
Sebelum Adzan subuh Tiara sudah bangun, memang sudah menjadi kebiasaan dari kecil bangun pagi ditambah rasa tidak enak hati numpang di rumah orang lain.
Tiara mendatangi dapur yang sudah terdengar suara-suara khas penggorengan, ternyata bukan Bu Rahma melainkan bi Sani yang sedang menggoreng kerupuk udang.
"Selamat pagi bi..ada yang bisa saya bantu ? ." sapa Tiara yang sedikit mengagetkan bi Sani.
"Eeh mbak Tiara, cuma goreng kerupuk udang untuk sarapan dengan nasi goreng. sudah bangun mbak?" tanya balik bi Sani.
"Sudah bi..saya bantu apa bi?." tanya Tiara menawarkan bantuan
"Tidak usah mbak biar bibi saja, nanti ibu Rahma marah kalau tamunya malah sibuk di dapur." jawab Bi Sani sambil terus mengaduk kerupuk di wajan panas.
"Tidak bi saya kan bukan tamu, malah saya numpang di sini." Tiara terkekeh kecil
Bi Sani mematikan kompor karena selesai menggoreng kerupuk, lalu mulai mengambil bumbu yang hendak di racik.
"Mbak Tiara temenin bibi aja, atau buat telur dadar bisa?" bi Sani menyodorkan 4 buah telur untuk di kocok dengan bawang dan cabe.
"Pasti bisa dong bi." jawab Tiara membuat bi Sani mengacungkan jempolnya.
"Sudah cantik pinter masak kurang apa coba, pasti sudah punya pacar ya mbak?" candaan bi Sani yang membuat wajah Tiara merona.
Tak lama bu Rahma keluar dari kamarnya.
"Wah Tiara bantu bi Sani masak? memang kamu bisa masak ?." Bu Rahma langsung duduk di meja makan.
"Tidak pintar Bu tapi masih bisa di makan." Tiara tertawa kecil.
"Minimal yang makan ngga akan keracunan Bu." lanjut Tiara lagi.
Bu Rahma tertawa kecil.
"Bisa bikin suami melar nggak? kalau setelah menikah nanti suaminya jadi gendut berarti istri berhasil menyenangkan perut suami." Mereka tertawa bersama, pagi-pagi dengan hati gembira bisa menjadi penyemangat untuk menjalani hari.
Keceriaan di rumah Bu Rahma diwarnai dengan gelak tawa berbeda di rumah sebelah di rumah kakak ipar Bu Rahma yang di warnai kehebohan menghadapi sang princes cilik.
"Ayo bangun Aqila nanti kamu terlambat ke sekolah." Abhi menciumi pipi anak kesayangannya, membangunkan gadis kecil berusia 4 tahun memang membutuhkan kesabaran tingkat dewa.
Gadis kecil yang masih duduk di bangku PAUD itu masih enggan membuka matanya.
"Qila ayo sayang bangun, teman-teman Qila sudah berangkat sekolah nanti Qila terlambat sendiri, malu dong princess terlambat." Abhi terus saja merayu anaknya untuk bangun.
Tak tahan di ganggu papanya terus akhirnya mata Qila terbuka, pandangannya masih menatap kosong dan lurus.
"papa ganggu Qila bobo terus kan aku masih ngantuk." mulutnya masih menguap lebar sambil tangannya mengucek mata.
"Sudah pagi sayang ayo mandi papa anter Qila sekolah..tidak boleh malas biar jadi anak pinter..let's goooo." papa Abhi meraih Qila dalam gendongan dan membawa masuk ke kamar mandi.
"Hahahaha.. ampun papa aku geliiii." Qila tertawa keras kegelian karena sang papa terus saja menggelitik perutnya.
Drama setiap pagi antara papa dan gadis kecilnya selalu aja heboh, setiap pagi Abhi selalu mengurus keperluan Aqila sendiri walaupun ada suster dan mama Mona ia berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi putrinya, Istrinya meninggal 2 tahun lalu saat Aqila masih berusia 2 tahun, pandemi virus yang melanda seluruh negara telah merenggut nyawa sang istri. Kehilangan mendalam masih sangat di rasakan keluarga besarnya tapi inilah takdir, apalagi istrinya meninggalkan seorang putri yang harus ia didik dan besarkan.
Setelah mengantar Aqila ke sekolah Abhi segera menuju kantornya, perusahaan di bidang Teknologi informasi yang sedang berkembang. Perusahaan ini hasil ekspansi dari induk usaha yang di kelola papanya Budiman Wangsa Atmaja. Bukan perusahaan raksasa tapi cukup untuk bisa diperhitungkan dalam dunia bisnis, apalagi setelah berbagai usaha di rambahnya Abhisatya Wangsa Atmaja cukup di kenal dikalangan para pengusaha muda.
Abhi masuk ke ruang kerjanya setelah menitipkan pesan pada sekretarisnya, ia memanggil pak Yusuf manager HRD untuk datang ke ruangannya.
Tok..tok..tok
"masuk." Abdi memerintahkan si pengetuk pintu untuk masuk.
"Pagi pak..saya bawa beberapa berkas lamaran yang akan di panggil hari ini dan besok." ujar pak Yusuf menyerahkan map-map data calon karyawan yang akan di test besok.
"Emailnya sudah dikirim ke email saya?." tanya Abhi
"Sudah pak." jawab pak Yusuf
Abhi membuka laptopnya dan memeriksa email masuk, lalu membuka map-map yang akan di bahas lebih dulu.
"Usahakan mencari orang yang berpengalaman untuk bagian piutang karena berhubungan dengan pihak ketiga." Abhi masih menatap laptopnya.
__ADS_1
"Baik pak..ada beberapa kandidat yang akan saya panggil, hari ini ada dua orang dan besok dua orang juga." jawab pak Yusuf.
Abhisatya mengangguk "Laporkan hasil finalnya, cari yang betul-betul loyal dan teliti."
Kekosongan di bagian piutang dikarenakan karyawan lamanya menggelapkan dana piutang yang masuk dari pihak luar, ini benar-benar membuat perusahaan mengalami kerugian yang cukup besar. Abhi tentu saja tidak ingin kejadian ini terulang maka dari itu ia harus turun tangan menyeleksi calon karyawan yang punya dedikasi tinggi.
Setelah memberikan pengarahan pada pak Yusuf Abhi segera memanggil sekretarisnya untuk membawa berkas-berkas yang harus diperiksa dan di approved.
"Lisa bawakan berkas yang harus saya periksa." perintah Abhi pada sekretarisnya melalui panggilan telepon.
"Baik pak akan saya serahkan." jawab Lisa sekretaris beranak satu yang telah bekerja hampir 3 tahun ini.
Lisa masuk ke ruangan bosnya.
"Pak jangan lupa ada acara makan siang bersama dengan Bank DBF, mereka mengundang untuk berterima kasih karena kesetiaan kita menggunakan layanan mereka." ucapan Lisa menjeda Abhi yang sedang membaca berkas.
Abhi menarik napasnya, sebenarnya ia malas untuk hadir karena ini hanya trik dari salah satu staff marketing yang berusaha mendekatinya.
"Kamu dan pak Thomas saja yang wakili, saya sedang sibuk." jawabnya tegas membuat Lisa mengernyitkan keningnya.
"Tapi pak.." ucapan Lisa tertahan
"Kamu hubungi pak Thomas biar saya yang bicara." Abhi memerintahkan Lisa menelpon pak Thomas manager marketing.
Lisa segera menelpon extension pak Thomas, lalu terdengar jawaban dari ujung telepon.
"Halo.." jawaban pak Thomas.
"Pak Thomas..pak Abhi mau bicara." Lisa segera menyerahkan telepon pada pak Abhi.
"Pak Thomas bisa wakili saya di pertemuan makan siang dengan DBF, nanti Lisa akan menemani juga, sampaikan saya sedang ada acara lain." pesan singkat dan padat pak Abhi pada pak Thomas
"Baik pak saya akan laksanakan." jawaban dari pak Thomas
"Ok.." Abhisatya menutup teleponnya.
"Kamu bisa atur dengan pak Thomas." perintahnya pada Lisa, Lisa pun mengangguk.
"hmmm." jawab Abhi sambil matanya tetep fokus pada laporan
Setelah selesai memerintah Lisa dan pak Thomas untuk mewakilinya, Abhi membuka berkas lagi untuk memeriksa.
Hampir jam makan siang Abhi segera menyelesaikan pekerjaannya, ia akan menjemput Aqila di sekolah lalu mengantarkan pulang. Biasanya setelah Aqila makan siang Abhi akan kembali ke kantor, ia akan tenang setelah memastikan segala keperluan Aqila terpenuhi.
Siang yang lumayan panas membuat Tiara betah berada di teras belakang sambil membuka laptop untuk persiapan test esok hari, walaupun sudah berpengalaman dalam hal seperti ini tapi tidak salah untuk memperbaiki kesalahan jika belum sempurna.
Setelah makan siang dan sholat dhuhur tadi Bu Rahma pamit pergi untuk melihat tokonya, ternyata Bu Rahma pemilik beberapa mini market dan toko roti.
Bu Rahma seorang janda mandiri yang mengelola usaha-usaha peninggalan suaminya, setelah suaminya meninggal 5 tahun lalu karena serangan jantung ia berjuang keras untuk mempertahankan semua usaha yang di rintis suaminya.
Tiara mengambil air dingin di lemari pendingin, udara Jakarta yang panas membuatnya kehausan.
"Asamelekum...Oma lahma aku datang." teriakan anak kecil yang ceriwis terdengar nyaring.
"Wa Alaikum salam " jawab Bi Sani dan Tiara berbarengan.
"Eeh non Qila yang cantik datang." sapa bi Sani menyambut cucu majikan sebelah.
"Oma Lahma kemana? ke toko ya?" tanya nya sambil berlari ke ruang keluarga tempat Denok kucing gendut rebahan.
"Heiii ndut kamu tidul teyuss." godanya mengelus kepala si kucing.
Tiara berjalan dari arah dapur untuk mendekati Aqila.
"Halo..cantik siapa namanya?." tanya Tiara sambil tersenyum melihat bocah cilik yang lucu.
Seketika Qila mendongak dan alisnya sedikit berkerut.
"Tante siapa? Tante tamu ya?" tanya nya heran, Aqila anak yang kritis dan pintar hingga ia berani bertanya pada orang asing sekalipun.
__ADS_1
"Kenalan dulu dong..nama kamu siapa?" tanya ulang Tiara sambil mengulurkan tangan mengajak bersalaman.
"Aqila Queenza umul 4 tahun Tante siapa?." jawabnya lengkap dengan lafal huruf L yang cadel membuat Tiara tersenyum lebar.
"Tante namanya Tiara." jawab Tiara singkat
"teluus?." Aqila tampak tak puas mendengar perkataan singkat Tiara.
"terus apa?" Tiara tertawa melihat ekspresi Aqila yang tidak puas.
"Ya Tiala apaaa..umurnya belapaaa.." teriaknya sambil melihatkan jarinya untuk menghitung umur.
Tiara tertawa kecil melihat tingkah lucu Aqila.
"koq kamu lucu banget sih kecil-kecil kepo?."
"kepo itu apah?." tanya Aqila lagi
"hahaha.." Tiara malah tertawa
"Tante Tiala tawa-tawa teluusss." muka Aqila memberengut dengan bibir manyun.
Tiara menahan tawanya. "pfff"
Tak lama seorang pengasuh datang mencari nona asuhnya.
"Non Qila pergi ngga bilang-bilang sus ..sus cari ternyata udah kesini aja main sama Denok." pengasuh berusia 40 an bertubuh agak gemuk menghampiri nona kecilnya.
Yang ditanya tidak menjawab tapi malah asik menggoda si Denok yang makin manja di elus si nona kecil.
"Biasa juga begitu kan Nul." jawab Bi Sani "kayak ngga tahu aja gimana si non kecil, dia udah makan Nul? " tanya bi Sani
"Sudah tadi sama papanya, kalau sama saya mau makan saja harus di uber-uber kalau sama papanya diem di meja makan." jawab suster yang dipanggil Nul oleh Bi Sani.
"Pawangnya kan papanya." timpal bi Sani
"iya bi." jawab Sus Nul
Tiara mendengarkan pembicaraan dua orang Asisten di dua rumah yang berbeda.
"Aqila suka kucing ya?." tanya Tiara yang duduk di sebelah Aqila yang sedang mengelitik si Denok.
bocah kecil itu mengangguk "abis lucu meng nya."
"lucu kayak Aqila ya." goda Tiara sambil mengelus rambut Aqila, Tiara memang suka anak kecil apalagi anak kecil yang lucu dan cerewet.
"Ini siapa yang ngepang rambutnya." dilihat Tiara rambut Aqila yang dikepang tak beraturan.
"sustel Nul." telunjuknya menunjuk ke arah suster yang sedang berbincang dengan bi Sani.
"Mau Tante rapikan ngga kepangannya?." tawar Tiara yang kemudian di angguki Aqila
"bentar ya Tante ambil sisir." Tiara masuk ke kamar mengambil sisir dan cermin kecil.
Tak lama Tiara keluar kamar dan duduk di sebelah Aqila, pelan-pelan Tiara merapikan kepangan rambut Aqila dan membuat model kepangan yang cocok untuk anak seusia Aqila.
"Selesaaiii...nih coba Qila lihat di cermin..baguskan?." Tiara menempatkan cermin di depan wajah Aqila tapi tampaknya Aqila tak puas hingga ia berlari ke kamar yang di tempati Tiara untuk melihat dengan cermin besar.
"iiih baguusss..hahaha." Aqila tertawa senang setelah melihat wajahnya di cermin, ia membolak-balikkan wajahnya ke kiri dan ke kanan model baru kepangannya membuat wajahnya terlihat cantik.
Tiara yang melihat ikut terkikik geli.
"Kamu makin cantik deh..lucunyaaa." Tiara mencium ujung kepala Aqila.
"Besok buatin lagi ya Tante ." pinta Aqila sambil terus berlenggak-lenggok di depan cermin lemari besar.
Tiara mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.
Bersambung
__ADS_1
Happy reading ❤️