
Mei pulang ke rumah besar Ryo diantar Yamaken dengan mobilnya.
Tentu saja itu berhasil membuat hati Ryo panas membara. Terlebih putri kecilnya, terus-terusan mengompori dan menanyakan padanya siapa pria yang bersama Mei.
Ryo terkejut, Mei dan Yamaken kembali bersama. Bahkan sampai diantarnya pulang segala.
Apalagi cowok masa lalu Mei itu terlihat semakin tampan dengan rambut gondrong dan penampilan macho-nya. Ryo kelabakan juga.
Kali ini Ryo mengubah taktik mencoba mengakalinya.
"Angel! Kamu harus cepat menemui Mama dan pria itu! Kamu harus tanya siapa dia juga apa tujuannya! Ayo, cepat! Cepat, Sayang!"
"Iya, Pa!"
Angel mengikuti perintah Papanya.
Hati kecilnya pun tak rela jika 'Mama' cantiknya akrab dengan pria lain.
"Mama!"
"Hai, Sayang!"
"Mama?" tanya Yamaken kebingungan.
"Iya. Ini Mamaku, aku anaknya. Kamu siapa?" tanya Angel dengan wajah imutnya.
"Ya ampun, Mei? Kamu...sudah punya anak?"
Yamaken terkejut melihat Angel dan mendengar pengakuannya.
Mei tertawa. Dia tak terlalu peduli juga kalau Yamaken akan salah faham.
Mei justru lebih menjaga perasaan anak asuhnya yang menderita sakit leukimia itu. Ia tak ingin terjadi sesuatu pada bocah cilik nan imut itu.
Mei ingin Angel sehat dan tetap hidup meski vonis dokter umurnya tak akan lama.
Dokter manusia juga. Walaupun memiliki kecerdasan luar biasa, tapi dokter bukan Tuhan apalagi Dewa. Dokter tidak bisa menentukan lama tidaknya batas umur seseorang. Begitu kata isi hati Mei.
"Ken! Ini Angel, putri asuhku yang cantik dan kawaii! Usianya baru lima tahun, tapi sangat pintar dan menggemaskan!"
Angel menatap Mei dengan tatapan serius.
"Mama! Kenapa bilang Angel anak asuh? Bukankah Mama dan Papa akan segera menikah? Harusnya, bilang anak saja. Jangan bilang anak asuh!" tutur Angel membuat Mei tergelak. Yamaken pun ikut tertawa.
__ADS_1
Alih-alih menyuruh Angel untuk merusuh, Ryo justru melihat senyuman Yamaken dan tawa Mei makin sumringah karena Angel.
Ck! Dasar tak punya perasaan! Bisa-bisanya kau Mei tertawa indah begitu pada pria lain dihadapanku!
"Hai, apa kabarmu?"
"Kamu?"
Yamaken membelalakkan matanya. Terkejut bukan main, seorang pria yang dulu pernah ia lihat tiba-tiba datang menyapanya.
"Kukira kamu sudah lupa padaku. Rupanya ingatanmu masih sangat bagus, Yamaken!" kata Ryo membuat Mei bingung. Mata indahnya menatap Ryo dan Yamaken bergantian.
"Kalian... Saling kenal?" tanya Mei.
"Tidak!"
"Iya!"
Mei tambah bingung. Yamaken bilang iya, tetapi Ryo mengatakan tidak.
...Mana yang salah mana yang benar?...
Angel tertawa melihat 'Mama' nya bingung.
"Ayo, Ma! Angel ingin makan mi udon!"
"Belum, Mama!"
"Ya sudah, mari kita tinggalkan para pria. Kita buat mi yang super lezat dan makan bersama."
"Asyiiik!"
Angel senang. Mei akhirnya menuntun tangannya masuk ke dalam rumah.
Tapi Mei berhenti dan menoleh pada Yamaken.
"Yamaken, terima kasih sudah mengantarku pulang!"
"Sama-sama. Kapan-kapan, kita ketemuan lagi di hari libur ya, Mei?"
Mei mengangguk dan tersenyum. Membuat jantung Ryo berdenyut serta agak sakit.
Mei... Kenapa hati ini sakit melihatmu tersenyum begitu manis pada cowok lain? Apakah...aku terlalu baperan? Sedangkan kau sama sekali terkesan tak peduli perasaanku.
"Kenapa kalian bisa bersama?"
__ADS_1
"Kenapa? Mungkin Dewa ingin kita saling membutuhkan dan saling menggantungkan!" jawaban ngasal Ryo membuat Yamaken mengeryitkan dahinya.
"Maksudmu?"
"Tidak ada maksud apapun. Mei itu single. Perempuan tangguh yang disukai banyak orang. Dia juga cantik, cerdas dan pandai membawa diri. Kenapa? Apa kau masih menyimpan rasa pada Mei padahal waktu telah berlalu begitu lama?"
Yamaken hanya menatap dingin wajah Ryo yang kurang bersahabat dengannya.
Ia mulai menyadari kalau Ryo sepertinya tidak menyukai kebersamaannya kembali terjalin dengan Mei.
Mungkin juga, Ryo menyukai Mei. Yamaken menoleh menatap wajah Ryo kembali. Seperti ingin melihat rona kecemburuan di mata pria yang tujuh tahun lalu sempat mendatanginya di sekolah ketika Mei pindah tanpa ada seorang pun yang tahu kenapa dan kemana.
Yamaken berlalu pergi.
Ia menyadari, perjuangannya kali ini akan lebih berat karena harus bersaing dengan pria kaya raya yang berstatus CEO dari perusahaan besar di Tokyo.
Sementara itu di dapur rumah Ryo.
"Mama!"
"Ya, Sayang?"
"Kenapa Mama tidak pergi ke reuni minta diantar Papa?"
"Hehehe... Mama bisa pergi sendiri, Angel Sayang!"
"Tapi Mama pulang diantar om itu. Angel tidak suka, Ma!"
Jantung Mei berdebar. Bocah imut itu seperti sedang ngambek dan merajuk minta dibujuk.
Mei mengangkat tubuh Angel lalu mendudukannya di atas meja samping kompor.
"Sayang, om Yamaken hanyalah teman SMA Mama. Kami tidak ada hubungan apa-apa. Hanya teman. Sama seperti Angel dan Akari. Teman biasa."
"Tapi Akari suka jahili Angel! Tonomi kata, Akari suka Angel. Tapi Angel tidak suka Akari yang nakal. Sekarang Akari jadi anak baik. Setiap hari Akari beri Angel permen susu dan jelly kenyal. Angel jadi suka sama Akari. Angel takut, Mama juga jadi suka om itu! Nanti, Papa bagaimana! Papa tadi sedih lihat Mama pulang diantar om itu!"
Mei tertegun.
Bocah mungil berumur 5 tahun itu sangat pandai berbicara. Kata-katanya pun masuk akal. Membuat Mei langsung memikirkan itu semua. Tentang pertemuannya kembali dengan Yamaken. Tentang Ryo yang lebih beruntung karena pernah tidur dengannya dan merasakan tubuhnya. Hhh...
Mei terkejut, Ryo ternyata sudah berdiri di depannya.
"Hati-hati, Angel bisa kecipratan minyak panas!" tegurnya dengan suara datar.
Mei hanya bisa mendengus. Sementara hatinya ribut melakukan pembelaan diri. Kalau ia tak mungkin membiarkan anak asuhnya sampai kena cipratan minyak panas.
__ADS_1
Selain terlanjur sayang pada putri Ryo, Mei juga tahu diri kalau dia adalah pengasuh Angel. Dan wajib menjaga keselamatan serta kesehatan anak asuhnya itu.
...🍀BERSAMBUNG🍀...