
Pagi menjelang diwarnai kesibukan di semua sudut, jangankan di sudut kota di setiap sudut rumah pun terjadi keriuhan.
"Papah aku mau di kepang sama Tante tamu di rumah Oma Lahma..Ndak mau sama sus Nul." rengekan Aqila makin membuat sang papa pusing.
"Tapi ini sudah terlambat Qila, mungkin juga tamunya sudah pulang." jawab Abhisatya pada putrinya yang merengek terus.
"Apa sih yang di mauin Aqila?" tanya Mama Mona pada pengasuh Aqila
"Kemarin Aqila di kepangin rambut sama tamu yang ada di rumah Bu Rahma." suster Nul menjawab pertanyaan nyonyanya.
"Tamu?." mama Mona keheranan ada tamu di rumah adik iparnya.
"Iya nyonya." jawab Sus Nul
"Pacarnya Satria?." tanya Mama Mona penasaran , Satria anak kedua Bu Rahma seingatnya tidak pernah membawa perempuan ke rumahnya.
"Saya kurang tahu nyonya." jawab suster Nul.
Seketika mama Mona ingat kalau Bu Rahma pernah cerita ia bersama seseorang yang ikut ketika pulang ziarah ke makam suaminya, "tapi siapa orang itu?" tanyanya dalam hati
"Ada-ada saja Aqila." mama Mona berlalu menuju kamar Aqila yang masih di rayu oleh papanya.
Di kamar Aqila masih merajuk sedangkan papanya masih mencari tutorial di YouTube cara mengepang rambut.
Saat mama Mona masuk ia tertawa melihat wajah Abhisatya terlihat mengkerut melihat video di ponselnya.
"Haduuh memang cucu oma satu ini luar biasa." kata mama Mona memencet hidung cucu cantiknya
"ihhh Oma pencet-pencet hidung aku." Aqila mengibaskan tangan Omanya.
"Mau apa sih incess..sudah siang ini nanti kamu telat masuk sekolah." goda Oma Mona lagi
Muka Aqila makin cemberut
"Yaudah deh ngga usah dikepang..nanti aja pulang sekolah aku ke lumah Oma Lahma aja." akhirnya drama Rajuk merajuk berakhir dengan kemenangan sang papah.
Abhisatya menghela napas lega, ia sudah menahan emosi dari tadi karena drama Aqila soal kepang mengepang rambut.
"Ayo di ikat biasa aja rambutnya biar tidak berantakan." perintah sang papa yang akhirnya di angguki Aqila.
Kedua insan itu akhirnya menyudahi perdebatan.
Setelah sarapan Abhisatya mengantar Aqila ke sekolah, agak terburu-buru karena sudah sedikit terlambat.
Setelah sampai gerbang sekolah, sekolah sudah terlihat sepi karena bel baru saja berbunyi.
"Lihat apa kata papa kamu terlambat kan?." Abhi mengatakan kebenaran pada Aqila bahwa sekolah sudah sepi semua anak-anak sudah berada di kelas. Abhisatya menasehati Aqila bahwa hal yang tidak baik akan merugikan diri sendiri.
Abhisatya segera turun dengan menggandeng tangan Aqila, ia mengantar sampai depan kelas supaya Aqila tidak menangis.
Bu guru yang melihat segera menghampiri Aqila.
"Aqila baru datang?." tanya Bu guru
Aqila mengangguk ragu
__ADS_1
"Maaf Bu guru Aqila terlambat karena tadi ada halangan." jawab Abhisatya menjelaskan pada Bu guru.
"Baik tapi lain kali tidak boleh terlambat ya?." jawab Bu guru
"Iya Bu Aqila janji tidak terlambat lagi." jawab Aqila pelan dengan wajah sendunya.
Abhisatya mengangguk dan mengusap kepala anaknya
"Masuklah." perintah Abhisatya pada putrinya.
Setelah memastikan putrinya berada di kelas Abhisatya segera meluncur ke kantornya, Terlambat 30 menit dari jam masuk kantor.
Perjalanan menuju kantor diwarnai kemacetan di berbagai ruas jalan, kesabaran memang sedang di uji hari ini dari mulai anak yang rewel sampai perjalanan menuju kantor yang terhambat.
Setibanya di parkiran ia berjalan cepat menuju lift yang akan membawanya ke lantai 19 tempat kantornya berada, ketika pintu lift akan tertutup seorang wanita cantik ikut masuk ke dalam.
Wanita tadi lantas diam karena tombol angka 19 sudah menyala, yang berarti tujuannya sama dengan pria yang ada di dalam.
Berdiri di belakang wanita yang baru masuk membuatnya menerka kalau wanita ini akan datang ke perusahaannya, karena hari ini ada test masuk untuk pelamar.
Tak sampai 3 menit lift sudah berhenti di lantai 19, Abhi sengaja diam menunggu wanita itu keluar. Setelahnya ia langsung berjalan masuk ke dalam ruangannya, sementara wanita itu terhenti di bagian resepsionis.
Abhi buru-buru membuka pintu ruangannya dan masuk, sambil berdiri ia mencari map data pelamar yang kemarin HRD berikan.
"ini dia namanya Tiara Andini." monolognya sambil membuka berkas, tadi ia melihat wajah Tiara lalu ia cocokkan dengan foto yang tertera di surat lamaran.
"hmmm..berpengalaman 2 tahun di bidang keuangan, masih single, tapi dia bukan asli Jakarta, berarti dia kost atau..." gumaman yang hanya bisa di dengar sendiri sambil membuka berkas.
Abhi menekan telepon untuk menghubungi pak Yusuf.
"Berapa orang yang test hari ini?." tanya Abhi sambil membuka-buka map.
"Ooh 4 Orang..kalau gitu saya ingin wawancara 2 orang saja, atas nama Tiara dan Marsela." pintanya pada pak Yusuf.
Setelah telepon di tutup ia duduk, helaan napas dalam di hembuskannya. Memijit pelipis sambil membaca berkas-berkas yang harus diperiksa.
tok..tok..tok
" Ya masuk." perintahnya
"Pagi pak.." Lisa datang membawa kopi dan berkas yang harus ditanda tangani.
"Ini beberapa proposal yang diajukan bagian marketing pak dan ada beberapa laporan dari bagian teknikal." ujar Lisa sambil meletakkan berkas di atas meja.
Abhi membuka berkas proposal lebih dulu ada penawaran kerja sama dari perusahaan di Singapura.
"Ini nanti kita rapatkan dengan bagian marketing besok jam 9 pagi." ujar Abhi sambil membaca berkasnya.
"coba kamu buat resume apa saja keuntungan dari kerjasama ini, nanti kita cocokan dengan bagian marketing." ujar Abhi yang diangguki Lisa.
"Panggil pak Haikal kemari minta ia jelaskan kenapa terjadi trouble shoot selama lebih dari satu jam di PT. BukaToko."
"Baik pak.."Lisa kemudian meninggalkan bosnya sendiri di ruangan, ia segera mengerjakan apa yang diperintahkan Bosnya.
Sementara Tiara sudah masuk ke ruangan meeting yang dijadikan tempat untuk test.
__ADS_1
Mengerjakan soal-soal yang standar di tanyakan saat testing, kabar dari bagian HRD bahwa hari ini akan diadakan test maraton sekalian keputusannya.
Dua jam terlewati setelah test tahap pertama dan kedua tinggal tersisa test interview, semua diberi kesempatan untuk beristirahat makan siang setelahnya akan di adakan test interview.
Tiba saatnya Tiara di panggil ke ruangan direktur.
"Silahkan masuk." Lisa mempersilahkan Tiara untuk masuk ruangan Abhisatya, terlihat Abhi sedang fokus pada laptopnya.
"Terima kasih Bu." Tiara menganggukkan kepala sopan.
"Selamat siang pak." sapa sopan Tiara di depan meja direktur.
"Siang.. silahkan duduk!" Abhisatya menyambut Tiara dan mempersilahkan duduk, berhadapan dengan lawan bicara sering kali dilakukan Abhi sebagai direktur jangankan dengan karyawan dengan lawan bisnis pun tidak ada masalah tapi kenapa sekarang tangannya dingin lidahnya kelu tidak tahu apa yang akan di tanyakan. Wanita di depannya mampu memikat hatinya entah kenapa serasa ada magnet yang menggerakkan.
"eheemm..nama kamu Tiara?." pertanyaan basa basi yang tidak perlu di jawab karena sudah ada di curiculum vitae.
"Betul pak..nama saya Tiara Andini." jawab Tiara singkat.
"Bisa ceritakan pengalaman bekerja kamu sebelumnya." tanya Abhisatya menatap Tiara yang ayu dan anggun.
Tiara menarik napas sejenak lalu dengan lancar mulai bercerita, Abhisatya diam menyimak penjelasan Tiara. Tatapan mata Abhi tak sedetik pun berpaling, ia menatap wanita di depannya dengan penuh kekaguman. Cantik menarik dan cerdas itu kesimpulan yang Abhisatya ambil dari wawancara dengan Tiara.
"Kapan kamu bisa mulai bekerja?" pertanyaan yang menggembirakan bagi seorang pencari kerja.
Tiara terperanjat dengan pertanyaan direktur perusahaan yang tampan dan kharismatik.
"Secepatnya sesuai permintaan perusahaan, kapan pun saya siap." jawaban Tiara dengan lugas dan tepat, membuat Abhisatya tersenyum puas.
"Besok?." entah pertanyaan atau perintah, tapi Tiara akhirnya mengangguk
"Baik pak saya siap." jawab Tiara akhirnya
"Good..do the best..welcome with our company." Abhisatya berdiri dan menjabat tangan Tiara erat.
"Terima kasih pak." jawab Tiara senang
Tiara terharu matanya mengembun ia tak menyangka akan secepat ini mendapatkan pekerjaan di kota besar, Tiara menyambut uluran tangan Abhisatya untuk bersalaman.
"Kamu menangis?." tanya Abhisatya menyelidik karena melihat kelopak mata Tiara memerah.
"Ahh maaf pak saya terharu." jawab Tiara mengerjapkan mata sambil tertawa kecil, lalu tangannya mengusap kelopak matanya yang berkaca-kaca.
"Maaf pak saya terlalu sentimentil"
"its ok." Abhisatya tersenyum tipis, memandang wanita di depannya yang telah mampu menggetarkan hati yang selama ini sunyi. Setelah kehilangan istrinya kesunyian hati ia sengaja biarkan bersemayam, walau tak sedikit wanita lain datang mendekat tapi tak ada yang mampu menggetarkan hatinya. Tapi kali ini tiba-tiba hatinya bergetar setelah bertemu dengan wanita cantik nan ayu.
Apakah ia sudah jatuh cinta lagi?
Mungkinkan secepat itu menyukai seorang wanita?, padahal saat ini ia sedang berusaha menyukai saudara sepupu almarhum istrinya yang sering di jodohkan oleh mantan mertuanya tapi hatinya tidak merasakan apapun ketika mereka bersama.
Abhisatya merenung dengan segala kejadian yang terjadi dalam hidupnya, ujian datang pada rumah tangganya ketika ia harus merelakan istrinya meninggal lalu tekanan dari keluarga mertuanya yang menginginkan ia menikah lagi dengan salah satu anggota keluarganya. Tidak mudah untuk mengambil keputusan karena ini menyangkut kehidupan seumur hidup apalagi mamanya yang kurang menyetujui rencana mantan besannya, ada niat terselubung dibalik perjodohan Abhisatya dengan sepupu almarhum istrinya. Dengan segala cara Abhisatya mengulur waktu untuk melakukan pendekatan dengan sepupu istrinya dengan alasan ia harus memantapkan hati, Akhir tahun ini ia janji akan memberikan jawaban.
Bersambung
Happy reading ❤️
__ADS_1
Tinggalkan jejak yaa..like vote & komen!!