
"Bang, Lo ditanyain terus tuh sama si Rani."
Kening Dirga berkerut mendengar perkataan Juna.
"Rani mana ya?" Tanyanya bingung. Dia lupa pernah punya kenalan bernama Rani.
"Maharani, bidan cantik yang kenalan sama kita seminggu lalu waktu pesiar."
"Oh, ya inget." Dirga mengangguk. Dia ingat bidan muda cantik yang ditolongnya bersama Juna saat pesiar di akhir pekan Minggu lalu. Perempuan itu hampir dirampok. "Lo masih berhubungan sama dia?"
"Iya. Lewat WA," Juna mengangguk, "dia kayaknya suka sama lo deh, Bang."
"Lo juga suka kan sama dia?"
"Awalnya iya. Tapi sejak dia nanyain Bang Dirga mulu, gue jadi ilfil."
Dirga mendengus geli mendengar curhatan juniornya itu. Dia dan Juna sudah setahun berteman, sejak pemuda itu bersama dengan dengan sekelompok tamtama dan Bintara muda lain, datang ke Kompi tempatnya bertugas.
"Memangnya Abang nggak suka sama dia?"
__ADS_1
"Nggak minat," ucap Dirga santai.
"Dia cantik lho, Bang."
"Iya. Tahu, tapi nggak minat."
Juna menatap Dirga dengan sebelah alis terangkat, "Tahu nggak Bang, lama-lama Lo nyeremin ya. Di deketin cewek cantik Lo nggak mau. Jangan-jangan Lo suka cowok ya?"
Dirga tertawa mendengar tuduhan Juna.
"Ya nggaklah. Gue masih suka cewek."
"Cewek yang gue suka kayaknya benci sama gue sekarang."
"Kenapa?"
Dirga tak menjawab. Matanya menerawang mencoba mengingat memori beberapa tahun silam.
***
__ADS_1
Seorang gadis remaja berseragam putih-abu histeris ketika melihat tubuh ibunya yang terbaring tak bernyawa di kamar mayat sebuah rumah sakit.
Dirga, yang diperintahkan Ayah gadis itu untuk mengawasi putri semata wayangnya, mengikuti si gadis dari sekolah dan terkejut saat mengetahui bahwa ibu gadis itu meninggal. Setelah menelpon Ayah si gadis, Dirga kemudian mengamati gadis itu dari depan pintu kamar mayat. Dia takut untuk mendekatinya. Hubungannya dengan Leah memburuk, saat tahu kalau Santy, kakak kandungnya adalah selingkuhan Adam Bratasena, Ayah Leah.
Dirga, Shanty, dan Ibu Leah sebenarnya masih memiliki hubungan keluarga. Mereka saudara tiri. Mendiang ibu Shanty dan Dirga menikah dengan Mendiang Ayah dari Anggun Bratasena (Ibu Leah). Mereka sebenarnya memiliki hubungan keluarga yang baik sebelum Shanty berulah. Dan buat Dirga, Anggun juga kakak yang baik seperti Shanty. Dia selalu membantu Dirga saat kesusahan. Diam-diam membayarkan tunggakan sekolah Dirga, membelikan buku-buku serta baju-baju bagus untuknya. Anggun tidak pernah menganggap Dirga adik tiri. Dia memperlakukan Dirga seperti adik atau bahkan anak kandung.
Dirga juga menyayangi Anggun, hanya saja darah lebih kental daripada air, dia tidak bisa meninggalkan atau mengutuk perbuatan Shanty yang sudah merebut suami Anggun, karena Shanty adalah kakak kandungnya.
Dan soal Leah, Dirga menyukainya. Bukan sebagai Paman terhadap keponakan, tapi sebagai laki-laki terhadap perempuan. Dia tahu perasaan itu salah, karena itu dia tidak mau mengungkapkan. Apalagi sekarang Leah sudah benar-benar membencinya dan Shanty.
"Anggun!" Suara Adam Bratasena membuatnya menoleh. Laki-laki itu dan kakaknya sudah sampai. Dan Adam langsung menghambur ke dalam kamar mayat untuk melihat jenazah istrinya.
Sesaat Leah terkejut melihat kehadiran Sang Ayah. Tak lama kemudian teriakan histeris dan makian yang tak enak di dengar keluar dari mulut mungil gadis itu. Tak puas hanya memaki, Leah juga menyerang Ayahnya. Beberapa perawat memegangi dan coba menenangkan Leah.
Saat akan dibawa keluar dari kamar mayat, Leah sempat menampar dan menjambak Shanty. Wajah Dirga bahkan terasa perih terkena cakaran Leah karena dia coba melindungi sang kakak.
"Ini semua gara-gara kalian. Kalau kalian tidak muncul dan mengacau, keluarga kami tidak akan seperti ini! Dan Mama tidak akan meninggal!" Kata Leah dengan sorot mata benci, "aku bersumpah. Aku akan membuat hidup kalian hancur seperti hidupku dan Mama. Kalau bukan kau yang akan menyusul Mamaku," mengusap air mata dengan punggung tangan, dia menyeringai menunjuk Shanty, "akan kubuat anakmu mengalami nasib yang sama seperti mamaku."
Wajah Shanty memucat.
__ADS_1
Leah menyentak tangan para perawat yang memegangnya, lalu beranjak pergi.