Empat Sisi Hati

Empat Sisi Hati
Sasangka dan Sheilanina (1)


__ADS_3

(Sasangka)


"Ada masalah?"


Sasangka yang sedari tadi melamun, melirik ke arah si penegur yang tampak masih fokus dengan pekerjaannya di laptop. Penegur itu masih memakai pakaian kerja dan sedang duduk manis di atas tempat tidurnya.


'Ibu menjodohkanku dengan anak salah satu temannya," gumam Sasangka suram.


"Lalu?"


"Aku tidak mau. Tapi ibu memaksa."


"Apa anak teman ibumu itu jelek?"


Sasangka menggeleng, "Tidak. Dia sangat manis, dan lemah lembut."


"Tipikal calon istri idaman. Lalu apa masalahmu?"


"Aku tidak menyukainya."


Menghentikan mengetiknya, lawan bicara Sasangka itu melirik sang pria yang terlihat masih suntuk di sofa sudut kamar.


"Kamu tidak suka pada perempuan manis dan lemah-lembut yang dijodohkan ibumu?"


"Hmm."


"Pasti ada yang salah dengan otakmu," putusnya.


Sasangka menggedikan bahu, "Mungkin."


"Atau ... Kamu tidak suka pada perempuan ya?"


"Sembarangan!" Sasangka melotot galak, "aku masih suka pada perempuan tahu!" Elaknya tak terima.


"Lalu kenapa?"


"Itu karena aku sudah lebih dulu suka pada seseorang," jawab Sasangka malu-malu.

__ADS_1


"Siapa?"


Kamu. "Kepo! Nggak perlu tahu,  cepat lanjutkan pekerjaanmu dan pulang!"


"Hmm."


***


(Sheilanina)


Nina tersenyum puas melihat hasil masakannya yang sudah disusun apik dalam sebuah rantang.


"Mau kemana?" Tegur Sang ibu yang sedang sibuk menghitung anggaran belanja bulanannya di ruang tamu.


"Ke kantor Mas Sangka, Bu. Nganterin makan siang," jawab Nina malu-malu sambil mengangkat rantang makanannya.


Santy tersenyum, "Kamu suka banget ya sama Sangka?"


Nina mengangguk antusias.


"Tentu saja Nina akan melakukannya!" Kata Nina semangat, "Nina akan mulai menarik hati Mas Sangka menggunakan masakan Nina yang lezat ini."


Santy mengangguk. Putrinya memang pintar memasak.


"Bagus."


"Nina berangkat dulu ya, Bu," pamitnya.."


Bibir Santy menyungging senyum manis melihat keceriaan putrinya. Dia berharap Sasangka memang ditakdirkan Tuhan untuk menjadi jodoh anaknya. Santy tahu (dari buku harian Nina yang tak sengaja dibacanya) kalau Nina sudah lama menyukai Sangka, sejak mereka masih SMA. Tapi waktu itu Nina hanya bisa memendam perasaan karena merasa tak sederajat dengan Sangka yang kaya. Sekarang mereka sudah sederajat, jadi Santy membuka jalan untuk kebahagiaan Nina dengan cara berteman dengan ibu Sasangka. Dan tak disangka pula ternyata Ibu Sasangka menyukai Nina, dan ingin Nina menjadi pendamping hidup anaknya.


Santy berharap Sasangka juga jatuh cinta pada Nina. Dia mau hubungan anaknya lancar. Santy tidak mau nasib Nina berakhir sepertinya.


"Terjebak pernikahan dengan orang yang tidak mencintaimu. Ibu tidak mau kamu jadi seperti ibu, Nak," lirih Santy sedih sambil menatap bingkai ukir besar yang berisi foto seorang laki-laki akhir empat puluhan berpakaian necis dengan anak kecil cantik berusia enam tahun. Tidak ada foto keluarga. Adam Bratasusena, suami Santy, hanya bersedia difoto dengan Nataliya Ayu, putri bungsunya.


***


Nina sudah tiba di kantor Sangka. Dia sekarang sedang menunggu di lobi. Menurut resepsionis, Sangka sedang keluar metting bersama sekretarisnya.

__ADS_1


"Mas Sangkaaa!" Panggil Nina senang sembari melambaikan tangannya pada Sangka yang baru saja datang bersama seorang perempuan cantik berkacamata, yang Nina asumsikan sebagai sekretarisnya.


"Nina?" Sangka tampak terkejut. Dia melirik Perempuan di sampingnya sebentar, lalu menatap Nina. "Kamu ngapain disini?" Tanya Sangka sambil berjalan mendekati Perempuan pilihan ibunya itu.


"Nungguin Mas Sangka. Aku bawain Mas bekal makan siang lho," ada nada bangga yang tersirat dalam suaranya.


"Oh." Sasangka langsung kikuk, seperti merasa tak enak hati.


"Ini tumis gurita sama kepiting saus pedas buatanku sendiri." Nina menyodorkan rantang susun yang dibawanya pada Sangka. "Kata Tante Tyas, kamu suka banget sama seafood."


"Maaf Nin, aku udah makan siang sama Tal tadi."


Nina langsung lesu mendengar jawaban Sangka, "Oh, nggak apa-apa. Sepertinya aku yang telat datang bawain makan siang buat Mas."


"Ummm." Sangka tidak tahu harus menanggapi seperti apa.


"Maaf Nin, kita jadi bicara diluar. Masuk dulu yuk," ajak Sangka menunjuk pintu ruangannya.


Nina menggeleng, "Aku mau langsung ke Butik, Mas. Aku datang kemari cuma buat ngantar ini."


"Mmm. Maaf."


"Nggak apa-apa Mas, nggak perlu minta maaf," Nina tersenyum manis, "Aku pergi dulu ya."


"Nina!" Panggil Sangka ketika Nina berjalan menuju pintu keluar kantor.


"Ya?"


"Mungkin bekal makan siangnya bisa kumakan nanti setelah kerjaanku agak renggang. Jadi ...." Sangka canggung. Dia tidak tega melihat wajah kecewa Nina.


"Jadi Mas mau makan bekal buatku?" Nina sumringah.


Sangka mengangguk.


"Makasih Mas."


Nina meninggalkan kantor Sangka dengan wajah yang ceria.

__ADS_1


__ADS_2