DUDA CEO YANG MERESAHKAN

DUDA CEO YANG MERESAHKAN
BAB 15 (KETEGUHAN SEORANG MEI NAGANO)


__ADS_3

Ryo memeriksa kembali kamar Angel pukul sembilan lebih. Lampu genset masih menyala dan dia menunggu aliran listrik dari pusat kota kembali fungsi sehingga menunda jam tidurnya.


Rupanya Mei dan Angel sudah terlelap dalam mimpi dengan tubuh saling memeluk.


"Lucunya kedekatan mereka!" gumam Ryo sangat pelan.


Ia membetulkan selimut beludru berwarna merah muda dan menariknya sampai dada Angel juga Mei.


Jakunnya turun naik mengingat masa lalu bersama Mei.


Mei! Apakah kamu masih suka mengingat saat-saat bahagia itu?


Ryo menoleh berpaling dari fokusnya menatap dada Mei yang terlihat membusung. Pipinya panas dan merah seperti buah cerry.


Mengapa otakku mesum begini? Bagaimana kalau Mei sampai tahu kalau aku tak pernah bisa lupa pada keseluruhan bentuk tubuhnya yang kecil namun padat berisi? Ya ampun...


Ryo ingin keluar dari kamar Angel. Tapi tiba-tiba tubuh Mei berbalik dan wajahnya tepat dihadapannya.


Mei! Ya Dewa! Mengapa kau beri aku kesempatan sebagus ini?


Ryo urung pergi. Matanya menatap lekat wajah indah dihadapannya. Mei, membuat dirinya tak bisa pindah ke lain hati. Bahkan tujuh tahun tak berjumpa, tak mampu melepas bayang-bayang Mei dari dalam ingatannya.


Tawa canda ceria Mei, selalu terkenang. Ryo bahkan tak mampu membuang fikiran tentang Mei hingga selalu membanding-bandingkan setiap gadis yang mendekatinya dengan perempuan yang mengambil keperjakaannya itu.


Mei!... Mei Nagano! Bolehkah aku kembali mengambil kesempatan darimu?


Jari Ryo perlahan meraba pipi mulus Mei yang terlelap dengan pulasnya. Semakin terpancing keinginan lebih setelah matanya melalap habis seluruh wajah Mei.


Mata Mei terpejam, menampakkan bulu-bulu lentiknya yang asli tanpa eyelash extension.


Hidung Mei yang mancung dan mungil, sangat menarik hati Ryo untuk membelainya perlahan-lahan.


Jemarinya turun ke bagian bibir. Semakin naik hormon libido Ryo dibuatnya.


"Mei...!" bisik Ryo lirih.


Bibirnya mengecup pelan bibir Mei.


Tak disangka Mei justru mengangkat tangannya dan memeluk tubuh Ryo seperti mengibaratkan memeluk Angel.


Ya Dewa!


Jantung Ryo berdebur kencang. Seperti angin besar di atas samudera lautan yang sedang pasang.


Dadanya berdetak cepat. Bagaikan jarum jam dinding yang error dan minta diservis.


Ryo tak berkutik dipelukan Mei.


Wajah mereka kini sangat dekat. Bahkan hembusan nafas keduanya seolah bertukar hawa. Ryo takut tapi senang.

__ADS_1


Matanya terpejam membayangkan kembali peristiwa hubungan terlarangnya dengan Mei Nagano. Disaat usia mereka masih delapan belas tahun.


Ryo tak berani mengusik Mei yang tidur sangat nyenyak. Ia hanya pasrah dan perlahan mengatupkan bibir serta memejamkan mata. Ikut tertidur meski diawal sangat sulit karena kondisi jantung yang tak mau diajak kompromi.


.............


Angel terkejut melihat Papanya tidur dengan tubuh memeluk Mei. Dia bingung dan menerka-nerka akan apa yang terjadi pada Sang Papa.


"Mama..., Papa! Bangun. Sudah pagi."


Angel menggoyang-goyangkan tubuh Ryo juga Mei agar keduanya bangun dari tidur.


Bangun berbarengan dengan mata terbuka dan melihat kenyataan sedang tidur dalam posisi berpelukan membuat Ryo dan Angel spontan melepas cepat.


"Kyaaa!!!"


"A_apa yang terjadi?" seru Ryo merasa bingung.


"Ke kenapa kamu tidur disini?" tanya Mei dengan gugup.


"Hm? Oh iya, semalam genset mati. Aku takut kamu dan Angel panik lagi. Jadi, aku menemani tidur kalian! Sungguh! Aliran listrik baru normal kembali pukul dua belas malam!" kata Ryo menjelaskan.


Ia tak ingin kembali ada kesalah-fahaman diantara mereka.


"Oh! Begitu rupanya. Terima kasih!"


Mei pun malu-malu mengucapkan kalimat itu. Ryo bangun dan turun dari ranjang. Mei dan Angel mengikuti.


Ryo akan ke kantor dan Mei serta Angel berangkat ke sekolah.


Kejadian demi kejadian semalam membuat Mei maupun Ryo tak bisa menyembunyikan tawa senangnya. Bahkan mereka sesekali tersipu malu sendiri.


Yamaken ternyata adalah seorang guru Sekolah Dasar.


Angel masih TK. Tetapi di sekolah TK-nya juga ada Sekolah Dasar.


Hari ini hari pertama Yamaken pindah tugas di sekolah Angel.


"Mei?"


"Yamaken?"



Rambutnya baru dipangkas. Mungkin menjaga image sebagai seorang guru, tenaga pendidik.


"Kenapa...kamu ada di sini?" tanya Yamaken sembari menatap ke arah Angel yang jelas sekali memperlihatkan ketidak sukaannya.


"Angel sekolah di sini. Aku adalah ibu asuhnya! Kamu sendiri?"

__ADS_1


"Mama! Ayo! Nanti Angel kesiangan masuk kelas!" protes Angel kesal.


"Oh iya. Maaf, Yamaken! Aku harus mengurus putriku dulu!"


"Aku guru di sekolah dasar. Tempatku mengajar di gedung itu!" ujar Yamaken sambil menunjuk gedung sekolah yang berada tepat di samping sekolah Angel.


"Wah, dunia ini ternyata begitu sempit!" seru Mei sembari melambaikan tangan berlalu.


"Mama! Tolong jangan dekat-dekat dengan Om itu!"


"Hehehe... Iya, Angel Sayang! Mama hanya bertegur sapa saja. Basa-basi karena kami adalah teman."


"Tidak boleh! Angel tidak suka!"


Mei tersenyum sembari menjawil dagu putri Ryo yang menggemaskan itu.



"Angel masuk kelas dulu. Dan Mama jangan genit-genit sama Om itu!"


"Ya ampun, Angel! Hahaha... Kamu ini, ada-ada saja!"


"Mama ingin Angel mati?"


Mei termangu mendengar ucapan Angel. Dia segera memeluk tubuh Angel sembari membisikkan kalimat, "Jangan bicara seperti itu, Sayang! Mama sedih mendengarnya!"


"Mama harus menikah dengan Papa! Harus! Angel ingin Mama berjanji mencintai Papa di altar suci!"


Angel berlari masuk ke dalam gedung sekolahnya. Meninggalkan Mei yang melamun mendengar perkataan tegas dari anak lima tahun itu.


Angel! Mungkinkah aku dan Papamu bersanding di altar suci dengan janji saling menjaga dalam sehat maupun sakit? Saling cinta dalam suka juga duka? Mungkinkah itu terjadi, Angel?


Mei teringat kejadian semalam dan juga tadi pagi.


Perlahan hubungannya dengan Ryo membaik, tetapi belum menjanjikan keseriusan karena Ryo yang masih bungkam dan belum mengungkapkan isi hati terdalamnya.


Mei tak ingin kepedean. Ia bukan siapa-siapa Ryo. Hanya pengasuh putrinya. Itupun atas keinginan Mei, bukan kemauan Ryo. Bahkan Ryo sempat menolaknya bekerja dan juga tidak berkenan mempekerjakannya sebagai pengasuh Angel di awal-awal.


Mei menghela nafasnya sejenak. Ia kembali pulang dan akan menjemput Mei di jam istirahat sekitar dua jam kemudian.


"Mei... Boleh aku minta nomor pribadimu?"


Tiba-tiba Yamaken berlari ke arahnya yang sudah cukup jauh dari gerbang sekolah.


"Maaf, Yamaken! Putriku tidak mengizinkannya."


Jawaban Mei membuat Yamaken bingung. Namun Mei tak bergeming. Ia berlalu pergi hanya meninggalkan senyuman manis pada Yamaken.


Maaf, Yamaken! Semua sudah berlalu. Masa muda kita telah usai dan hubungan kita pun tak mungkin kembali terjalin! Begitu isi hati Mei Nagano.

__ADS_1



...🍀BERSAMBUNG🍀...


__ADS_2