Duda Bersertifikat

Duda Bersertifikat
Ragu !


__ADS_3

Tiara membaca berulang kali pesan yang tertera di kotak makan di hadapannya.


Selamat makan jaga kesehatan selalu


Kata-kata sederhana tapi bermakna perhatian yang tulus.


Aroma nasi ayam Hainan yang khas begitu menggoda untuk segera di santap, tapi keinginan untuk menyantap tertahan karena ia belum menghubungi si pengirim. Ingin mengucapkan terima kasih tapi rasanya berat untuk menulis, menimbang-nimbang antara mengirim pesan atau tidak tapi jika ia acuh koq rasanya seperti orang yang tidak tahu berterima kasih. Bunda selalu mengajarkan untuk menghargai apapun bentuk perhatian orang lain terhadap kita.


Tiara membuka aplikasi pesan lalu mengetuk nama pak Abhi, haruskah ia menyapa salam dulu atau to the point pada tujuan hanya dengan mengucapkan terima kasih. Tiara mendesah semakin ragu lalu pelan jarinya mengetik tapi kemudian menghapus tulisan berkali-kali.


Di kota lain si pengirim pun sedang resah, menu makan siang yang sama ada di hadapannya tapi ia belum berniat menyentuh. Setelah meeting dengan team dan kolega ia di suguhkan nasi ayam Hainan oleh manager cabangnya, dalam hati ia bertanya kenapa bisa sama dengan yang pesankan untuk Tiara.


Layar handphonenya menyala menampilkan notifikasi pesan masuk, sekilas ia membaca nama Tiara muncul di beranda. Senyum tipis terbit dari sudut bibirnya, baru membaca namanya saja sudah bisa membuat dadanya berdebar.


Tak menunggu lama segera ia usap layar handphonenya untuk melihat wall pesan.


"selamat siang pak Abhisatya terima kasih kiriman makan siangnya."


Tulisan yang membuat si pembaca bahagia hingga tanpa menunggu lama ia langsung membalas pesannya.


"semoga kamu suka, saya makan dengan menu yang sama dengan kamu."


Lalu Abhisatya memotret piring makannya lalu mengirimkan pada Tiara.


Senyum tipis belum juga pergi dari bibir Abhisatya, hatinya teramat bahagia bisa bertukar pesan dengan sang pujaan hati.


Seperti mendapat suntikan vitamin Abhisatya melahap makan siangnya, hatinya terlalu bahagia hingga menu makanan yang dihidangkan terasa nikmat.

__ADS_1


Tiara membaca balasan dari bosnya keningnya mengkerut melihat foto yang dikirim, piring berisi nasi ayam Hainan menjadi menu makan siang bosnya.


"Selamat makan pak" jawaban Tiara di pesan aplikasi, setelah itu ia menutup layar handphonenya tidak berharap menerima balasan.


"Ra lu makan di sini aja ngga ke kantin?" tanya Mita yang sudah berdiri di sebelahnya. Tiara menoleh dan mengangguk.


"wew kiriman dari si bos apaan Ra?" tanya Mita lagi sambil melirik kotak di depan Tiara.


Tiara membuka tutup boxnya memperlihatkan isinya.


"Widih nasi Hainan..wangi banget dah." ujar Mita sambil mengendus aroma yang keluar dari kotak makan.


"yuk makan berdua banyak ini gue ngga akan habis." ajak Tiara pada Mita


"yang ada ntar gue yang abisin Ra haha." Mita terkekeh melihat isi kotak makan yang menurut dia sedikit.


Mita hanya tertawa


"Yaudah gue ke kantin ya lu makan aja di sini dengan tenang, jangan lupa sebelum makan sebut nama doi biar ngga keselek hahaha." Mita makin gencar menggoda Tiara.


"hushh..cicing (diam) ah ntar kedengaran orang." wajah Tiara merah menahan malu. Mita tergelak lalu keluar ruangan setelah menggoda Tiara.


Tiara akhirnya membuka kotak makan di hadapannya, setelah membaca doa lalu mulai memasukkan nasi Hainan yang memang lezat itu.


Notifikasi pesan masuk lagi ditengah ia mengunyah.


"Nanti malam tolong angkat telepon dari saya."

__ADS_1


Tiara menautkan alisnya membaca pesan dari Abhisatya yang membuat hatinya makin tak karuan, Tiara tidak menjawab lagi pesan Abhisatya.


Kesibukan setelah istirahat siang membuat waktu menjalar tak terasa, Tiara meregangkan otot lehernya yang kaku karena terlalu lama duduk dan menatap layar laptopnya. Tiga puluh menit lagi waktunya pulang, tapi bagi Tiara ia lebih senang pulang setelah adzan magrib.


Setelah menempuh perjalanan yang agak lama karena kepadatan lalu lintas saat jam pulang kantor, Tiara kini sudah sampai di rumah Bu Rahma.


Beristirahat sambil memegang ponsel lalu melihat konten para selegram yang mereview kuliner dari berbagai negara, atau sekali-kali Tiara tertawa melihat video-video lucu dari tingkah anak-anak yang di rekam secara tidak sengaja.


Matanya mulai meredup walau tangan masih memegang handphone, lama kelamaan matanya tertutup menandakan mulai terlelap tidur walau tayangan di handphone masih terus berlangsung.


Abhisatya menyudahi pertemuan dengan kliennya menjelang jam 10 malam, tadi selesai makan malam kliennya masih betah untuk berbincang padahal ia sudah gelisah karena ingin cepat mengakhiri pertemuan.


Setelah kliennya pergi Abhisatya buru-buru naik ke kamarnya ia sudah tak sabar ingin mendengar suara perempuan yang dirindukannya, membuka kunci layar handphone segera ia mencari nama Tiara. Mengetuk layar lalu menempelkan di telinganya menunggu jawaban dari seberang sana, sabar menunggu sampe tiga kali mengulangi panggilan tapi telepon tak kunjung di angkat. Abhisatya menipiskan bibirnya raut kecewa jelas tergambar di wajahnya tapi ini salahnya juga yang menelpon terlalu malam mungkin Tiara sudah tidur.


Malam sendiri di kamar dengan kecewa di hati membuat ia tidak bisa memejamkan mata, gelisah dengan pikiran melayang kemana-mana makin membuat malamnya tersiksa. Abhisatya mengacak rambutnya dan mengusap wajahnya frustasi maksud hati ingin mendengar suara sang pujaan malah berakhir kecewa.


Merindu sendiri itu memang sangat menyiksa bisa membuat pikiran tak waras bahkan semua indera perasa kita seakan mati makan tak enak tidur tak nyenyak emosi yang naik turun. Abhisatya akhirnya keluar dari kamar mencari udara segar untuk mengurangi emosinya, sebatang rokok ia hisap dalam lalu ia hembuskan ke udara, di tengah malam yang sunyi ia duduk sendiri di sisi kolam renang yang sunyi. Mungkin hanya burung hantu yang mengawasi dari atas pohon atau bahkan mahluk dari dunia lain, tapi Abhisatya tak memikirkan itu yang ada hanya nama Tiara di otaknya.


Tiara tiba-tiba terbangun ia kaget ternyata handphone masih ia pegang, ia memicingkan matanya sebelah untuk melihat jam di layar handphonenya. Hampir jam 12 malam ia sudah tidak mendengar suara televisi di ruang keluarga, artinya semua penghuni sudah masuk ke alam mimpi.


Ia bangun karena ingin buang air kecil tapi sebelumnya ia melihat ada tiga kali panggilan ke handphonenya dan itu sudah 2 jam yang lalu, Tiara ragu untuk menelpon balik karena waktunya sudah tengah malam.


Dua manusia yang sama-sama terjaga ini tidak pernah tahu kalau keduanya saling menunggu, keraguan menyelimuti malam dengan keresahan yang menggelayut di jiwa. Besok adalah harapan semoga keraguan itu sirna seiring matahari yang tak pernah ragu untuk hadir di setiap pagi.


Bersambung


Happy reading readers ❤️

__ADS_1


Please like dan komen..🙏🙏


__ADS_2