DUDA CEO YANG MERESAHKAN

DUDA CEO YANG MERESAHKAN
BAB 18 (MENUJU MEJA OPERASI)


__ADS_3

Wanabe Takeshi tidur satu jam lebih di kamar Mei atas anjuran Ryo.


Pukul lima sore ia keluar kamar dengan wajah lebih segar.


"Saya berterima kasih karena diperbolehkan tidur di kamarmu, Mei!" kata Wanabe pada Mei. Ryo hanya memperhatikan saja interaksi keduanya.


"Sama-sama! Aku senang Kak Wanabe akan menjadi pendonor sumsum tulang belakang untuk Angel!"


"Apa putrimu sudah sejak lahir menderita leukimia?"


"Ya."


"Sangat disayangkan. Hhh... Aku teringat pada almahum Ayah yang juga meninggal di malam festival kembang api sepuluh tahun lalu. Apa kamu ingat, Mei?"


"Iya. Aku sangat ingat. Kala itu, aku baru tamat SMP!"


Mei dan Wanabe mengobrol mengenang masa lalu. Angel masih tidur di kamarnya.


"Aku...turut berduka cita atas wafatnya Papa dan Mamamu juga. Umur tiada yang tahu. Papaku juga leukimia sama seperti Angel putrimu. Mama dan Papamu meninggal karena kecelakaan. Hhh..."


"Ya. Sudahlah. Mereka sudah tenang di surga!"


"Papa Tuan Wanabe juga Leukimia?" tanya Ryo ikut nimbrung pembicaraan.


"Ya. Betul!"


"Berarti memang ada faktor genetik yang memicu turunnya penyakit itu pada Angel!" seru Ryo hampir salah bicara.


"Maksudnya?" tanya Wanabe bingung.


"Tidak tidak. Saya tadi hanya sedang merenung. Kemungkinan Angel pun membawa sel abnormal dari genetik keturunan keluarga."


"Entahlah. Apakah penyakit kanker itu bisa disebut juga penyakit keturunan! Yang saya tahu, faktor lingkungan yang buruk dan paparan zat kimia juga salah satu penyebabnya!" tutur Wanabe yang ternyata mengetahui seluk beluk kesehatan.


Tetapi kenapa rumahnya tadi begitu kotor penuh debu bekas serutan kayu dan dibiarkan berserakan.


"Sudahlah, Ryo! Jangan salahkan keturunan nenek moyang kalian. Yang penting Angel sehat dan bisa tumbuh besar dan berkembang seperti anak lain!"


"Mei! Sejak kapan kamu menikah dengan Tuan Ryo?"


"Uhuk uhuk uhuk!"

__ADS_1


Mei tersedak air ludahnya sendiri.


Ryo segera menarik bahu Mei dan merangkulnya erat. Mei kikuk juga merasa aneh.


"Kami... Akan menuju jenjang pernikahan sebentar lagi!" kata Ryo membulatkan bola mata Mei yang indah.


Wanabe juga tersenyum tak mengerti.


"Jadi... Angel itu bukan anakmu khan, Mei?" tanya Wanabe.


"Angel putriku. Aku adalah seorang duda. Istriku meninggal dunia setelah melahirkan Angel!"


Wanabe ternganga. Ia tersenyum seperti ada kelegaan di hatinya.


"Sedari tadi aku berfikir keras. Kalau Angel anaknya Mei, berarti ketika Om Satori dan Tante Naomi meninggal dunia dua tahun Angel lahir. Sedangkan saat itu, Aku mendengar kabar kalau Mei sedang kuliah di bidang farmasi!"


"Mei dan aku baru akan menikah dalam waktu dekat ini!" tambah Ryo membuat Mei bungkam seribu bahasa. Hanya senyum-senyum menanggapi perkataan Wanabe dan Ryo.


"Selamat. Aku kurang cepat rupanya. Hehehe..." goda Wanabe pada Mei membuat Ryo semakin merapatkan rangkulannya di bahu Mei.


Enak saja. Setelah menghamili Felicia dan menghilang begitu saja, kau juga ingin mengencani Mei? O tidak bisa. Tidak semudah itu Tuan Wanabe! Aku akan menjegal langkahmu sebelum ide itu kau lanjutkan.


"Hehehe... Ryo, leherku sakit!" ujar Mei merasa risih dengan lingkaran tangan kokoh milik Ryo.


"Ryo hehehe... Sweetnya kamu!"


Mei terpaksa ikut ambil peran di drama yang Ryo buat secara dadakan itu.


"Mei, aku akan mengantar Tuan Wanabe ke rumah sakit untuk mengurus semua keperluan operasi. Aku pergi dulu ya, Sayang?" kata Ryo dengan mengedipkan msta pada Mei yang terlihat bingung pada perubahan diri Boss dudanya itu.


"Apa tidak menunggu waktu makan malam tiba, Ryo?"


"Tidak. Dokter Owen pasti sudah menunggu kami sejak tadi. Aku dan Tuan Wanabe pergi!"


"Baiklah! Hati-hati di jalan!"


"Mei, sampai berjumpa lagi. Setelah operasi usai, kita bisa buat janji ketemuan. Aku akan punya banyak uang dan bisa mentraktirmu belanja juga makan enak di pusat perbelanjaan kota Tokyo!"


"Hehehe... Tidak usah, Kak! Terima kasih sekali kamu mau membantu putri kami!"


Ryo senang, Mei bisa ia ajak kerja sama dengan baik. Dalam hati ia tertawa geli. Mei yang tadi kikuk kini semakin nyaman dengan gaya mesra yang Ryo perankan.

__ADS_1


"Aku pergi ya Sayang!"


"Iya, Sayang!"


Mei menggaruk-garuk kepalanya. Tidak gatal, hanya agak linglung saja.


Kenapa aku bisa mengikuti sandiwara gilanya Duda CEO Yang Meresahkan itu ya? Dasar orang aneh! Mungkin dia khawatir kak Wanabe benar-benar akan menanyakan status diriku yang masih jomblo!


Mei kembali masuk kamar Angel.


............


Ryo bergerak cepat demi hidup Angel.


Pembukuan perusahaan pun sudah ia kotak-katik berikut rekening pusat.


Ryo tak peduli harus mengeluarkan banyak uang demi kesembuhan Angel. Apalagi ia mencium aroma kerusuhan yang sebentar lagi akan terjadi. Yakni ributnya Paman serta Sepupu Felicia soal harta perusahaan.


Mereka bersikukuh ingin menguasai warisan keluarga Felicia yang katanya adalah hak mereka.


Ryo tak lagi ambil pusing.


Ambil semuanya. Asalkan Angel telah selesai dioperasi dan dinyatakan sembuh total oleh dokter spesialis bedah yang merawat Angel selama ini.


Wanabe tinggal di kamar sewa dekat rumah sakit sehingga tidak terlalu menyita banyak waktu untuk proses pengobatan dan pemulihan.


"Kapan operasi bisa dilakukan Dok?" tanya Ryo pada Dokter Owen.


"Kita tunggu hasil pemeriksaan keseluruhan Angel selesai, Ryo!"


Dokter Owen sudah seperti keluarga bagi Ryo dan Angel. Bahkan Dokter Owen menganggap Ryo seperti putranya sendiri.


"Besok bawa Angel untuk general check up! Usahakan kondisinya dalam keadaan sehat sehingga operasi bisa segera dilaksanakan!"


"Baik, Dok!"


"Tuan Wanabe! Saya akan menjamin biaya hidup Tuan sampai operasi selesai dan masa pemulihan pasca operasi. Tuan tidak perlu khawatir!"


"Iya."


Keduanya berpisah menuju tempat tujuan masing-masing.

__ADS_1


Ryo pulang ke rumah besarnya untuk berdiskusi dengan Angel dan juga Mei.


...🍀BERSAMBUNG🍀...


__ADS_2