DUDA CEO YANG MERESAHKAN

DUDA CEO YANG MERESAHKAN
BAB 13 (TERBUKANYA KARTU YANG SELAMA INI BUAT SALAH FAHAM)


__ADS_3

"Kenapa diam? Tumben sekali. Biasanya kau akan meradang jika kumarahi. Apa mungkin karena bertemu pujaan hati hari ini sampai kau jadi tidak mudah bertanduk melawanku!?"


Mei membelalakan matanya.


"Hei! Kenapa sih senang sekali cari ribut? Mentang-mentang kau ini CEO dan aku adalah bawahanmu lantas bisa seenak jidatmu menuduhku sembarangan?"


Mei meradang.


"Ya khan hari ini kau bertemu si Yamaken yang semakin tampan. Dan pastinya, dia juga menceritakan kesalahfahaman yang kau duga selama ini!"


"Tunggu! Kenapa aku merasa kau lebih tahu Yamaken dibandingkan aku? Ada apa antara kalian? Apa kau dan dia saling kenal? Tadi kau bilang tidak sementara dia bilang ya. Mana yang benar dan siapa yang berbohong!?"


Emosi Mei meledak membuat Ryo kelabakan juga.


"Aku tidak ingin kita ribut di depan Angel!"


"Aku juga! Tapi sindiranmu menohok hatiku, Boss! Aku memang orang rendahan tetapi aku juga punya harga diri untuk mempertahankan egoku dan menolak tuduhan asalmu! Permisi!"


Mei pergi meninggalkan Ryo dan Angel yang terbengong-bengong.


"Papa... Kenapa buat Mama marah?"


"Tidak apa-apa, Angel! Kami memang suka sekali berdebat!" elak Ryo membuat wajah Angel murung.


"Angel tak suka!" gumam Sang Putri sedih.


"Kami baik-baik saja, Sayang! Sebentar lagi Mama pasti akan kembali tenang dan balik lagi buat menemui Angel. Papa hitung sampai sepuluh, Mama pasti datang untuk mengambilmu. Mau lihat? Ayo kita bertaruh! Satu,...dua,...tiga,...empat,"


Ryo agak gugup juga. Cemas kalau-kalau Mei tidak kembali ke dapur dan tebakannya salah.


Walau Mei sayang pada Angelica tulus, dan Ryo tak berbohong soal itu. Tetapi ketika amarah menguasai jiwa gadis itu, Mei bisa melakukan hal-hal yang tak terduga.


Ryo mulai menghitung agak lambat.


"Lima..., enam,... Tu_juh,"


"Angel Sayang! Ayo kembali ke kamar! Kamu harus tidur siang setelah makan mi udon!"


Huufffh!


Ryo menghembuskan nafas kelegaan. Mei benar-benar kembali untuk memangku Angel tetapi pura-pura cuek tak hiraukan Ryo.

__ADS_1


Angel tersenyum memandangi wajah Sang Papa sambil berlalu karena dipangku Mei menuju kamarnya.


Ibu jarinya mengacung tanpa banyak kata. Angel menyukai tebakan Sang Papa.


"Mama!"


"Ya, Sayang!?"


"Apakah Mama sayang Angel?"


"Tentu. Siapapun yang mengenalmu lebih dekat, pasti akan sayang sekali padamu, Angel! Kamu benar-benar seperti angel. Manis dan tidak menyebalkan seperti Papamu!"


"Apa Mama membenci Papa?"


"Tidak juga. Bukan membenci. Hanya sebal dan kesal dengan tingkahnya yang sok cool juga dingin tak berperasaan! Hehehe... Maaf, bukan maksud Mama memprovokasi menyebar kebencian. Tapi Papamu kurang bisa bersikap baik pada orang lain. Terutama pada Mama!"


"Mama ingin Papa berubah?"


"Hm. Dia itu sedari dulu itu begitu! Dingin dan tak punya perasaan. Hehehe...! Sudahlah, jangan bahas Papa terus. Nanti dia bersin-bersin selalu kita omongin!"


"Hehehe... Iya Mama! Angel sayang Mama!"


"Mama juga sayang Angel! Ayo, waktunya bobo siang. Ini sudah pukul satu siang."


Mei tersenyum melihat sikap manis Angel padanya.


Kadang ia berfikir berulang kali, bagaimana mungkin bocah imut ini begitu manis sedangkan Papanya sangat menyebalkan luar biasa.


Mungkinkah sifat Angel menurun dari mendiang Mamanya?


Mei mengelus-elus punggung atas Angel dan bersenandung menina-bobokan anak asuhnya dengan pelan.


Perlahan Angel tertidur. Dan lelap masuk dalam alam mimpi hingga terdengar dengkuran halusnya di telinga Mei.


Mei turun dari ranjang tidur Angel. Berjinjit pelan dan keluar kamar.


Ryo rupanya sedang duduk di ruang tengah sembari menikmati kopi hitam yang masih mengepulkan asap panas.


"Aku ingin bahas soal yang tadi!" kata Mei dengan suara dingin.


"Soal apa?"

__ADS_1


"Soal kamu bisa kenal Yamaken dan tahu betul kalau aku salah faham soal tujuh tahun yang lalu. Apa...kamu membohongiku selama ini?"


"Membohongi apa? Untuk apa aku bohong? Apa pula untungnya?"


"Kamu..., membohongiku untuk bisa menarikku keatas ranjang!" jawab Mei agak tergagap.


"Apa maksudmu? Apa kau tidak ingat bagaimana kita sampai bisa naik ranjang?"


Mei menunduk. Sesekali ekor matanya melirik Ryo yang tampak cuek seolah dia tidak punya salah apa-apa.


"Kamu...kapan bertemu Yamaken dan kenapa kalian bisa saling mengenal?"


"Hm. Sepertinya kau menuduhku sebagai orang yang jahat. Padahal, yang asli jahat itu dirimu sendiri! Kau kira aku tidak mencarimu setelah malam itu? Hm... Tak apa. Anggaplah aku berbuat nista padamu, Mei!"


Ryo hendak bangkit dari duduknya, tapi Mei segera menahan dan menatap tajam mata Ryo.


"Katakan yang sebenarnya!" pintanya setengah memohon.


Ryo kembali duduk. Tangannya sibuk memutar-mutar gagang telinga cangkir kopinya yang mulai agak dingin.


"Aku...mencari ke flatmu. Memastikan kalau kamu memang hanya menganggapku teman kencan semalam saja. Tapi, kata pemilik flat kamu pindah kemarin sore. Tepatnya sehari setelah malam itu. Aku khawatir kamu masih memikirkan si Yamaken dan berbuat gila. Lalu kucoba menelusuri gedung sekolahmu. Tanya-tanya siapa itu Yamaken dan Kamu. Tapi orang lebih mengenal Yamaken karena cowok itu ternyata sangat populer di sekolahmu."


"Dia adalah ketua seitokai! Aku, cewek biasa. Tentu semua orang lebih mengenal dia ketimbang aku!"


"Ya. Karena rasa penasaranku yang tinggi, kucoba menunggunya di gerbang sekolah. Menanyakan keberadaanmu yang menghilang bak ditelan bumi. Katanya kau pindah sekolah tanpa konfirmasi dan kabar berita. Aku menyalahkan keadaanmu karena kelakuannya yang menduakan cintamu. Tapi dia tidak mengakuinya. Dan juga tidak tahu dimana keberadaanmu saat itu! Sudah. Hanya sampai disitu saja perkenalanku dengan dia. Puas?"


Mei menunduk. Kini gantian ia yang menghela nafas.


"Pagi hari setelah malam itu, aku terbangun karena suara dering ponselku. Ternyata, dari pihak kerabat yang mengabarkan kalau Papa Mamaku kena musibah kecelakaan lalu lintas."


Ryo serius menatap wajah Mei yang suram.


"Kedua orangtuaku meninggal dunia. Aku, hari itu juga terbang ke Osaka untuk mengurus jenazah mereka di rumah kakek nenek. Aku, pindah tanpa mengucapkan kalimat perpisahan termasuk pada teman-teman di sekolahku!"


"Mei..."


Ryo tampak merasa menyesal karena menuduh Mei yang bukan-bukan selama ini.


"Aku...tinggal di Osaka sekaligus mengurus Kakek Nenek yang sudah tua. Mereka butuh aku. Karena aku cucu tunggal mereka. Berkat harta peninggalan kedua orangtuaku serta tunjangan Kakek, aku bisa lanjut sekolah dan kuliah. Begitulah keadaannya. Aku sendiri tidak tahu mengapa nasib buruk seperti senang mengikuti langkah hidupku!"


Ryo dan Mei menghela nafas berbarengan. Kemudian Mei berlalu izin masuk kamar sementara Ryo hanya termenung memikirkan cerita Mei barusan.

__ADS_1


Mei... Maaf! Ternyata selama ini aku salah mengiramu. Aku...kadung menuduhmu sebagai perempuan yang hanya butuh hiburan dan tak butuh pertanggungjawaban. Maaf...


...🍀BERSAMBUNG🍀...


__ADS_2