DUDA CEO YANG MERESAHKAN

DUDA CEO YANG MERESAHKAN
BAB 6 (SEPERTI PASANGAN SUAMI ISTRI)


__ADS_3

Ryo diam-diam mengintip kegiatan bermain Mei dan Angel. Keduanya terlihat begitu akrab seperti sudah bertahun-tahun saling kenal. Padahal baru saja tiga hari yang lalu bertemu. Membuat Ryo tercengang pada chemistry Mei dengan Angel.


Mereka bagaikan ibu dan putri kandung. Mei menuntun erat jemari mungil Angel ketika melewati banyak orang yang lalu lalang.


Sesekali Mei menggendong tubuh mungil Angel di saat akan melewati lampu penyebrangan.


Entah mengapa, hati Ryo menghangat melihat kedekatan mereka.


Ryo masih enggan untuk menghampiri Mei dan Angel. Tetapi tetap mengekor langkah mereka dari kejauhan. Ryo ingin tahu, kemana Mei akan membawa pergi Angel.


Aku harus terus mengikutinya. Jangan-jangan, Mei ingin menculik Angel dan minta uang tebusan! Jaman sekarang ini, kemungkinan itu bisa saja terjadi. Apalagi baru-baru ini aku mendengar maraknya penculikan batita dan balita di layar televisi!


Kekhawatiran Ryo cukup beralasan.


Secara Mei memiliki temperamen kasar dan juga sifat yang buruk dimata Ryo. Itu sebabnya ia tidak begitu saja percaya pada Mei yang dulu pernah ia gauli.


Ryo termenung. Diam dalam persembunyian.


Ternyata Mei mengajak Angel pergi ke sebuah kuil di seberang Taman Kota.



Mei mengajarkan Angel cara beribadah.


Tidak seperti dirinya. Ryo tidak percaya dengan adanya Tuhan ataupun kekuatan Dewa. Baginya, dirinya sendirilah yang mengatur setiap langkah serta masa depan.


Tidak ada Tuhan di hatinya. Ryo penganut faham atheis. Sehingga ia tak pernah mengajarkan kebaikan dalam beragama.


"Tante...!"


"Iya Angel?"


"Apa Tante membenci Papaku?"


"Hehehe... Tentu saja tidak. Papa Angel adalah Boss Tante sekarang. Bagaimana mungkin Tante membenci orang yang membayar gaji Tante?"


Bohong kamu, Mei! Gumam hati kecil Ryo yang berjongkok di samping kuil sambil menguping.



"Tapi kenapa Tante selalu ketus ketika berbicara dengan Papa?"


Pertanyaan Angel yang polos membuat Mei tertawa kecil.


"Maaf Mei, itu adalah sifat asli Tante yang judes dan ketus!" jawab Mei singkat.


"Tante baik sekali pada Angel. Juga pada orang lain yang Tante kenal bahkan yang baru dikenal. Kenapa dengan Papa berbeda? Apakah Papa musuh Tante?"


Iya, Angel! Papamu memang musuh bebuyutanku.


"Tentu saja bukan, Sayang!"


"Tante..."


"Ya Angel Sayang?"


"Papa Angel itu orang yang paling baik di dunia ini. Sayangnya, Papa tidak punya pacar yang mencintainya setulus hati! Papa jadi seperti itu karena rasa cintanya yang besar pada Angel tetapi tidak ada perempuan lain yang juga menyayanginya. Maukah Tante menyayangi Papa?"


Eh? Angel?


Mei terkejut mendengar ucapan Angel.

__ADS_1


"Sayang! Sedang apa, Angel-nya Papa?"


Ryo yang memerah wajahnya segera mendatangi Mei dan Angel. Jika dibiarkan, Putri kecilnya akan semakin berkata yang membahayakan. Ryo tidak ingin Angel semakin membuka jati dirinya pada Mei. Karena itu sangat membahayakan.


Tetapi itu justru membuat Mei tertawa ceria. Dan Ryo terpesona pada keindahan wajah Mei saat tertawa.



"Papa? Tante Mei cantik ya?"


Wajah Ryo seketika merona. Begitu pula dengan muka manis Mei.


Keduanya pura-pura memalingkan wajah setelah saling tatap.


"Kalian malu ya?"


Angel benar-benar membuat Ryo dan Mei semakin tak berkutik dengan ucapan polosnya.


"Angel! Angel mau es krim?" tanya Ryo berusaha mengalihkan perhatian putri kawaiinya.


"Mauuu! Tapi, tapi... Kenapa dandanan Papa hari ini gaul sekali? Papa koq, pakai aksesoris segala?"


"Angel!"


Ryo langsung memangku tubuh Angel sementara Mei tertawa terbahak-bahak.


"Iya. Dandanan Tuan CEO Ryo hari ini berbeda sekali! Saya pun sampai pangling melihatnya. Mirip anak-anak gaul di Taman Kota tadi. Hahaha..."


"Terus saja, Mei! Terus! Terus ledek aku biar puas hatimu!"


"Kenapa harus puas? Memangnya Saya punya kapasitas untuk memuaskan hati lewat tawa ini?"


"Tentu saja. Apa boleh Saya yang seorang pengasuh nona Angel putri tuan CEO Ryo memberi label penjahat pada tuan?"


"Cih! Bahasamu! Seharusnya aku yang membencimu! Kau pergi tanpa perasaan padahal aku menunggu kabar darimu!" umpat Ryo membuat Mei mengeryit.


"Apa itu tidak salah? Bukannya Anda yang pergi tanpa pesan seperti pencuri kesiangan?"


"Maksudmu apa, Mei?"


"Aku tidak ada maksud apa-apa!"


"Aku menaruh memo di bawah bantal sebelum pergi karena malu dan takut kamu marah atas kejadian semalam!"


"Kejadian apa, Papa?"


Mei dan Ryo saling menatap tatkala Angel yang ada diantara mereka menanyakan masa lalu kisah mereka.


"Ti_tidak, Sayang! Papa tidak... Mmm...lupakan ucapan Papa! Angel mau es krim rasa apa? Rasa vanila, coklat atau strawberry?"


"Angel mau vanila. Wangi dan lembut seperti Tante Mei! Iya khan, Pa?"


"I_iya. Baiklah!"


Ryo akhirnya bisa bernafas lega setelah Angel sibuk dengan es krimnya.


Sementara Angel duduk di tengah kursi taman dengan di apit Mei dan Ryo.


"Kakek, kakek! Aku ingin es krim seperti anak perempuan Nyonya dan Tuan itu!"


Seorang anak laki-laki menunjuk ke arah Angel membuat dada Mei dan Ryo bergetar tak karuan.

__ADS_1


Tanpa sadar Mei dan Ryo melakukan gerakan yang sama, yaitu mengangkat dua tangan sambil menggoyang-goyangkannya.


"Bukan, Kakek! Kami bukan pasangan suami istri!" kata Mei dan Ryo kompak berbarengan.


Kakek yang tak dikenalnya itu terkekeh. Lalu menanyakan dimana ia bisa membeli es krim yang Angel pegang.


"Di situ kek!"


Lagi-lagi Ryo dan Mei berbarengan menjawabnya.


Tentu saja membuat Kakek dan cucunya jadi tertawa. Begitu juga Angel.


"Papa Mama Saya memang sedang ribut kecil, Kakek! Maafkan!"


Angel mengambil peran untuk menutupi kecanggungan Papa serta pengasuhnya itu.


"Hm! Kalian sweet sekali. Begitulah rumah tangga. Kadang indah, mesra. Kadang menyebalkan dan gengsi untuk saling mengakui rasa sayang di hati!"


"Hahaha... Iya Kakek!"


Mei tersipu malu. Ryo menutupi wajah merahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Terima kasih, semoga Dewa menyatukan cinta suci kalian abadi sampai reinkarnasi berikutnya!"


"Amin! Hehehe..."


Mei menunduk sementara Ryo mengangguk malu pada Sang Kakek yang berlalu pergi.


Angel yang senang bisa mengerjai Papa dan Pengasuhnya itu tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha... Kalian lucu sekali. Kalian cocok!"


"Angel! Jangan berkata seperti itu!" hardik Ryo membuat Angel meradang.


"Tante Mei jomblo, Papa juga jomblo. Kata Pak Guru, kalau jomblo ketemu jomblo boleh menikah. Kenapa kalian tidak menikah saja?"


"Angel! Please, stop it! Papa akan marah kalau Angel terus-terusan menggoda kami. Itu tidak sopan! Oke?"


"Iya, Papa! Maaf! Tapi..., bolehkah Angel memanggil tante Mei dengan sebutan 'Mama'?"


Mei membelalakkan matanya. Ryo langsung memekik, "Apa?"


"Angel ini penderita cancer. Kata dokter umur Angel kemungkinan tidak akan panjang. Angel ingin punya Mama. Tapi Papa tidak mau menikah lagi. Jadi..., tidak apakah kalau Angel memanggil Mama pada Tante Mei, Pa?"


Anak yang cerdas! Tapi... Mengapa perkataannya membuat hatiku sedih? Gumam hati kecil Mei.


"Sayang! Tante Mei masih gadis dan belum menikah. Kalau Angel panggil dia Mama, nanti para cowok yang naksir bisa salah faham. Kasihan nanti Tante Mei bisa jomblo seumir hidup!"


"Eh? Ish! Tolong kata-kata Tuan CEO diralat ya? Saya bukan belum menikah karena tidak laku. Tetapi saya sangat hati-hati memilih pasangan! Khawatir saya jatuh ke lubang yang sama. Yaitu masuk mulut manis buaya darat! Saya bukan perempuan sembarangan yang bisa diicip bagaikan membeli buah durian!"


"Hei! Siapa maksudmu yang buaya darat membeli buah durian?"


"Papa, papa! Memang buaya darat suka buah durian? Buaya darat vegetarian ya? Tidak makan daging?"


"Hiks..."


Mei hanya bisa tertawa melihat Ryo yang terpojok oleh putrinya sendiri.


Rasakan kau Duda CEO! Kau pikir kejahatanmu padaku itu kejahatan kecil?Tidak. Kejahatan yang kau lakukan justru berimbas sangat besar dalam hidupku! Semoga kau sadar karena dzolim padaku!


...🍀BERSAMBUNG🍀...

__ADS_1


__ADS_2