Duda Bersertifikat

Duda Bersertifikat
Mengingkari rindu


__ADS_3

Pagi yang indah membuat semangat untuk bekerja berkobar seperti mau bertempur, tak salah memang jika rindu sudah terbayar walau hanya mendengar suara saja maka hati menjadi bahagia. Ini yang dirasakan Abhisatya yang tadi sudah bertukar kabar dengan Tiara, tapi entah Tiara merasakan kebahagiaan itu apa tidak karena hatinya selalu menolak untuk menerima cinta baru.


Tadi subuh akhirnya Tiara mengirimkan pesan pada Abhisatya, permintaan maafnya tidak bisa menjawab telepon dengan alasan ketiduran bisa di maklumi Abhisatya. Tadinya Tiara berpikir bosnya akan menanyakan urusan pekerjaan tapi ternyata perbincangan melebar tak tentu arah.


"Nanti kamu ingin makan siang dengan menu apa?" tawar Abhisatya di telepon pada Tiara, siapa yang tidak bahagia mendapat perhatian dari atasan secara spesial tapi tidak bagi Tiara justru ini akan jadi masalah baru.


"Bapak tidak perlu melakukan itu saya masih bisa makan di kantin atau.." belum sempat Tiara menyelesaikan ucapannya Abhisatya langsung memotong.


"Saya yang mau Tiara." jawab Abhisatya memaksa


"Tapi pak itu akan membuat karyawan lain berpikiran kita.." ragu-ragu Tiara menyebutkan kata selanjutnya.


"Ngga masalah..don't care with that "jawab Abhisatya dengan nada memaksa seakan tak peduli dengan kekhawatiran Tiara.


Tiara menahan napas sambil memejam mata, menghadapi bos anehnya sungguh dilematis. Sekali lagi ia bukan tidak peka dengan semua perhatian Abhisatya tapi ia tidak mau terlibat dalam skandal atau rumor miring yang pasti akan muncul.


Akhirnya Tiara menerima tawaran makan siang tapi dengan syarat tidak diantar oleh supir pribadi Abhisatya tapi dengan jasa ojeg online, biarin repot sekalian tuh bosnya pikir Tiara.


Dari pagi hingga siang menjelang makan siang Tiara bekerja dengan tenang tanpa gangguan dari mana pun, tiba saat jam makan siang telepon di mejanya berdering.


"Halo.." jawab Tiara


"Mbak Tiara ada kiriman buat mbak, ada di meja resepsionis." ternyata Telepon dari bagian resepsionis yang mengabarkan ada kiriman.


"Oh ya nanti aku ambil kesana ya terima kasih." Tiara segera turun untuk mengambil kiriman makan siangnya.


Jika kemarin supir si bos yang mengantar maka akan timbul kecurigaan orang lain, berbeda jika diantar ojek online orang tidak akan peduli tentu saja Tiara merasa hatinya tenang.


Tidak ada pesan yang tertulis di boks kirimannya, Tiara sedikit heran dan bertanya dalam hati "tumben ngga ada pesannya" Tiara tersenyum sendiri apa ia mulai mengharapkan Tiara membuang jauh pikirannya.


Sampai jam kerja berakhir tidak ada pesan yang ia terima, semua berjalan dengan semestinya bukannya semua menyenangkan? Tapi ternyata ada yang menggelitik di hati, ketika kita diacuhkan pasti ada rasa penasaran yang muncul "kemana dia?".


Malam setelah ia pulang kantor dan makan malam bersama Bu Rahma dan bi Sani Tiara masih duduk di meja makan, menunggu waktu mata mengirim sinyal untuk istirahat. Perbincangan random tiga wanita beda generasi itu berputar kemana-mana dari mulai makanan, fashion sampai jodoh.


"Sabtu besok Tiara mau pulang kampung dulu Bu, kebetulan sepupu mau lamaran." ujar Tiara pamit pada Bu Rahma.


"Kirain kamu yang mau di lamar." Goda Bu Rahma yang duduk di seberang Tiara.


Tiara hanya tertawa kecil

__ADS_1


"Nggalah bu calonnya aja belum muncul."


"sebentar lagi pasti muncul."jawab Bu Rahma meyakinkan sambil tersenyum menggoda. Bukan tanpa alasan Bu Rahma mengatakan itu karena ia dan kakak iparnya sudah merencanakan untuk mendukung Tiara jadi ibu sambung buat Aqila.


"Aamiin." bi Sani malah ikut mengamini dengan mengusap wajahnya.


Tiara makin tertawa renyah.


Jodoh yang di harapkan dulu malah mengecewakan hatinya, hingga ia harus lari dan menjauh. Mungkin menenangkan hati dulu sejenak untuk menunggu sang maha Kuasa mengirim jodoh terbaiknya.


Tiga hari pun berlalu dengan segala kesibukan Tiara, setiap hari bosnya selalu mengirim makan siang tapi anehnya sudah tidak kata tulisan di boks makanan. Tapi Tiara selalu mengirim pesan singkat untuk mengucapkan terima kasih, balasan Abhisatya pun seakan irit paling hanya "ok" atau "sama-sama". Ada rasa penasaran di pikiran Tiara kenapa bosnya seakan jadi menjaga jarak, tapi Tiara tidak bisa menyelidik terlalu jauh mengingat statusnya yang hanya karyawan.


Di sisi lain Abhisatya berusaha menahan kerinduannya, semata-mata agar Tiara merasa nyaman. Kesibukan pekerjaan juga menjadi alasan ia kadang terlewat untuk mengirim pesan atau menelpon Tiara.


Hari ini terakhir hari kerja yang artinya dua hari akan libur, nanti selepas makan siang Abhisatya akan pulang ke Jakarta setelah hampir seminggu tidak bertemu dengan wanita pujaan hatinya. Pun kerinduan dengan belahan jiwanya Aqila yang seminggu ini hanya bertemu melalui video call, anaknya pun sudah merajuk ingin liburan dengan papanya. Abhisatya berjanji akan mengajaknya jalan-jalan ke taman hiburan, dalam pikirannya ia ingin mulai mengenalkan anaknya pada calon mama sambungnya.


Berbagai rencana sudah ia setting bagaimana ia akan mengenalkan Tiara pada Aqila, harapannya semoga mereka berdua bisa saling bisa menerima.


Sore tiba saatnya pulang kantor Tiara sudah bersiap untuk pulang, semangatnya berlipat karena besok ia akan pulang kampung. Kerinduan dengan sang bunda sudah menggunung, oleh-oleh pun sudah di siapkan


Tadi pagi Tiara sudah berpesan pada Aqila bahwa ia akan pulang kampung, tapi dasar anak kecil ngga ngerti dengan istilah pulang kampung.


" pulang kampung itu apa?" tanya Aqila dengan mimik wajah lucu sambil mengusap-ngusap rambut hasil kepangan Tante Aranya.


"Emang bundanya Tante Ara dimana? jauh ya? naik mobil?." tanyanya beruntun.


"iya bisa naik mobil atau naik kereta api." jawab Tiara membuat binar di mata Aqila langsung cerah.


"Naik kereta api itu rasanya gimana? Seru ngga? Qila mau ikut Tante." nah loh anak kecil dengan nada merengek mulai menunjukkan tanda-tanda memaksa.


"hey ..nanti ya kapan-kapan kita jalan-jalan naik kereta, kamu naik MRT sudah pernah belum?."


Aqila menggelengkan kepalanya


"kereta yang di bawah tanah dan di atas jembatan layang itu Aqila belum pernah naik?." Tiara menjelaskan dengan bahasa yang mudah, tapi Aqila tetap menggelengkan kepalanya.


"Aqila ngga pernah diajak papa jalan naik kereta?." tanya Tiara gemas.


" papa kalau ajak aku naik kereta di mall terus aku cuma ditemeni suster naik keretanya" jawaban Aqila membuat Tiara tertawa, ia paham sekarang kalau Aqila kurang sosialisasi diluar karena jarang diajak orangtuanya keluar. Apa mungkin hanya sekolah atau mall yang biasa dikunjungi?.

__ADS_1


Saat ini Tiara sedang membereskan barang yang akan dibawanya pulang, terdengar dari arah ruang makan keributan suara anak kecil pasti Aqila yang datang.


"Tante Araaaa..Oma Rahmaa" suara teriakan cempreng menggema sampe terdengar ke kamar Tiara. Lalu terdengar ada orang yang sedang berbincang mungkin bu Rahma atau bi Sani yang menyahuti teriakan Aqila.


Tiara beranjak membuka pintu kamar untuk menemui anak kecil lucu yang belum ia ketahui kalau Aqila adalah anak Abhisatya.


"Aqila kenapa teriak-teriak sayang ?" Tiara menyapa Aqila yang sedang berbincang dengan Oma Rahma.


"ini Aqila datang bawa oleh-oleh katanya papanya baru datang dari luar kota." Bu Rahma menunjukkan paperbag yang di bawa suster Nul bersama Aqila.


Tiara mengangguk lalu ikut duduk di kursi meja makan di sebelah Aqila.


"Papanya Qila sudah pulang?" tanya Tiara pada Aqila yang sedang makan buah kelengkeng yang di kupaskan Bu Rahma.


Aqila hanya mengangguk-anggukan kepalanya dengan mulut yang terus mengunyah, Tiara tersenyum sambil ikut mengambil buah kelengkeng di keranjang buah.


"Aqila mana ma?." tanya Abhisatya yang ikut duduk dengan mamanya di ruang keluarga setelah tadi ia selesai mandi. Baru sejam lalu ia datang lalu bercanda sebentar dengan anaknya, sekarang Aqila malah tidak terlihat lagi.


"ke rumah sebelah mama suruh antar oleh-oleh buat Tante Rahma." jawab mama Mona santai.


"Sendirian?" Abhisatya menoleh ke arah pintu penghubung rumahnya dengan rumah Tante Rahma.


"ya nggalah dengan si Nul." jawab mama Mona


"Sana kamu susul suruh dia pulang, kita mau makan malam nanti kemalaman." perintah mama Mona membuat Abhisatya menarik napas, baru saja duduk ia sudah disuruh menjemput anaknya ke sebelah.


"Telepon saja Tante Rahma suruh Aqila pulang." ide Abhisatya supaya lebih praktis.


"Kamu ngga mau gitu kesana temui tantemu sekali-kali, sudah lamakan kamu ngga ketemu Tante Rahma? Rumah aja sebelahan tapi ketemu aja cuma tiap lebaran." mama Mona mendelik walau dalam hati tertawa membayangkan ekspresi Abhisatya bila bertemu Tiara disana.


Abhisatya mendesah walau berat tapi ia menuruti perintah mamanya, apa pun perintah sang mama pasti dituruti apalagi cuma untuk bertemu tantenya istri almarhum omnya.


Abhisatya beranjak menuju rumah sebelah tempat tinggal Tantenya, ia tak menyalahkan omongan mamanya kalau ia hanya berkunjung setahun sekali saat lebaran memang itu kenyataannya. Malah kadang keluarga Tante Rahma yang akan berkumpul di rumahnya jadi bisa dihitung jari ia berapa kali main ke rumah tantenya itu.


Di ruang keluarga mama Mona sedang terkekeh karena berhasil mengerjai Abhisatya.


"Lihat bang besok kamu akan rajin mengunjungi rumah tantemu itu, bahkan ngga akan mau pulang kalau tahu ada siapa disana." mama Mona menggelengkan kepalanya sambil tertawa senang.


Bersambung

__ADS_1


Happy reading readers ❤️


Like n komen 🙏🙏


__ADS_2