
Mei memasuki kamar Angel. Memeriksa suhu tubuh putri majikannya dengan hati-hati. Khawatir membuat gadis imut itu terbangun dari tidur pulasnya.
"Syukurlah, demamnya sudah reda!" gumam Mei pada diri sendiri.
Dia merebahkan tubuhnya ke samping pembaringan Angel. Mengusap lembut kening anak asuhnya yang penuh keringat meskipun pendingin ruangan dalam kondisi menyala.
"Mama..."
Mei membalikkan tubuhnya menghadap Angel.
"Mama, peluk Angel!"
Hati Mei merapuh sambil memeluk erat Angel yang tampak sedang mengigau.
Angel, kenapa hati ini menghangat ketika kamu memanggilku Mama? Apakah tanpa sadar aku berharap kamu benar-benar jadi anakku? Bolehkah? Bolehkah aku berangan-angan? Tapi... Tapi apakah papamu itu mencintaiku? Atau, hanya menyukaiku saja dan rasa sukanya menguap begitu saja setelah kami melakukan hubungan intim di malam itu? Ah, Ryo! Kenapa kau buat hatiku menggalau seperti ini?
............
Hari berlalu dan masa pun berganti.
Angel sudah sembuh dan sudah kembali sehat selerti biasa.
Kehidupan Mei, Angel serta Ryo kembali normal. Ryo yang super sibuk dengan pekerjaannya sebagai CEO PT. Kobane Kinba Co, seperti biasa pergi pagi pulang malam.
Hanya mengontrol Angel dan menanyakan keadaan putrinya lewat video call ponsel saja. Sehingga Mei cukup nyaman karena tidak perlu menjaga sikapnya karena debaran jantung yang tak karuan bila dihadapan Ryo.
Sepertinya Ryo memang tak menyukainya, apalagi jatuh cinta pada Mei yang hanya perempuan biasa.
Mei semakin protektif menjaga Angel. Dia takut kejadian sakitnya Angel terulang kembali dan membuat dirinya takut setengah mati terjadi sesuatu pada anak asuhnya itu.
"Mama! Kenapa sih Mama sekarang seperti Papa? Ini tidak boleh, itu tidak boleh! Lantas Angel harus apa? Huh!"
Mei tersenyum mendapati protes Angel yang manis sekali.
"Sayang, kamu tidak boleh terlalu capek bermain. Nanti kondisi fisik Angel drop lagi seperti hari minggu lalu. Maaf,..."
"Mama... Angel tidak apa-apa. Angel sehat dan kuat! Nih, nih... Mama lihat sendiri tubuhku!"
Angel mengangkat kedua lengannya. Mengibas-ngibaskan jemarinya ingin menunjukkan pada Mei betapa sehat dan semangatnya Angel melanjutkan permainan kejar-kejaran bersama teman-teman sekolahnya di jam istirahat.
Mei tertawa melihat tingkah lucu Angel.
"Baiklah. Tapi tidak boleh terlalu lama cukup sepuluh menit saja. Setelah itu, kalian bermain susun kayu balok ini saja. Siapa yang cepat selesai, akan diberi hadiah. Bagaimana, setuju?"
"Wah, asyiiik!"
"Yeeeay, oke Mama Angel!"
__ADS_1
Para gadis cilik itu bersorak kegirangan mendengar ucapan Mei. Mereka pun menurut. Hanya berkejaran sekali putaran, kemudian duduk manis dengan puzzle balok kayunya sambil tertawa riang.
Tiba-tiba segerombongan anak laki-laki menghampiri Angel dan teman-teman perempuannya.
"Angel, apa benar itu Mamamu?" tanya salah seorang yang kemungkinan adalah ketua genk perusuh itu.
"Iya!" jawab Angel tegas.
"Bohong! Mama kamu khan sudah meninggal dunia!"
"Mama Mei akan menikah dengan Papa Ryo! Jadi, Mama Mei otomatis adalah Mama Angel!"
"Oh begitu! Kapan nikahnya? Koq belum sebar undangan?"
Mei hanya menyimak obrolan lucu para bocah itu.
"Kamu tidak akan Angel undang!"
"Hyaaa... Hahaha, Akari sedih, tidak Angel undang ke pernikahan Papa Mama Angel. Akari pasti nangis nih setelah ini! Hahaha..."
Para anak cewek tertawa terbahak-bahak menggoda Akari, anak cowok yang sering menjahili Angel.
"Ah, kamu pasti bohong! Lalu mengarang cerita kalau kamu mau Mama!"
"Angel tidak bohong! Angel tidak bohong! Hik hik hiks..."
"Halo, ada apa ini?" tanya Mei pura-pura baru datang dan tidak tahu ada keributan.
"Memangnya kenapa? Apakah kamu boleh meledek dan menjahili Angel terus hanya karena Mamanya Angel sudah meninggal dunia? Bagaimana kalau tiba-tiba Mamamu meninggal hari ini dan kamu jadi anak piatu, apakah kamu masih akan berani meledek Angel?"
Bocah bernama Akari itu termangu mendengar perkataan Mei.
"Aku, aku..."
"Tidak boleh seperti itu, ya Anak Tampan! Mama adalah perempuan berhati malaikat yang telah melahirkan kita. Mama tidak akan pernah tergantikan sampai kapanpun itu. Jangan ganggu Angel lagi dengan meledeknya seperti itu. Karena Tante tidak akan tinggal diam, Akari San!"
"Maaf! Aku, suka meledek Angel karena ingin berteman. Jadi, kalau nanti Tante menikah dengan Papanya Angel, undang aku ya?"
Mei nyaris tergelak. Ia menoleh pada Angel dan bertanya, "Bagaimana Angel, apa Akari akan kita undang?"
"Boleh. Asalkan Akari janji tidak akan jahat lagi sama Angel!"
"Bagaimana Akari? Apa kamu mau berjanji?"
"Iya. Saya janji, tidak akan nakal lagi dan meledek Angel!"
"Deal ya? Berarti kalian sekarang adalah teman!"
__ADS_1
Angel terlihat sangat senang karena Akari dan teman-teman cowok lainnya mengulurkan tangan tanda pertemanan.
"Terima kasih, Mama! I love you! Muacht!" bisik Angel di telinga kanan Mei sembari melayangkan kecupan di pipi Mei.
Hati Mei menghangat mendapati perhatian gadis kecil itu.
Angel, bagaimana bisa kamu semanis ini? Kamu benar-benar 'angel'. Malaikat cantik yang tak bersayap.
Pulang sekolah Angel menelpon Ryo seperti biasa. Mereka berinteraksi lewat video call.
Mei hanya mengamati dari tempat yang agak jauh sengaja tak terlihat oleh mata Ryo.
Angel antusias sekali menceritakan harinya di sekolah tadi pada Sang Papa. Ia juga menggambarkan ke-heroik-an Mei yang menjadi Dewi Pelindung dari kejahatan teman-teman cowok yang awalnya mengganggu tapi jadi teman itu.
"Papa, Papa... Mama itu benar-benar keren! Papa... Kapan Papa dan Mama akan menikah? Kapan Papa melamar Mama dan mengucap janji suci pernikahan di altar seperti Mama Lovely?"
Pertanyaan Angel diakhir kisah membuat Mei terbatuk-batuk. Sementara Ryo langsung memerah wajahnya mendapati serangan pertanyaan mendadak dari sang putri.
"Angel! Papa mau rapat dulu, ya? Nanti kita bicarakan lagi di rumah! Oke? Bye my baby Angel! See you next time! Muacht!"
Angel hanya termangu dengan bibir mencucut cemberut karena sang Papa mematikan panggilan video call-nya.
"Mama...!"
"Ya, Angel?"
"Bisakah Mama membujuk Papa untuk menikahi Mama?"
Terang saja Mei terkejut pada permintaan polos Angel.
"Aih? Mana boleh seperti itu?"
"Kenapa?"
"Hehehe... Papa harus memiliki pendirian dan keinginan sendiri untuk menikah. Tidak boleh ada paksaan, Angel Sayang!"
"Jadi, Papa sendiri yang harus melamar Mama?"
"Iya."
Raut wajah Angel terlihat sedih. Mei sebenarnya tak tega, tetapi ia tak ingin memberi harapan palsu jika berbohong demi menyenangkan hati Angelica.
"Apakah...keinginan Angel punya Mama tidak akan kesampaian?" gumam Angel sedih.
Mei hanya bisa memeluk tubuh mungil Angel sembari mengecup keningnya.
"Suatu saat nanti, Angel akan punya Mama dan bahagia bersama Papa Mama!" kata Mei memberi semangat pada Angel.
__ADS_1
Pelukan hangat Mei membuat harapan Angel semakin besar, menjadikan Mei sebagai Mamanya.
...🍀BERSAMBUNG🍀...