
"Mei!"
"Ryo?"
Mei terkejut ketika Ryo pulang ke rumah dengan seorang pria.
"Kak Wanabe?"
"Mei? Mei Nagano? Kamu...tinggal di sini rupanya!"
Kini Ryo yang terkejut karena Mei dan Wanabe Takeshi saling kenal rupanya.
"Kalian...saling mengenal?"
"Kak Wanabe adalah putra teman mendiang Papaku. Dan kami...sempat akrab di masa kecil." Ujar Mei membuat Ryo tertegun.
"Mei ini adalah istriku di masa kecil!" tambah Wanabe semakin membuat Ryo terbengong-bengong.
"Hahaha itu candaan masa lalu! Ketika kita masih kecil seusia Angel!" tawa Mei menggema diikuti tawa Wanabe.
Pria yang tadi terlihat dingin itu seolah gunung Everest yang mencair setelah bertemu Mei. Sungguh perempuan yang luar biasa kharismanya! Gumam Ryo dalam hati.
"Apakah kalian rekan kerja?" tanya Mei ingin tahu.
Wanabe mengangkat bahu seraya menoleh ke arah Ryo yang sedang melamun.
"Aku...adalah pendonor sumsum tulang belakang putri Tuan Ryo Yoshizawa!"
Mei menatap Ryo. Membuat duda CEO itu menundukkan kepalanya pura-pura acuh tak acuh pada Mei.
"Ryo! Apakah...Angel akan masuk ruang operasi segera?" tanya Mei dengan berbisik sembari menarik pergelangan tangan Ryo. Menjauh dari Wanabe.
Ryo mengangguk.
"Angel harus sembuh!" jawabnya singkat.
"Tentu! Tapi apakah operasi ini tidak beresiko dengan usia Angel yang belum genap tujuh tahun?" tanya Mei lagi.
"Aku sudah konsultasi dengan dokter pribadi Angel, Mei!"
"Tapi setahuku operasi sumsum tulang belakang cukup beresiko dilakukan pada anak usia di bawah tujuh tahun. Bisa membuat,"
"Mama! Mama lihat lukisanku!" Tiba-tiba Angel keluar dari ruang tengah tempatnya belajar dan melukis.
"Ah, bagusnya!" kata Mei menjawab Angel.
Wanabe menatap Angel. Begitu pun sebaliknya.
Keduanya seolah memiliki daya magnet sehingga sama-sama melangkah mendekat.
"Matamu indah, Nona Kawaii!" gumam Wanabe seraya membungkukkan tubuhnya mendekat ke wajah Angel.
Angel yang biasanya tidak terlalu suka dengan orang yang baru dikenal, entah mengapa ingin menyentuh pipi Wanabe.
Ya Dewa! Ada apa dengan Angel? Mengapa dia seolah memiliki firasat kalau pria dihadapannya itu adalah Papa kandungnya?
Ryo menelan ludah. Butiran keringat menetes keluar dari pori-pori kulit pelipisnya. Ia gugup juga cemas. Angel sangat tertarik memegang pipi dan hidung Wanabe Takeshi.
"Siapa Tuan ini?" tanya Angel penasaran.
__ADS_1
Ryo langsung menggendong Angel sehingga tidak sempat jemari mungilnya mengelus pipi Wanabe.
"Tuan Wanabe adalah teman baru Papa, Angel!" jelas Ryo membuat Angel mengangguk.
"Apakah Tuan Wanabe akan tinggal di sini?" tanya Angel lagi.
"Tidak. Beliau akan tinggal di tempat lain!"
"Kenapa tidak disini saja?" usul Angel membuat Ryo panik.
"Betul itu. Rumah ini besar. Dan banyak kamar yang kosong. Lebih baik Kak Wanabe tinggal di sini untuk sementara!" Mei seakan ikut campur membuat mata Ryo mendelik padanya.
"Tidak, Sayang! Tuan Wanabe punya pekerjaan dan tempatnya bekerja cukup jauh dari sini!" tolak Ryo. Ia sangat khawatir jika Wanabe tinggal bersama mereka. Ada dua hati yang harus ia jaga agar tidak mengetahui silsilah darah Angel dengan Wanabe.
Wanabe menatap ke sekeliling.
Ia merasa familiar dengan dekorasi dan style rumah yang memang di desain oleh mendiang Felicia sebelum wafat.
Ryo bersyukur, foto-foto Felicia tidak pernah ia pajang di ruangan rumah besarnya. Sewaktu bayi Angel selalu menangis setiap melihat foto diri Mamanya. Jadi Ryo berinisiatif menurunkan semua figura foto Felicia.
"Silakan duduk, Tuan Wanabe!" kata Ryo mengalihkan obrolan tentang dimana baiknya Wanabe tinggal.
"Terima kasih!"
"Mei! Tolong bawa Angel ke kamarnya! Kami ingin berbicara empat mata!"
"Baik, Boss!" jawab Mei membuat Angel bersungut.
"Papa, jangan panggil Boss, Mama!"
"Hahaha... Iya sayang! Papa, bukan Boss!"
"Apakah kalian sepasang suami istri?" tanya Wanabe setelah Mei dan Angel pergi.
Ryo menatap Wanabe. Tak berani menjawab.
Ia biarkan pertanyaan pria dihadapannya itu menjadi mengambang. Pertanyaan tanpa jawaban. Dan Ryo segera mengalihkan perhatian Wanabe dengan membicarakan hal yang lebih serius yaitu waktu operasi yang telah dokter tentukan tadi.
Wanabe baru saja datang, tetapi sudah di ajak bicara soal bedah dan rumah sakit. Membuat kepalanya jadi pusing.
"Bolehkah aku istirahat sejenak di sini?"
Ryo tercekat. Wanabe sepertinya agak pucat. Ryo takut pria itu jadi sakit dan proses operasi pengobatan Angel menjadi molor lebih lama.
Ryo ingin segera membawa Angel pergi jauh. Membuka usaha baru setelah putrinya selesai operasi dan perusahaan diambil alih keluarga besar Felicia.
Baginya yang terpenting adalah Angel sembuh dan hidup normal seperti anak-anak lain pada umumnya.
Ia sudah memikirkan untuk memulai hidup baru. Walau masih bingung, apakah Mei akan mau menjadi pendamping hidupnya jika tanpa perusahaan dan mereka hanya hidup seadanya.
"Mei!... Mei!"
"Ada apa?" Mei datang menghampiri Ryo dan Wanabe.
"Boleh aku pinjam kamarmu sebentar untuk Tuan Wanabe istirahat?"
Mei mengeryitkan dahi.
Bukankah ada kamar tamu? Kenapa harus kamarku? Mei menggumam dalam hati.
__ADS_1
"Untuk beberapa jam saja. Karena setelah Tuan Wanabe istirahat, aku akan membawanya kembali ke rumah sakit untuk prosedur general check up kesehatan beliau!"
"Baiklah!"
Mei akhirnya mengikuti perintah tuannya. Ryo pasti lebih tahu langkah yang paling tepat untuk putri kecil yang begitu dicintainya.
"Kak Wanabe, silakan!" kata Mei sembari memberikan jalan untuk Wanabe ke kamarnya.
Mei kembali ke ruang bermain menemani Angel.
"Mama...!"
"Iya, Angel?"
"Siapa Tuan itu? Kenapa jantung Angel berdebar ketika mata kami saling bertatapan tadi?"
Mei bingung dengan ucapan Angel.
Mungkinkah Angel ada firasat kalau dirinya akan segera di operasi? Begitu tebakan di hati Mei.
"Angel! Papa ingin sekali Angel sehat. Makanya Ia rela melakukan apapun demi kesembuhanmu. Percayalah, Papa tidak akan pernah mengecewakanmu, Nak!"
"Angel tahu, Ma! Tapi Tuan itu...seperti orang yang Angel lihat dalam mimpi!"
"Iyakah?"
"Ya. Dan Angel memarahinya dalam mimpi!"
Mei tersenyum. Mengelus pipi mulus Angel yang menatapnya lekat.
"Itu hanya mimpi, Sayang. Mimpi adalah kembang tidur. Jangan dirisaukan! Ayo, kita menyusun puzzle lagi!"
Angel mengikuti arahan 'Mama'nya.
"Mama!"
"Ya? Apakah Angel sebentar lagi akan mati?"
"Nooo! Kamu akan sehat. Percayalah, Dewa sangat menyayangimu! Dia ingin Angel hidup bahkan sampai seribu tahun lagi. Hehehe..."
"Hehehe... Selama itu. Seperti mummi dong ya?!"
"Hehehe... Itu pribahasa, Sayang! Tidak ada manusia yang berumur sepanjang itu. Tapi kebaikan dan cinta tulus hatimu akan terus hidup walau sampai akhir masa!"
"Mama!"
"Ya, Angel?"
"Angel ingin Mama dan Papa menikah. Memakai gaun pengantin putih yang cantik di butik Nona Kintamani. Angel ingin jadi peri pengiringnya!"
"Hehehe..."
Mei tak berani menjawab. Karena ia takut kalau semua itu cuma khayalan semata.
Ryo terkadang seperti ingin bersamanya. Namun tiba-tiba pria itu juga jadi dingin kepadanya dalam waktu bersamaan.
Mei tak dapat mengerti diri dan juga perasaan Ryo terhadapnya.
...🍀BERSAMBUNG🍀...
__ADS_1