Duda Bersertifikat

Duda Bersertifikat
Hari penuh semangat


__ADS_3

"Papah bangun sudah jam 6 tok tok tok." gedoran dar suara mulut Aqila yang melengking membuat yang mendengar menutup telinganya.


"Papaaah.."teriaknya lagi, papahnya yang sedang mandi tentu saja tidak mendengar teriakan anaknya.


Pagi ini Aqila dapat dengan mudah dibangunkan oleh suster Nul, sebelum jam 6 ia sudah berlari menuju rumah sebelah dimana Tante Ara nya berada. Sejak kemarin ia harus membiasakan belajar melafalkan hurup R, itu semua syarat yang diajukan Tiara kalau ingin di kepang setiap hari maka dari itu Tiara meminta Aqila memanggilnya dengan Tante Ara supaya lebih mudah.


Bosan menunggu papahnya di depan kamar, akhirnya ia turun dan meminta sarapan pada susternya.


"Oma mana?." tanyanya pada bi Endah yang melayaninya makan, Aqila belum melihat seorang pun ada di meja makan.


"Oma masih sakit non jadi belum bangun." kata bi Endah, setelah mendengar Oma Mona sakit Aqila lantas turun dari kursi dan berlari menuju kamar Omanya.


"Omaaa..". panggilnya pelan sambil memegang handel pintu kamar.


pelan-pelan ia membuka pintu.


"Aqila sini sayang..Oma masih bobo." kata Opa Budiman menunjuk ke ranjang besar di tengah kamar.


Aqila berjalan mendekati opanya yang sedang duduk di sofa.


"Oma masih sakit opa? apanya yang sakit?" tanyanya pelan di telinga sang opa.


"Oma kecapekan harus banyak istirahat." penjelasan opa Budiman supaya Aqila cepat mengerti, karena jika dijelaskan hipertensi pasti ia akan bertanya lagi dan itu membuat opa Budiman pusing.


"Aqila sarapan sama papah ya setelah itu berangkat ke sekolah, jangan terlambat lagi nanti di hukum Bu guru."


"iya opa..biarin Oma tidur aja ya..aku sekolah dulu." bisiknya agar tidak mengganggu Oma yang sedang tidur.


"ya sudah pergilah." opa Budiman memeluk dan mengecup kepala cucu kesayangannya.


Aqila keluar kamar lalu menghampiri papanya yang sudah menunggu untuk berangkat ke sekolah.


"Aqila sudah sarapan?." tanya papanya saat ia melihat Aqila mendekat padanya di meja makan.


"Sudah pah..aku tadi sudah makan omelet dan minum susu." Jawab sang putri cantiknya.


"Kalau begitu ayo kita berangkat." ajak Abhisatya berdiri dari kursi makan setelah selesai sarapan.


Aqila mengikuti papahnya keluar dari rumah menuju mobilnya di halaman, supir pribadinya sudah menunggu untuk mengantar nona kecil dahulu.


Abhisatya memperhatikan putrinya yang ceria, hari ini tidak ada drama seperti kemarin.


"Siapa yang buat kepangan rambutnya?." tanya Abhisatya menyelidik, saat ini mereka berdua sudah ada di dalam mobil untuk berangkat ke sekolah.


"Tante Ara dong." jawab Aqila sambil mengibaskan ujung rambut yang di kepang.


Abhisatya mengernyitkan keningnya, "sejak kapan Aqila fasih melafalkan huruf R." tanyanya dalam hati.


"Pagi-pagi tadi kamu ke rumah Oma Rahma?." tanya papanya lagi.


Aqila mengangguk


"Jam 6." sambil menunjukkan lima jarinya.


"itu 5 sayang." jawab papanya.


"6 itu harus tambah 1 jari lagi." timpal papanya lagi, " begini." Abhisatya memeragakan lima jari tangan kanan dan satu jari tangan kiri.


"hihihi..salah ya pah." Aqila terkikik sambil menutup mulutnya.


"Tante siapa tadi namanya?." tanya papahnya


"Tante Arrraaa." jawab Aqila panjang.


"hmmm..bukan alllaaa." goda papanya


"Bukaan papah..aku sekarang sudah bisa bilang rrrrrrr." jawaban Aqila membuat Abhisatya tertawa.


"Good anak papah pintar ..siapa yang ngajari?."

__ADS_1


"Tante Arrrraaa."


Abhisatya semakin penasaran dengan sosok wanita yang sedang dekat dengan anaknya, tamu Bu Rahma yang bisa berteman dengan anak seusia Aqila.


Sampai di sekolah Abhisatya hanya mengantar sampai gerbang, karena anak -anak sudah di jemput gurunya di gerbang depan.


"Aqila cantik sekali hari ini." puji Bu guru berkerudung biru, Aqila tampak senang di puji seperti itu. Aqila menyalami semua guru yang berdiri tak lupa mencium tangannya. Abhisatya hanya memperhatikan dari luar pagar.


Setelah selesai mengantar Aqila segera ia bergegas menuju kantornya.


"Ayo pak Min." perintahnya pada supir pribadinya.


"Siap Den." pak Min segera memacu mobilnya menuju kantor.


Hanya 15 menit mobil sudah masuk area parkir kantor, lobby sudah sepi menandakan semua karyawan sudah menempati ruangannya masing-masing. Abhisatya segera ke lantai 19 tempat kantornya berada.


"Selamat pagi pak.." Lusi bagian resepsionis menyapa bosnya.


"Pagi " Abhi selalu berusaha menjadi panutan agar karyawan semangat bekerja dengan memberi energi positif untuk mereka, Abhi pikir menjadi bos galak atau angkuh pun tak ada untungnya.


Di depan ruangannya Lisa sudah menempati kursi sekretaris, ia segera berdiri melihat bosnya datang.


"Pagi pak." salam sapa Lisa


"Pagi Lis..tolong ke ruangan saya."


"Baik pak." Lisa segera mengikuti Abhi masuk sambil membawa iPad untuk mencatat perintah Abhi.


"Setelah makan siang tolong kumpulkan para manager untuk meeting konsolidasi dengan saya, kamu siapkan juga resume proposal kemarin yang saya minta." perintah Abhisatya


Lisa tampak mengetik di Ipad-nya.


"Jangan lupa bagian keuangan suruh siapkan daftar pengeluaran yang due datenya Minggu depan." lanjut Abhisatya


Lisa menganggukkan kepalanya


"Iya pak segera." Lisa menutup iPad nya dan segera keluar ruangan untuk menuju pantry.


Sementara di ruangan bagian keuangan Tiara sedang mempelajari tagihan-tagihan yang tertunda dan yang akan segera jatuh tempo, ia sedang mencari informasi terkait kenapa banyak tagihan yang tertunda.


"Tiara..Dipanggil Bu Yuni." Mitha teman baru di bagian keuangan memberitahukan Tiara dipanggil manager keuangan.


"Ya Mit terima kasih." Tiara segera beranjak dari duduknya lalu segera masuk ke ruangan Bu Yuni.


Tok..tok Tiara mengetuk pintu ruangan manager keuangan.


"Ya masuk ." perintah dari dalam.


"Ibu manggil saya." tanya Tiara


"Iya.. duduklah." perintahnya


"Tiara kamu sudah pernah berpengalaman menangani masalah seperti ini..apa progress kamu? saya harap kamu bisa memberi solusi yang tepat." Bu Yuni meminta Tiara untuk memikirkan cara untuk memperkecil piutang perusahaan.


"Kita harus melakukan banyak cara Bu, diantaranya kita harus nego ulang dengan customer, lalu bisa dengan pemberian diskon." Tiara memberikan solusi kepada manager keuangannya.


Bu Yuni mengangguk mengerti


"Kalau soal potongan kita harus minta persetujuan direktur utama dulu." kata Bu Yuni.


Tiara mengangguk


"Ya Bu saya paham."


"Nanti setelah makan siang ada meeting para manager dengan pak direktur mungkin saya akan sampaikan solusi ini." bu Yuni


"Ya Bu." jawab Tiara , setelah selesai menghadap bu Yuni Tiara segera kembali ke tempatnya, sepertinya ia butuh kopi agar otaknya tetap bekerja maksimal. Tiara beranjak menuju pantry dengan membawa bungkusan kopi sachet yang selalu ada di tasnya.


Di pantry ia bertemu Lisa yang sedang membuat kopi untuk Abhisatya.

__ADS_1


"loh koq kopinya habis sih..Si Yanto lupa belanja apa?." Lisa mencari kopi khusus bosnya yang biasa di simpan office boy di laci pantry.


"Pagi mbak Lisa." sapa Tiara melihat Lisa ada di pantry.


"Hai pagi." jawab Lisa menoleh ke arah Tiara.


"Lagi cari apa mbak ? kayaknya koq bingung." tanya Tiara yang melihat Lisa seperti sedang kesal.


"Mau buat kopi buat si bos tapi koq ngga ada, mungkin habis kali ya..tapi rasanya kemarin masih banyak..si yanto mana lagi? si bos udah nunggu minta kopi." keluh Lisa yang tampak bingung.


"Mau pake punya aku aja mbak ? tapi cuma kopi sachetan." Tiara memperlihatkan kopi yang ia bawa, kopi sachetan kesukaannya.


"Tapi rasanya ngga terlalu manis mbak..ini less sugar."


Lisa tampak berpikir.


"Yaudah deh ngga apa-apa nanti aku bilang ke si bos kalau kopinya ganti, biasanya sih dia ngga rewel ngga fanatik harus kopi itu-itu aja." Lisa menerima kopi dari Tiara dan menyeduhnya dengan air panas.


"Terima kasih ya Tiara..eeh iya kamu nanti gimana? ngga jadi bikin kopi dong." Lisa baru ingat Tiara hanya membawa satu sachet.


"Masih ada koq..tenang aja mbak aku masih ada di tas." terang Tiara pada Lisa.


"Syukurlah..terima kasih ya Tiara..kamu udah cantik baik lagi." Lisa menepuk pundak Tiara.


"hishh mbak Lisa bisa aja." Tiara mengibaskan tangannya.


Mereka tertawa bersama.


"Aku duluan ya cantik..thanks a lot." Lisa segera pergi dari pantry menuju ruangan bosnya.


Tiara berjalan kembali ke mejanya untuk mengambil kopi.


Tok..tok..tok


Lisa mengetuk pintu ruangan bosnya kemudian masuk, terlihat Abhisatya sedang menerima telepon di ponselnya. Tak lama pembicaraan berakhir.


"ini kopinya pak." ujar Lisa sambil menyimpan kopi di atas meja.


"terima kasih..saya rasanya pengen banget kopi hari ini..mata saya agak ngantuk." Abhisatya segera menyeruput kopinya. Lisa menunggu reaksi bosnya karena kopi yang dibuat agak berbeda.


"hmmm..bukan yang biasa ya Lis?."


Benar saja perkiraan Lisa kalau bosnya tahu bukan kopi yang biasanya diminum.


"Iya pak maaf kopi yang biasa habis, Yanto belum belanja mungkin dia lupa..untung tadi anak baru di keuangan ada yang bawa..dia menawarkan kopinya, daripada saya ngga bawa kopi sama sekali mending saya terima tawarannya, nggak enak ya pak kopinya.?" takut-takut Lisa menjelaskan pada bosnya.


Abhisatya menautkan alisnya.


"anak baru siapa?." Abhisatya menyelidik bertanya, pikirannya langsung tertuju pada Tiara.


"Itu yang kemarin interview dengan bapak..namanya Tiara inget pak?." Lisa tampak mengingatkan bosnya, padahal bosnya sudah menduga karena di bagian keuangan hanya ada satu orang karyawan baru, yang lainnya di tempatkan di bagian lain.


"Kamu ambil kopi dia terus dia gimana?" tanya Abhisatya merasa tidak enak sudah mengambil kopi Tiara.


"Katanya dia masih punya stok pak, makanya dia tawarkan satu untuk bapak." jawab Lisa


"Hmmm..." Abhisatya manggut-manggut sambil mengusap dagunya.


"Ya sudah pak..saya mau lanjutkan pekerjaan saya dulu." pamit Lisa segera keluar ruangan karena pekerjaan masih menumpuk belum lagi setelah makan siang ada meeting juga.


Setelah Lisa keluar Abhisatya menyeruput kopinya lagi, rasanya pas tidak terlalu manis. "Ternyata kamu penikmat kopi juga, kalau begitu kita bisa ngopi bareng." katanya dalam hati sambil tersenyum tipis.


Walaupun tidak melihat wajahnya minimal bisa membayangkan hanya dengan menikmati kopi yang sama, "jauh di mata tapi dekat di kopi." gumannya pelan, Abhisatya menggelengkan kepalanya sambil terus tersenyum "What happened with me" ❤️


Bersambung


Happy reading ❤️


Tinggalkan jejak like vote n komen.

__ADS_1


__ADS_2