
Angel tertidur dipangkuan Mei sementara Ryo menyetir mobil menuju rumah besar mereka.
Mobil memasuki gerbang dan berhenti di garasi utama halaman yang luas.
"Biar Angel kugendong," bisik Ryo sembari hendak membantu Mei membukakan tali safety belt sehingga wajah mereka menjadi sangat dekat.
Mei yang merasakan gejolak dalam dadanya hanya bisa menahan nafas. Ia tak boleh gegabah dan gede rasa karena Ryo hanya ingin mengangkat tubuh putrinya.
Mei mengira, Ryo sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi padanya selain karena dirinya adalah pengasuh Angel saja.
Kamar Angel bernuansa putih dan biru. Gadis imut itu begitu menyukai warna langit yang bersih dengan awan putih yang tipis. Mei tersenyum bila mengingat celotehan Angel.
Ryo menaruh tubuh putrinya ke atas ranjang berspreikan karakter animasi doraemon yang dominan berwarna biru langit dan putih.
"Papa...!"
Ryo dan Mei terkejut. Ternyata Angel belum tertidur dengan pulas.
"Ya, Sayang?" tanya Ryo sembari kembali berbalik arah ke ranjang Angel.
"Papa... Tidurlah di sini! Peluk Angel! Dingin sekali..."
Ryo menghela nafas. Putrinya merajuk tapi dengan mata tertutup rapat.
"Papa masih ada kerjaan, Angel!" tolaknya halus sembari mengecup kening Angel. Betapa kagetnya Ryo ternyata dahi Angel agak panas.
Dengan cekatan pria 25 tahun itu bergegas mengambil termometer dan memeriksa suhu tubuh Angel. Tertera angka 38° Celcius. Lumayan tinggi di atas suhu normal.
"Ada apa?" tanya Mei bingung.
"Angel demam! Ini karena kalian terlalu lama di luar!" kata Ryo dengan nada ketus.
"Cuacanya bagus. Anginnya juga tidak terlalu kencang. Aku juga memakaikan jaket serta memberi Angel vitamin sebelum kami ke taman!"
Ryo tak bicara lagi. Ia hanya mengambil ponselnya lalu menelpon dokter Nelson dokter pribadi Angel.
Tak lama kemudian dokter Nelson datang dan langsung memeriksa tubuh Angel.
"Kondisi tubuhnya baik-baik saja. Hanya terlalu lelah dan terlalu bersemangat saja sepertinya. Ini biasa. Tolong dijaga saja aktivitas kegiatannya! Usahakan jangan dulu berjalan kaki terlalu lama apalagi berolah raga!"
"Baik, Dok!"
Mei merasa sangat menyesal melihat kondisi Angel yang menurun. Ini salahnya. Ia lupa kalau Angel tidak seperti anak-anak pada umumnya. Angel menderita leukimia atau kanker darah sejak lahir. Tetapi Mei malah memaksakan diri membawa Angel pergi ke taman dengan banyak permainan dan juga jalan ke kuil untuk berdoa.
"Maafkan aku! Aku terlalu exited mengajak Angel ke Taman tanpa melihat riwayat penyakit Angel!"
Mei terisak dengan wajah tertunduk.
Ryo yang tadinya kesal, jadi iba juga melihat Mei menangis.
"Ini sudah sering terjadi pada Angel!" kata Ryo pelan. Matanya memandang lekat wajah Angel yang polos bagaikan malaikat.
Angel, mengubah hidup Ryo 180 derajat.
Ryo yang dulu slenge'an, tidak peduli pada apapun, super duper cuek dan tak punya empati pada orang lain, berubah menjadi Ayah Super Hero. Begitu Angel menjulukinya.
"Angel terlahir membawa gen kanker sel darah. Sejak mata indahnya melihat dunia, baby Angel sudah terbiasa dengan jarum suntik dan infusan! Gadis cilikku adalah anak yang Super Hebat! Dan aku bangga karena Tuhan memilihku untuk jadi Ayah Super Hero-nya!"
Ryo menitikkan air mata.
Lima tahun ia berjuang demi kesembuhan Angelica. Bahkan demi melihat Angel bisa seperti anak lain yang punya kesempatan hidup lebih lama, Ryo rela melakukan ritual puasa pada Dewa Welas Asih.
Angel berhasil meniup lilin angka lima-nya dua bulan yang lalu. Dan dokter memberinya predikat survivor cancer.
Itu adalah kebahagiaan untuk Ryo.
Mei terhanyut akan kesedihan Ryo Yoshizawa. Mereka menahan isak dan sesekali menyusut lelehan air mata.
Menyakitkan sekali rasanya mengetahui gadis kecil yang baru berusia lima tahun itu harus menyandang penyakit berat dan seperti sedang bermain-main dengan kematian. Sungguh amat disayangkan.
"Kamu pasti sangat mencintai Ibunya, sampai cintamu pada Angel pun tak bisa diukur dengan kata-kata!" lirih Mei sedih.
Mei kembali terluka walaupun hatinya bangga pada kesetiaan Ryo terhadap mantan istrinya.
Mei kecewa, kenapa Ryo dulu justru tidak punya rasa seperti itu padanya. Ryo... Meninggalkan apartemen sewaannya tanpa membangunkan Mei dan berlalu begitu saja.
Tunggu! Tadi di taman Ryo bilang meninggalkan memo di bawah bantal? Iyakah? Pasti itu hanya pembelaan dirinya saja yang tak mau Aku salahkan!
Apartemen Mei yang dulu sudah disewa orang lain. Sebelum pindah, Mei tidak sempat membenahi kamar tidurnya. Sehingga ia tidak tahu apakah benar ada memo yang Ryo tinggalkan untuknya. Dan itu sudah terjadi tujuh tahun yang lalu.
"Mama..."
Mei dan Ryo menoleh ke arah Angel yang masih terbaring lemah.
Mei mendekat sembari menggenggam lembut jemari mungil Angel.
"Mama! Angel mau dibacakan buku dongeng 'Gadis Penjual Korek Api'!" katanya membuat Mei langsung mengambil buku dongeng yang ada di rak buku.
"Papa!"
__ADS_1
"Ya, Sayang?"
"Peluk Angel!"
Ryo menuruti keinginan putrinya.
Mei membacakan dongeng dengan hati sedih sementara Ryo memeluk tubuh putrinya di ranjang.
"Di malam natal, orang-orang berjalan dengan wajah yang gembira memenuhi jalan di kota.
Di jalan itu ada seorang gadis kecil mengenakan pakaian compang-camping sedang menjual korek api.
"Mau beli korek api?"
"Ibu, belilah korek api ini."
"Aku tidak butuh korek api, sebab di rumah ada banyak."
Tidak ada seorang pun yang membeli korek api dari gadis itu.
Tetapi, kalau ia pulang tanpa membawa uang hasil penjualan korek api, akan dipukuli oleh ayahnya.
Ketika akan menyeberangi jalan,
Grek! Grek!
Tiba-tiba sebuah kereta kuda berlari dengan kencangnya.
"Hyaaa! Awaaaaas!"
Gadis itu melompat karena terkejut.
Pada saat itu sepatu yang dipakainya terlepas dan terlempar entah ke mana.
Sedangkan sepatu sebelahnya jatuh di seberang jalan.
Ketika gadis itu bermaksud pergi untuk memungutnya, seorang anak laki-laki memungut sepatu itu lalu melarikan diri.
"Wah, aku menemukan barang yang bagus."
Akhirnya gadis itu bertelanjang kaki.
Di sekitarnya, korek api jatuh berserakan.
Sudah tidak bisa dijual lagi.
Kalau pulang ke rumah begini saja, ia tidak dapat membayangkan bagaimana hukuman yang akan diterima dari ayahnya.
Terlihatlah sinar yang terang dari jendela sebuah rumah.
Ketika gadis itu pergi mendekatinya, terdengar suara tawa gembira dari dalam rumah.
Ketika gadis itu pergi mendekatinya, terdengar suara tawa gembira dari dalam rumah.
Di rumah, yang dihangatkan oleh api perapian, dan penghuninya terlihat sedang menikmati hidangan natal yang lezat.
Gadis itu meneteskan air mata.
"Ketika ibu masih hidup, di rumahku juga merayakan natal seperti ini."
Dari jendela terlihat pohon natal berkelap-kelip dan anak-anak yang gembira menerima banyak hadiah.
Akhirnya cahaya di sekitar jendela hilang, dan di sekelilingnya menjadi sunyi.
Salju yang dingin terus turun.
Sambil menggigil kedinginan, gadis itu duduk tertimpa curahan salju.
Perut terasa lapar dan sudah tidak bisa bergerak.
Gadis yang kedinginan itu, menghembus-hembuskan nafasnya ke tangan.
Tetapi, sedikit pun tak menghangatkannya.
"Kalau aku menyalakan korek api ini, mungkin akan sedikit terasa hangat."
Kemudian gadis itu menyalakan sebatang korek api dengan menggoreskannya di dinding.
Crrrs
Lalu dari dalam nyala api muncul sebuah penghangat.
"Oh, hangatnya."
Gadis itu mengangkat tangannya ke arah tungku pemanas.
Pada saat api itu padam, tungku pemanaspun menghilang.
Gadis itu menyalakan batang korek api yang kedua.
__ADS_1
Kali ini dari dalam nyala api muncul aneka macam hidangan.
Di depan matanya, berdiri sebuah meja yang penuh dengan makanan hangat.
"Wow! Kelihatannya enak."
Kemudian seekor angsa panggang melayang menghampirinya.
Tetapi, ketika ia berusaha menjangkau, apinya padam dan hidangan itu menghilang.
Gadis itu segera mengambil korek apinya, lalu menyalakannya lagi.
Crrrs!
Tiba-tiba gadis itu sudah berada di bawah sebuah pohon natal yang besar.
"Wow! Lebih indah daripada pohon natal yang terlihat dari jendela tadi."
Pada pohon natal itu terdapat banyak lilin yang bersinar.
"Wah! Indah sekali!"
Gadis itu tanpa sadar menjulurkan tangannya lalu korek api bergoyang tertiup angin.
Tetapi, cahaya lilin itu naik ke langit dan semakin redup.
Lalu berubah menjadi bintang yang sangat banyak.
Salah satu bintang itu dengan cepat menjadi bintang beralih.
"Wah, malam ini ada seseorang yang mati dan pergi ke tempat Tuhan,ya... Waktu Nenek masih hidup, aku diberitahu olehnya."
Sambil menatap ke arah langit, gadis itu teringat kepada Neneknya yang baik hati.
Kemudian gadis itu menyalakan sebatang lilin lagi.
Lalu di dalam cahaya api muncul wujud Nenek yang dirindukannya.
Sambil tersenyum, Nenek menjulurkan tangannya ke arah gadis itu.
"Nenek!" Serasa mimpi gadis itu melompat ke dalam pelukan Nenek.
"Oh, Nenek, sudah lama aku ingin bertemu' "
Gadis itu menceritakan peristiwa yang dialaminya, di dalam pelukan Nenek yang disayanginya.
"Kenapa Nenek pergi meninggalkanku seorang diri? Jangan pergi lagi. Bawalah aku pergi ke tempat Nenek."
Pada saat itu korek api yang dibakar anak itu padam.
"Ah, kalau apinya mati, Nenek pun akan pergi juga. Seperti tungku pemanas dan makanan tadi..."
Gadis itu segera mengumpulkan korek api yang tersisa, lalu menggosokkan semuanya.
Gulungan korek api itu terbakar, dan menyinari sekitarnya seperti siang harl.
Nenek memeluk gadis itu dengan erat.
Dengan diselimuti cahaya, nenek dan gadis itu pergi naik ke langit dengan perlahan-lahan.
"Nenek, kita mau pergi ke mana?"
"Ke tempat Tuhan berada."
Keduanya semakin lama semakin tinggi ke arah langit.
Nenek berkata dengan lembut kepada gadis itu, "Kalau sampai di surga, Ibumu yang menunggu dan menyiapkan makanan yang enak untuk kita."
Gadis itu tertawa senang.
Pagi harinya. Orang-orang yang lewat di jalan menemukan gadis penjual korek api tertelungkup di dalam salju.
"Gawat! Gadis kecil ini jatuh pingsan di tempat seperti ini."
"Cepat panggil dokter!"
Orang-orang yang berkumpul di sekitarnya semuanya menyesalkan kematian gadis itu.
Ibu yang menolak membeli korek api pada malam kemarin menangis dengan keras dan berkata,
"Kasihan kamu, Nak. Kalau tidak ada tempat untuk pulang, sebaiknya kumasukkan ke dalam rumah."
Orang-orang kota mengadakan upacara pemakaman gadis itu di gereja, dan berdoa kepada Tuhan agar mereka berbuat ramah meskipun pada orang miskin.
Tamat."
Mei menangis membaca buku dongeng sedih itu. Ia seolah merasa jadi Gadis Si Penjual Korek Api itu.
Tiba-tiba, sebuah genggaman tangan besar dan hangat mengepal jemari Mei yang dingin serta basah.
__ADS_1
Ketika Mei melihatnya, itu adalah genggaman tangan Ryo Yoshizawa yang ikut tertidur pulas sambil mendekap tubuh Angelica, putrinya.
...🍀BERSAMBUNG🍀...