
Mei memasuki gedung sekolah SMAnya. Ingatannya kembali terkenang pada tujuh tahun yang silam.
Ia menatap pohon ek yang masih berdiri kokoh di samping gedung sekolah.
Dulu, setiap jam istirahat, Mei selalu membuka bento dan makan bersama Yamaken.
Yamaken... Apa kabarmu sekarang? Untungnya bukan reuni akbar tetapi hanya reuni satu kelas saja, sehingga aku tidak perlu bertemu denganmu lagi.
Mei mengenang kembali cinta manisnya bersama Yamaken.
Cinta monyet ala anak sekolahan.
Yang polos dan tulus tanpa harus kontak fisik seperti berpegangan tangan apalagi berciuman.
Cinta mereka belum sampai ke taraf itu. Baru menjelang 100 hari.
Mei ingat, sehari sebelum kejadian, ia dan Naumi pergi ke toko cinderamata untuk membeli hadiah kenang-kenangan hari jadi mereka yang ke-seratus.
Sebuah gelang kulit yang keren jika melingkar di tangan Yamaken, begitu fikir Mei. Menjadi pilihannya sebagai hadiah.
"Meiii!!!"
Suara pekikan Naumi memanggil namanya membuat Mei menoleh.
Seorang gadis cantik dengan pakaian kekinian melambaikan tangannya pada Mei dan mereka cipika cipiki saling melepas rindu.
"Kukira kamu bergurau ketika mengatakan akan ikut hadir acara reuni tahun ini!" serunya membuat Mei tertawa.
"Iya. Butuh waktu lama untukku turut hadir di reuni kali ini! Hehehe..."
"Beberapa teman sudah datang. Mereka sedang rendevous di kantin. Seperti biasa, jajanan sekolah adalah hal yang paling dirindukan ketika kita sudah dewasa."
"Hahaha, betul betul Nau! Aku pun kangen dengan menu makan siang yang biasa disediakan ibu kantin setiap hari senin."
Mei dan Naumi tampak asyik bercengkerama mengenang masa sekolah.
Tiba-tiba,
"Mei!"
Seseorang menyebut nama Mei. Suaranya, terasa tidak asing di telinga Mei. Dan ketika ia menoleh,
"Yama_ken!?"
Mei terkejut melihat sosok yang dulu sering membuat jantungnya berdebar kencang disaat mereka sedang duduk berduaan.
"Apa kabarmu, Mei? Lama kita tak berjumpa!"
Lidah Mei terasa kelu. Bibirnya bergetar dan kerongkongannya seperti sulit mengeluarkan suara.
"Mei!"
__ADS_1
Naumi menyikut lengan Mei.
"Ah, iya. Kabarku baik! Bagaimana kabarm, Ken?"
Akhirnya Mei bisa juga menjawab pertanyaan basa-basi Yamaken setelah bisa menguasai kembali kesadarannya.
"Mei!... Kamu tambah cantik!" puji Yamaken membuat Mei tersipu dan Naumi terkikik.
"Hei, sepertinya kalian ingin mengobrol berduaan saja. Aku pergi duluan ya ke kantin?" sela Naumi membuat Mei menghela nafas.
"Naumi, tunggu!"
Namun Naumi sudah melesat berjalan cepat meninggalkan Mei dan Yamaken.
Mei kikuk karena ini pertemuan pertama mereka kembali setelah kejadian ter-gepnya Yamaken berduaan dengan Tao.
"Ada sesuatu yang ingin sekali aku sampaikan. Aku, setiap tahun menunggu momen reuni kelasmu untuk bertemu kamu, Mei!"
Ucapan Yamaken membuat Mei melongo.
"Kamu salah faham padaku dan Tao, Mei!"
Mei hanya diam, tak menjawab.
"Mei?!"
"Aku mendengarmu, Ken! Sudahlah, itu hanyalah cinta monyet cintanya anak ingusan! Hehehe... Aku minta maaf, kalau dulu sangat kekanak-kanakan!"
"Aku yang harusnya minta maaf padamu! Aku, tidak berani jujur soal keluargaku padamu, Mei!"
Dulu, Mei hanya kagum pada Yamaken. Cowok idola sekolahnya. Yamaken ketua SEITOKAI. Kurang lebih sama seperti OSIS. Dia pemegang sabuk hitam taekwondo dan juga kapten tim basket sekolah mereka.
Semua gadis meng'elu-elukan Yamaken.
Benar-benar cowok idaman.
Siapa yang tak bangga dan bahagia jika mendapatkan pengakuan cinta dari seorang Yamaken. Mei adalah gadis paling beruntung kala itu.
Mei yang biasa saja. Tidak punya kelebihan apapun selain murid yang tak punya catatan buruk saja.
Mei memang punya banyak teman, tetapi ia termasuk kriteria anak pemalu dan tak suka tampil mencolok diantara teman lainnya.
Sejak Yamaken mengajaknya pacaran, Mei langsung terkenal seantero sekolah. Bahkan di hari pertama pengakuan cinta Yamaken, genk Tanaka langsung mendatangi dan menanyakan keistimewaan yang Mei punya sehingga Yamaken bisa jatuh hati padanya.
"Mei!"
Mei terkesiap. Tangan Yamaken menyentuh jemarinya.
Mata Mei langsung tertuju pada gelang kulit hadiahnya tujuh tahun lalu. Gelang yang sudah usang bahkan sisinya sudah mulai terkelupas kulit arinya.
"Ini...?!" gumam Mei sembari menyentuh gelang yang dipakai Yamaken.
"Hadiah pemberianmu seratus hari jadi kita!" tambah Yamaken membuat Mei membisu.
__ADS_1
"Mei..." kata Yamaken lagi.
"Aku tidak menyangka, kamu akan sangat suka dengan gelang murah ini!"
"Ini adalah hadiah istimewa darimu. Kamu ingat? Aku pernah menyimpan permen lolipop darimu selama seminggu dan kusimpan di tas sekolah. Aku suka menyimpan hadiah dari orang-orang yang kusayang!"
Mei tersekat.
Orang-orang yang kusayang? Apakah aku adalah orang yang ia sayang? Apakah itu benar?
"Mei!... Apa kamu tahu alasan aku menembakmu dan ingin kau jadi pacarku?"
Mei menggelengkan kepalanya. Ia tidak tahu dan tidak pernah tahu alasan Yamaken.
Terkadang Mei sendiri bertanya-tanya, mengapa Yamaken menembaknya padahal banyak gadis lain yang lebih cantik dan populer dibanding dirinya.
"Kamu ingat peristiwa naas Hallowen tahun 1997 di pusat Tokyo?"
"Maksudmu... Robohnya jembatan gantung taman kota sampai memakan korban jiwa 34 anak meninggal dunia? Itu... Itu kejadian yang aku alami juga, Ken! Aku ada disana pada saat kejadian!"
"Aku pun, Mei!"
"Ada apa dengan peristiwa itu?"
"Aku, selamat dari kejadian maut karena seorang gadis salah menuntun tangan temannya. Dia, malah menuntunku dan menarik kearah lain, bukan menuju jembatan. Saat itu aku berteriak kesal tapi tiba-tiba terdengar suara jeritan orang-orang dan ternyata jembatan gantung putus tali pengamannya."
Deg.
Mei kembali teringat masa sekolah SMPnya kala itu. Ia pernah salah menggenggam tangan seseorang ketika malam perayaan Hallowen di taman Kota Tokyo di wilayah jembatan gantung.
Jadi, anak lelaki yang kutarik tangannya adalah Yamaken?
Mei menggigit bibir bawahnya.
"Jadi, kamu..."
"Akulah cowok yang tangannya kau genggam hingga terselamatkan dari kecelakaan maut putusnya jembatan yang memakan korban beberapa orang teman SMP-ku!"
Mei menatap bola mata Yamaken.
"Kamu, adalah penyelamat hidupku, Mei!"
"Tapi itu hanya kebetulan."
"Ya. Dan sejak saat itu, aku berusaha mencari-cari keberadaan gadis kecil penolong hidupku. Ternyata, gadis itu satu sekolah SMA denganku. Setelah berhasil menemukan sang gadis penolong itu, aku mengamatinya hampir setiap hari. Gadis sederhana yang tak banyak gaya. Dia baik hati dan murah senyum pada siapa saja walaupun agak pemalu. Gadis itu membuatku perlahan jatuh cinta padanya. Makanya aku beranikan diri menembaknya. Dan itu adalah pertama kalinya aku jatuh cinta."
Mei menelan salivanya. Tertegun mendengar cerita Yamaken.
"Kau tahu, Mei? Aku adalah cowok populer di SMA. Tapi aku belum pernah jatuh cinta dan pacaran. Makanya aku pura-pura cool dihadapanmu agar teman-temanku tidak meledek mengatakan aku budak cinta mu. Makanya kamu melihat aku seperti setengah hati mencintaimu. Dan masalah obrolan ngasalku dengan Tao, kamu salah faham. Tao adalah saudara tiriku. Kami memang menutupi pernikahan Papanya dengan Mamaku. Kami tidak ingin teman satu sekolah mengetahui dan menjadikan keluarga kami bahan candaan. Aku dan Tao tidak ada hubungan apapun, Mei! Bahkan Tao kini sudah menikah dan tinggal di Nagoya."
Mei menundukkan kepala. Hatinya berdenyut sakit. Menyalahkan diri sendiri karena terlalu cepat mengambil keputusan pada saat itu.
Ya Dewa! Bagaimana mungkin aku bisa salah menilai Yamaken dan Tao? Hampir saja aku mati bunuh diri jika Ryo tidak datang menolongku! Ryo... Ryo Yoshizawa. Mengapa kisah hidupku jadi seperti ini? Oh Dewa Yang Maha Agung! Lantas siapa yang bersalah dalam kasusku ini?
__ADS_1
...🍀BERSAMBUNG🍀...