
Sheilanina (3)
Hari ini Nina bahagia. Amat sangat bahagia.
Sangka dan keluarganya tadi datang untuk makan siang bersama. Dan Sangka--tanpa diduga--menyetujui perjodohannya dengan Nina. Itu sangat sangat luar biasa bagi Nina. Prince Charming yang diimpikannya sedari SMA, sebentar lagi akan menjadi miliknya.
Orangtua mereka sudah membahas tentang pertunangan juga. Dan itu akan dilangsungkan bulan depan.
Nina bersyukur Ayah tirinya, Adam, mau ikut campur dalam urusan perjodohan ini. Kalau bukan karena pengaruh Adam, Nina pikir akan susah. Dalam pertemuan keluarga siang tadi, Nina melihat Sangka seperti ditodong dari dua arah oleh Ayah dan Ibunya untuk menjawab iya. Dan wajah Sangka terlihat seperti orang yang meringis menahan kentut, Nina ingin tertawa melihat hal itu.
Nina sadar kalau Sangka masih belum menyukainya, dan dia bertekad akan membuat Sangka jatuh cinta padanya. Secepatnya.
***
"Jadi Mas Sangka sudah setuju untuk bertunangan denganmu?" Tanya Wina, perempuan montok imut yang sudah menjadi sahabat Nina sejak SMA. Hari ini Nina mengajaknya bertemu di Cafe biasa, untuk saling berbagi cerita tentang hal menarik apa yang terjadi pada mereka berdua dalam Minggu ini.
Nina mengangguk, "Iya. Dan kami akan bertunangan bulan depan," katanya sumringah. Dia pikir dia harus memberitahu semua orang tentang kabar bahagia ini. Dia bahkan memasang caption kalimat berbunga-bunga di akun instagramnya dengan fotonya bersama Sangka. Dunia harus tahu kalau Sasangka Wicaksana akan menjadi milik Sheilanina Thamrin, selamanya!
"Waahhh selamat ya Say! Ini benar-benar berita hebat! Bagaimana kalau kita makan-makan dan kumpul-kumpul sama teman-teman lain buat ngerayain?" Usul Wina.
"Boleh tuh."
"Tapi kamu yang traktir ya?"
"Itulah gampanggg."
....
"Oh ya Say."
"Ngomong-ngomong soal Mas Sangka, sekitar dua atau tiga hari lalu aku pernah liat dia jalan sama cewek," beritahu Wina.
__ADS_1
"Dimana?"
"Di Resto dekat kantorku. Waktu jam makan siang.""
Nina coba mengingat, tiga hari yang lalu dia memang tidak ke kantor Sangka seperti biasa, karena ada pertemuan dengan klien yang komplain mengenai masalah gaun pengantin rusak di butiknya.
"Mungkin rekan kerjanya." Nina berpositive thinking.
Wina menggeleng, "Nggak ah, mereka akrab banget soalnya. Yah, lebih menjurus ke mesra sih.*
Perasaan Nina mulai tidak enak. "Maksudnya?"
"Mas Sangka kelihatan nyaman banget rangkul tuh cewek, sandaran di bahunya, dan minta disuapi sama tuh cewek."
Nina terdiam, "Bagaimana cewek itu?"
"Cantik, tinggi, putih macam model gitu. Sama mukanya lempeng. Dia pakai kacamata."
"Tali?" Sekertaris Sangka?
***
Taliyah (3)
"Gue stress!"
Taliyah diam. Dia hanya duduk bersila di atas karpet sambil mengunyah permen karet. Matanya tampak fokus menatap ke layar televisi yang sedang memutar film Full Metal Jacket. Dia sama sekali tidak terganggu dengan penampakan mahluk jangkung kriting yang sedari tadi mondar-mandir di depannya.
"Acara makan siang keluarga tadi seperti acara penodongan masal buat gue!"
Sangka masih mondar-mandir macam setrikaan. Bahasanya langsung berubah jadi lo-gue macam anak-anak abege ketika stres.
__ADS_1
"Bayangin Tal, ketika gue mau bilang 'nggak mau ditunangin sama Nina' Mama melotot, dan Papa berbisik 'Jawab iya, kalau nggak kamu bakal jadi anak durhaka' gitu katanya."
Taliyah masih diam. Permen karet yang tadinya berada di mulut sudah berganti dengan kunyahan popcorn.
"Ini semua gara-gara Pak Adam Bratasena yang ikut campur sama acara perjodohan gue dan Nina." .
Mendengar nama ayahnya disebut, Taliyah langsung mengalihkan atensinya pada Sasangka.
"Beliau mengimingi Ayahku kerja sama yang menguntungkan kalau Aku dan Nina berhasil menikah."
"...." Taliyah tak bersuara. Dia hanya menatap kosong.
"Gue harus gimana Tal? Apa kabar orang yang gue cinta, kalau gue nikah sama Nina?"
"Ya nikahi saja orang yang kamu sukai." Taliyah akhirnya bicara.
"Kalau dia nggak mau?"
"Bikin hamil saja, setelah itu pasti dia mau nikah sama kamu," sarannya sesat.
"Ya udah sini! Biar kamu aja yang kubikin hamil."
Taliyah tersentak, "MAU MATI YA?" bentaknya marah.
Sasangka hanya tertawa kecil melihat respon Taliyah. Ya Tuhan, ini orang kapan peka-nya?
***
Taliyah melamun. Menikmati suasana malam kota dari balkon apartemen milik Sangka. Hari ini dia menginap untuk mendengarkan curhatan Sangka yang terlihat sangat stress.
"Pakai Sangka. Nggak pakai Sangka. Pakai Sangka. Nggak Pakai Sangka ...." Dengan tatapan kosong dia terus menggunakan kalimat itu berulang-ulang. Beruntung Sangka sedang keluar bersama beberapa teman lelakinya, kalau tidak dia bisa mengira Taliyah kesurupan.
__ADS_1
Taliyah menarik napas panjang, "Bukankah mereka harus merasakan hal yang sama seperti Mama?" Dia terlihat sedih, "maaf Sangka."