
Wanabe memandangi wajah Mei yang terlihat panik.
"Mei! Dimana ruang Angel? Dokter! Katakan padaku, aku ingin bertemu putriku! Aku ingin melihat Angel lagi!"
"Suster, suster... Tolong pegangi Tuan Wanabe!"
Semua panik. Wanabe histeris dan membuat kegaduhan.
"Tuan, Tuan! Tenangkan dirimu! Cepat atau lambat kau pasti akan bertemu Angel! Jangan sekarang. Angel sedang masuk ruang isolasi. Tidak bisa dijenguk siapapun termasuk Anda!"
"Tidak! Aku ingin bertemu Angel, anakku! Baru aku bersedia donorkan sumsum tulang belakangku!"
Dokter Owen dibantu dokter jaga dan beberapa orang suster perawat memegangi Wanabe. Membawanya ke ruangan dan memberinya suntikan obat penenang.
"Dokter! Apakah aku tidak dapat menemui Angel sebelum operasi? Please...! Izinkan aku melihatnya sekali saja, sebelum operasi dilangsungkan. Aku... Ingin memeluknya sebagai anak kandungku!"
Wanabe masih bisa berbicara walaupun tubuhnya perlahan lemas dan tenaganya mulai hilang.
Lambat laun matanya mengatup. Kemudian suasana kembali tenang seiring tertidurnya Wanabe akibat obat bius yang disuntikkan ke tubuhnya.
Mei menghela nafas lega.
Tak lama kemudian Ryo datang dengan wajah tegang, pucat dan bibir bergetar.
"Angel, bagaimana Angel, Dokter?" tanyanya tergesa-gesa pada Dokter Owen.
"Untungnya Angel sudah masuk ruang isolasi. Dia aman dan masih tahap pemeriksaan tim medis sehingga bisa segera menentukan tanggal operasi."
"Tuan Wanabe? Bagaimana dia?"
"Dia bersikeras untuk melihat Angel. Tapi sudah kutahan dan sekarang sedang tertidur setelah disuntik anestesi. Jangan khawatir, Ryo!"
"Bagaimana aku tidak khawatir, Dok! Wanabe sudah tahu kalau Angel adalah anaknya! Aku...tidak terima!!!"
__ADS_1
"Cepat atau lambat, dia pasti akan tahu kenyataan yang sebenarnya, Ryo! Jangan panik. Kita sudah amankan Angel sehingga dia tidak dapat menemui putrimu!"
"Tentu saja Angel adalah putriku! Putriku yang kubesarkan dengan tetesan keringat dan airmata. Putri kecilku yang setiap malam sering menangis merasakan sakit luar biasa di tubuhnya dan mengganggu malam-malamku bahkan sampai detik ini! Hik hik hiks... Aku tidak rela ada orang lain dengan enaknya mengakui kalau Angel adalah putrinya!!!"
Mei menatap haru Ryo yang berbicara dengan suara lantang dan mata memerah perlahan mengeluarkan tetesannya.
"Aku Papanya! Akulah orang yang merawatnya sejak masih bayi merah!!!" katanya lagi sambil menepuk dada penuh amarah.
"Sekalipun bumi bergoncang, Dewa membuka semua kisahku, aku tetap akan mempertahankan Angel-ku dan tak akan ada orang lain yang boleh merampasnya! Tidak! Hik hik hiks..."
Mei mendekat. Mengusap punggung lengan Ryo. Mencoba memberinya sedikit ketenangan.
"Mei! Jika kau mau pergi, pergilah! Kau bebas memilih pria lain yang lebih mencintaimu. Tapi jangan buat Angel menjauh pergi dariku! Aku bisa mati, Mei! Angel adalah malaikat tak bersayap yang selalu ada dua puluh empat jam bersamaku selama lima tahun ini, Mei! Cuma dia yang selalu ada di sampingku! Saat aku lelah, ketika hatiku merapuh. Bahkan kala diriku dilanda kesepian yang menakutkan karena semua orang men-djudge ku. Hanya Angel yang setia di sisiku!"
Mei ikut menangis.
Ia mengerti perasaan terdalam Ryo.
Sangat mengerti. Sehingga air mata tetes demi tetes menitik jatuh basahi pipi Mei. Bibirnya tak sanggup berkata-kata.
"Mei, hik hik hiks..."
Mei memeluk erat tubuh Ryo. Menangis mereka bersama. Hingga emosi Ryo perlahan mereda dan mereka melipir mencari kedai kopi yang banyak terdapat di pinggiran sekitar rumah sakit.
"Mei... Maafkan aku yang barusan!" kata Ryo dengan wajah menunduk.
"Aku mengerti yang kamu rasakan, Ryo!"
"Hanya Angel yang selalu bersamaku selama lima tahun ini. Dia yang selalu ada mengisi hari-hari sibukku!"
"Iya. Angel memang anak yang menyenangkan!"
"Dia manis, menyebalkan tapi membuatku ingin terus berjuang bersama menghadapi dunia!"
__ADS_1
Ryo segera menyusut airmata yang lagi-lagi jatuh karena perasaan melankolisnya terus meninggi.
"Aku cengeng, ya? Cih! Memalukan kaum pria!" gerutunya pada diri sendiri dengan bibir menyeringai lebar dan tawa mendesis berbarengan jatuh air di sudut matanya.
"Tidak. Kamu pria tangguh. Dan aku jatuh cinta dengan ketangguhanmu!" gumam Mei membuat netra Ryo membulat.
"Hah? Apa iya? Hahaha... Bercanda kamu!"
"Tidak. Aku jatuh cinta padamu karena karakter kuatmu dahulu. Kamu pahlawanku, Ryo! Dan kini aku kembali jatuh cinta bahkan semakin cinta, karena kau jauh lebih kuat karena menolong Angel sampai berkorban jiwa raga!"
"Angel yang menolongku! Bukan aku yang menolong Angel! Kau salah, Mei! Tanpa Angel aku is nothing!"
"No! You are my everything!"
Ryo mendongakkan wajahnya. Tak percaya pada kata-kata yang meluncur dari bibir Mei Nagano. Gadis labil yang dulu cengeng dan rapuh hanya karena patah hati bahkan sampai nekad ingin bunuh diri.
"Mei!"
"Aku tidak sedang memujimu secara berlebihan. Inilah perasaan terdalamku padamu, Ryo!"
"Benarkah? Benarkah apa yang kau ucap itu?"
"Aku mencintaimu, Ryo Yoshizawa!"
"Aku... Sangat mencintaimu, Mei Nagano! Bahkan sampai detik ini, hanya ada satu perempuan yang mengisi relung hatiku. Kamu!"
Mei tersenyum dalam tangisan kebahagiaan.
Ryo, membuat hatinya lega. Perasaan nyaman dalam pelukan Duda CEO yang kemarin-kemarin selalu meresahkan itu kini muncul dijiwanya.
Mei ingin selalu dalam pelukan Ryo.
Selamanya.
__ADS_1
...🍀BERSAMBUNG🍀...