Empat Sisi Hati

Empat Sisi Hati
Sheilanina & Taliyah (4)


__ADS_3

Sheilanina (4)


Nina menggeliat gelisah. Sesekali dia melirik ke arah jam tangannya untuk memastikan kalau orang yang sedang janjian dengannya terlambat.


"Sepertinya aku yang terlalu cepat." Dia mendesah saat menyadari kalau kehadirannya lebih cepat sepuluh menit dari waktu yang ditentukan.


Nina kembali menghela napas berat. Dia merasa gugup. Beberapa jam yang lalu, Nina memberanikan diri menelpon sekertarisSangka, mengajaknya bertemu untuk membahas hal pribadi. Nina sudah tidak tahan. Dia tidak mau lagi memendam perasaan sakit hati melihat Sangka berduaan dengan perempuan lain, sementara laki-laki itu sudah setuju untuk menikahinya.


Kalau memang Tali bukan siapa-siapa untuk Sangka, seharusnya Nina bisa meminta perempuan itu untuk menyingkir. Tali seharusnya tahu diri. Dia Cuma sekertaris.


Suara kursi yang ditarik di depannya membuat Nina mendongak. Dia mendapati sekertaris Sangka sudah duduk manis di depannya. Nina mendengus. Perempuan yang satu ini benar-benar tidak sopan. Senggaknya ucap salam dulu kek.


"Selamat siang," kata Tali kemudian. Dia seolah tahu apa yang dipikirkan Nina.


"Kamu terlambat," kata Nina sinis. Dia tidak mau bermanis-manis pada perempuan yang berpotensi merebut cintanya dan membuat dia patah hati.


Taliyah melirik pada jam tangannya kemudian tersenyum miring, "Sepertinya anda yang terlalu cepat."


Nina mendengus. Perempuan yang satu ini sok sopan dan formal sekali.


"Ada yang bisa dibantu?" Tanya Taliyah ketika Nina masih diam, setelah beberapa menit dia duduk di depannya.


Nina tak menjawab. Dia menatap Taliyah dengan pandangan menilai, seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Kalau anda mengundang saya kemari agar kita bisa saling pandang-pandang mesra dengan gaya menjijikan, sebaiknya saya pulang."


Taliyah baru saja akan bangun dari duduknya ketika Nina bicara dengan nada terburu-buru.


"Jauhi Mas Sangka!"


Taliyah menoleh, "Maksudnya?" dia memiringkan kepala menatap Nina.


"Sebentar lagi kami akan menikah. Aku tidak mau kamu dan Mas Sangka terlalu dekat. Kamu itu Cuma sekertaris, tidak sepantasnya kamu berlaku mesra padanya."


Taliyah berdiri diam memperhatikan ocehan Nina.


"Kamu perempuan. Sebagai perempuan aku harap kamu bisa menghargai perasaanku. Aku orang yang dipilih Mas Sangka sebagai calon istrinya, aku merasa tidak nyaman melihat kedekatan kalian. Tolong jangan jadi orang ketiga dalam hubungan kami."


Taliyah mengerutkan kening, kemudian tawanya meledak.


Nina menatapnya bingung, "Kenapa kamu ketawa? Memangnya ada yang lucu?" Tanyanya tersinggung.


"Jadi anda Cuma mau bicara hal itu?"


"Iya! Memangnya kenapa?!" Nina mulai sewot.


Taliyah menggeleng. Senyum meremehkan tercetak di bibir tipisnya, "Sebelum kamu megatakan hal tadi, seharusnya kamu berpikir lebih dulu, siapa sebenarnya yang orang ketiga diantara aku dan kamu."


"Maksud kamu?" Nina melotot.

__ADS_1


"Kamu memang orang yang dipilih keluarga Sangka untuk menjadi istrinya, tapi aku adalah orang yang dipilih Sangka untuk mengisi hatinya."


"A-apa?"


Taliyah tersenyum, "Jam makan siangku sudah habis," dia melirik kea rah jam tangan, "sampai jumpa," kemudian melenggang meninggalkan Nina yang duduk dengan wajah pias.


***


Taliyah (4)


"Lu begok!"


Taliyah mengerjap, dia bingung mendapati si kriting ganteng yang terlihat marah di depannya.


"Seharusnya habis makan siang tadi, lu balik ke kantor. Kerjaan numpuk noh. Ini malah kelayapan nggak jelas sampe malam, trus nongkrong di kelab malam. Lu mau jadi cewek kalong." Amuk Sangka memelototi Taliyah yang tampak bingung dan tak fokus.


Sangka benar-benar marah saat mendapat telpon dari temannya, Barry, yang bekerja sebagai Bartender, mengabari bahwa sekertaris cantiknya sedang mabuk di kelab. Sangka langsung meluncur ke sana. Dan dia hampir berkelahi ketika mendapati Taliyah mabuk dan hampir dilecehkan oleh dua laki-laki asing. Beruntung Barry melerai.


"Sebenarnya lu kenapa sih, Tal? Ada masalah apa sampai lu bisa jadi kek gini?" Sangka melirik Taliyah sedih. Tak mendapat respon dari Taliyah, yang malah tidur, Sangka kemudian mengemudi dengan tenang ke apartemennya.


***


"Naik-naik ke puncak gunung, hik, tinggi-tinggi sekaliii. Hik."


Menurut Sangka, Taliyah yang mabuk itu tidak hanya cerewet dan lucu, tapi juga menyebalkan dan bikin repot.


Setelah mobil Sangka sampai di tempat parkir apartemen, Taliyah yang tidur mendadak bangun lalu mendadak nyanyi-nyanyi dan ngelantur nggak jelas. Suara cemprengnya membuat telinga Sangka (yang menggendongnya di punggung) menjadi sakit.


Sangka mendesah, memperbaiki posisi tubuh Taliyah di punggungnya, dia kemudian mengoreksi, "Banyak pohon cemara, Tal."


"Banyak orang pacaran, hik!" Taliyah cemberut tak terima dan memperetat pelukannya di leher Sangka.


"Jangan seenaknya ngubah lirik lagu orang."


"Siapa yang ubah? Hik. Itu benar kok!"


"Sakarepmu dewe lah." Yang waras ngalah, lanjut Sangka dalam hati.


"Dulu. hik. Waktu aku sama Sangka hik, sama anak-anak lain juga kemping di gunung, hik, kiri-kanan aku lihat mereka pacaran kok. hik." Taliyah mengingat memori masalalu yang membuat kening Sangka jadi berkerut.


Ini kejadian waktu kuliah dulu kan ya?


"Sangka juga tuh! Hik." Taliyah mendadak emosi, pelukannya di leher Sangka semakin erat sehingga membuat Sangka mengaduh karena tercekik, "Dia juga ikutan kayak anak-anak lain," kali ini suara Taliyah terdengar sedih, "Hik. Dia ikutan pacaran di kiri-kanan gunung!" Tiba-tiba Taliyah menangis keras.


"Tal. Tal. Anjiirrr. Jangan nangis, malu sama tetangga gue." Sangka panik. Karena sudah di depan pintu apartemennya, dia buru-buru menurunkan Taliyah agar bisa ditenangkan. "Lu kenapa lagi sih, Tal. Yaelah kok lu bisa nangis labil kayak gini sih. Cup. cup. cup. Udah Neng, diem, ntar orang-orang ngira gue ngapa-ngapain lu lagi."


"Huhuuhuu. Hik. Waktu di gunung, Sangka jahat sama aku!" Taliyah menceritakan tentang perbuatan Sangka di masalalu, pada Sangka di masa sekarang yang bahkan sudah lupa dengan kejadian itu.


Sangka menggeram frustrasi. Ini seharusnya dia yang memarahi Taliyah karena bolos kerja dan mabuk-mabukan. Ini kenapa malah jadi Taliyah yang memarahinya karena masalah gunung? "Emang gue jahatin lu karena masalah apasih Tal? Gue itu sayang sama lu. Nggak mungkin gue bisa jahatin lu.

__ADS_1


"Waktu itu Sangka pacaran sama Mona. Hik."


"Trus?" Mona itu mantan gue kan yak? Tapi ... mukanya yang kayak gimana ya? lupa.


"Hik. Dia ninggalin aku sendiriaaaan. Huhuhuu."


Sangka mulai tertarik. Dia duduk bersila di depan Taliyah, dan mulai mencondongkan tubuhnya pada gadis mabuk yang duduk bersandar di tembok itu.


"Sangka ninggalin lu buat pacaran sama Mona, trus lu ngerasa sedih. Gitu?" Sangka mulai berspekulasi. Jantungnya mulai berdebar penuh antisipasi.


Sambil menangis dan sesekali cegukan, Taliyah mengangguk sambil menggumamkan kata, "Iya."


"Waktu Sangka pacaran sama Mona, lu ngerasa ditinggal gitu? Ngerasa patah hati? Ngerasa menderita?"


Lagi-lagi Taliyah mengangguk seperti ayam untuk menjawab pertanyaan Sangka. Senyum Sangka melebar.


"Lu suka ya sama Sangka? Lu cinta sama dia kan?" Tebaknya asal.


Taliyah langsung berhenti menangis. Wajahnya berubah cemberut. Dia tampak kesal.


"Siapa bilang?! Aku nggak sedih gara-gara lihat Sangka sama Mona. Hik. Aku cuma sedih, saat aku minta ditemenin ke belakang di malam hari buat pipis. Sangka nggak mau. Hik. Dia malah skidipapap sawadikap sama Mona di tendanya. Hik. Kan aku tersiksa nahan pipis sampai pagi."


Wajah Sangka langsung berubah datar. Jadi cuma gara-gara masalah nggak mau diantarin pipis? Kejadian sepele dulu banget, dan dia masih ingat sampai sekarang?


"Kenapa nggak minta antar anak-anak lain sih waktu itu."


Taliyah diam. Wajahnya terlihat semakin sedih. "Hik. Kan temanku cuma Sangka. Hik. Cewek-cewek lain temannya Mona semua, mereka benci aku. Teman-teman cowok Sangka, jauh lebih bejat dari dia. Kalau aku hik. Minta diantarin pipis. Hik. Hasilnya pasti nggak bagus."


Sangka diam sebentar, dia lalu bangun dari duduknya dan mendesah frustrasi. "Yaudah. Kita masuk yuk," ajaknya sembari mengeluarkan kunci lalu membuka pintu Apartemennya.


"Tal. Masuk, istirahat di dalem," Sangka membantu Taliyah berdiri. Dan ketika dia hendak menggendongnya, Taliyah tiba-tiba muntah di baju Sangka.


" ANJRIT! TALIIII."


***


Ketika malam semakin larut, dan suara omelan dan kesibukan Sangka tidak lagi terdengar. Taliyah membuka matanya, dan dengan tenang dia menoleh ke arah sosok tegap yang sedang tertidur lelap di sofa merah di pojok kamar.


Sudut bibir Taliyah terangkat ketika mengingat apa yang dilakukan Sasangka saat dia 'mabuk' tadi. Menjemputnya di club, berkelahi dengan mata keranjang, menggendongnya dari tempat parkir sampai ke kamar apartemen, menjadi tempat curhatan, menjadi tempat muntahannya ... dan ... membereskan semua kekacauannya.


Taliyah melirik ke arah pakaiannya yang sudah diganti dengan kaus putih dan celana olahraga kebesaran milik Sangka. Dia ingat betapa panik dan tersiksanya Sangka saat harus mengganti baju Taliyah yang terkena muntahan, tangannya gemetaran, dia berkali-kali membaca doa. Takut tak kuat iman, Sangka pergi menemui pengurus apartemen, dan meminta istri si pengurus untuk membantu Taliyah berganti pakaian.


Taliyah tersenyum. Tak menyangka kalau playboy busuk ini memperlakukannya dengan sopan. Taliyah sebenarnya sudah lama sadar kalau Sangka memiliki perasaan padanya, hanya saja Taliyah pura-pura cuek dan tak peka. Perasaan Taliyah pada Sangka hanya sebagai sahabat dan saudara, tak lebih. Hanya saja, untuk dendamnya dia harus memanfaatkan perasaan Sangka padanya.


"Maaf," gumamnya sedih.


Bangun dari posisi berbaringnya, Taliyah kemudian mencari ponselnya, agar bisa mentransfer uang pada Barry, sebagai tanda terimakasih untuk kerjasama mereka.


***

__ADS_1


Barry yang baru saja sampai di rumahnya setelah pulang kerja, mendengus saat melihat pesan singkan dari mobile banking.


"Sangka bego. Si Tali kan punya toleransi alkohol yang bagus."


__ADS_2