu Citra membuat hatinya sedih. Janji dulu pada bundanya bahwa ia tidak akan menjadi orang ketiga dalam hubungan siapapun seakan terulang kembali walaupun ia dan Abhisatya tidak punya hubungan apapun.
Tiara bertanya pada pelayan dimana letak mushola, ia ingat belum menunaikan sholat duhur lebih baik ia menenangkan diri dulu di Mushola.
Entah apalagi perbincangan kedua manusia yang sedang beradu mulut Tiara sudah tidak peduli, terakhir ia mendengar bahwa mereka berdebat soal hak asuh anak.
Sejatinya Tiara belum memahami jalan cerita kehidupan bosnya, tapi ia langsung menjadi tertuduh sebagai pelakor.
"Astaghfirullahaladzim." Tiara beristighfar dalam duduknya setelah sholat, kejadian tadi sungguh membuat ia terhempas. Rasanya tak percaya hari ini ia mengalami kejadian yang melebihi mimpi buruk.
Sementara Abhisatya kebingungan mencari Tiara yang tiba-tiba pergi, pikirannya tertuju pada toilet tapi setelah ditunggu di depan toilet ternyata bukan Tiara yang keluar dari dalam toilet.
Abhisatya mencoba menelpon Tiara tapi tak ada jawaban sama sekali.
"Kamu kemana Ra?..oh my God please." Abhisatya frustasi dengan berkali-kali mengusap wajahnya.
"maafkan aku Ra!"
Niat hati ingin mengungkapkan perasaan tapi berakhir sangat buruk, "apa ini karma karena aku membohongi Tiara?." ungkapan penyesalan Abhisatya yang membuyarkan rencananya.
Bersambung
Happy reading ❤️
__ADS_1
Vote like komen yaaa...