
Ryo mengajak Angel dan Mei makan malam diluar.
Sebelum menyampaikan maksud tujuannya pada Angel, Ryo ingin menyenangkan serta menenangkan hati dan perasaan buah hatinya itu.
"Papa...lihat, lampu jalanan itu sangat indah! Mama, tengok! Toko makanan itu ramai sekali! Wuaah... Lihat, lihat, bagus-bagus tanaman yang dihiasi lampu warna-warni itu!"
Angel begitu senang. Duduk diapit Ryo serta Mei di dalam mobil.
Sudah lama memang Ryo tak pernah membawa Angel keluar di malam hari. Ryo takut terjadi sesuatu jika mereka melewatkan malam di luar meskipun hanya sebentar.
Tapi kali ini, pengecualian.
Karena Angel akan masuk ruang operasi. Pendonornya sudah berhasil Ryo dapatkan. Yaitu Papa kandung Angel sendiri.
Mereka makan malam di restoran mewah. Mata Angel juga Mei tak berkedip terpukau pada keindahan artistik dekorasi restoran yang dipilih Ryo malam ini.
"Kawaii!"
"Ada acara apa, Pa? Ulang tahun Mama? Tapi... Belum masuk bulan Mei. Masih ada beberapa hari lagi!"
"Bukan, Angel Sayang! Papa... Ingin sengaja mengajak kalian makan di sini. Ada yang ingin Papa katakan pada Angel!"
"Apa itu, Pa?"
"Angel! Dokter Owen sudah menemukan pendonor yang tepat buat Angel. Besok, Angel diminta beliau untuk general check up. Mau ya?"
Angel menatap wajah sang Papa.
"Angel...bisa sembuh, Papa?"
"Tentu! Kamu akan sehat dan panjang umur!"
"Bisa bersama Papa dan Mama terus?"
"Iya!" timpal Mei turut bicara.
"Papa! Mama... Bolehkah Angel memohon dikabulkan satu permintaannya?"
"Apa?" Ryo dan Mei menjawab berbarengan.
"Sebelum Angel dioperasi, Angel ingin melihat Mama dan Papa memakai pakaian pengantin dan berjalan di altar suci melakukan pemberkatan pernikahan!"
Mei dan Ryo saling pandang.
"Apa... Mama mau menikah dengan Papa?" tanya Ryo pada Angel.
"Papa bisa tanya sendiri pada Mama!"
"Apa Papa mencintai tulus Mama?" Kini Mei yang bertanya pada Angel.
"Mama bisa tanya sendiri pada Papa!"
Angel mengambil satu tangan Ryo dan satu tangan Mei. Lalu menyatukan dua tangan itu hingga saling menggenggam satu sama lain.
"Please...! Angel ingin kalian menikah!"
"Angel!... Papa takut membuat Mama kecewa! Papa takut tidak bisa membahagiakan Mama!" gumam Ryo membuat Mei meradang.
__ADS_1
"Kenapa hidupmu penuh dengan ketakutan? Apakah selama ini aku makan daging manusia? Suka menggigit dan memangsa makhluk hidup? Kenapa kesannya aku ini sangat menyeramkan di matamu, Ryo?" kata Mei emosi jiwa.
"Bukan begitu, Mei! Kamu... Terlalu indah untukku yang penuh dengan banyak cerita. Kamu tidak tahu siapa aku!"
"Betul. Aku tidak tahu siapa kamu. Bahkan aku sangat bodoh, bisa begitu mudahnya terbuai rayuanmu hingga melepaskan mahkotaku begitu saja tanpa ragu. Aku... Terpesona oleh kebaikan hatimu. Tapi kamu selalu salah menilaiku! Aku ingin pulang!"
Mei terisak menangis sedih mengingat dirinya yang begitu lemah.
Ryo merangkul bahu Mei dan memeluknya erat.
"Maafkan aku, Mei! Maafkan semua kesalahanku padamu! Aku ini pria jahat. Maaf! Tapi aku mencintaimu. Benar-benar jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama. Kamu mungkin menganggapku sedang merayu. Tapi itu benar. Makanya aku berusaha membuat memori baru diingatanmu yaitu dengan kebersamaan kita yang indah di malam itu. Pagi hari aku terbangun dengan wajah merah menahan malu. Aku takut, kamu marah dan mencampakkan aku. Seperti kedua orangtuaku yang pergi dan tak ingin membawaku serta. Aku... Diselimuti rasa ketakutan yang besar sehingga hanya berani menuliskan memo dan nomor ponselku agar kamu mau menghubungiku lagi!"
"Ryo! Hik hik hiks..."
"Aku tidak percaya diri pada saat itu, Mei!"
"Ryo...! Ryo aku bangun dan menangis karena tidak menemukan dirimu lagi! Hik hik hiks... Orangtuaku meninggal dunia dan aku harus tinggalkan Tokyo segera. Aku... Hanya bisa mengingatmu dalam kenangan indah saat kita bersama!"
Ryo makin erat memeluk Mei. Keduanya menangis dan saling mencurahkan rasa hati serta kerinduan yang mendalam.
Angel bahkan tak lagi nampak difikiran keduanya yang sedang dimabuk asmara. Hingga bocah imut itu menarik rok Mei sambil berkata, "Sudah belum tangis-tangisannya? Angel lapar, Ma Pa!"
"Huaaa... Maaf Angel! Kami sampai lupa!"
"Hihihi..."
Merona merah jambu pipi Mei dan Ryo mendapati candaan Angel yang lugu.
Mereka bertiga memesan banyak makanan untuk dimakan bersama. Ada hati yang bahagia dan perasaan lega karena ungkapan cinta juga sayang dari keduanya.
"Jadi..., kapan Papa dan Mama akan naik altar?" tanya Angel dengan mulut penuh.
"Mama bahagia?" tanya Angel pada Mei.
"Bahagia sekali!"
"Papa juga bahagia!"
"Angel juga. Hehehe..."
Mereka tergelak dengan hati berbunga-bunga.
Malam itu ketiganya menghabiskan waktu cukup lama di luar. Makan bersama, lalu pergi berbelanja bersama pula. Dengan penuh tawa juga canda.
"Mama..."
"Ya, Sayang?"
"Papa..."
"Ya, My Baby Angel?"
"Angel ingin sekali tidur bersama kalian lagi. Mulai malam ini, bisakah kita tidur bersama?"
"..."
Mei menatap malu-malu wajah Ryo.
__ADS_1
Ryo mengangguk sembari mengecup jemari Angel. Ia juga menarik tangan Mei dan menciumnya.
"Kalian adalah penyemangatku!"
Hati menghangat mendengar pengakuan jujur dari Ryo.
Tak mengapa aku hanya mendapat duda-mu, Ryo! Yang penting keperjakaanmu aku yang mendapatkannya! Begitu suara isi hati Mei.
Cinta mereka yang dulu hanya kuncup, kini mekar merekah sempurna.
Malam indah kembali jadi milik Mei dan Ryo.
Keduanya tidur diantara Angel. Dengan tangan saling menggenggam di atas dada gadis mungil itu.
Angel begitu cepat terlelap. Mungkin karena capek seharian bermain.
Esok hari Ia akan libur sekolah dan melakukan pemeriksaan keseluruhan tubuh untuk mendapatkan kepastian masuk ruang operasi.
"Mei! Bisakah kita bicara?"
"Ayo... Diluar saja mengobrolnya!"
Mei turun dari ranjang Angel, diikuti Ryo dari belakang.
"Mei!"
Ryo memeluk Mei dari belakang. Ia ingin rebahkan kepalanya di bahu belakang tubuh Mei.
"Apa kamu benar-benar ingin kita menikah?" tanya Ryo membuat Mei resah.
"Ada apa? Apa pernyataan cintamu dihadapan Angel tadi juga hanya sandiwara saja? Seperti sandiwaramu di depan kak Wanabe tadi?" kata Mei meradang.
"Bukan seperti itu maksudku, Mei! Apakah kamu mau menerima diriku yang penuh cerita ini? Kamu pasti akan sangat terkejut jika tahu keadaanku yang sebenarnya. Dan aku khawatir kamu akan menyesal menerima cintaku!"
"Maksudmu apa, Ryo? Apa kamu sedang memandang rendah diriku?"
"Tidak, tidak! Bukan seperti itu. Jangan salah faham, please...!"
"Kalau kau ragu padaku, untuk apa kamu berjanji menikahiku di depan Angel? Demi untuk menyenangkan hati bocah tak berdosa itu? Begitu?"
"Bukan, Mei! Kumohon... Aku butuh waktu untuk mengungkapkan semuanya padamu! Aku akan ceritakan semuanya nanti. Kisah hidupku. Tapi nanti, setelah Angel operasi dan kesehatannya pulih kembali. Maukah kamu bersabar, Mei?"
Mei menghela nafasnya. Bingung dengan perkataan Ryo yang mengambang dan ambigu difikirannya.
Mengapa pengakuan cintamu jadi mengambang begini, Ryo? Apakah cinta butuh syarat? Apakah aku terlihat tidak tulus dalam membalas pengakuan cintamu? Aku sudah mengatakan semuanya. Isi hatiku. Juga perasaanku padamu. Namun sepertinya dirimu masih ragu. Hhh...
Mei menitikkan air mata.
"Kumohon, Mei! Menikahlah denganku! Dan tunggu pengakuanku nanti setelah semua usai! Dan aku... Bukan lagi CEO di PT Kibane Kinba Co."
"Benarkah seperti itu?"
"Ya. Rencanaku, setelah menikah Angel operasi, kita bertiga bisa pergi dari kota Tokyo ini. Memulai hidup baru. Membuka lembaran baru! Apakah kamu bersedia menerima semua keadaanku? Meskipun dalam kondisi terburuk sekalipun?"
Mei gamang. Tapi hati kecilnya berkata, ia cinta Ryo. Mei jatuh cinta dan ingin selalu bersama. Masalah perusahaan juga yang lainnya, Mei coba kesampingkan karena hatinya telah memilih Ryo.
__ADS_1
...🍀BERSAMBUNG🍀...