
Mei dan Ryo sibuk mempersiapkan hari pernikahan mereka. Angel juga turut mendapatkan bagian sebagai penabur bunga dan memegangi ekor gaun belakang 'Mama'nya yang cukup panjang.
Mereka telah melakukan fitting di sebuah butik tengah kota Nagiso dengan bantuan sepupu Mei.
Benar-benar penuh kebahagiaan.
Hingga tiba-tiba,...
Mei tidak tahu, kalau Yamaken diam-diam datang dan mengajak Ryo ketemuan di sebuah kedai minuman dekat kuil santo yang akan menjadi saksi tempat pernikahan di gelar esok hari.
Ryo mendapat tekanan mental dari Yamaken.
"Pilih. Menikah dengan Mei dan Angel diambil lalu kau diciduk Polisi, ditahan belasan tahun dengan tuduhan melakukan pembunuhan terhadap Felicia serta penipuan. Atau kau batalkan pernikahan lalu bisa pergi membawa Angel tanpa gangguan dari keluarga besar Felicia. Pilih sendiri pilihanmu!"
Ryo tersentak. Giginya gemerutuk menahan emosi. Tapi ia juga harus berfikir jernih.
"Kau cinta Mei, bukan?"
Ryo tak menjawab. Hanya menatap Yamaken dengan amarah.
"Apa kontribusimu menekanku begini?"
"Aku hanya ingin Mei bahagia!"
"Mei bahagia, kami akan menikah dan akan selalu bersama!"
"Bagaimana mungkin bahagia, sedangkan kau akan di penjara untuk waktu yang sangat lama! Kau justru membuat Mei menderita."
"Mereka tidak bisa memenjarakanku begitu saja!"
"Bukti mereka kuat. Ada Wanabe Takeshi yang menjadi saksi memberatkan. Kau siap-siap masuk tahanan karena polisi sedang meluncur kesini! Aku baik, memberimu kesempatan untuk kabur. Batalkan pernikahan, kau bisa pergi membawa Angel tanpa ada yang mengusik lagi! Tanpa Mei tentunya!"
"Gila!"
"Bukankah tujuan utamamu adalah mendapatkan Angel? Jangan serakah Ryo! Dewa tidak suka orang yang serakah! Perlu kau ingat, siapa dirimu di masa lalu!"
"Kau bahkan tidak tamat SMA. Kau memiliki catatan kriminal karena pernah melakukan tindakan pencurian di masa muda. Apa kau sudah lupa? Apa kau juga sudah ceritakan kisah hidupmu yang kelam di masa lalu pada Mei?"
"Cih! Beraninya kau mengancam aku!"
"Aku tidak mengancam. Hanya mengingatkan! Semua pilihan ada ditanganmu, Ryo! Aku bahkan sangat baik karena telah memberitahumu kalau pihak keluarga Felicia akan menjemputmu atas tuduhan penculikan Angel. Aku malah membantumu menemukan jalan terbaik, bukan?"
Hujan mengguyur kota Nagiso menjelang sore.
Mei bingung, Ryo belum juga pulang padahal tadi hanya mengatakan pergi sebentar.
"Mama, Papa mana?" tanya si kecil Angel turut khawatir.
"Papa pergi ke kuil, Sayang! Sepertinya Papa terperangkap hujan. Papamu tidak membawa payung. Mungkin sedang berteduh menunggu hujan reda."
Mei yang galau berusaha menenangkan Angel.
__ADS_1
Hati kecilnya merasakan firasat yang tidak enak. Tapi ia tak tahu, apa yang terjadi pada calon suaminya itu.
Pukul tujuh malam, Ryo baru pulang dengan wajah lesu.
"Ryo?"
Mei berusaha melayani Ryo dengan tulus. Mei memberikan segelas air hangat serta ramen yang nikmat untuk menghangatkan tubuh Ryo yang terlihat menggigil.
"Terima kasih, Mei!" ucapnya singkat.
"Kamu dari mana, Ryo?" tanya Mei dengan lembut.
"Ada yang harus aku kerjakan, Mei!"
"Apa? Bukankah semua berkas sudah selesai dikirim ke kuil untuk pemberkatan pernikahan kita esok hari?"
"Mei..."
"Ya?"
"Kita batalkan saja pernikahan ini!"
"A apa???"
"Kita batal menikah!"
"Kenapa?"
"Apa? Tidak. Tidak mungkin! Semua sudah diurus, bukan?"
"Semua ternyata kacau!"
"Ryo!?!"
"Mei..., dengar! Aku akan pergi malam ini juga dengan Angel. Kau tidak bisa ikut denganku!"
"Ryo? Ryo??? Apa yang telah terjadi? Mengapa kau memutuskan semuanya jadi seperti ini?"
"Maaf, Mei! Aku tidak mencintaimu. Aku hanya memanfaatkanmu untuk mendapatkan Angelica saja!"
"Ryo???"
"Aku... Tidak serius ingin menikahimu!"
"Tidak!!! Kau bohong!!! Kau pasti berbohong!!!"
"Aku sungguh-sungguh, Mei! Maaf!"
Ryo membungkuk. Ia diam tak bergeming sementara Mei menangis sesegukan.
Angel sudah tidur.
__ADS_1
Tetapi Ryo mengangkat tubuh 'putri'nya itu dan memasukkannya ke dalam mobil van.
Ia bersiap-siap akan pergi meninggalkan kota Nagiso. Tanpa Mei.
"Ryo! Ryo!!!"
"Maaf...! Aku tidak ingin bersamamu, Mei! Niat awalku hanya ingin hidup bersama Angel saja. Tidak bersamamu. Dan kini aku sudah putuskan yang terbaik! Gomen'nasai!"
"Ryo! Hik hik hiks... Ryo!!! Ada apa dengan dirimu? Hei! Tunggu! Jawab aku, Ryo!!!"
Mei menangis tersedu.
Ryo pergi meninggalkannya sendirian di malam hari tanpa penjelasan pasti.
Hatinya sakit. Sangat sakit karena perlakuan Ryo yang begitu jahat menurutnya.
Mei merobek-robek pakaian pengantin yang akan ia pakai esok. Hatinya terluka parah. Pernikahan dibatalkan Ryo begitu saja. Dan Mei teramat kecewa.
Sementara itu Ryo juga pergi dengan airmata berlinang di pipi.
Ia pun terluka hatinya. Bahkan jauh lebih terluka dari Mei sebenarnya.
Tapi Ryo tidak bisa melanjutkan pernikahan yang tinggal selangkah lagi dengan Mei.
Itu semua demi kebahagiaan Mei.
Ryo teramat sangat mencintai gadis itu. Hanya Mei seorang kekasih hati pujaannya.
Namun takdir yang kejam mengharuskannya untuk melepas dan meninggalkan Mei. Bukan demi dirinya. Tapi demi Mei sendiri. Demi masa depan Mei yang cerah. Bukan bersamanya. Tapi bersama Yamaken.
Jika mereka tetap memaksa menikah, keadaan semakin kacau. Ryo akan masuk penjara dan meninggalkan Mei lebih parah lagi. Ryo tidak ingin itu sampai terjadi.
Hati Ryo semakin teriris seiring ia melihat Mei yang menangis histeris sambil berlari mengejar mobil van yang dikendarainya.
Alih-alih melaju kendaraan dengan kencang, di tikungan yang telah jauh dari pandangan Mei, Ryo justru memberhentikan mobilnya.
Menangis ia meraung-raung menyesali perbuatan buruknya yang lagi-lagi menyakiti hati Mei.
"Meeeiii! Maafkan aku, Meeeiii!!! Mei Naganooo!!! Hik hik hiks... Ya Dewaaa!!! Mengapa kau buat hidupku jadi beginiii!!!"
Ryo menangis pilu. Di malam gelap nan sunyi. Bahkan ada seorang anak kecil berwajah polos bagaikan malaikat yang ikut menangis tanpa suara di jok belakang mobilnya.
Angel terbangun dari tidur, karena tangisan Ryo yang besar. Dan bocah imut itu kini mengetahui keadaan yang sebenarnya terjadi pada orangtua angkatnya itu.
"Papa!?!"
"Angel! Angel!!! Hik hik hiks... Maafkan Papa, Nak! Kita harus pergi sekarang. Maafkan Papa yang telah membuat hidupmu sulit!"
Kedua Ayah dan Anak itu berangkulan. Menangis bersama dalam pelukan. Menangisi nasib kejam yang begitu memilukan.
...🍀BERSAMBUNG🍀...
__ADS_1