Duda Bersertifikat

Duda Bersertifikat
Aqila menunggu


__ADS_3

Hari masih siang ketika Tiara keluar dari perusahaan, sebelum pulang ke rumah Bu Rahma Tiara mampir ke mini market untuk membeli keperluan pribadinya.


Besok ia mulai bekerja pastinya akan banyak waktu tersita di kantor, hidup sebagai anak rantau pastinya harus mandiri. Tiara memutuskan akan mencari tempat kost yang dekat dengan kantornya, terlebih ia tidak enak hati jika harus menumpang di rumah Bu Rahma.


Tadi ia mencari informasi tempat kost yang dekat dengan kantor dan sesuai dengan keinginan, ada beberapa yang sudah di lihat tapi semua ada di dalam perumahan penduduk yang lumayan padat walaupun masih terasa nyaman. Mungkin ia masih harus mencari lagi yang lebih baik, tidak perlu terburu-buru.


Sementara di rumah Bu Rahma dari tadi Aqila setia menunggu Tiara pulang, setelah pulang sekolah , makan dan tidur siang ia langsung pergi ke rumah Bu Rahma.


"Koq Tante Tiala belum datang-datang siihh." ungkapnya kesal karena terlalu lama menunggu.


"Sabar Non mungkin di jalan macet." jawab Bi Sani menenangkan cucu majikannya.


"Tapi aku ngga sabaaar bibiii." teriaknya dengan bibir mengerucut mirip paruh bebek.


"Makanya harus belajar sabar..mending non mandi sore dulu deh..nanti abis mandi kesini lagi terus minta di kepang sama Tante Tiara." saran sus Nul pada anak asuhannya.


"nah betul itu..mending non mandi dulu biar makin cantik." balas bi Sani merayu Aqila.


Aqila makin merengut tak suka tapi setelah dipikirnya ada benarnya juga ya.


Aqila berdiri tanpa ba bi bu ia berlari pulang menuju rumahnya.


"Eehh non tunggu sus ..koq malah lari." sus Nul berlari kecil mengejar anak majikannya.


"Ealaah bocah-bocah kalau lagi ngambek susah di rayunya." bi Sani geleng-geleng kepala, tak lama terdengar bunyi bel dari luar.


Tetttt..tetttt..


Bi Sani berjalan cepat menuju pintu pagar, tapi ternyata pintu sudah dibuka pak Amir.


"Assalamu'alaikum pak." sapa Tiara melangkah masuk ke dalam halaman.


"Wa alaikum salam neng baru sampai?" jawab sekaligus tanya pak Amir.


"Iya pak." jawab Tiara


"Alhamdulillah yang di tunggu sudah datang." Bi Sani tersenyum senang melihat Tiara datang.


"Ditunggu? siapa yang nunggu saya bi?." Tiara heran karena tidak ada keluarga atau teman yang janji akan menemuinya.


"ituuu..si nona kecil yang ceriwis non Aqila..dari tadi sudah nunggu sampai ngomel terus." ujar bi Sani sambil terkekeh


"waahh Aqila nunggu saya bi? ada apa?." Tiara bertanya sambil berjalan masuk ke rumah.


"Katanya mau dikepang lagi rambutnya..kata si Nul pagi tadi udah ngambek ngga mau sekolah karena pengen di kepang kayak kemarin, tapi papanya ngga bisa kepangin akhirnya sekolahnya terlambat." bi Sani menceritakan kejadian tadi pagi yang membuat heboh rumah sebelah.


Tiara terkekeh membayangkan Aqila yang pasti lucu kalau marah.


"Sekarang mana dia bi?." tanya Tiara sambil membuka sepatunya


"Pulang dulu mau mandi nanti kesini lagi katanya."

__ADS_1


Tiara mengangguk.


"Kalau gitu saya sholat ashar dulu bi sudah hampir jam 5." Tiara melangkah menuju kamarnya.


"Iya mbak silahkan..nanti kalau Non Aqila datang saya suruh tunggu dulu nunggu selesai sholat."


"Bisa marah lagi nanti bi..suruh ketuk pintu kamar saya aja." pinta Tiara sambil masuk ke kamarnya


"baik mbak." jawab Bi Sani


Setelah mandi masih dengan handuknya Tiara ingin cepat-cepat pergi ke menemui Tiara.


"Ayo cepat sus Nul nanti Tante Tialanya sudah datang." Aqila sudah tidak sabaran ingin segera ke rumah Bu Rahma, setelah mandi ia langsung ingin segera menemui Tiara.


"Iya sabar non..ini kan masih pake baju pasti Tante Tiara sabar menunggu ngga kayak non Qila yang ngga sabaran." sus Nul meledek Aqila sambil menahan tawa.


Bibir Aqila makin di majukan.


"Tuh liat bibirnya manyun-manyun kayak bebek jelek..senyum dong biar cantik kan udah mandi." goda sus Nul sambil mencubit kecil pipi Chuby Aqila.


"Ayoo cepaaat..." Aqila langsung berlari keluar kamar, sus Nul terengah-engah mengejar bos kecilnya


"Non Qila tunggu..haduuh lari-lari terus sus capek iniii...astagaaa." sus Nul susah payah mengejar anak majikannya yang super lincah.


"Ada apa sih Nul teriak-teriak begitu." nyonya Mona yang baru saja datang heran mendengar teriakan pengasuh cucunya.


"itu nyonya non Qila ingin ke rumah Bu Rahma." ujar bi Endah asisten rumah tangga di rumah mama Mona


"Sepertinya begitu nyah..katanya mau dikepang lagi " jawab Bi Endah.


"Ada-ada aja tuh anak." timpal mama Mona sambil bersandar di kursi karena lelah sepulang dari kantornya. Mama Mona oma Aqila bekerja sebagai notaris, walaupun istri seorang pengusaha tapi ia tetap ingin bekerja.


"Bi Endah tolong buatkan saya teh panas, kepala saya agak pusing." pintanya pada asisten rumah tangganya.


"Iya nyah." bi Endah segera membuat teh pesanan mama Mona, teh panas dengan sedikit gula.


"Tante Tialaaa... Asamelekum tok tok." teriakan tok tok dengan mulut bukan menggedor pintu membuat Tiara terkekeh geli di balik pintu kamar.


"Wa Alaikum salam Aqila..waah udah cantik dan wangi." Tiara membuka pintu kamar kemudian menciumi kepala Aqila, Aqila tersenyum senang sekali.


"Aku udah mandi dong Tante." pamernya


"Mantul dong..anak pintar." Tiara mengacungkan jempolnya


"eeh tadi siapa yang terlambat masuk sekolah?" tanya Tiara menggoda Aqila.


Aqila tampak malu "Aku." sambil mengacungkan jari telunjuknya.


"Tapi aku janji ngga akan telambat lagih." menunjukan dua jarinya menjadi huruf V


"Bagus gitu dong anak pintar." jawil Tiara di hidung Aqila yang mancung mungil.

__ADS_1


Aqila tampak senang di puji


"Aku mau kepangin rambutnya Tante." pintanya sambil menunjuk pada rambut sebahunya.


Tiara tersenyum dan mengangguk "Yuk sini." Aqila langsung duduk di pangkuan Tiara.


"Besok kalau Aqila mau di kepang sebelum ke sekolah harus bangun lebih pagi, Tante Tiara besok pergi kerja jam 7 jadi Aqila ke sini jam 6..bisa?." Tiara memberi pengertian dengan bahasa yang mudah dipahami oleh anak seusia Aqila.


Aqila terdiam sejenak berusaha mengartikan


"Jadi aku boleh kepangin rambut jam 6?." tanyanya


"Iya..jadi kamu harus bangun sebelum jam 6 ..terus mandi lalu pake seragam jam 6 harus sudah di sini..Aqila ngerti?." ulang Tiara menjelaskan pada Aqila.


"Jam 6 itu kayak apa?" pertanyaan polos Aqila tidak mengerti.


"Nanti Tante kasih tahu ya." jawab Tiara ambil tangannya terus membuat jalinan kepang di rambut Aqila.


Di ruangan kantornya Abhisatya masih melototi laporan dari bagian HRD, hasil seleksi calon karyawan terpilih 4 orang yang di terima termasuk Tiara Andini.


Abhisatya dengan keinginan tahuan yang besar membuka data pribadi Tiara, entah kenapa wanita ini begitu menarik perhatiannya. Data diri lengkap termasuk no ponsel dan data medsos semua ia simpan, tak lupa menyimpan no ponsel Tiara di ponselnya.


Hari ini lumayan sibuk hingga sampai matahari pergi ia belum juga pergi dari kantornya, hingga ponselnya berbunyi nama mamanya tertera.


"Halo ." panggilan video call dari putri kecilnya, ternyata bukan mamanya.


"Aloo papah ..lihat aku cantik abis di kepang." Aqila memutar kepalanya ke depan dan belakang, Abhisatya tersenyum melihat putrinya begitu percaya diri.


"Iya cantik sekali anak papah..siapa yang buat? apa sus Nul?." tebak Abhisatya


"no bukan ..sus Nul Ndak bisa buat sepelti ini." jawabnya sambil menunjuk hasil kepangan yang terlihat rumit.


"Lalu siapa? Oma?."


"bukan juga ..Oma lagi pusing kepalanya jadi Bobo dari tadi." penjelasan Aqila membuat kaget Abhisatya.


"Oma Sakit?." tanya Abhisatya


"hee emm.." jawaban Aqila hanya mengangguk-angguk.


"Ya sudah tutup teleponnya papah pulang sekarang." permintaan Abhisatya di turuti Aqila.


Setelah telepon tertutup Abhi segara membereskan meja kerjanya, mematikan laptopnya dan memasukkan ke dalam tas. Ia segera mematikan semua lampu dan keluar dari ruangannya.


Hari sudah gelap ketika ia menapaki jalanan hanya cahaya lampu yang menghiasi kota Jakarta, walau temaram tapi tak membuat semangat warganya menyurut untuk mencari penghidupan. Pedagang kaki lima baru saja menggelar lapaknya, pekerja malam harus menahan kantuknya demi keluarga yang di tinggalkan di rumah.


Abhisatya pulang dengan membawa harapan, harapan bertemu putri tercintanya dan orangtua yang mencintainya. Besok harapan yang ia impikan semoga menjadi kenyataan bertemu dengan pujaan hatinya. ❤️


Bersambung


Happy reading ❤️

__ADS_1


Tinggalkan jejak vote, like n komen yaaa.


__ADS_2