Duda Bersertifikat

Duda Bersertifikat
Kacau galau


__ADS_3

Tiara masih duduk terpekur di dalam mushola , mata yang memerah dan basah mengisyaratkan tangisan yang ia tahan. Ingin mengeluarkan tangisan di dalam pelukan bunda tapi itu pun takut ia lakukan karena pasti bunda akan kecewa jika mendengar ceritanya.


Handphone Tiara yang terus-menerus berbunyi ia abaikan, pasti dari bosnya yang sekarang sedang sibuk mencarinya, karena mushola terletak di ujung lantai dua restoran hingga tak terlihat dari bawah.


Setelah hampir tigapuluh menit berdiam diri akhirnya Tiara membuka pesan di hp nya, berpuluh-puluh pesan dan panggilan masuk dari Abhisatya sengaja ia diamkan. Ia ingin menjauhi dulu masalah yang sama sekali ia tidak pahami. Namun akhirnya Tiara mengetikkan pesan balasan untuk Abhisatya, "Maaf pak saya pulang duluan dan mohon ijin saya tidak kembali ke kantor." Tiara tidak peduli jika bosnya akan marah bahkan memecatnya, baginya saat ini ia ingin menenangkan hati dan pikirannya. Tiara juga berbohong kalau ia sudah pulang padahal ia masih duduk di mushola restoran menunggu Abhisatya pergi.


Abhisatya masih terus mencoba menghubungi Tiara, pesan dan panggilan sudah berkali-kali ia lakukan tapi tak satu pun di balas. Abhisatya sudah bertanya kepada pelayan restoran tapi tak satu pun memberi jawaban yang diharapkan, mereka menjawab "tidak melihat atau tidak tahu".


Tak lama pesan masuk ke hp nya ia segera membuka notifikasi yang ternyata pesan dari Tiara, jawaban pesan dari Tiara membuat Abhisatya mendengus kasar Tiara pamit ijin pulang dan tak kembali kantor.


Abhisatya segera keluar dari restoran setelah menyelesaikan pembayaran dan mengecek ulang toilet siapa tahu Tiara masih ada di sana. Antara emosi, kecewa dan penyesalan yang ia rasakan saat ini, pertemuan dengan mantan mertuanya hanya membawa kekacauan hari ini.


Akhirnya Abhisatya kembali ke kantor seorang diri menatap kursi sebelahnya kosong membuat pikirannya tak tenang, ia merasa bersalah sudah membuat Tiara kecewa. Entah dengan cara apa ia meminta maaf sedangkan seminggu ke depan ia akan tugas keluar kota.


Tiba di kantor ia langsung masuk ke ruangannya lalu tanpa duduk dulu ia langsung menghubungi bu Yuni atasan Tiara.


"Halo Bu Yuni." Abhisatya langsung menjawab saat telepon baru di angkat oleh Bu Yuni


"Ya pak Abhi." balas Bu Yuni.


"Tiara sudah meminta ijin untuk tidak kembali ke kantor?." tanya Abhisatya.


"Sudah pak 30 menit yang lalu ia menelpon untuk meminta ijin karena sakit." jawab Bu Yuni


Abhisatya terdiam sesaat "sakit? Tiara ijin karena sakit?" Abhisatya bertanya dalam hati.


"Ya sudah tidak apa-apa." jawab Abhisatya menutup sambungan telepon, Tiara lebih baik untuk mengajukan ijin jika memang kondisinya sedang tidak baik. Abhisatya memijat keningnya yang terasa penat bagaimana mencari cara menghubungi Tiara, karena semua pesan dan teleponnya tidak ada yang dibalas Tiara.


Di lain tempat Tiara baru saja sampai rumah Bu Rahma, tadi akhirnya ia pulang dengan memesan taksi online. Moodnya langsung turun ke titik nol gara-gara kejadian di restoran tadi.


"Loh mbak Tiara sudah pulang? tumben masih siang sudah sampai rumah?." bi Sani bertanya dengan keheranan karena melihat Tiara pulang jam 3 sore dengan taksi online biasanya Tiara akan sampai rumah setelah magrib.


"mbak Tiara sakit?." tanya Bi Sani lagi.


"Iya bi kepala saya agak pusing, mungkin tidur bisa meringankan." ujar Tiara sambil duduk di kursi meja makan.


"Minum teh hangat dulu ya mbak?." tawar bi Sani sambil menyelidik ke arah wajah Tiara yang sembab seperti habis menangis.


"Nanti saya bisa buat sendiri bi." tolak halus Tiara merasa tidak enak hati.

__ADS_1


"tidak apa-apa nanti bibi buatkan." bi Sani segera mengambil gelas lalu menyeduh teh.


"Bu Rahma kapan pulang bi?." tanya Tiara.


"Belum tahu mbak, cucunya masih di rawat jadi mungkin belum bisa pulang." jawab bi Sani sambil menyodorkan teh hangat yang siap minum.


"Terima kasih bi." Tiara menyeruput teh hangat yang dibuat bi Sani, aroma teh yang menenangkan sampai Tiara memejamkan mata untuk menikmati kenikmatannya.


"Kalau bibi boleh tahu mbak Tiara kenapa? matanya sembab?." dengan hati-hati bi Sani bertanya.


"Siapa tahu kalau bercerita bisa meringankan beban." ujar bi Sani


Tiara terdiam sambil memutar jarinya di tepi gelas.


"Tadi saya pergi dengan atasan saya bi untuk bertemu klien, tiba-tiba ada seorang ibu yang menuduh saya berselingkuh dengan atasan saya itu, katanya saya merebut calon suami orang lain." Tiara menarik napas berat kejadian tadi masih terbayang-bayang di kepalanya.


"Astaghfirullahaladzim." ucap bi Sani.


"Tapi itu semua tidak benar bi, saya saja baru bekerja di sana jadi mana mungkin saya punya hubungan dengan atasan saya itu." sangkal Tiara


"Jaman sekarang itu harus hati-hati mbak kalau mau jalan sama laki-laki apalagi kalau berdua nanti di sangka berselingkuh." nasihat bi Sani yang diangguki Tiara, Tiara baru sadar kalau ia dan bosnya memang pergi berdua walau dengan niat akan ketemu klien.


"Saya ngga tahu Bi..saya belum mendengar cerita sebenarnya tentang bos saya itu." aku Tiara yang memang belum mengenal dekat siapa Abhisatya.


"Saya istirahat dulu ya bi..mungkin tidur bisa membuat pusing saya hilang." pamit Tiara lalu berdiri. " tehnya saya bawa ke kamar ya bi..nanti saya habiskan."


"Ya mbak istirahat saja." bi Sani ikut berdiri


Setelah Tiara masuk ke kamar bi Sani pun melanjutkan pekerjaannya.


Malam menjelang membawa keresahan untuk Abhisatya, besok pagi ia akan keluar kota untuk waktu yang lama hingga ia tidak punya kesempatan untuk bertemu dengan Tiara. Tidak ada data dimana Tiara tinggal di Jakarta yang ada hanya alamat sesuai identitasnya, dan Tiara tidak mungkin pulang ke kampung halamannya.


Abhisatya pulang ke rumah ketika hari sudah malam ia mendapati Aqila sedang menonton televisi di ruang keluarga bersama Oma dan opanya.


"Anak papa sedang apa?." Abhisatya mencium kepala Aqila yang sedang serius menatap layar televisi, Aqila yang mendengar suara papanya seketika menoleh memandang wajah papanya.


"Koq papa baru pulang?." Aqila bertanya karena tak biasa papanya pulang malam. Abhisatya hanya tersenyum tak menjawab pertanyaan anaknya.


"Papa mandi dulu ya setelah itu kita tidur." ajak Abhisatya pada anaknya, Aqila hanya mengangguk-angguk.

__ADS_1


"Kamu sudah makan Bang ?." tanya mama Mona yang duduk di sebelah kursi Aqila. Mama Mona selalu memanggil Abhisatya Abang karena ia putra tertua.


"Belum ma tapi aku ngga lapar." jawab Abhisatya, sejak makan siang dengan Tiara tadi rasanya ia sudah kehilangan semua selera, selera makan, selera kerja dan selera humornya. Mama Mona merasa ada yang janggal dengan Abhisatya, karena tak biasanya Abhi terlihat lesu seperti itu.


"Ada apa Bang.. kamu sakit?." tanya mama Mona menelisik ke dalam raut wajah sang anak.


"Koq kamu kayak lemes gitu?." lanjut mama Mona, "kalau sakit tunda saja acara kamu keluar kota, jangan terlalu dipaksakan."


"Tidak bisa ma..skedul sudah tersusun jadi tidak bisa di tunda..lagian aku sehat hanya tadi ada masalah sedikit." ujar Abhisatya.


Mama Mona diam tapi masih menatap Abhisatya, sebagai ibu yang selalu mendampingi pasti mengerti ada yang dipikirkan oleh anaknya.


"Mama bisa bantu?." tanya mama Mona "katakan kalau butuh bantuan mama dan papa." lanjutnya


Abhisatya tampak menimbang, selama ini mama papanya yang selalu ada apalagi setelah istrinya meninggal hanya mama tempat ia berkeluh kesah. Mama Mona sosok yang selalu terbuka pada siapa pun, ia akan selalu berusaha ada untuk anak-anaknya.


"Aku mandi dulu ma..setelah Aqila tidur nanti kita bicara." tunda Abhisatya yang segera melangkah ke kamarnya, Aqila sendiri sudah mulai memejam mata di sofa tempat ia nonton televisi. Mama Mona masih mengelus betis cucunya yang mulai masuk ke alam mimpi, mama Mona tersenyum melihat Aqila yang tenang damai tidur di ujung sofa.


Setelah memindahkan Aqila ke kamar tidur Abhisatya menemui mama yang masih duduk di depan televisi, papanya masih rebahan di kursi malas di sebelah mamanya.


"Ma?." Abhisatya duduk di sofa tempat Aqila tidur tadi.


"Ada apa Bang? ada masalah serius?." tanya mama sambil meletakkan kacamata bacanya.


"Aku tak tahu ini serius atau bukan, tapi lumayan membuatku hari ini kacau balau." ujar Abhisatya dengan nada putus asa.


Mama Mona mengeryitkan alisnya.


"Aku bertemu nenek Aqila dan dia memaksaku untuk mempercepat pertunangan dengan Femi."


Mama Mona terkejut


"Tapi aku menolak karena aku sudah punya calon pilihanku sendiri."


Ucapan yang membuat mama Mona dan papa Budiman saling pandang.


Bersambung


Like, vote dan komen ya readers..❤️😍

__ADS_1


__ADS_2