
Dirga menggaruk kepalanya frustrasi. Dia bingung, ingin membawa ketiga preman ini ke kantor polisi untuk diproses, dia tidak bisa karena takut akan melibatkan keponakannya. Ingin melepaskan mereka begitu saja, dia takut Taliyah akan makin membencinya, karena selama itu sudah bersikap tidak adil terhadap dia dan mamanya dan juga Nina dan ibunya.
Setelah beberapa menit berpikir, Dirga kemudian menghela napas dan menyuruh para preman itu pergi.
Taliyah yang diam-diam melihat hal itu dari kejauhan hanya bisa tersenyum sinis.
"Memang, darah lebih kental daripada air," gumamnya sambil berbalik menuju ke kost-annya.
Dirga yang masih termenung seorang diri di pinggir jalan tiba-tiba dikejutkan oleh ponselnya yang berdering.
Panggilan masuk dari Juna.
"Halo."
"Bang, lu dimana?" Panggil Juna dari seberang.
"Di perempatan dekat ind*mar*t, jalan R****," jawab Dirga kalem.
"Ngapain lu nyasarnya ke sana? Jauh banget Bang dari lokasi, kita ngintai targetnya dekat Cafe ****G, lu malah nyangsang di sono," gerutu Juna.
"Oh. Gue nyasar kalau gitu," kata Dirga watados.
"Ok. Kemari cepat. Gue share loc ni."
"Iya. Iya."
Dirga mematikan ponselnya. Setelah berpikir sebentar, dia kemudian mengetik sesuatu dan mengirimkan chat ke kakaknya.
Dirga terdiam sebentar, kemudian menghela napas lagi, lalu berjalan ke arah dimana motornya diparkir. Sebenarnya tadi Dirga dalam perjalanan menuju ke tempat misi dengan Juna untuk mengintai target, tapi dalam perjalanan dia melihat Taliyah yang diikuti beberapa orang preman, hingga dia menghentikan motornya dan menolong Taliyah lebih dulu.
...****************...
"Nina, apa yang sudah kamu lakuin sampai om kamu marah-marah?" Shanty yang baru dikirimi chat oleh Dirga kebingungan.
Nina yang sedang duduk lesehan di ruang tamu sambil menggambar beberapa desain gaun kebingungan.
"Emang apa yang om Dirga Bilang, Bu?"
__ADS_1
Shanty menyerahkan ponselnya pada Nina, agar anaknya bisa membaca chat dari Dirga. Nina terkejut, wajahnya memucat, lalu dengan cepat dia mengembalikan ponsel ibunya.
Dia paham makna isi chat itu.
Darimana Om Dirga tahu kalau dia menyewa preman untuk melecehkan Taliyah?
"Ini apa maksud om kamu nak?" Shanty bingung. Dirga memang tidak secara gamblang mengungkapkan apa yang dilakukan Nina, hanya kalimat : Jaga anak Mbak, jangan biarkan dia membuat masalah lagi. Apalagi masalah yang melanggar hukum.
"Mungkin karena bentar lagi aku mau tunangan, makannya dia ngasih nasihat kayak gitu, ngelarang aku bikin masalah. Apalagi masalah yang melanggar hukum," bohong Nina dengan lancar.
"Oh iya." Dan ibunya pun percaya-percaya saja.
...****************...
Mata Dirga mengamati sosok yang duduk di depannya dengan seksama, dia tidak menyangka kalau target yang harus dia dan Juna selidiki adalah salah satu sahabat dekatnya di masa lalu, Hakim. Hakim Al Qarim.
Hakim adalah salah satu anak angkat dari Husein Al Qarim, kakek Leah dari pihak ibu. Dia seumuran dengan Leah, yatim-piatu, sejak kecil dia dan Leah selalu bersama seperti anak kembar siam. Dimana ada Leah disitu ada Hakim. Setelah kedatangan Dirga ke rumah keluarga Bratasena, Dirga dan Hakim menjadi akrab. Dari kembar siam dua dengan Leah, jadi kembar siam tiga dengan Hakim.
Sayangnya hubungan Dirga dan Hakim juga memburuk (seperti hubungan Leah dan Dirga) setelah perselingkuhan Adam dan Shanty terbongkar. Hakim juga meninggalkan rumah Adam setelah Leah pergi dari rumah beberapa tahun lalu. Dirga curiga kalau Leah dan Hakim tinggal bersama.
"Seperti yang kamu lihat dan kamu selidiki, masih hidup dan masih dicurigai sebagai anggota sindikat penjual senjata api di perbatasan," jawab Hakim frontal, sambil memberikan senyuman menyindir pada Dirga. Dia tahu kalau Dirga intel yang ditugaskan untuk menyelidikinya. Awalnya dia tahu tentang keberadaan Juna yang selalu mengikutinya, tapi dia tidak mau memusingkan keberadaan prajurit muda yang satu itu, karena menurutnya anak itu mudah disingkirkan, tapi setelah melihat mantan sahabatnya, dia jadi tertarik untuk mengajaknya makan.
Dirga mendengus, "Aku tidak tahu kalau pekerjaanmu akan seberbahaya ini setelah keluar dari Bratasena."
Hakim menyeringai, "Seorang prajurit tidak akan sembarangan Menuduh kan?"
"Prajurit tidak akan sembarangan menuduh dan menyelidiki orang yang tidak bersalah. Kalau kamu merasa sedang dituduh dan diselidiki, introspeksi diri, salahmu apa."
Hakim tertawa, "Kamu dan temanmu dan para polisi itu menyelidiki saya karena kamu nggak punya bukti untuk menyeret saya ke penjara."
Dirga diam.
"Selamat mencari bukti, Kawan." Hakim bangun dari kursi dan hendak pergi.
"Bagaimana kabar Taliyah?"
Langkah Hakim terhenti, dia menoleh dan melemparkan senyum remeh pada Dirga :
__ADS_1
"Masih sehat, hidup dan siap membunuh kakakmu," Hakim melangkah pergi.
...****************...
Setelah meninggalkan Dirga, Hakim kemudian menelpon seseorang.
"Bang Hakim?" Suara manis itu terdengar dari seberang.
"Hai. Gimana kabarmu?"
"Baik dan masih sibuk kayak biasa."
"Hn."
"Bang."
"Hmm?"
"Aku dengar pihak berwajib mulai mencurigai Abang."
"Jangan khawatir. Semua bakal bisa abang atasi."
Hening sesaat.
"Oke."
"Leah?"
"Hmmm?"
"Apa kamu sudah memikirkannya? Balas dendam kali ini?"
"Hmm."
"Tidak ada penyesalan?"
"Tidak."
__ADS_1