Duda Bersertifikat

Duda Bersertifikat
Menyusun rencana


__ADS_3

Setelah mendapat ijin dan restu dari bunda Nur, Tiara mulai mencari informasi lowongan pekerjaan di Jakarta. ia mulai mencari melalui website perusahaan atau website khusus untuk melihat info lowongan. Tak lupa ia mulai mencari tempat-tempat kost yang kira-kira mudah dijangkau dari arah mana saja.


"hmmm..mudah-mudahan ada yang nyangkut deh lamarannya aamiin" ucap Tiara sambil menengadahkan tangannya setelah mengirim lamaran ke beberapa perusahaan. Sebagai sarjana ekonomi jurusan akuntansi tentu saja banyak posisi yang di tawarkan oleh beberapa perusahaan yang membutuhkan.


Tiara masih fokus pada laptopnya ketika bunda Nur membuka pintu kamarnya.


"Gimana nak sudah ada hasilnya?" tanya bunda Nur sambil duduk di ujung tempat tidur


"Belum Bun..kita tunggu 2 atau 3 hari mudah-mudahan ada yang lulus seleksi Bun." jawab Tiara antusias, ia berharap kali ini keinginannya terwujud bekerja di perusahaan besar di Jakarta.


"ingat ya nak jaga diri baik-baik di sana.. berteman dengan orang-orang yang baik, jangan terbawa arus negatif." pesan bunda Nur yang merasa khawatir melepas Tiara sendiri ke Jakarta.


"Nanti kapan-kapan bunda ke Jakarta nengok kamu ya."


Tiara tersenyum bahagia.


"Tentu saja bunda harus jenguk aku di Jakarta..nanti kita bisa jalan-jalan Bun di sana." binar mata Tiara sangat senang menandakan ia bahagia membayangkan berjalan -jalan berdua dengan bundanya.


"Bunda tidak melarang kamu dekat dengan laki-laki, tapi ingat pengalaman kemarin ya nak..lebih baik bunda punya mantu duda tapi duda yang jelas sertifikatnya hihihi". bunda Nur cekikikan menutup mulutnya.


"Maksud bunda gimana sih koq ada duda bersertifikat segala?." tanya Tiara penasaran


"Ya yang jelas statusnya..cuman kalau bisa sertifikatnya berupa akta kematian.. artinya cerai mati biar ngga ada yang gugat-gugat." bunda Nur menjelaskan sambil terkikik geli


"hahaha..bunda lucu deh mikirnya sampai sejauh itu..tapi omongan bunda bisa jadi doa loh Bun." Tiara tertawa geli mendengar bunda Nur bicara soal perdudaan.


"Jodoh ada yang ngatur tapi kita juga harus berusaha." ujar Bunda Nur


"Yang penting sekarang perbaiki diri kamu sendiri..semakin menjadi pribadi yang baik pasti ketemu orang baik." nasihat bunda Nur tak pernah berhenti untuk terus memotivasi Tiara


"Ya Bun pasti Tiara nurut sama omongan bunda." Tiara mengacungkan jempolnya


Keesokan harinya Tiara mulai mengecek email yang masuk, harapannya ada lamaran yang lulus seleksi untuk test.


"Alhamdulillah Ya Allah..." ucapan syukur Tiara ucapkan setelah melihat email masuk karena salah satu perusahaan IT merespon lamarannya.


Tiara mengambil ponselnya lalu menghubungi sang bunda yang sekarang sedang bekerja di puskesmas.


"Assalamu'alaikum Nak..ada apa Tiara?" jawaban bunda Nur di ujung telepon

__ADS_1


"Wa Alaikumusalam Bun..bunda aku di panggil test ke jakarta." jawab Tiara senang


"Alhamdulillah syukurlah..bunda ikut senang, lalu apa rencana kamu?" tanya bunda Nur


"Testnya lusa Bun..mungkin sore ini aku bisa berangkat ke Jakarta ya.. supaya tidak terburu-buru." jawaban Tiara begitu antusias.


"bunda ikut rencana kamu saja..kalau begitu kamu persiapkan semuanya pesan tiket kereta online saja." saran bunda Nur


"iya Bun..nanti pesan penginapan sekalian yang dekat dengan perusahaannya." balas Tiara


"ya terserah kamu..sudah dulu ya bunda masih ada pasien yang menunggu." ujar bunda segera mengakhiri percakapan dengan Tiara.


"hehe iya Bun maaf jadi terganggu." Tiara cengengesan


"iya tidak apa-apa..bunda tutup ya assalamu'alaikum."


"Wa Alaikumusalam." Tiara pun menutup teleponnya.


Tiara memejamkan mata dan menarik napas dalam, harapan pergi dari kota ini untuk melupakan dari segala kekecewaan dan kehilangan orang yang di cinta semoga membawa kebaikan.


Sore tiba dengan segala kelelahan yang mendera semua orang yang selesai beraktifitas tapi tidak bagi Tiara, wajahnya cerah dengan semangat menggebu ingin segera menggapai impiannya di kota besar. Semua perlengkapan telah selesai di packing ia duduk menunggu bunda pulang dari puskesmas untuk mengantar ke stasiun, jadwal kereta masih 2 jam lagi masih ada waktu untuk persiapan.


Tak lama di halaman baru saja mobil bunda masuk, Tiara cepat berdiri untuk menyambut Bunda Nur.


"sudah Bun."


"keretanya jam 5 kan? ." tanya bunda Nur meyakinkan kembali


"iya Bun."


"kalau gitu bunda ganti baju dulu, tolong panggil bibi mu katanya ia mau ikut ke stasiun." perintahnya pada Tiara, Tiara mengangguk dan segera keluar menuju rumah bibi Aisyah yang hanya berjarak 2 rumah saja.


Tiga puluh menit perjalanan menuju stasiun terasa berbeda bagi Tiara, ada rasa grogi tapi senang sampai tangannya terasa kebas karena kedinginan. Bukan hanya tangan saja yang terasa dingin tapi tiba-tiba perutnya pun mules..aah memang rasa yang tidak bisa di artikan.


Bunda dan bibi Aisyah hanya mengantar sampai peron, karena pengantar tidak bisa masuk sampai dalam.


"ingat semua pesan bunda ya nak..jangan berbuat yang merugikan diri sendiri terlebih merugikan orang lain, sholat lima waktu jangan terlewat bunda yakin kamu pasti sukses aamiin." serentetan nasihat bunda Nur keluarkan untuk putri tercintanya, harapan membuang keburukan yang pernah terjadi semoga berganti dengan kebahagiaan.


Tiara memeluk bunda Nur erat lalu mencium pipi bundanya lalu mengecup berulang-ulang telapak dan punggung tangan orang terkasihnya itu, surganya di dunia dan akhirat yang selalu menjadi pelindungnya.

__ADS_1


"Tiara berangkat ya Bun..bunda jaga kesehatan..doakan Tiara " pinta Tiara pada sang bunda.


"Pasti nak..pasti bunda doakan..hati-hati ya."


Tiara mengangguk


*Bi..titip bunda ya." ujar Tiara memeluk bibi Aisyah, bibi Aisyah mengangguk "pasti bibi jagain..kamu hati-hati di jakarta ya." nasihat sang bibi pada keponakannya.


Tiara melambaikan tangannya lalu masuk semakin jauh menuju kereta yang siap berangkat.


Menyusuri gerbong untuk mencari tempat duduknya, menoleh ke kiri dan ke kanan mencari nomor yang sesuai dengan tiket yang ia pegang.


Ini bukan kali pertama ia bepergian jauh dengan kereta tapi kali ini ada rasa haru yang menyelimuti hatinya. Ia akan menjadi dirinya sendiri tanpa orangtua yang mendampingi, menapaki setiap undakan seperti sebuah tangga yang harus terus naik untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi.


Matanya terhenti pada nomor 10 A seperti yang tertera di tiket, ternyata sudah ada yang duduk lebih dulu di kursi itu. Senyum ramah ia sunggingkan di bibir pada wanita setengah baya yang sudah lebih dulu duduk.


"Maaf Bu..nomor saya 10 A." sapanya ramah


"Iya dek..tapi boleh ngga ibu duduk di sini kita tukaran..ibu ingin melihat pemandangan luar di sisi jendela." jawab si ibu dengan ramah pula.


"Ooh baiklah Bu tidak apa..silahkan Bu." jawab Tiara pasrah, tidak ada salahnya mengalah pada orang yang lebih tua, seketika ia ingat bundanya.


Tiara lantas duduk di sebelah ibu itu, semenit dua menit hingga lima menit masih dalam posisi saling diam dengan pikiran masing-masing. si ibu masih asik memandang keluar jendela melihat lalu lalang orang-orang yang akan naik ke kereta. Sementara Tiara memandang satu persatu orang-orang yang berjalan di lorong gerbong, hingga terdengar Pluit panjang petugas stasiun untuk memberi aba-aba kereta akan segera berangkat.


Berlahan roda kereta berderit menandakan beradunya roda besi dengan bantalan rel, Tiara menahan sesak di dada berusaha menahan laju air mata yang tiba-tiba muncul di sudut matanya. Selamat tinggal kepedihan dan kekecewaan jangan pernah kau singgahi aku lagi, tetaplah di sana di tempat yang tak pernah aku datangi lagi.


Perjalanan sore menjelang malam memang berbeda, pemandangan alam sudah tak tampak lagi yang ada hanya hitam pekat di hiasi titik-titik cahaya lampu dari rumah-rumah penduduk di daratan. Jika melihat ke jendela yang tampak hanya potret diri..lucu sekali.


Tiara tetap fokus membaca novel online via ponselnya, sedikit mengurangi rasa bosan selama 3 jam perjalanan kereta. Konsentrasinya terganggu ketika si ibu menawari roti untuk camilan, Tiara menoleh dan menolak halus.


"Ayo ambillah tidak apa-apa..lumayan bisa mengganjal perut yang lapar." si ibu menyodorkan beberapa bungkusan rotinya.


"Terima kasih Bu saya ambil yang rasa pisang saja." Tiara tidak dapat menolak lagi, roti pisang memang menjadi kesukaannya. apapun yang berbau pisan Tiara pasti menyukainya, bau yang harum dan tekstur yang lembut menjadi favoritnya.


"Tinggal di mana di Jakarta?."


Tiara menelan rotinya susah payah sambil memikirkan jawaban yang tepat.


Bersambung..

__ADS_1


Happy reading ❤️😘


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca..hatur nuhun 🙏🙏


__ADS_2