Empat Sisi Hati

Empat Sisi Hati
Taliyah (6)


__ADS_3

"Kakeeeek," menghempaskan tangan para pengawal Taliyah bangkit dan berlari memeluk kakeknya. Dia menangis sedih dalam pelukan lelaki tua itu.


Husein Al Qarim memelototi anak tiri dan menantunya marah, "Jadi begini cara kalian memperlakukan cucu kandungku? Menghina dan mempermalukannya di depan banyak orang?"


"Ayah, aku tidak... " Wajah Adam Bratasena memucat, dia menatap putri yang selama beberapa tahun ini tidak bertemu dengannya dengan sorot sedih dan rindu.


"Dan kamu!" Belum sempat Adam mengucapkan pembelaan diri, Husein Al Qarim membentak Shanty, "Tidak cukupkah kamu menjadi orang ketiga dalam pernikahan kakakmu, sekarang kamu memperlakukan anaknya dengan buruk demi anak kandungmu?!"


"Ayah aku..."


"Aku tidak ingin mendengar bantahan apapun dari kalian berdua, mulai hari ini dan seterusnya jangan temui aku lagi jika terjadi sesuatu pada Bratasena," Husein bertindak tegas, "cucuku, ayo kita pergi," katanya sambil membawa Taliyah keluar dari area pesta pertunangan.


"Tidak, Ayah, kembalikan anakku!" Adam mengejar Husein Al Qarim, meninggalkan keluarga Wicaksana dan para tamu undangan yang tertegun, shock dengan informasi besar ini.


Sheilanina bukan cucu kandung pengusaha Minyak dunia, Husein Al Qarim?


Ibu Sheilanina itu pel*kor? Orang ketiga di rumah tangga kakaknya sendiri?


Sheilanina merebut pacar kayaknya?


Sepertinya akun gosip milik influencer yang hadir pada pesta malam ini akan mendapatkan berita besar.

__ADS_1


Sementara Nina yang sekarang digunjingkan orang-orang, hanya bisa berdiri shock menatap kepergian kakek Husein dan ayahnya bersama Taliyah.


'Tali itu Leah? Anak kandung ayah? Tidak mungkin. Tidak. ini tidak boleh terjadi, ini pasti mimpi. Ini pasti bohong,' batin Nina tak percaya. Ketika masih muda dia pernah bertemu Leah, dan Leah yang dia kenal dulu tidak cantik dan licik seperti sekarang, yang dia ingat Leah adalah gadis kurus, pucat dan selalu terlihat lelah karena mengurus ibunya yang gila.


"Bu?" Nina menoleh ke arah Bu Shanty untuk mencari dukungan ibunya, namun yang dia dapati hanya sang ibu yang terlihat mematung dengan tatapan mata kosong sambil bergumam sendiri.


"Tidak mungkin, itu tidak mungkin dia." Seperti orang kesurupan.


"Ibu!"


"Dia tidak mungkin kembali, dia tidak boleh kembali," gumam Shanty pelan. Teringat pada tatapan penuh dendam Taliyah saat remaja dan kata-kata yang dia ucapkan waktu itu.


...***************...


Melepaskan pelukan dari sang kakek, Taliyah kemudian nyengir sambil berkata : "Terimakasih Kakeeeek."


"Hmmm."


"Gimana kek, apa aktingku bagus? apa aku sudah cocok jadi pemain sinetron?"


"Jangan ngadi-ngadi. Akting pura-pura menderita kamu tadi, bisa bikin si Hakim sakit perut kalau dia ngeliat," sahut Pak Husein yang membuat Taliyah cemberut.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong makasih ya kek, udah jauh-jauh datang dari Iran buat nemenin aku main drama di depan orang banyak."


"Hm," respon Pak Husein. Kalau tidak demi cucu kesayangannya, mana mau dia terbang jauh-jauh dari Iran untuk bertemu lagi dengan mantan menantu yang sudah membuat anaknya menderita, dan anak tiri tak tahu diri dan nggak tahu malu macam Shanty.


Hening sejenak.


"Kek."


"Kapan kakek mau ceraikan nenek sihir itu?"


Husein Al Qarim terdiam sebentar : "Mudah untuk menceraikannya, tapi orang di belakangnya yang sudah membunuh nenekmu dan juga membuat ibumu gila adalah yang harus kita waspadai. Belum lagi ayahmu yang bodoh itu selama bertahun-tahun tidak sadar digunakan oleh mereka."


Taliyah mengela napas kasar.


Beberapa menit kemudian supir memberitahu kakek dan cucu itu:


"Sebuah mobil mengikuti kita."


Husein Al Qarim mengernyit, dia lalu melirik melalui kaca spion untuk melihat mobil yang mengikuti mereka, kemudian mendengus saat mengetahui siapa pemilik mobil tersebut.


"Ayahmu yang bodoh itu mengikuti kita."

__ADS_1


"Oh."


__ADS_2